
Satu hari sebelum keberangkatan Faro dan Inneke honeymoon ke dua ke Brunai Darussalam rombongan jenderal Hendro dan anggotanya sudah berangkat duluan dan mendapatkan sambutan resmi dari kerajaan dan anggota intelejen disana.
Tetapi saat Faro dan Inneke mulai menaiki pesawat komersil dari bandara internasional Soekarno Hatta menuju bandara internasional Brunai, hanya dengan menunjukkan tiket dengan kode khusus kerajaan Brunei Faro dan Inneke mendapatkan fasilitas kelas bisnis eklusif.
"Kursi bapak dan ibu ada di sebelah sana, mari ikuti kami" ajak salah satu pramugari cantik itu menunjukkan kursi untuk mereka berdua.
Faro dan Inneke mengikuti pramugari itu dari belakang sampai ke tempat kursi yang di maksud.
"Apakah mereka tahu siapa Abang, kok langsung mendapatkan kursi kelas bisnis?" tanya Inneke penasaran dengan perlakuan para kru pesawat itu.
"Sepertinya tidak Yang, ini karena ada kode khusus di tiket kita, sudahlah kita nikmati aja" balas Faro duduk dan menarik tangan Inneke dengan lembut, serta memeluknya dari samping.
"Silahkan minumnya bapak, ibu, mau kopi atau yang lain?" pramugari cantik itu menawarkan minuman selamat datang.
"Jus jeruk aja dua" jawab Faro singkat.
Memberikan dua gelas jus jeruk dengan sopan pramugari cantik itu tidak lupa memberikan sneck sebagai pendamping jusnya.
"Selamat menikmati, bapak dan ibu permisi" pramugari cantik itu berpamitan.
Setelah satu jam dalam pesawat itu, Faro dan Inneke di layani kembali oleh beberapa pramugari untuk makan siang dengan menu makan yang istimewa.
Turun dari pesawat komersil itupun Faro dan Inneke langsung di jemput oleh orang yang berseragam khusus, tanpa tahu siapa sebenarnya tamu yang telah di jemputnya, diantarkan ke dalam kompleks kerajaan Nurul Iman melewati pintu utama, sampai disana langsung di antar ke salah satu kamar yang ada di komplek kerajaan itu, memang ini misi rahasia yang tidak semua orang tahu tentang siapa sebenarnya tamu itu.
Sampai di komplek kerajaan, ternyata disana sudah berkumpul jenderal Hendro dan anggotanya yang tinggal di sebuah kamar kamar yang berjajar, Faro dan Inneke bergabung langsung dengan Jenderal Hendro.
Istana Nurul Iman adalah rumah Sultan Brunei Hassanal Bolkiah. Istana itu berdiri di tepi Sungai Brunei, beberapa kilometer arah selatan dari ibu kota Brunei.
Kontruksi Istana Nurul Iman didominasi bangunan putih besar dengan kubah emas dan menara, pemandangan menakjubkan istana terbuka dari Taman Persiaran Damuan di dekatnya.
Atap bangunan melengkung dan kubah emas besar seperti masjid, istana berdiri di antara pepohonan.
Nama Istana Nurul Iman berarti Istana (dari bahasa Melayu) dan Nurul yang berarti dari Cahaya dari bahasa Arab.
Istana ini dibangun dalam dua tahun dan selesai pada 1 Januari 1984. Menghabiskan dana lebih dari USD1 miliar (sekira Rp15 triliun) untuk pembangunannya.
Arsitek eksterior Istana adalah Leonardo V. Locsin, yang menyatukan tradisi arsitektur Islam dan Melayu Brunei, perancang interiornya adalah Khuan Chew, yang juga mengerjakan pembangunan Burj Al Arab di Dubai, Uni Emirat Arab.
__ADS_1
Arsitektur kediaman Sultan adalah perpaduan arsitektur Eropa dan Melayu tradisional, arsitektur tradisional dicampur dengan dekorasi mewah ultra-modern, Marmer Italia, granit dari Shanghai, gelas Inggris dan sutra China terbaik Kemudian emas dan marmer adalah bahan dekorasi utama Istana.
Sebanyak 38 jenis marmer yang berbeda digunakan untuk dekorasi interiornya. Ada 44 tangga yang terbuat dari marmer, Istana berisi 1.788 bangunan, seluruh istana berisi ruang 200.000 meter persegi.
