Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
118. Berpulangnya Opa Tomy


__ADS_3

Sore hari hanya para ibu-ibu yang menemani Opa Tomy beserta baby Rafael saat baby Rafael ikut berbaring disamping Opa Tomy dan berceloteh dengan bahasa planet senyum beliau selalu mengembang.


"Waduh baby Rafael ngomong apa, apakah mendoakan Opa buyut cepat sehat?, Aamiin Aamiin sayang, terima kasih" dengan terkekeh Opa Tomy memeluk erat baby Rafael dan mengusap lembut pipinya.


"Meera coba kesini sebentar" perintah Opa Tomy kepada menantu perempuan satu satunya.


"Ya Papa, ada yang bisa aku bantu?" Mama Meera mendekati opa Tomy dan mencium pipi baby Rafael dengan gemas.


"Nak, bisakah minta tolong jaga baby Rafael untuk Papa, bisakah kamu tinggal di Jakarta dimasa tuamu bersama putramu Faro?" pinta Opa Tomy dengan mengelus pipi Rafael sedangkan Rafael berceloteh dengan bahasa planetnya.


"Papa ngomong apa, kita akan menjaga baby Rafael bersama sama, besok kita ke Jakarta, tidak usah khawatir yang penting Papa sehat dulu" cabik Mama Meera dengan senyum yang mengembang.


"Nak Keke, boleh kan Mama Meera menjaga baby Rafael?" tanya Opa Tomy menatap Inneke dengan tatapan yang sendu.


"Tentu Opa, aku akan sangat bahagia jika Mama Meera bisa tinggal bersama kami" Inneke tersenyum memeluk Mama Meera dari samping.


Setelah seluruh keluarga besar pulang malam ini hanya Papa Edi dan Faro yang menemani Opa Tomy di rumah sakit.


"Bang selama ini jarang ikut terjun langsung mengurus perkebunan, sesekali bantulah Papa Edi mengelolanya?" pinta Opa Tomy dengan suara lirih.


"Sekarang ada dua menantu Papa Edi yang membantu Opa, jangan khawatir tentang itu, Abang percaya kok pasti Papa Edi bisa mengatasinya".


"Suami Lia dan Nia mengurus daerah wisata Bang, Papa Edi memang sedikit kewalahan" Papa Edi ikut menimpali permintaan Opa Tomy.


"Iya Bang, kamu juga memiliki saham di perusahaan dan daerah wisata ini juga, jangan lupa itu" kembali Opa Tomy mengingatkan.


"Iya opa, Papa jangan khawatir, yang penting opa sehat dulu baru kita bahas lagi nanti".


"Satu lagi Bang, tolong jaga Mama Meera di masa tuanya"


"Iya Opa pasti sehat, sini Bang, sekali kali Opa ingin tidur memelukmu?" Opa Tomy menepuk brankar tempat tidur yang ada disebelahnya.


Faro berbaring disamping Opa Tomy dipeluk erat olehnya, hanya dalam sekejap keduanya terlep, Papa Edi menggelengkan kepalanya melihat Opa dan cucu yang tertidur dengan berpelukan, akhirnya Papa Edi ikut beristirahat dengan merebahkan tubuhnya disofa panjang yang ada didalam kamar ruang rawat inap.


Hampir dua jam tertidur dalam pelukan Opa Tomy, sekitar pukul dua belas malam, Faro mengerjakan matanya, masih belum berkumpul nyawanya bergumam biasanya aku yang memeluk Inneke dengan erat mengapa sekarang dia yang memelukku, setelah dipegangnya tangan itu ingin dipindahkan kembali Faro bergumam lagi kenapa tangan Inneke menjadi keriput, kenapa dingin sekali tangannya.


Sontak Faro kaget terbangun dan duduk karena baru ingat tadi tidur dengan dipeluk oleh Opa Tomy, tetapi karena tangannya dingin, Faro turun dari brankar tempat tidur memeriksa dahi, kaki semua terasa dingin, kemudian memeriksa nadi dan nafasnya.


"Opa... Opa..ayo bangun dulu" dengan suara kencang Faro menggoyangkan tubuh yang terlihat tua dan tampak keriput, tetapi tubuh renta itu sudah tidak merespon sedikitpun.


Karena mendengar suara Faro yang kencang dan tampak khawatir Papa Edi terbangun dan langsung berlari mendekati Faro.

