Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
85. Pasar Malam


__ADS_3

Pagi ini Faro mendapatkan informasi dari Bali, Mario bercerita bahwa mommy mertuanya terbang ke Singapura atas perintah Daddy nya Ara, di kirimkan tiket juga dari sana, juga menceritakan jika semua sesuai dengan rencana jenderal Hendro bahwa tidak ada satupun yang terlibat dalam insiden tewasnya Decha Thanapon kecuali hanya berurusan dengan kepolisian dan tersangka saja.


Dengan campur tangan jenderal Hendro Faro juga hanya memantau dari belakang layar, karena pada laporan ke kepolisian bahwa tempat TKP di temukannya Decha Thanapon tewas adalah keponakan dari Jenderal Hendro, sehingga tidak terendus oleh media, memang sengaja di rahasiakan, laporan kepada keluarga Theo Thanapon juga di temukan di rumah warga yang sedang melaksanakan hajatan, pasangan pengantinnya berasal dari suku Betawi asli orang Indonesia.


Faro juga mendapatkan informasi dari Jenderal Hendro jika hari ini juga jenazah Decha Thanapon akan diterbangkan ke Singapura, yang mengurus semua itu adalah pengacara yang di tunjuk oleh keluarga Theo Thanapon.


Hari ini juga faro masih harus datang ke kantor intelejen untuk menyelesaikan kasus lain, yaitu kasus yang terjadi di Indonesia bagian timur tepatnya di Papua, kasus itu dikirim langsung oleh pemerintah daerah sengaja minta bantuan si mata elang karena sudah hampir satu bulan ini tetapi belum terselesaikan.


Keluar kantor pukul tiga sore, bersambung ke markas intelejen yang sudah di tunggu oleh semua anggota, termasuk jenderal Hendro, dari pagi anggota intelejen sudah terkuras tenaganya untuk menganalisa berbagai kasus, tetapi memang ada beberapa kasus yang diminta khusus untuk dianalisa oleh si mata elang.


Hanya dalam dua jam Faro berhasil memecahkan misteri kasus yang ada di Indonesia bagian timur tanpa ada terkendala sedikitpun.


Tepat pukul lima sore Faro sudah menyelesaikan tugasnya pulang dengan hati bahagia, ingin segera bertemu dengan istri tercintanya, sore begini biasanya akan duduk manis menunggu kedatangannya pulang dan disambut dengan senyuman yang selalu membuatnya rindu jika jauh darinya.


Setelah selesai membersihkan diri, segar menggunakan baju rumah, duduk di gazebo bersama tiga bibi yang sedang membuat rujak dan dinikmati bersama sambil bercengkerama dengan riang sampai datang Ezo, Bagas dan Rayhan pulang sekolah datang berkunjung dengan masih mengenakan seragam sekolah lengkap.


"Jam segini baru pulang dari mana saja kalian?" tanya Faro tegas.


"Kami habis kerja kelompok Bang, kebetulan rumah teman kami tidak jauh dari sini jadi gue mutusin mampir kesini, tenang aja Bang, gue sudah pamit umi dan Abi kalau gue mau numpang makan disini soalnya sudah lapar banget sekarang" cerocos Ezo menyambar potongan mangga dimasukkan kedalam mulutnya.


"Dasar jorok, cuci tangan dulu sana" Faro memukul lengan Ezo sedangkan Rayhan dan Bagas hanya berdiri terpaku melihat Ezo berdebat dengan abangnya.


"Gue sudah lapar Bang, pelit banget sih" cabik Ezo lagi.


"Kalau lapar, sana makan, bibi Tini siapkan makan buat bertiga sekarang, Rayhan, Bagas jangan lupa cuci tangan dulu jangan kayak pleyboy cabe-cabean ini, jorok" kesal Faro tetapi sambil cengengesan.


Selesai makan Ezo, Rayhan dan Bagas bergabung lagi dengan mereka yang tadi sedang rujakan tetapi sayangnya Faro tidak di tempat katanya sedang berbincang dengan teman bisnisnya sebentar.


"Kak Keke di dekat gedung bioskop ada pasar malam kita kesana yok malam ini, pasti seru" ajak Ezo sambil makan rujak yang dibuat oleh para bibi.


