
Di rumah sakit pagi ini Faro kedatangan tiga orang inti intelejen mengucapkan selamat atas kelahiran baby Rafael, juga menceritakan tentang orang ketiga yang menemui Thora Thanapon di lobi sebuah hotel pada hari Senin yang lalu setelah meeting bersama Faro dan Jasson.
"Bang, orang ketiga yang menemui Thora Thanapon di lobi hotel itu bernama Felix Siregar seorang pengacara dan detektif swasta yang sanggup melakukan apa saja agar klien berhasil" cerita jenderal Hendro saat duduk didepan ruang rawat inap Inneke duduk di bangku panjang berempat.
"Apakah dia berhubungan langsung dengan Theo Thanapon jenderal?" tanya Faro sambil mengingat jika mendengar suara pengacara itu sudah berumur lebih dari tiga puluh tahun atau empat puluh tahun.
"Sepertinya dia salah satu orang kepercayaan Theo Thanapon dan dia juga yang membebaskan empat orang laki-laki yang ikut tawuran pelajar saat itu" pak Kumis ikut memberikan keterangan.
Selesai menceritakan tentang hal yang perlu di ketahui Faro mereka berpamitan tetapi melihat baby Rafael sebelum pulang.
"Waaaah wajahnya mirip sekali seperti Abang saat tidur begini, semoga memiliki kemampuan seperti papinya" doa Uda Padang mentowel pipinya yang tembem.
Faro duduk disamping Inneke tersenyum mendengar doa dari Uda Padang.
"Iya seperti di foto kopi mukanya, selamat ya Abang, neng Keke semoga menjadi anak Sholeh, berbakti pada orang tua, bangsa dan negara" doa pak Kumis tulus.
"Aamiin" jawab mereka bersamaan.
"Oek...oek....oek....." suara baby Rafael kencang dan melengking saat jenderal Hendro mendekati box bayi.
"Waah anak ganteng ceritanya kenalan sama Paman jenderal ya, minta di gendong ya?" dengan cekatan jenderal Hendro menggendong baby El tanpa canggung dan terlihat luwes, baby itu langsung terdiam tidak menangis lagi.
"Jenderal memang hebat, Abang aja masih takut takut kalau mau gendong, ini luwes banget cara gendongnya" Faro jujur dan tersenyum manis.
"Harus sering berlatih Bang, jangan malas kasihan kalau istri harus merawat sendirian, kita juga harus lebih dekat dengan anak-anak kita" nasehat jenderal Hendro bijak.
"Sini sayang sama Papi, Paman jenderal mau pulang, kasihan capek nanti" Faro mencoba ingin menggendong baby, tetapi belum sempat menggendong baby Rafael.
"Yah.....yah.....yah...basah deh, betul betul ya putramu Bang, nakal" Jenderal Hendro ternyata mendapatkan hadiah perkenalan dari baby Rafael buang air kecil dalam dekapannya.
"Sayang, kenapa nakal Paman Jenderal jadi basah baju dan celananya" Inneke ikut heboh karena ulah putranya.
"Tidak apa-apa, kita pamit pulang dulu ya" setelah jenderal Hendro menyerahkan baby Rafael kepada Faro.
Baby El kembali menangis karena popoknya yang basah, bergegas bibi Jum mengganti popok dengan cekatan.
"Sudah ganteng lagi, mau ***** lagi ya, sudah haus lagi Mami?" bibi Jum menggendongnya dan diletakkan dipangkuan Inneke.
Inneke memberikan ASI eksklusif kepada baby Rafael dengan lembut, sedangkan Faro hanya menatap dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Sayang, apakah sampai dua tahun Abang berbagai dengan putramu?" bisik Faro disamping telinga Inneke.
"Abang nich, sebetulnya ini milik putra kita, Abang yang meminjamnya tahu" seloroh Inneke dengan memandang tajam Faro.
"Enak aja dari awal Abang yang menikmatinya, sekarang malah dikuasai olehnya" cabik Faro mengerucutkan bibirnya tetapi gemas mentowel hidung baby Rafael.
"Awas ya kita bukan saingan, harus mau berbagi dengan Papi, karena itu kesukaan Papi juga" Faro kembali mentowel hidung baby Rafael lagi dan lagi.
__ADS_1
"Papi ngomong apa sih, jangan ngajarin yang tidak tidak ya pada baby Rafael" protes Inneke kesal.
Faro hanya terkekeh sekarang sudah tidak boleh berbicara fulgar lagi jika ada putranya diantara mereka, harus lebih berhati-hati gumamnya dalam hati.
