
Hampir dua hari ini Faro selalu sibuk di kantor bahkan makan siang hampir tidak sempat, saat sehari lalu Faro cerita pada istrinya jika tidak sempat makan siang hari ini Inneke berinisiatif datang ke kantor untuk mengirim makan siang untuknya.
Saat Imma sedang membantu bibi memasak makan siang di dapur, Inneke bergabung membantu umi mertuanya itu.
"Umi hari ini aku ingin mengantar makan siang untuk Abang ya, karena katanya kemarin hampir tidak sempat untuk makan siang"
"Iya nak, suamimu itu sama persis kayak Abi, kalau sudah kerja lupa waktu, harus selalu di perhatikan" nasehat Imma.
"Iya umi, aku belum begitu tahu makanan kesukaan Abang?, nanti harus banyak belajar dengan umi" kata Inneke lagi.
Selesai memasak Inneke menyiapkan makan untuk makan siang, nasi, sayur soup, ayam goreng, sambel terasi, buah melon yang sudah di potong-potong.
"Nak jangan naik mobil online, Pak Min yang anter, ada juga salesman juga yang ngawal" perintah Imma membantu menyiapkan makan untuk Faro.
"Aku berangkat umi" pamit Inneke mengambil punggung tangan Imma sambil dan berpamitan juga.
Hampir satu jam perjalanan menuju kantor Faro, akhirnya Inneke sampai di lobi perusahaan, awalnya akan di tahan oleh sekuriti dan resepsionis tetapi karena bersama Pak Min dan pengawalnya ada di belakang mereka bertanya.
"Siapa pak Min, sepertinya tidak asing?" tanya salah satu sekuriti dan juga di pandang sebelah mata oleh resepsionis.
"Beliau ini istri bos, jangan macam-macam lo, mau di pecat" kata Pak Min tegas membuat sekuriti dan resepsionis itu langsung menundukkan badannya hormat dan menyapanya dengan ramah.
"Selamat siang Bu bos, maaf silahkan masuk" akhirnya resepsionis itu bersikap sopan.
Inneke hanya tersenyum dan mengangguk sopan terus mengikuti pak Min masuk lift khusus untuk direktur dan owner saja sampai di depan kantor Faro Bertemu dengan Mario yang baru keluar dari ruangannya sendiri ingin masuk ke kantor Faro.
"Siang Bu bos, mau ketemu bos kah, sebentar" kata Mario mendekati pintu kantor Faro dan mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Tok...tok....tok..."
"Masuk" suara Faro dari dalam.
Dengan senyum manis Inneke masuk di belakang Mario membuat Faro langsung berlari mendekati Inneke.
"Sayang kenapa tidak bilang kalau mau kesini bisa Abang jemput di bawah?" ucap Faro mendekati Inneke mencium bibirnya sekilas.
"Bos ada gue sama Pak Min, main nyosor aja" protes Mario disertai Pak Min yang terkekeh karena Mario yang mengulurkan map untuk minta tanda tangan.
"Bos saya pamit, mau jemput adik Ezo di sekolahan" pamit Pak Min dan para bodyguard yang mengawal Inneke tadi keluar kantor.
"Iya pak Min, langsung pulang aja tidak usah jemput kesini lagi" titah Faro sambil duduk kembali di singgasananya, sedangkan Inneke mempersiapkan makan siang di sofa tamu yang ada di pojok kantor Faro.
__ADS_1
"Mana yang harus gue tandatangani, cepat bawa sini"
Hanya dalam waktu sepuluh menit Faro sudah menyelesaikan tanda tangan yang disodorkan oleh Mario tanpa terkecuali.
"Bro, hari ini tidak ada pertemuan lagi kan, siapapun yang memberikan laporan tahan di mejamu saja, jangan ada yang masuk kantor ku, sampai sore kecuali elo saja, ok" ucap Faro mengedipkan matanya kepada Mario agar cepat keluar dari kantornya.
"Mau bulan madu kedua di kantor, dasar bucin baru, bikin ngiler aja" protes Mario keluar dari ruangan itu, dengan membawa setumpuk map yang baru saja di tandatangani.
