
Saat ketiganya saling tatap alangkah kagetnya ada seorang laki-laki yang sangat di kenalnya terbaring di lantai memegangi dadanya yang penuh dengan darah.
"Phi Eca.....phi..." Ara menatap nanar kakak angkatnya yang penuh dengan darah.
"Phi Eca.......ya Allah ya Tuhanku" spontan Ara mendekatnya dan memangku kepala kakak angkatnya.
"A..... Ara....mom.... mommy I am sorry" kata Decha Thanapon terbata bata.
"Phi Eca......" teriak mommy dengan histeris.
"Mommy please call Bang Mario now!" perintah Ara sambil menekan dada phi Eca agar darah tidak terus keluar dari dadanya.
Sambil terus terisak dan baju terkena bercak darah karena sempat memeluk putra angkatnya mommy berlari mendekati Mario yang sedang bercengkerama dengan Faro dan Rendi.
"Mario.... Mario hiks...hiks..." mommy tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya.
"Mommy what happen?, apa yang terjadi?" Mario berdiri mendekati mommy dengan khawatir.
Faro melihat ada yang aneh terjadi, ikut berdiri dan mendekati mommy dengan tatapan yang menyelidik, karena tidak satu katapun keluar dari mulutnya hanya terisak-isak Faro langsung bertindak seakan sudah bisa membaca sorot mata mommy.
"Rendi sepertinya ada yang tidak beres, tolong rahasiakan ini dulu, jangan ada yang tahu masalah ini, elo jaga disini dulu sampai gue keluar ok" perintah Faro tegas.
"Mario, mommy ayo ikut, cepat" Faro menarik tangan mommy dan Mario berjalan kearah dalam rumah.
"Where are there mommy?" tanya Faro langsung seolah olah sudah tahu apa yang terjadi,
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun mommy berjalan kearah kamar pengantin dan membuka pintu.
"Abang.... Abang....phi Eca..hiks...hiks.." Ara menangis tersedu-sedu sambil memeluk kakak angkatnya dengan tetap menekan dadanya agar darah berhenti mengalir.
Faro dan Mario saling pandang, melihat sosok orang yang pernah membuat keluarganya menderita dan banyak mengalami kesulitan berbaring dalam pangkuan Ara dengan darah yang masih keluar dari dadanya.
"He is my husband Bang Mario, phi" Ara memperkenalkan Mario dengan menunjuk arah Mario.
Decha Thanapon menarik bibirnya tersenyum memandangi wajah Mario dan melipat kedua tangannya di dadanya, tetapi setelah sedikit menoleh kearah Faro matanya langsung membulat sempurna dengan tatapan yang tajam dan penuh amarah seakan ingin memakannya hidup hidup, tetapi apa daya dia lemas kehabisan darah.
"Mommy, Ara, I am sorry, please" Decha Thanapon masih tetap melipatkan tangannya di dadanya, sedikit demi sedikit matanya terpejam dan tidak bernafas lagi.
"Phi...phi.... kenapa seperti ini, jangan pergi please" Ara memeluk kakak angkatnya itu dengan erat, gaunnya penuh dengan darah, tangan dan pipi Ara juga sudah berganti warna merah terkena darah juga.
Faro memeriksa nadi Decha Thanapon di tangan dan di belakang telinga, serta hidungnya sudah tidak ada nafas yang berhembus.
"Ara dia sudah meninggal dunia, maaf kami turut berdukacita" ucap Faro lirih.
__ADS_1
Mommy dan Ara semakin menangis sejadi-jadinya dan lebih erat memeluk tubuh Decha Thanapon.
"Mario bawa istri dan mommy elo ke kamar mandi, ganti baju dan beristirahat di kamar yang lain, jangan keluar sebelum gue bereskan masalah ini" perintah tegas.
"Come on baby, mommy... bersihkan diri dulu di kamar mommy aja" Mario menggendong bridal Ara dan diikuti oleh mommy berjalan di belakang Mario.
Berjalan menuju kamar tamu yang di tempati oleh mommy dan langsung masuk ke kamar mandi.