__ADS_1


"Ada apa Bang, bagaimana keadaan Opa?" Papa Edi ikut memeriksa nadi dan nafas Opa Tomy.


"Sepertinya beliau sudah meninggal dunia Bang, sebentar aku panggil suster dulu" berlari keluar ruangan Papa Edi menuju kearah suster yang berjaga.


Suster datang bersama Papa Edi dengan berlari kecil, mendekati brankar tempat tidur Opa Tomy, memeriksanya dengan seksama.


"Maaf Pak, beliau sudah meninggal dunia, kami ikut berduka cita" kata salah satu suster yang selesai memeriksa Opa Tomy Sanjaya.


Seketika wajah Faro pucat pasi duduk dilantai dengan meluruskan kakinya, pikirannya kosong tidak tau apa yang harus dilakukan.


"Bang... Bang... bangunlah, Abang harus kuat dan mengikhlaskan kepergian Opa, Abang harus bisa membawa jenazahnya sekarang pulang ke rumah, jangan ditunda lagi" nasehat Papa Edi.


"Bang siapa lagi yang akan melakukannya kalau bukan cucu kesayangannya, ayo kita selesaikan dengan baik" kembali Papa Edi memberikan nasehat dengan menepuk pundaknya.


"Baiklah Papa ayo kita bagi tugas" Faro berdiri mengusap air matanya yang menganak sungai tanpa bisa dicegah.


Papa memeluk Faro dengan menepuk pundaknya untuk memberikan dukungan dan bisa ikhlas jika ini sudah suratan takdir yang sudah digariskan oleh yang maha kuasa.


Yang pertama dihubungi Faro adalah Inneke tetapi sambil ke lobi dimana ada suster sedang bertugas malam itu.


"Sayang.. Opa Tomy meninggal dunia, bisa tolong kabari umi, dan seluruh keluarga yang ada di Jakarta, hubungi Mario juga untuk mempersiapkan helikopter sekarang juga, suruh semua keluarga datang kesini jangan di tunda lagi" titah Faro sambil berjalan cepat kearah lobi.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, iya Bang semua aku yang handle, Abang yang tabah" Inneke mendengar suara Faro yang terisak ikut sedih dengan apa yang telah terjadi.


"Bang, bagaimana ceritanya kenapa bisa begini" tanya Imma sambil memeluk Faro diikuti kedua mama angkatnya.


Faro menceritakan tentang peristiwa dimana perbincangan dan pesan yang diucapkan Opa Tomy sebelum meninggal dan bercerita juga jika sebelum meninggal dunia Opa Tomy memeluknya dengan erat.


Mendengar cerita Faro jika Opa Tomy meninggal dunia dengan memeluk Faro membuat ingatan Imma kembali pada saat Faro dilahirkan, saat ibu Lestari meninggal dunia dengan memeluknya erat, persis seperti yang dialami Faro saat ini, seketika kepala Imma berat dan pusing, masih dalam pelukan Faro, Imma pingsan dan hampir terjatuh.


"Umi...umi.." teriak Faro menangkap tubuh umi yang lemas, pingsan dengan wajah pucat, diangkat dan dibaringkan disofa panjang dengan perlahan.


"Umi bangunlah, Mama Meera ada minyak kayu putih kah?" Faro menjadi lemas duduk jongkok disamping umi yang masih pingsan di hadapannya.


"Ini Bang, oleskan pada hidungnya biar cepat siuman" Mama Meera mengusap lembut pipi Imma dengan hati yang khawatir.


Mata Imma mengerjap dengan lirih berucap "Ibu jangan tinggalkan Imma, ibu jangan pergi, ibu..ibu" suara Imma begitu menyayat hati.


Dengan seketika Faro memeluk Imma dengan erat, Faro jadi teringat cerita uminya jika saat dia lahir, umi kehilangan ibunya juga dalam memeluknya dengan erat seperti malam ini, Faro menjadi terisak kembali tetap memeluk Imma dengan erat.


"Umi maafkan Abang, karena Abang kita kehilangan ibu lestari" tambah deras air mata Faro melihat uminya yang lemah, berempat berpelukan saling menguatkan dan memberi dukungan.

__ADS_1


Setelah Imma sadar dan duduk disofa, Mama Dini mendekati almarhum Opa Tomy, air matanya mengalir deras mulutnya tak mampu mengucapkan sepatah katapun, Papa Edi mengusap lembut rambutnya dan memeluknya dari samping.


