
Setengah jam setelah rombongan Ara dan Mario meninggalkan rumah datang satu regu polisi datang di kediaman keluarga Mario dengan satu ambulance dan anggota intelejen hampir bersamaan.
"Om bisa minta tolong panggilkan pak RT, RW dan tokoh masyarakat sebagai saksi adanya orang asing yang terluka masuk tanpa permisi" pinta Faro kepada omnya Mario.
"Siap bos perintah di laksanakan" balasnya sambil memberikan hormat, candaan si om agar tidak terlalu tegang.
Disaksikan oleh RT dan RW dan tokoh masyarakat setempat jenderal Hendro memberikan keterangan kepada regu polisi dan anggota jika jenderal Hendro sedang menghadiri acara pernikahan teman saat ada orang asing masuk melalui pintu belakang dan bersembunyi di kamar pengantin dengan Luka tembak dan tewas karena kehabisan darah.
Jenderal Hendro juga menceritakan jika kejadian ini terjadi setelah kedua mempelai berangkat ke Bali untuk honeymoon dan acara resepsi sudah selesai sehingga tidak begitu mempengaruhi acara resepsi pernikahannya.
Setelah pihak forensik datang dan menyelidiki kejadian perkara, jenazah di masukkan ke kantong jenazah di angkat kedalam ambulance untuk diselidiki lebih lanjut.
Rencana berjalan sesuai rencana, tidak melibatkan Ara, Mario ataupun keluarga besar Faro, bahkan mommy juga tidak tersentuh sedikitpun, sehingga Faro berharap tidak akan ada kecurigaan pada pihak keluarga Decha Thanapon ataupun ayahnya Theo Thanapon.
Rombongan pengantar datang setelah kepolisian dan anggota intelejen pulang, tinggal jenderal Hendro, RT, RW dan dua tokoh masyarakat serta keluarga Mario, yang berbincang, Tante langsung membersihkan bercak darah yang berceceran dari pintu belakang sampai kamar pengantin.
Setelah jenderal Hendro pulang, baru Faro dan Rendi juga pamit pulang diikuti oleh istri tercintanya, dengan kawalan bodyguard sampai di rumah.
__________________
Sementara hampir tengah malam Mario, Ara dan mommy tiba di hotel bintang lima di daerah Jimbaran Bali, Ara masih dalam posisi yang sama yaitu duduk termenung dengan tatapan yang kosong, ingatannya masih di kamar pengantin saat phi Eca meregang nyawa dalam pangkuannya.
Dipeluknya dan di letakkan kepada Ara di dadanya membuat Ara lama-lama tenang dan tangisannya berangsur menghilang, sampai pukul tiga pagi keduanya masih dalam posisi Mario bersandar di dastbor tempat tidur memeluk Ara dengan erat kepalanya masih bersandar di dadanya.
"Baby, tidurlah pejamkan matamu" Mario sambil membelai rambut Ara yang masih sesekali terisak..
"Tidak bisa tidur Bang, bayangan phi Eca selalu datang, aku merasa bersalah, kenapa phi Eca kita tinggalkan begitu saja?" air mata Ara kembali menganak sungai.
"Coba ceritakan tentang phi Eca dong baby, selama ini kau tidak pernah menceritakan tentang dia" hibur Mario untuk mengalihkan pikiran Ara agar tidak merasa bersalah terusan.
"Betul hubby mau dengerin cerita tentang orang yang telah mencelakai Bang Faro?" tanya Ara sambil mengendurkan pelukannya.
__ADS_1
Mario hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis kembali memeluk Ara dengan lembut.
Ara bercerita jika mommy berumur tujuh belas tahun dan Daddy berumur sembilan belas tahun saat menikah, mommy berasal dari suku aborigin yang tinggal di pinggiran kota Singapura, tetapi sayangnya selama hampir sepuluh tahun pernikahan tidak dikaruniai keturunan, sampai Daddy membawa dua anak laki-laki dari panti asuhan yang telah menolongnya saat terjadi kecelakaan di daerah dekat panti asuhan itu.