"Bagas ayo ikut makan rujaknya jangan malu-malu" bibi Narti menyodorkan rujaknya, Bagas tersenyum dan mengangguk ikut menikmati rujaknya.


"Jam berapa buka adik, kakak pingin main lembar boneka pasti seru?" Inneke antusias membayangkan waktu kecil bermain di pasar malam saat masih di Bandung.


"Ajak bang Faro ya kak, biar kita nanti bisa main pemainan sampai puas" rayu Ezo dengan senyuman manisnya.


"Tapi gue takut Zo, kalau ama Bang Faro, orangnya wibawa banget, beda dengan Bang Jasson" cabik Rayhan ragu-ragu.


"Elo rayu kak Keke lah, tuuuh orangnya didepan lo sendiri" protes Ezo tidak mau kalah.

__ADS_1


"Kalau kak Keke pelit, ogah ngerayunya" Rayhan melirik Inneke tersenyum defil.


"Sembarangan, bilang aku pelit, kamu aja yang terlalu boros, emang sudah pamit bunda dan ayah, kamu kesini?" tanya Inneke melempar mangga kearah Rayhan.


"Sudah kak, malahan kata bunda, suruh nginep sini aja, nanti bunda dan ayah akan nyusul kesini juga" balas Rayhan tetapi tidak berhenti mengunyah rujak.


Faro kembali bergabung dengan para playboy cabe-cabean yang sedang menikmati rujak bersama Inneke, sedangkan para bibi kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Masih pada disini sudah hampir malam, kenapa belum pulang?" tanya Faro duduk di samping Inneke memeluknya dari samping.


"Kok tega banget, Abang ngusir kami" Rayhan dengan muka cemberut.


"Gue mau nginep sini Bang, karena nanti malam mau ikut kak Keke ke pasar malam" alasan Ezo dengan senyuman defil.


Faro langsung memandangi wajah Inneke yang kaget dengan ucapan Ezo yang sudah memastikan jika akan ke pasar malam padahal belum pasti berangkat atau tidak.


"Mau ke pasar malam Yang, emang dimana ada pasar malam?" tanya Faro lembut kepada istrinya.


"Iya Bang, nanti antar ya please, ada dekat gedung bioskop pasar malamnya" rayu Inneke bergelayut manja mengandeng lengan Faro.


"Gue ikut juga ya Bang" Rayhan ragu-ragu.


"Bagas panggil adikmu Bagus, nanti malam kita jalan-jalan ke pasar malam" titah Faro memandangi wajah Bagas yang sedikit takut.


"Iya Bang terima kasih" jawab Bagas singkat, dengan senyum mengembang ternyata adiknya pun boleh ikut.


Karena akan mengunjungi tempat umum yang jarang di lakukan oleh Faro selama ini persiapan justru membuat Inneke sedikit kesal, banyak sekali yang harus dia taati peraturan yang dibuat Faro, harus menggunakan celana panjang, switer topi dan masker, tidak boleh lepas dari gandengan tangan, tidak boleh menggunakan sepatu high heels, dan banyak lagi yang harus dia ikuti.


Pengawalan juga di perketat mengingat baru saja ada insiden penyerangan dan tewasnya seorang Decha Thanapon di kediaman Mario, ada enam bodyguard yang mengawal mereka padahal hanya empat yang biasa bekerja mengawal Inneke, yang dua adalah bodyguard yang biasa mengawal umi jika keluar rumah, dua bodyguard itu sengaja dikirim Ken untuk mengamankan situasi karena biasanya di pasar malam sangat ramai.


Masuk dalam area pasar malam diikuti empat pemuda dari belakang di kawal enam orang bodyguard sedikit menjadi pusat perhatian para pengunjung, tetapi yang diperhatikan hanya santai berjalan tanpa memperdulikan tatapan mata pengunjung yang lain.


"Abang, aku mau main lempar koin itu" Inneke antusias menunjuk permainan lempar boneka dengan jarak hampir tiga meter.


Faro membelikan setiap anak satu tiket, setiap satu tiket mendapatkan kesempatan lima kali melempar untuk mendapatkan boneka berbagai macam ukuran.