Masjid istana dapat menampung hingga 1500 orang, sementara ruang perjamuan dapat menyediakan ruang untuk lebih dari 5000 tamu, Istana ini bahkan memiliki helipad, 5 kolam renang, dan lebih dari 250 kamar mandi.
Istana Nurul Iman adalah kediaman resmi Sultan Brunei dan keluarganya, serta lokasi kantor pemerintah senior negara tersebut, Istana ini menampung badan-badan pemerintahan terpenting, termasuk kantor perdana menteri Brunei.
Sayangnya hanya di buka setahun sekali untuk wisata dan masyarakat umum yaitu saat hari raya idul Fitri, tetapi merupakan keberuntungan tersendiri jika menjadi tamu kehormatan dan bisa tinggal di salah satu kamar yang ada di istana itu.
Pada keesokan harinya jadwal pukul sepuluh pagi kerajaan akan mengadakan pawai memperingati hari kebangsaan Brunei, termasuk jenderal Hendro dan seluruh undangan baik duta besar ataupun kepala negara tetangga.
Faro di berikan baju dari perancang kerajaan satu stell dengan Inneke, sedangkan jenderal Hendro dan anggotanya menggunakan seragam kebesaran dari intelejen Indonesia.
Selesai pukul dua belas siang pawai selesai diadakan, banyak masyarakat yang masih berdiri di depan istana dan masih ramai, sedangkan Faro dan para tamu undangan sedang menikmati hidangan makan siang bersama di lingkungan kerajaan, ramah tamah dengan anggota keluarga kerajaan sampai pukul tiga sore baru mulai diadakan upacara pemberian medali.
Medali itu juga di berikan kepada orang orang yang berhak mendapatkan dengan kegigihan dan dedikasi yang tinggi, para undangan menyaksikan orang-orang berjasa di berbagai bidang diantaranya pendidikan, lingkungan hidup, gas dan minyak bumi, militer dan politik.
Saat intelejen di panggil salah satu MC dengan sebutan si mata elang jendral Hendro yang maju dalam penerimaan penghargaan kehormatan dari negera Brunei Darussalam.
"Si mata elang itu Abang, tetapi mereka tidak ada yang tahu, jadi memang biasanya jenderal Hendro yang akan menerimanya" cerita Faro kepada Inneke saat mereka sedang duduk di kursi kehormatan bersama para duta besar dan tamu negara tetangga.
"Terima kasih, penghargaan ini untukmu Bang, merupakan suatu kebanggaan bagi intelejen dan pemerintah RI memiliki anggota seperti dirimu, semoga semua keluarga selalu dalam lindungan Allah SWT, kami selalu ada di belakangmu" kata jenderal Hendro mengangkat medali itu tinggi-tinggi dan mata melirik ke arah Faro yang sedang duduk bersama Inneke.
Malam harinya makan malam secara khusus di adakan instalasi intelejen Brunei dan Indonesia dan dihadiri oleh Sultan beserta istri secara langsung, mereka menggunakan pakaian bebas dan tertutup untuk umum, sehingga membuat Faro sedikit lega karena tidak akan di kenali oleh seluruh anggota yang hadir saat itu.
Hari terakhir di Brunei Inneke memilih menikmati keindahan istana Nurul Iman tanpa keluar dari sana, malam harinya di habiskan berdua di kamar tanpa bergabung dengan anggota yang lain bersenang senang menikmati indahnya malam itu dengan suana yang berbeda.
Pengalaman yang sangat berkesan karena tidak semua orang bisa masuk di istana Nurul Iman, membuat pengalaman yang sangat membekas di hati Inneke dan Faro.
Tetapi ada insiden kecil saat Faro dalam perjalanan ke bandara internasional Brunai, mobil yang mengantarkannya ke bandara terjadi kecelakaan kecil karena ada yang menabraknya dari samping saat di persimpangan lampu merah.
"Bruuaaak" mobil yang di tumpangi oleh Faro akhirnya menabrak trotoar dan sedikit terguling kesamping.
Kening Inneke hanya memar karena saat di tabrakan itu Inneke dalam pelukan Faro, tetapi kaki Faro terjepit, saat intelejen hanya mengawasi dari kejauhan, karena terjadi kecelakaan mereka langsung meringsek masuk mendekati kecelakaan itu.
