
Pagi ini hampir semua keluarga dan sahabat berkumpul di rumah Mario karena pukul sepuluh nanti akan dilaksanakan ijab qobul Mario dan Ara, penjagaan juga diperketat karena di samping suasana di daerah Jakarta dan sekitarnya kurang kondusif, adanya Faro dan keluarga juga di jaga oleh bodyguard keluarga Ken juga bodyguard Faro menambah suasana menjadi semakin khidmat.
MUA yang menangani pengantin wanita adalah Cinta, dengan menggunakan kebaya modern walaupun berwajah campuran Thailand Singapura atau Melayu tetapi wajah Ara sangat cantik dan mempesona dengan sentuhan tangan Cinta.
Didampingi oleh Inneke dan Erna pengantin begitu cantik apalagi ada dua bidadari yang mendampinginya, mereka bertiga sangat cantik dan anggun.
Saat Mario, Rendi dan Faro duduk bertiga melihat mereka bertiga berjalan mendekati ketiganya.
"Lihatlah tiga bidadari itu, merekalah yang membuat kita sangat bahagia, gue sangat mencintai nya" Faro memandangi wajah istrinya dengan penuh rasa cinta.
"Benar bro, gue juga sangat bahagia walaupun sedikit kerikil dalam hidup gue, tetapi bidadari itu membuat hati gue jungkir balik mengejarnya" Rendi memandangi wajah istrinya dengan penuh cinta pula.
"Apalagi gue bro, hampir mati gue menahan rasa, karena godaan dari dia yang berbeda adat dan cara pandangan hidupnya" Mario dengan menerawang jauh kebelakang pikirannya.
"Memangnya kenapa bro, apakah dia pernah mengajak elo ke nirwana?" tanya Rendi sambil tersenyum defil mendekati telinganya.
"Ya.. begitulah, bahkan tidak cuma sekali, tetapi gue masih bisa menahan diri" jujur Mario memandangi wajah Ara yang mempesona.
"Bro, jangan-jangan bini lo juga pernah melakukan dengan orang lain sebelum elo?" celoteh Rendi karena mendengar kejujuran Mario.
Spontan Mario memukul lengan Rendi dengan keras sambil melototkan matanya "Sembarangan aja itu mulut kalau ngomong, dia belum pernah pacaran sama siapapun, karena alasannya dia ingin meyakinkan ke gue waktu itu sangat mencintai gue".
"Terus apa alasannya mengajak lagi untuk yang kedua kalinya?" gantian Faro bertanya karena penasaran.
"Karena dia takut di tangkap kakak angkatnya Decha Thanapon atau sering dipanggil Ara dengan sebutan phi Eca" balas Mario lagi.
Tiga bidadari sampai di hadapan mereka, Ara duduk berdampingan dengan Mario yang sangat gagah menggunakan jas senada putih tulang dengan Ara, Inneke duduk di samping Faro demikian juga dengan Erna duduk di samping Rendi, ada mommy di belakang Ara, sudah datang juga pak penghulu di depan mereka, dengan alasan ayah kandung Ara berbeda keyakinan sehingga penghulu memutuskan wali hakim untuk Ara.
Diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran, kutbah nikah, dilanjutkan dengan akad nikah atau ijab qobul berjalan dengan lancar sampai semua yang hadir mengucapkan kata sah bersamaan.
Mommy sangat bahagia mendengar cara agama Islam menjalankan ritual pernikahanya, mommy menangis tersedu-sedu sampai acara itu berakhir, tangis bahagia melihat putrinya sangat bahagia.
Di lanjutkan dengan sungkeman dari bapak dan Tante adiknya bapak sebagai pengganti ibunya Mario yang sudah lama meninggal dunia, setelah itu sungkem kepada mommy dengan linangan air mata Ara dan Mario memohon doa restu, walaupun tanpa kehadiran dan restu dari Daddy yang ada di Thailand, Ara bisa merasakan kebahagiaan yang tak pernah di bayangkan sebelumnya.