Dua anak laki-laki tetapi bukan saudara kandung, yang pertama berumur dua belas tahun bernama Decha dan satu lagi berumur delapan tahun bernama Desta, saat Daddy di kejar musuhnya mengalami kecelakaan tunggal karena kejar kejaran menggunakan mobil Daddy tidak bisa keluar dari mobil padahal di bagian belakang mobil sudah mengeluarkan asap dan api yang sewaktu waktu mobil bisa meledak.
Dengan berani dan mengambil resiko Decha dan Desta menarik Daddy dari mobil itu sesaat kemudian mobil meledak, dengan luka patah tulang kaki Daddy di papah oleh Decha dan Desta kecil ke panti asuhan dimana mereka tinggal, baru kemudian bapak dan ibu panti mengantarkan Daddy ke rumah sakit terdekat.
Semenjak peristiwa itu kedua anak laki-laki itu di adopsi oleh Daddy dengan di tambah Thanapon di belakang nama mereka, tetapi keduanya di didik oleh Daddy dengan keahlian menembak atau sniper dengan sangat keras, hampir tiga tahun juga Decha dan Desta menjalani pendidikan yang berbeda dengan anak sebayanya, di samping pelajaran menembak mereka harus belajar beladiri dengan sangat keras.
Setelah tiga tahun mengadopsi kedua anak laki-laki itu, dan menganggap seperti putranya sendiri akhirnya mommy hamil Ara walaupun dengan susah payah kehamilan itu tetapi Ara lahir dengan sehat.
Perbedaan usia antara Ara dan phi Eca hampir enam belas tahun, dan dua puluh tahun perbedaan usia phi Desta dengan Ara, tetapi sayangnya phi Desta dalam usia yang masih remaja harus tewas di tangan Faro.
Phi Eca juga menikah muda seperti mommy dan Daddy yaitu berumur dua puluh tahun serta istrinya berumur tujuh belas tahun, Istri phi Eca berdarah campuran Melayu Singapura dan suku Banjar dari Kalimantan, di karuniai satu anak laki-laki yang sekarang hampir lulus kuliah dan satu lagi anak perempuan yang masih duduk di akhir tahun SMU nya.
Ara bercerita panjang lebar sampai tanpa terasa waktu menunjukkan pukul dua malam tetapi dua sejoli itu tidak mengantuk sama sekali.
"Berarti anak dari phi Eca mempunyai darah keturunan Indonesia dong ya?" tanya Mario kembali memeluk Ara dengan mesra.
Mario sebenarnya sejak dua hari sebelum menikah sudah berpikiran mesum karena disamping membayangkan pernah hampir kebablasan dua kali karena ulah Ara sekarang setelah sudah menikah harus menahan rasa karena adanya insiden meninggalnya phi Eca menjadi tertunda.
"Baby jangan pancing macan yang sedang tidur" Mario menarik tangan Ara dari dadanya, karena sudah ada yang terbangun tanpa di komando.
Ara mengendurkan pelukannya, memandang wajah suaminya yang sedikit tegang dan tersenyum, merasa bersalah karena seharusnya malam ini menikmati malam yang indah berdua, tetapi sayangnya Ara masih bersedih dan tidak terpikirkan untuk mengarah kesana.
"Baby kita ini sebenarnya honeymoon atau melarikan diri?" tanya Mario dengan tatapan mata yang sendu.
"Sorry hubby, bisakah tunggu sedikit lagi sampai hatiku merasa baikan?" Ara kembali memeluk suaminya mencoba memejamkan matanya untuk tidur dan mengistirahatkan tubuh dan hatinya.
"Tentu baby, tidurlah semoga besok pagi kita akan mendapatkan kabar yang baik dari bos" Mario membelai rambut Inneke membiarkan Ara nyaman dalam pelukannya.
__ADS_1
Nafas Ara mulai teratur seiring matanya terpejam dan terlelap, Mario seperti mendapatkan sugesti dari nafas Ara yang teratur jadi ikut terlelap dalam keadaan duduk bersandar di dastbor tempat tidur dengan kaki diluruskan tetap memeluk Ara dengan erat.