Pertama yang melempar adalah Inneke sudah tiga koin tetapi tidak satupun mengenai sasaran.


"Sini Abang minta satu koin, sayang pingin boneka yang mana?" tanya Faro berbisik di telinga Inneke.

__ADS_1


"Itu Bang Teddy bear warna coklat yang ukurannya tanggung" Inneke menunjuk boneka itu dengan antusias.


Dengan satu kali bidik Faro melempar koin itu tepat sasaran pada boneka Teddy bear yang Inneke inginkan, Inneke loncat kegirangan menerima boneka itu dari penjaga stand.


"Bang masih ada satu koin lagi" pinta Inneke menyodorkan koinnya.


"Tidak usah sayang, satu aja kasihan si penjaga stand itu nanti rugi" bisik Faro lagi.


Giliran empat pemuda gersek yang sangat percaya dirinya akan mengenai sasaran yang diinginkan, tetapi sampai koin keempat tetap tak satupun mengenai sasaran.


"Bang bantuin gue, yang itu aja boneka Marsha warna merah kecil itu" pinta Ezo, dengan sekali bidik keinginan Ezo mendapatkan boneka langsung didapatkan.


Akhirnya Rayhan, Bagas dan Bagus juga mendapatkan satu boneka dengan pilihan masing-masing karena bantuan Faro dengan syarat satu orang hanya boleh mendapatkan satu.


Berpindah lagi ke permainan lempar gelang, kali ini hadiahnya makanan berupa makanan ringan kemasan berbagai macam jenis, ukuran dan merk, Faro juga membelikan satu tiket dengan lima ring setiap kali permainan.


Seperti tadi di stand hadiah boneka hanya Faro yang bisa membidik tepat sasaran yang empat saat mereka lempar meleset entah kemana, tetapi semua puas karena setiap anak mendapatkan satu bungkus makanan ringan.


Sampai di permainan bianglala Ezo sangat antusias ingin naik dengan membeli empat tiket mereka ikut ngantri untuk menaikinya.


"Sayang, mau ikut playboy cabe-cabean itu naik bianglala" tawar Faro kepada Inneke.


"Tidak Bang aku takut, aku mau main itu aja" tunjuk Inneke pada permainan anak kecil bahkan teruntuk balita yaitu permainan mancing ikan dan ikannya dari plastik yang di masukkan ke dalam baskom besar yang berisi air.


"Sayang itu permainan anak balita, memang tidak malu?" tanya Faro heran kemauan ibu hamil terkadang antik dan aneh.


"Belikan tiketnya Bang, aku mau main sama adik kecil yang berdiri di belakang Abang yang sedari tadi sepertinya dia ingin main tetapi tidak punya tiket" celoteh Inneke menunjuk kearah anak laki-laki kecil berdiri tanpa alas kaki sedang memandangi anak-anak memancing dengan riang.


Faro hanya ber-o ria mendengar jawaban Inneke yang diluar dugaannya ternyata dia sedang memperhatikan anak laki-laki kecil itu yang ternyata anak dari tukang pedagang cilok yang ada di samping permainan pemancingan.


"Sini nak, main sama ibu" ajak Inneke dengan lembut sambil melambaikan tangannya.


"A..aku boleh main Bu?" balas anak kecil itu malu-malu.


Baru bermain setengah permainan datang rombongan Ezo dan temannya, tetapi lucunya yang tadinya mereka antusias ternyata setelah turun dari bianglala itu Bagas dan Rayhan mual dan muntah, Rayhan yang dari kecil menetap di Malaysia tidak pernah menemukan pasar malam disana, sedangkan Bagas karena terbatasnya ekonomi tidak pernah naik permainan itu, sehingga membuat bulan-bulanan candaan Ezo yang gersek.


"Kalian kenapa jadi mabok setelah naik bianglala?" tanya Inneke khawatir.


"Dasar cemen dan udik memang elo berdua, begitu aja muntah" ledek Ezo tersenyum defil.

__ADS_1


"Mana gue tau Zo, ternyata sampai atas gue pusing jika lihat bawah" jujur Rayhan memegangi dahinya.


__ADS_2