Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
138. Afiyana Najwa Jasson Pranoto


__ADS_3

Iya Bu...bisa lebih cepat lagikah, semakin banyak darahnya keluar, tolong Bu" Jasson berteriak memeluk istrinya yang hampir hilang kesadarannya.


"Diusahakan Pak, tetap semangat Pak jangan kendor" ibu itu memberikan semangat, tetap mengendarai motornya dalam kecepatan tinggi, belok kanan dan kiri mencari jalan tikus yang bisa dilaluinya tanpa memperdulikan lalu lalang dan umpatan orang yang dia lewati.


"Woii...jalan lihat lihat" ada teriakan dari luar karena ibu paruh baya itu mengendarai motor seperti kesetanan.


"Ini jalan umum bukan jalane mbahmu" ada pagi teriakan rombongan ibu ibu yang melintas dan berjalan memenuhi badan jalan.


Dalam bak yang sempit keringat dingin keluar sebesar biji jagung tanpa di perdulikan lagi oleh Jasson, air mata yang terus mengalir tanpa bisa dibendung lagi, demikian juga dengan Fia air matanya menganak sungai menahan sakit, juga karena goncangan dari motor VIAR yang menabrak polisi tidur menambah sakit yang luar biasa bagi Fia.


"Sabar sayang sebentar lagi kita sampai bertahanlah, demi putri kita, I love you" bertubi-tubi ciuman didaratkan di seluruh wajahnya hanya sekedar mengurangi sakit dan tertekannya istrinya.


Hampir setengah jam perjalanan akhirnya memasuki area rumah sakit, dengan kecepatan tinggi motor VIAR itu menerobos masuk sampai depan UGD hampir menabrak sekuriti yang sedang melintas.


"Maaf pak, darurat nich" ibu paruh baya itu berteriak langsung mengerem motornya setelah tiba tepat di UGD.


"Ciiiiiiiiit.....sssttt" rem motor berhenti mendadak.


Ternyata sudah ada Faro, Ken dan jenderal Hendro, sambil berlari Faro membuka dengan kasar bak itu dan menangkup tubuh lemah Fia.


"Jasson cepat" Faro langsung berlari menggendong bridal adik kesayangannya memasuki pintu UGD disambut oleh dokter Rianti yang sudah standby mendorong brankar bersama para suster yang sudah siap siaga.


"Dokter tolong...dokter!" teriak Faro dengan kencang, darah segar sudah mengalir pada kakinya yang awalnya hanya Jasson yang terkena darah sekarang Faro juga basah karena membopong tubuh Fia.


Jasson turun dari bak itu langsung lemas terduduk dilantai dan nafas yang tidak beraturan.


Ibu paruh baya turun dari motor mendekati Jasson yang lemas dan ikut duduk mensejajarkan tubuhnya.


"Anda baik baik saja pak?" Jasson langsung memeluk ibu yang tidak dikenalnya sama sekali tetapi mau membantu berjuang menyelamatkan istri dan bayinya.


"Terima kasih Bu, terima kasih banyak, saya tidak tahu apa jadinya jika tidak ada Ibu" yang tadinya baju ibu itu bersih sekarang menjadi ikut basah karena darah yang menempel pada baju Jasson mengenai baju ibunya juga.


"Ya...yah...baju ibu jadi merah" ibu menghibur Jasson agar mau tersenyum


Datang dokter Rianti dan seorang suster membawa berkas dan pulpen ditangannya.


"Suami ibu Fia mana?" Panggil dokter Rianti kepada Jasson menyapu daerah sekitarnya.


"Iya saya dok" Jasson berdiri dan berjalan mendekati dokter Rianti dengan cepat.


"Kita akan segera mengoperasi Caesar ibu ya Pak, mohon di tandatangani, untung bapak tepat waktu membawa kesini, sebenarnya ibu Fia sudah pembukaan lima tetapi denyut nadi sudah mulai melemah tidak mungkin beliau akan melahiran biasa" keterangan dokter Rianti dan suster itu memberikan pulpen.