"Mommy bersihkan diri berdua dengan Ara, aku akan mengurus phi Eca, ini karena urusan kepolisian, jadi jangan keluar sebelum aku panggil, baby jangan keluar dari kamar ok" Mario mencium dahi dan bibir Ara dengan lembut keluar dari kamar kembali mendekati Faro.
Mario melihat Faro sedang menghubungi seseorang dengan sangat serius bercerita tentang apa yang terjadi menghadap ke arah kamar pengantin yang terlihat banyak darah berceceran.
"Bos bagaimana ini, apakah pihak kepolisian akan segera datang?" tanya Mario setelah Faro selesai menghubungi seseorang.
"Kenapa elo tinggalkan istri dan mommy dikamar berdua saja?" Faro langsung tinggi nada suaranya.
"Mereka masih mandi bos" jawabnya singkat.
Faro menarik Mario mendekati Rendi dan memanggil bapak dan omnya Mario yang sedang berbincang santai, sedangkan para wanita Erna, Inneke dan Tante serta Cinta sedang asyik berfoto-foto Selfi, untungnya hari mulai gelap tamu juga sudah pulang semua.
"Yang...sini.....ajak semua ikut, kita juga mau ikut foto Selfi untuk kenang-kenangan" teriak Faro sambil melambaikan tangannya pada Inneke.
Para wanita datang dan dekat suaminya masing-masing sedangkan Cinta mendekati bapaknya Mario karena hanya mereka berdua yang tidak berpasangan, setelah ngumpul Faro langsung berdiri.
Seketika wajah wajah ceria menjadi tegang dan terdiam semuanya tanpa terkecuali si lemah gemulai Cinta, padahal dia yang biasanya bisa membuat suasana menjadi riuh dan ceria.
Selesai bercerita itu, datang jenderal Hendro berlari masuk rumah tanpa mengetuk pintu dengan seragam lengkap di badannya tanpa seorang pengawal, suana menjadi sedikit tegang setelah mendengar cerita dari Faro.
"Tenang semua ya, ini baru kami tangani, kumpul saja disini jangan kebelakang dulu sampai masalah selesai" perintah Faro dengan suara yang lembut.
"Bang.... sini, Mario juga" panggil jenderal Hendro tegas dengan melambaikan tangannya agak jauh dari semua orang yang bermuka tegang semua.
"Mario, istrimu dan mommy nya Ara berangkat ke Bali sekarang saja, jangan sampai pihak Theo Thanapon dan organisasinya mengetahui jika ini rumah putri dari ketua mafia itu, cepat sana packing!" perintah jenderal Hendro dan mendorong Mario untuk meninggalkan tempat dimana Faro dan jenderal Hendro berdiri.
"Bang semua wanita yang ada disini biar mengantar rombongan ke bandara, biar tinggal laki-laki saja yang tetap tinggal, suruh mereka siap-siap" perintah jenderal Hendro lagi dengan tegas.
Faro mendekati Inneke duduk di sampingnya dan mengusap pipinya dengan lembut dan tersenyum manis.
"Sebentar lagi ada pihak kepolisian datang, tetapi sebelum mereka datang sebaiknya yang wanita mengantar pengantin ke bandara" ucap Faro dan diikuti anggukkan kepala oleh yang merasa wanita.
"Gue gimana Bang?" tanya Cinta bingung dianggap wanita atau tidak.
Semua orang yang sedang berkumpul disitu jadi tertawa, Faro hanya terkekeh ada baiknya juga dengan adanya kehadiran Cinta, bisa mengurangi ketegangan yang sedari tadi tercipta setelah Faro bercerita tentang apa yang terjadi.
__ADS_1
"Elo ikut aja Cin, tugas elo jaga semua pengantar pengantin sampai bandara dan kembali kesini dengan selamat pula, ingat jangan sampai gue potong burung elo gara-gara bini gue lecet sedikit aja" titah Faro lagi sambil cengar-cengir.
"Idih Abang jangan bawa senjata gue"cabik Cinta dengan memegangi senjatanya diikuti kekehan oleh semua orang.