Memeluk Ara dan Mario bergantian dengan penuh kasih sayang mommy tidak henti hentinya meneteskan air mata, disamping karena bahagia juga sedih karena putrinya menikah tanpa restu dari Daddy nya, bahkan untuk menghadiri acara inipun mommy harus berbohong terlebih dahulu dengan berpamitan wisata ke pulau Bali yang sangat terkenal.
Selesai ijab qobul langsung diadakan acara resepsi di rumah Mario dengan sederhana, hanya saudara, sahabat, tetangga dekat serta relasi bisnis yang ada di daerah sekitar Jakarta saja yang hadir.
__ADS_1
Selesai menikmati hidangan makan yang sudah di sediakan, Faro, Mario dan Rendi duduk di satu meja saat tamu belum banyak yang datang.
"Mario, elo mau honeymoon kemana?" tanya Faro sambil menikmati hidangan itu.
"Tadi mommy bilang harus segera kembali ke Bali, takut ketahuan dari Daddy Ara, mungkin gue akan bareng sama mommy kesana" keterangan Mario sendu.
Tetapi justru Faro dan Rendi tertawa lepas karena kejujuran Mario.
"Mengapa kalian malah tertawa?" Mario tidak tahu apa yang dipikirkan kedua sahabatnya itu.
"Bro, masak sih elo mau bulan madu di temani mommy, memang mau belah duren didepan mommy juga?" celoteh Rendi cengar-cengir dengan nada mengejek.
"Memang ada belah duren di depan mommy, sembarangan, gue akan tancap gas, gue sudah lama gila melihat bos bermesraan di depan mata, lihat saja gua akan balas dendam karena elo berdua sering mem-bully gara-gara gue yang terakhir menikah" celoteh Mario yang pikirannya mulai gersek seperti dua sahabatnya.
Rendi dan Faro semakin kencang tertawanya, memang tidak dipungkiri jika mereka bertiga sudah bertemu, sering mem-bully Mario karena nikahnya paling terakhir diantara mereka bertiga.
"Kau urus aja tiket dan akomodasinya ke Bali termasuk untuk mommy, anggap aja itu hadiah honeymoon dari gue dan Inneke" ucap Faro dengan tegas.
"Waaaah titah sultan sudah turun, siap di laksanakan" jawab Mario dengan memberi hormat.
Kebahagiaan Ara hari ini sangatlah sempurna, sedangkan diluar sana berbanding terbalik, ada satu regu polisi sedang mengejar Bang Laode dan Decha Thanapon, dari jam sepuluh pagi disaat Mario mengucapkan ijab qobul, polisi mengendus keberadaan Decha Thanapon dan Bang Laode bersembunyi di sebuah guest house di samping sebuah sekolah SMU dan dekat terminal Pasar Rebo.
Karena waktu menunjukkan pagi hari penangkapan menjadi sedikit terkendala karena banyaknya masyarakat yang ingin melihat tersangka sehingga mereka berhasil kabur dengan merebut motor warga yang akan berangkat ke pasar, Bang Laode yang didepan sedangkan Decha Thanapon dibonceng di belakang.
Terjadi kejar-kejaran di jalan raya sampai beberapa saat, dengan satu mobil polisi dan berisi lima polisi beserta sopirnya dan dua polisi menggunakan motor mereka menguasai jalan raya sampai ada beberapa mobil yang mengalami kecelakaan karena pengejaran itu, hingga sampai di sebuah pasar Bang Laode membuang jaket yang di kenakan, motor di parkiran di belakang pasar berjajar dengan pengunjung yang lain dengan cepat.
"Bos lepas jasnya, kita berbaur dengan masyarakat yang ada di pasar ayo cepat" perintah Bang Laode sambil berlari kecil.
"Baiklah ayo cepat" balas Decha Thanapon berlari dengan cepat.
Mereka masuk pasar dengan berlari kecil, sedangkan regu polisi kehilangan jejak mereka berdua karena memang di sekitar pasar sangat ramai, Bang Laode masuk toko pakaian dan membeli dua stek baju, topi dan masker, mereka berganti baju di WC umum membuang baju yang mereka kenakan tadi di tempat sampah yang ada di dekat WC umum itu.