"Ayo makan dulu Bang, keburu dingin nanti" ajak Inneke sambil mengambilkan makan untuk Faro.
"Tanggung Yang, sedikit lagi, ini harus diselesaikan segera Sebelum kita honeymoon ke Brunai Darussalam soalnya" Faro tetap saja fokus pada laptop yang ada di depannya sedangkan Inneke sudah mengambilkan makan siang saat itu.
Akhirnya Inneke menyuapi Faro, karena nanti dan nanti saja jawabannya tetapi tidak juga selesai pekerjaan itu di kerjakan, hampir lima belas menit berlalu sampai nasi satu piring habis tidak tersisa.
"Ini minum dulu Bang" kata Inneke setelah selesai menyuapi makan.
"Hmmmm" Faro tetap aja fokus pada laptopnya sehingga Inneke juga menyuapkan minum di mulut Faro, dan karena kesal Inneke selesai memberikan minum di ciumnya bibir Faro yang sedikit basah karena terkena minum.
Faro langsung menarik Inneke dalam pangkuannya melanjutkan ciuman Inneke yang hanya sekilas tadi.
"Hmmm Abang ini di kantor jangan mesum" Inneke mencoba berdiri dari pangkuan Faro yang di peluk erat oleh Faro.
"Siapa yang mulai, kau yang membangunkan cobra yang sedang anteng tidur" Faro terus menelusuri bibir Inneke mengabsen seluruh rongga mulut Inneke.
"Waow... bos, maaf mengapa mesum di kantor, ini masih ada dua lagi yang harus di tandatangani hari ini" kata Mario berbalik badan menghadap pintu agar mereka berhenti sejenak mesumnya.
"Kamu mengganggu aja bawa sini" titah Faro tanpa mengijinkan Inneke bangun dari pangkuannya, tetap mendekapnya.
"Nich sudah selesai, jangan masuk kesini tanpa mengetuk dulu, dasar pengganggu" protes Faro sambil memeluk Inneke yang masih dalam pangkuan.
"Dasar mesum, masuk kamar sana, nanti kalau ada yang langsung masuk, malah berabe" cabik Mario mengambil map yang selesai di tandatangani.
"Ide bagus, sekarang keluar sana" titah Faro lagi, mematikan laptop menunggu Mario keluar dari ruangan dan menggendong bridal Inneke membawa ke kamar yang belum pernah di pakai untuk macam-macam selain untuk beristirahat.
"Bang, turunkan aku, mau ngapain ini kantor" Inneke meronta ronta dengan menggoyangkan kakinya tetapi Faro sudah tidak bisa di bantah.
"Salah sendiri kau telah membangunkan ular cobra yang sedang tidur" kata Faro membuka pintu dengan kaki dan menutup juga dengan kakinya meletakkan Inneke di tempat tidur perlahan-lahan.
Faro membuka jasnya dan di lempar entah kemana, membuka perlahan resleting belakang baju Inneke dan melemparkan juga di sembarang tempat.
Faro mulai membuka satu persatu bajunya sendiri, serta semua yang ada di tubuh Inneke, memulai bergerilya di setiap incinya, jika sudah begitu Inneke tidak bisa menahan diri, Inneke selalu bisa mengimbangi apa yang dilakukan Faro, terkadang Inneke akan lebih agresif jika sudah panas dengan sentuhan Faro, selanjutnya Faro akan mengikuti alur Inneke sampai puncak klimaks itu dengan senyum simpul dan tumbang disamping Inneke.
__ADS_1
"Terima kasih kau memang yang terbaik, Abang mau sekali lagi ya" pinta Faro setelah beristirahat sebentar mengatur nafas yang tersengal-sengal karena pergulatan itu.
Faro akan selalu mengawali dengan memancing gairah Inneke, bergerilya mencium bibir Inneke, mendaki gunung kembar dan menuruni lembah dengan caranya sendiri, jika Inneke sudah mulai mengeluarkan suara laknat itu dengan sendirinya dia akan bergantian memegang kendali atas Faro, sampai klimaks kembali barulah Inneke akan merasa malu memerah mukanya seperti tomat.