Akhirnya para wanita berjalan ke parkiran bersiap siap untuk berangkat mengantar pengantin, tetapi saat Inneke ingin mengikuti mereka keluar ditarik tangannya oleh Faro didudukkan di pangkuannya.
"Sayang sebentar Abang mau ngomong, buronan yang ada di kamar pengantin adalah Decha Thanapon kakak angkat dari Ara yang menjadi ketua mafia Singapura, jadi nanti tolong hibur Ara agar bisa tabah, ini rahasia ok" cerita Faro mengecup bibir Inneke lembut.
"Iya Bang, tapi Abang baik-baik saja kan nanti bagaimana kalau polisi kesini?" tanya Inneke takut.
"Semua sudah Abang atur dengan Jenderal Hendro, jadi tidak seorang wanita yang ada disini akan terlibat, juga kedua pengantin dan mommy juga tidak akan terlibat, jangan berpikir macam-macam kasihan si baby kita nanti ikut tegang, rileks ok, sana bergabung sudah dengan Cinta dan yang lainnya, I love you so much" Faro kembali mencium bibir Inneke dengan lembut dan menurunkan dari pangkuannya berjalan keluar menuju parkiran menyusul yang lain.
Faro menyusul jenderal Hendro yang sedang duduk di samping mayat Decha Thanapon membuat laporan untuk dilaporkan ke atasannya dan pihak kepolisian.
Mario masuk kamar mommy, dia bercerita tentang situasi yang ada di luar kamar, Faro memerintahkan Ara dan mommy berangkat ke Bali Sebelum pihak kepolisian datang mengambil jenazah phi Eca.
Mommy, ..... baby ayo packing baju cepat dua jam lagi pesawat akan terbang, jangan sampai kita terlambat" ajak Mario cepat.
"Why hubby, aku ingin mengantar jenazah phi Eca untuk yang terakhir kalinya" pinta Ara sambil terus menganak sungai air matanya.
"Baby, dengar, ini menyangkut keselamatan mommy, keluarga Bang Faro dan juga kita semua, coba bayangkan jika Daddy mengetahui phi Eca meregang nyawa di pangkuanmu, bagaimana murkanya beliau, yang pertama di salahkan adalah Bang Faro dan mommy" keterangan Mario panjang lebar.
Ara hanya menganggukkan kepalanya, kasus kematian kakak angkatnya dulu saja sampai sekarang Daddy masih menaruh dendam kepada keluarga Bang Faro apalagi nanti jika diketahui phi Eca meregang nyawa di tempat tangan kanannya Bang Faro pasti akan semakin besar salah fahamnya, apalagi ada mommy di tempat kejadian pasti Daddy akan lebih murka kepada mommy dan bisa jadi persembunyian nya selama ini akan terbongkar juga.
"Baiklah hubby kita ke Bali sekarang" Ara mengalah dan setuju berangkat sekarang demi keselamatan keluarga Faro dan mommy nya terutama.
Dengan satu mobil mereka berangkat ke bandara, Tante, cinta dan Erna duduk di bangku belakang, dibangku tengah ada Mario, Ara dan Inneke dan duduk di depan samping Pak Min adalah mommy.
Mario memeluk erat Ara yang sesekali masih terisak jika mengingat phi Eca yang meregang nyawa di pangkuannya, Inneke hanya bisa mengusap punggung Ara sebagai dukungan penuh kepada sahabatnya yang dalam satu dilema yang sangat pelik, dalam hari pernikahan yang seharusnya bahagia tetapi dalam waktu bersamaan kehilangan kakak yang sudah lama tidak ditemuinya.
Lebih parahnya lagi, Inneke bergumam lagi sahabatnya Ara harus pergi meninggalkan kakaknya yang sudah tidak bernyawa demi keselamatan semuanya terutama mommy nya dari pengawasan Daddy yang tidak mengetahui jika mommy ada di Jakarta.
_________________
Maaf ya sahabat belum bisa
up dobel untuk Minggu ini
Jangan lupa like vote dan komentar
serta hadiahnya untuk menambah
semangat up nya terima kasih
__ADS_1