Setelah pencarian sampai pukul tiga sore, baru regu kepolisian menemukan motor yang digunakan Bang Laode dan Decha Thanapon terparkir di belakang pasar, dengan menggunakan bantuan anjing pelacak kepolisian juga menemukan jaket Bang Laode dan jas Decha Thanapon di sekitar parkiran, menemukan kemeja dan celana di tempat sampah samping WC umum dalam pasar.
Dimasukkan bukti autentik yang telah ditemukan oleh kepolisian kedalam plastik putih dan di bawa ke kantor polisi.
Sedangkan masyarakat yang ada di sekitar pasar jadi ikut penasaran karena adanya satu regu polisi yang sedang menyelidiki kasus dua buronan yang kabur tadi pagi, hampir dua jam satu regu polisi menelusuri daerah pasar tetapi mereka tidak menemukan dua buronan yang sedang di carinya.
__ADS_1
Baru saja regu polisi mendapatkan kabar dari pihak intelijen jika buronan itu menuju ke daerah pinggiran Jakarta, sampai ditempat yang dicurigai sebagai persembunyian Bang Laode dan Decha Thanapon waktu matahari akan mulai kembali peraduannya, ada semburat jingga di ufuk barat pihak kepolisian belum juga menyerah mengejar dua buronan yang membuat masyarakat rugi sangat besar kemarin.
Sampai di gang yang sepi setelah diketahui persembunyian mereka terjadi baku tempat antara Bang Laode dan Decha Thanapon melawan satu regu polisi yang persenjataan lengkap, terjadi tembakan di antara regu polisi dan kedua buronan.
Regu polisi menggunakan pakaian anti peluru, bersembunyi di sebuah angkutan umum rusak yang teronggok di pinggir gang sedangkan Bang Laode ada di balik pohon mangga besar, dan Decha Thanapon berada di samping warung kopi yang sedang tutup.
"Dor...dor...dor.." suara tembakan dari senjata rakitan Bang Laode tetapi tidak satupun mengenai regu polisi.
Salah seorang personil polisi melihat Bang Laode ada di balik pohon mangga yang cukup besar dengan terpaksa di lumpuhkan di bagian kaki bagian atas, rupanya mohon mangga itu adalah pohon mangga neneknya Mario yang dulu sering di curi mangganya oleh Jelita.
"Dor......" Peluru itu melesat kearah paha atas kaki kanan Bang Laode.
"Aaarrg..sial....bos lari tinggalkan tempat ini" Bang Laode berbisik menoleh kearah samping kanan dimana Decha Thanapon bersembunyi dengan terduduk memegangi kakinya yang banyak mengeluarkan darah segar.
Spontan Decha Thanapon berlari menjauh dari area itu, tetapi seorang polisi yang menembak Bang Laode tadi melihat Decha langsung mengarahkan peluru kearahnya.
"Dor...." peluru itu tembus dari punggung tembus ke dada Decha Thanapon tanpa bisa dihindari.
Walaupun tertembak Decha Thanapon berusaha lari dan menyelinap ke sebuah rumah yang lumayan besar bercorak rumah adat Betawi dengan paduan kayu dan tembok, masuk melalui pintu belakang dengan tangan memegangi dadanya yang penuh darah terus mengalir tanpa henti.
Saat bersamaan datang dari arah depan wanita cantik berpakaian gaun pengantin di gandeng oleh wanita paruh baya dengan senyum yang mengembang pada bibir keduanya.
Ada darah yang berceceran dari arah pintu dapur menuju kamar pengantin membuat kedua wanita beda usia itu membelalakkan matanya, membulat dengan sempurna bergegas masuk kamar itu.
Saat ketiganya saling tatap alangkah kagetnya ada seorang laki-laki yang sangat di kenalnya terbaring di lantai memegangi dadanya yang penuh dengan darah.
"Phi Eca.......phi...." Ara menatap nanar kakak angkatnya yang penuh dengan darah.
___________
Jangan lupa like vote dan komentar serta
hadiahnya, semoga Allah SWT selalu
melindungi kita semua
Aamiin terima kasih
__ADS_1