__ADS_1


Tanpa membaca berkas itu Jasson langsung tanda tangan dengan tangan bergetar "Selamatkan istri dan baby-nya dok, aku mohon" melipatkan tangannya didada setelah tanda tangan berharap dokter bisa dan segera menyelamatkannya.


"Kami akan berusaha sekuat tenaga pak, berdoalah semoga operasi Caesar lancar" dokter Rianti masuk ruang UGD dan mempersiapkan keperluan operasi dan membawa Fia pindah ke ruang operasi.


Kembali Jasson memeluk ibu paruh baya yang membantunya dengan erat.


"Ibu terima kasih, tolong jangan pergi dulu sebelum Istriku selesai operasi, aku mohon" ibu itu memandangi wajah khawatir Jasson, merasa seperti anaknya sendiri karena wajah yang masih muda.


"Baiklah nak, aku anggap kalian berdua seperti anakku sendiri jadi aku menolong dengan ikhlas, ibu akan disini sampai cucu ibu lahir"


Datang hampir bersamaan keluarga besar Ken ke rumah sakit untuk memberi dukungan kepada Jasson dan Fia, bahkan mama Trisya dan Papa Andri datang dengan menggunakan baju rumah tanpa disadari karena mendengar putranya dan menantunya terkena musibah.


Semua keluarga memeluk ibu yang membantu Jasson satu persatu mengucapkan terima kasih dan merasa kagum seorang wanita paruh baya masih bisa mengemudikan motor roda tiga VIAR dengan baik.


Sekarang semua keluarga menunggu didepan ruang operasi, sedangkan Jasson hanya hanya terbengong mulai tersadar darimana semua keluarga tahu tentang peristiwa kecelakaan yang baru saja terjadi.


"Bang, darimana Abang tahu saya menuju kerumah sakit ini?" tanya Jasson kepada Faro yang duduk di bangku panjang dengan bajunya terkena noda darah.


"Itu tadi dari Jenderal Hendro memberitahu Abang, ceritanya begini" Faro mulai bercerita


Flashback on


Rekaman CCTV itu langsung dikirim ke jemderal Hendro, jenderal Hendro yang berada di markas intelejen langsung membuka CCTV melalui monitor besar dibantu oleh Pak Kumis dan Uda Padang.


Memperhatikan monitor sambil menghubungi Faro dan mengirimi potongan tentang Jasson yang berjuang menyelamatkan istri dan bayinya, naik motor VIAR jenderal Hendro mengajak bertemu di rumah sakit yang memungkinkan dituju oleh ibu paruh baya yang menolong Jasson.


Faro saat sedang santai diruang keluarga sepulangnya Jasson dan Fia bersama keluarga dan para pegawai termasuk para bodyguard sedang menonton motor GP secara live, ada notifikasi pesan WA masuk dari Jenderal Hendro langsung membuka pesan itu, mata Faro langsung membulat sempurna melihat potongan CCTV memanggil istrinya.


"Sayang coba lihat ini, Abang keatas sebentar mengambil dompet dan kunci mobil" Faro menyerahkan handphone kepada Inneke, Inneke dan Mama Meera serta semua pegawai juga ikut melihatnya.


Semua keluarga langsung panik dan mencari cenel berita tentang kejadian kecelakaan jalan raya, ternyata memang ada yang sedang menyiarkan secara langsung kemacetan lalu lintas yang membuat kemacetan hampir tiga kilometer.


Mama Meera menghubungi semua keluarga dengan cepat tanpa kecuali dari Ken, Kemmy, bunda, Mama Trisya juga tidak ketinggalan.


"Mami nanti menyusul, Papi duluan jangan lupa kabari semua keluarga, jangan lupa panggil Mario" Faro berlari keluar rumah tetapi sebelum berangkat mencium pipi El untuk berpamitan.


"Bos tunggu!" panggil Sarwan berlari mendekati Faro yang berlari keluar rumah diikuti oleh tiga bodyguard lainnya.


"Ada apa?" tanya Faro singkat.


"Jalanan macet total hampir tiga kilometer panjangnya, itu disiarkan di televisi, sebaiknya anda saya antar menggunakan motor saja, saya tahu jalan tikus menuju rumah sakit itu" dengan tetap berlari mengikuti bosnya Sarwan memberikan solusi yang bagus.