"Mr and Miss are you ok" tanya salah seorang intelejen Brunei yang mengawal Faro.
__ADS_1
"We are ok, don't worry" jawab Faro sambil meringis menahan sakit pada kakinya.
Bergegas Faro menghubungi jenderal Hendro karena sepertinya mereka akan pulang dalam satu pesawat.
"Jenderal Sudah sampai dimana, ini terjadi insiden kecil, terjadi kecelakaan di persimpangan pertigaan lampu merah?" cerita Faro pada jemderal Hendro.
"Kami kesana Bang, ini sudah otw kesana" jawab jendral Hendro sedikit naik darah.
Dalam waktu seperempat jam jenderal Hendro tiba di TKP, sambil sedikit naik pitam karena orang terbaiknya mengalami peristiwa yang sangat tidak di inginkan, semua yang ada di TKP terkena amukan jenderal Hendro termasuk pengawal intelejen Brunei terkena amukan jenderal itu juga.
"Bagaimana keadaanmu, dan juga istrimu?" tanya jenderal Hendro dengan khawatir.
"Hanya sedikit memar di kaki, boleh kami ikut mobil jenderal saja ke bandara?" balas Faro sambil menggenggam tangan Inneke.
"Apa perlu kita ke dokter dulu Bang?" tanya jenderal Hendro tanpa memperdulikan kesibukan para pengawal kepolisian dan intelejen Brunei.
"Tidak jenderal, kita langsung ke bandara saja, nanti saja berobatnya di Jakarta" tolak Faro dengan cepat.
Dengan berat hati jemderal Hendro langsung memerintahkan kepada sopir yang mengantarnya dengan penuh penekanan agar cepat menuju bandara agar tidak tertinggal pesawat.
Semua anggota kepolisian dan pengawal intelejen kebingungan karena Jenderal Hendro naik pitam, tidak bisa mengawal orang terbaiknya.
Jenderal Hendro dan anggotanya langsung masuk ke bandara beserta Faro dan istrinya dengan sedikit kecewa karena insiden ini, sampai ketua intelejen Brunei menyusulnya ke bandara hanya sekedar meminta maaf atas insiden kecil itu.
"Kami mohon maaf atas insiden ini jenderal, sebaiknya di tunda kepulangan nya sampai besok pagi, agar kami bisa memeriksa anggota anda" pinta ketua intelejen Brunei.
"Maaf, sebaiknya tidak usah, karena anggota kami tidak ingin di kenali oleh masyarakat luas, apakah tadi di TKP aman tanpa ada publikasi?" tanya jenderal Hendro kepada ketua intelejen Brunei itu.
"Tenang aja, semua sudah bisa kami atasi, jadi ini tidak berobat disini terlebih dahulu?" tanya ketua intelejen Brunei lagi dengan penuh pengharapan.
"Tidak perlu, anggota hanya memar sedikit, nanti akan langsung kami bawa di rumah sakit Jakarta, pasti akan kami kabari jika sudah selesai pemeriksaan" keterangan jenderal Hendro lagi dengan sedikit kecewa.
Tetapi jenderal Hendro sudah terlanjur kecewa dengan keamanan yang kurang kondusif, mereka meminta untuk menunda keberangkatan kembali ke Indonesia ditolaknya dengan tegas olehnya.
Faro juga tetap ingin pada penerbangan yang telah di jadwalkan karena keesokan harinya ada jadwal kantor yang tidak bisa di tinggalkan.
Sore harinya saat mereka pulang kembali ke Indonesia, medali itu diserahkan oleh Faro kepada intelejen dan pemerintah RI, karena Faro tidak ingin meninggalkan jejak sedikitpun tentang profesi yang satu itu demi keselamatan keluarganya terutama sekarang sudah menikah tidak ingin terjadi seperti yang dia alami untuk anak dan keturunannya nanti.
__ADS_1
Ini insiden murni kecelakaan ataupun disengaja Faro tidak ingin tahu, yang pasti Faro tidak ingin terjadi imbas kepada seluruh anggota keluarga dan terbongkar identitas dirinya sebagai anggota intelejen, sehingga jenderal Hendro tidak sepenuhnya menyalahkan pihak intelejen Brunei.