Ternyata di kamar sebelah juga sekali tiga uang, mommy terisak terus menerus, mengingat anak angkatnya meregang nyawa di depan matanya tanpa bisa berbuat apa-apa, demi menyelamatkan mommy nya anak dan menantunya harus rela bersembunyi dari pengawasan dan kejaran Daddy yang selama ini hidup dengan jalan yang tidak di setujui putri kandungnya.
Pada awalnya mommy juga tidak setuju jika putrinya mempelajari agama Islam dan memeluk agama Islam pula, tetapi setelah mommy ikut mempelajari agama Islam selama satu tahun ini, sekarang dia juga cenderung mendukung jalan putrinya, apalagi sudah dua putra angkatnya meregang nyawa karena jalan yang mereka tempuh tidak sesuai ajaran agama terutama agama Islam.
Hati mommy memang sudah terpaut dengan agama Islam walaupun belum ada yang tahu, karena takut akan hal yang mungkin dihadapinya nanti baik dari suaminya ataupun anak buahnya yang tersebar si seluruh Asia tenggara.
Sudah hampir dua tahun terakhir ini bersusah payah menyembunyikan putrinya dari pengawasan suaminya, susah payah meyakinkan bahwa putrinya masih berada di USA dan memintanya tidak mencarinya.
Sekarang mommy hanya menunggu telepon dari suaminya, setelah mendapatkan informasi dari pihak kepolisian Indonesia jika putra angkatnya tewas tertembak di Jakarta karena keterlibatannya dalam penyerangan anak buahnya melawan rivalnya di Indonesia, akhirnya karena terlalu capek menangis dan memikirkan apa yang baru saja terjadi mommy terlelap sampai pagi menjelang.
Waktu belum sampai pukul enam pagi saat handphone mommy berbunyi berkali-kali, mata mommy mengerjap, tangannya meraih handphone dengan cepat walaupun mata terasa berat untuk terbuka karena memang baru bisa terlelap menjelang pagi.
"Halo...." suara mommy sedikit serak khas orang bangun tidur.
"Mommy pulang sekarang ke Singapura, putramu Eca mengalami musibah, sudah Daddy kirim tiket lewat pesan WA" perintah suara di balik handphone mommy tanpa menunggu jawaban dari mommy langsung dimatikan.
Kemudian ada banyak sekali pesan WA yang dikirim ke handphone mommy dari Daddy menceritakan tentang kejadian putranya di Jakarta persis seperti yang di alami oleh mommy hanya bedanya tempat kejadian tewasnya Decha Thanapon adalah pasangan pengantin warga negara Indonesia keturunan Betawi.
Kelegaan hati mommy membaca pesan WA dari Daddy begitu terlihat nyata karena memang ini yang seharusnya yang diinginkan Putri dan menantunya, tidak melibatkan Ara maupun dirinya, kemudian mommy bergegas keluar kamar menuju kamar Putri dan menantunya.
"Tok...tok.... tok".
"Ara..mario... come on, wake up" kata mommy dengan sedikit keras, tetapi tidak ada suara yang menjawabnya, mommy mengulangi ketukan pintu itu lebih keras lagi dan lagi sampai tiga kali ketukan baru Mario keluar dan membuka pintu dengan malas.
"Mommy masuklah" Mario mengajak mommy masuk.
Tanpa menunggu lama walaupun Ara dan Mario baru membuka matanya mommy langsung bercerita jika dia harus berangkat ke Singapura dan tiket sudah di pesankan oleh Daddy dikirim langsung melalui handponnya.
"Semua terkendali, mommy harus berangkat ke Singapura, nikmatilah liburan kalian, jangan merasa bersalah, phi Eca terkenal kejam dan susah diatur, mungkin ini sudah jalannya yang maha kuasa" kata mommy lembut.
__ADS_1
Mario dan Ara hanya mengangguk, ternyata bos bisa diandalkan dalam mengatasi yang masalah dengan cepat gumam Mario dalam hati.
Setelah mengantar mommy sampai ke Bandara internasional Ngurah Rai, dalam perjalanan pulang Mario mengirim pesan WA kepada Faro jika pihak dari Decha Thanapon tidak mengetahui TKP adalah kediaman Ara dan Mario.