"Jangan pergi tinggalkan kami Pa, jangan pergi" ucapnya lirih, tiba tiba kepalanya pusing dan lemas serta pingsan dalam pelukan Papa Edi.


"Mama...mama.. bangun" Papa Edi menggendongnya bridal ketempat di sofa yang ditempati Imma tadi, sehingga Imma berdiri gantian memberikan minyak kayu putih di hidungnya.


Setelah Mama Dini siuman dari pingsannya, beristirahat sejenak duduk bertiga dengan diam seribu bahasa dengan pikiran masing-masing.


"Sudah Bang, ayo ajak umi, Mama Dini dan Mama Meera pulang biar beristirahat di rumah dan jenazah Opa Tomy sudah siap kita bawa pulang" perintah Papa Edi dengan menepuk pundak Faro.


Pukul satu malam semua sudah siap, Umi pulang bersama Mama Meera dan Mama Dini, sedangkan Faro ada di ambulance yang membawa jenazah Opa Tomy sedangkan Papa Edi pulang terlebih dahulu untuk mempersiapkan penyambutan jenazah Opa Tomy, dibantu oleh kedua menantu dan para tetangga dan karyawan yang tinggal disekitar perkebunan.


Tiba di rumah utama, jenazah Opa Tomy langsung diangkat oleh Faro, Papa Edi dan kedua menantunya, membacaan surah Yasin berkumandang menggema diseluruh ruangan.


Pukul tiga pagi seluruh keluarga besar Ken di Jakarta datang menggunakan helikopter bahkan ada Mario dan Rendi ikut serta dalam rombongan itu.


Imma yang tidak bisa tidur hanya duduk disamping Faro dan Inneke mendengar suara berat Ken langsung berdiri berlari menuju kearah suami tercintanya, memeluknya dengan erat sambil terisak.


Ken yang sudah mengetahui cerita semuanya dari Faro hanya bisa mendukungnya dengan memeluk istrinya dengan erat.


"Honey... sabar, bukankah kita sudah mengikhlaskan kepergian ibu, ibu sudah bahagia disana, demikian juga dengan Opa Tomy, kita hanya bisa berdoa semoga beliau diampuni dosanya dan diterima disisi Allah SWT, ayo beristirahat dulu" mengusap lembut pipinya tetap memeluknya erat.


"Bang, baby Rafael bagaimana apakah dia rewel?" Ken memeluk Faro dengan tangan kanannya saja sedangkan tangan kirinya tetap memeluk Imma.


"Rafael tidur pulas Abi, untungnya malam ini tidak begitu rewel, mungkin dia tahu apa yang sedang dialami seluruh keluarga" jawab Inneke dan diikuti anggukkan kepala Faro.


Mario dan Rendi mendekati Faro, memeluknya memberikan dukungan dengan menepuk pundaknya.


"Sabar bro, ikut berduka cita, semoga beliau diterima disisi Allah SWT" Mario dan Rendi bergantian memeluknya.


Sampai pagi hari hampir semua keluarga tidak ada yang tidur, bergantian duduk disamping jenazah Opa Tomy, pukul tujuh pagi jenazah dimandikan dengan dipangku oleh Faro, Papa Edi dan kedua menantunya, dikafani dan di sholatkan di masjid yang ada dikomplek perkebunan.


Di makamkan disamping makam istrinya yaitu Oma Nadia tepat pukul sepuluh pagi, Faro turun mengumandangkan azan dan iqomah sambil terisak dan suara yang bergetar, dipasang kayu papan kemudian tanah di masukkan sedikit demi sedikit sampai selesai serta diberi papan nama barulah seorang ustadz berdoa.


Setelah semua para pelayat berpamitan pulang hanya tinggal keluarga inti yang tinggal disana Faro yang sedang duduk berjongkok memegangi papan kayu yang bertuliskan nama lengkap Opa Tomy dengan tatapan kosong dengan derai air mata.


"Ayo kita pulang Bang!" ajak Ken dengan menepuk pundaknya.


"Sebentar lagi Abi, Abang masih ingin disini" umi dengan lembut memeluknya dengan erat.


"Bang ingat baby El pasti mencari papinya, ayo kita pulang" gantian Mama Meera mengajak Faro untuk pulang ke rumah.

__ADS_1


Faro berjalan dengan tatapan yang kosong, kehilangan orang yang sangat dicintainya membuat hatinya sangat rapuh.


__ADS_2