__ADS_1


"Betul juga baiklah kita menggunakan motor saja, ini kunci mobilnya" Faro melempar kunci mobil kepada salah satu bodyguard, berlari mendekati motor yang terparkir dekat dengan pos penjagaan menggunakan helm dan berangkat menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Tidak kalah dengan ibu yang mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, Sarwan lebih lihai lagi, semua gang kecil dan polisi tidur yang melintang dijalanan tidak mengurangi kecepatannya.


"Bos, berpeganganlah dengan erat, kita akan melewati polisi tidur seperti ini sampai tembus jalan raya tepat di depan rumah sakit" teriak Sarwan sambil mengemudikan motornya bak Rossi yang baru saja di dilihatnya secara live.


Dalam perjalanan Faro sempat menghubungi Abi Ken untuk meminta langsung ke rumah sakit juga menggunakan motor yang sering dipakai para bodyguard bertugas karena itu akan lebih cepat sampai.


Yang pertama kali sampai di UGD adalah Jenderal Hendro dan lima menit kemudian Faro dan Ken datang paling akhir tetapi mereka bersyukur datang sebelum Jasson tiba di UGD sehingga Faro bisa mempersiapkan untuk menyambut mereka, menghubungi dokter Rianti dan ternyata dokter itu sedang bertugas di rumah sakit itu juga, setelah dalam sepuluh menit persiapan selesai barulah datang Jasson dengan motor yang yang di kemudikan ibu paruh baya yang penuh dengan semangat.


Flashback off


Selesai Faro cerita, semua keluarga menunggu dengan cemas lampu merah yang berada diatas pintu ruang operasi menjadi warna hijau, bersamaan dokter Rianti keluar dari sana dengan senyum yang mengembang.


"Bagaimana dengan istri dan bayi kami dok?" Jasson berlari mendekati dokter Rianti dengan hati yang berdegup kencang.


"Selamat Pak Jasson anda resmi menjadi ayah dari bayi perempuan yang cantik" jawab dokter Rianti dengan senyum yang mengembang.


"Bagaimana dengan putri saya dokter?" Imma sangat khawatir dengan Fia yang dari tadi belum bisa ditemuinya.


"Ibu Fia masih dalam pengaruh obat bius Bu, tetapi dalam keadaan stabil sekarang" jawabnya lagi.


"Baiklah pasien sebentar lagi akan kita pindahkan ke ruang rawat inap, tetapi karena sempat melemah saat masih dalam kandungan, untuk sementara baby akan di rawat di inkubator satu atau dua hari sampai badannya stabil" dokter Rianti memberikan penjelasan kepada seluruh keluarga.


Menunggu didepan pintu sebentar, datang dua suster mendorong brankar tempat tidur Fia yang masih terpejam kedua matanya masih dalam pengaruh obat bius.


Sampai selesai dipindahkan ke ruang rawat inap baru Fia mengerjapkan matanya menyapu seluruh ruangan sudah mendapati seluruh keluarga berkumpul.


"Sayang...." Jasson langsung menggenggam tangan menciuminya tanpa memperdulikan keadaan sekitar.


"Ibu itu mana Bang, aku ingin mengucapkan terima kasih?" tanya Fia lirih.


"Eeee kenapa tanya ibu itu dulu, tidak tanya putri kita?" canda Jasson sambil mencari Ibu yang sedari tadi berdiri di paling belakang.


"Saya disini nak, apakah kau baik-baik saja?" jawab ibu paruh baya mendekati Fia dengan tersenyum.


"Aku baik Bu, terima kasih atas bantuannya Bu, ibu namanya siapa?" tanya Fia kembali menggenggam tangannya.


"Nama ibu AFIYANA" jawab ibu singkat.


"Putriku namanya AFIYANA boleh ya ya Bang?" tanya Fia kepada suaminya.


"Tentu namanya AFIYANA NAJWA JASSON PRANOTO" jawab Jasson dengan senyum dan diikuti bahagia oleh seluruh keluarga.

__ADS_1


__ADS_2