Membawa Inneke di kamar mandi yang ada di kamar itu, menggosok punggung Inneke dengan lembut dan setelah selesai membalutkan handuk di badan Inneke dan dirinya sendiri kembali ke tempat tidur, mengambilkan baju, CD dan bra yang tadi entah terlempar kemana membantunya memakaikan semua sambil sesekali mengusap dan mencium kening ataupun bibir Inneke dengan penuh cinta.
"I love you" ucap Faro setelah Inneke rapi kembali memakai bajunya.
"I love you more" balas Inneke menunduk malu karena dia tidak bisa mengendalikan diri sendiri jika sudah dalam pelukan Faro.
Faro mengajak Inneke keluar kamar dan membawa ke ruang rahasia yang selama ini jarang di ketahui oleh siapapun.
"Sayang, sini Abang akan mulai bercerita tentang siapa sebenarnya Abang" Faro menggandeng tangan Inneke membuka pintu rahasia yang ada di belakang lemari buku.
Di ruangan itu mata Inneke terbelalak lebar, ada macam-macam senjata otomatis dalam berbagai model baik Laras panjang ataupun Laras pendek, dan Inneke juga membaca jika ada surat resmi dari senjata otomatis itu.
"Bang ini--? tanya Inneke tidak melanjutkan pertanyaannya.
"Ini adalah salah satu hobi Abang mulai dari umur empat tahun" cerita Faro sambil tersenyum dan memeluk pinggang Inneke.
Barulah Faro bercerita siapa sebenarnya dirinya, ibu kandungnya, Opa dan Omanya sampai ke musuh-musuh yang selalu mengikutinya sampai saat ini, Faro juga tidak menutup nutupi jika dia masih ada orang yang mengejarnya yaitu mafia terbesar se Asia tenggara.
Faro juga menceritakan jika dia adalah anggota intelejen rahasia, yang selama ini uminya sendiri pun tidak tahu, tetapi Faro tetap jujur kepada istrinya itu karena suatu saat nanti jika terjadi hal yang tidak di inginkan, Inneke akan memahami situasinya.
"Jadi karena ini, aku selalu di kawal oleh salesman jika pergi kemana-mana?" tanya Inneke mulai bisa menarik benang merah antara pengawalan yang selama ini dia terima tetapi tidak faham mengapa harus di kawal kemanapun dia pergi.
"Iya sayang, Abang mohon ini di rahasiakan terlebih dahulu, dari bunda dan umi terutama ya, Abang tidak ingin mereka khawatir" pinta Faro kemudian.
"Baiklah Bang, siapapun latar belakang Abang, aku akan menerima dengan ikhlas, karena aku sangat mencintai Abang" rayu Inneke mencium bibir Faro sekilas.
"Jangan mulai lagi, Abang mulai tidak bisa mengendalikan diri, mau Abang makan lagi disini" goda Faro mendekati Inneke mencium bibirnya dengan rakus.
"Ampun jangan Bang, aku lapar" suara Inneke manja membuat Faro terkekeh dan mengusap bibir Inneke dengan tangan saja.
"Satu lagi sayang" kata Faro mengajak Inneke duduk di bangku panjang yang ada di samping ruangan menembak itu.
"Besok kita akan honeymoon ke Brunai Darussalam, itu sebetulnya hadiah dari kerajaan itu karena Abang berhasil memecahkan masalah rahasia di intern kerajaan itu" cerita Faro.
"Apakah nanti Abang tidak ketahuan, jika kita kesana" tanya Inneke penasaran.
"Orang dari Jenderal Hendro dan intelejen Brunei Darussalam yang akan mengaturnya, kita tinggal mengikuti mereka saja, jangan khawatir" nasehat Faro agar Inneke tenang.
__ADS_1
"Baiklah yang penting keselamatan Abang dan keluarga harus di utamakan" nasehat Inneke bijak.
"Pasti, itu selalu menjadi prioritas Abang selama ini, apalagi sekarang ada kamu, keselamatan kamu juga menjadi tanggung jawab Abang" jawab Faro dengan memeluk Inneke dengan erat.