Setelah kenyang baby Rafael kembali tidur di box bayi dengan nyenyak, datang rombongan Ken masuk keruangan rawat inap.
"Selamat Bang, nak Keke sekarang sudah menjadi orang tua, mana baby-nya?" Mama Trisya memeluk Inneke dengan cipika-cipiki.
"Lagi tidur Mama, itu ada di box bayi" jawab Inneke lembut dan sopan.
Mama Trisya mendekati box bayi memandangi wajahnya dengan penuh bahagia.
"Apakah ASI eksklusifnya lancar nak?" tanya Imma duduk disamping Faro yang sedang menyuapi Inneke buah mangga yang sudah dipotong potong oleh bibi Jum.
"Lancar umi, baby Rafael juga sudah pinter lagi nenennya" cerita Inneke dengan senyum yang mengembang.
Tambah ramai setelah datang rombongan bunda bergabung dengan mereka sampai sore, bercengkerama, menjaga baby El bergantian dan menikmati camilan yang dibawa oleh bunda dari restauran uthi Intan.
Menjelang senja berpamitan pulang termasuk Mama Trisya dan Papa Andri, seperti tersedot oleh magnet mereka semua enggan pulang setelah melihat cucu laki-laki yang begitu menggemaskan tetapi waktu sudah senja berjanji besok akan datang lagi.
Inneke baru sempet mandi setelah para tamu pulang, dibantu oleh Faro berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang sudah lengket karena keringat.
"Ayo Abang mandikan aja jangan lama-lama ini sudah hampir malam, takut masuk angin" celoteh Faro ikut masuk kamar mandi tanpa permisi.
"Abang tidak usah, aku bisa sendiri, takutnya nanti Abang kebablasan modus lagi" cabik Inneke sambil membayangkan jika mandi berdua sering mandi plus-plus.
"Abang tahu sayang, harus puasa, tidak usah khawatir, Abang aja masih ngilu jika ingat dokter Rianti menjahit jalan lahir kemarin" Faro berkata dengan sendu dan mata yang berkaca-kaca.
"Ssstt aduh Abang perih banget, masih sakit Bang aduuuh" keluh Inneke sambil meringis menahan sakit.
Faro langsung panik melihat Inneke kesakitan meringis hampir menangis, berjongkok didepan closed dan mengusap punggungnya "Apakah sakit sekali sayang?".
"Tidak sakit Bang, cuma perih banget" Inneke berkata sambil meringis.
"Ya sudah ayo mandi cepat, Abang bantu" Faro membuka baju Inneke mengguyur dengan sower, menggosok punggung dengan sabun, membantu mencuci rambut menggunakan sampo dan membilasnya dengan cekatan.
Mengeringkan badan dan rambutnya, baru membantu mengenakan pakaian dengan rapi, keluar dari kamar mandi Inneke sudah dalam keadaan segar dan rambut yang digulung oleh handuk kecil, keluar kamar mandi bersamaan datang Mario dan Ara beserta Rendi dan Erna.
Dasar pikiran Mario yang selalu mesum jika melihat bos berduaan dengan istrinya tanpa berpikir panjang langsung berceloteh.
"Bos, jangan bilang habis main cantik di kamar mandi berdua?" celoteh Mario dengan melototkan matanya melihat Faro keluar kamar mandi sambil memapah istrinya dengan mesra.
Dengan kesal Faro melempar handuk kearah Mario yang tadinya ada di pundaknya dengan cepat.
"Dasar otak mesum, bini gue jalan aja masih kesulitan, menuduh main cantik di kamar mandi, elo kagak tahu kalau habis melahirkan harus puasa sampai empat puluh hari?" cabik Faro menatap horor Mario yang seakan syok jika harus puasa selama empat puluh hari.
"Kok gue kagak tahu kalau harus puasa selama itu setelah melahirkan" ucap Mario heran dan sedikit bingung.
__ADS_1
"Dasar gelo siak, sudah mau punya anak masalah seperti itu malah tidak faham" gerutu Rendi ikut kesal.
Setelah cipika-cipiki dengan Ara dan Erna Inneke meluruskan kakinya di atas brankar tempat tidur, kedua calon ibu itu berdiri disamping box bayi sedang memandangi wajah baby Rafael yang sedang terlelap dalam tidurnya.
"Keke, kenapa mukanya tidak mirip elo sama sekali, semua persis seperti Bang Faro?" kata Erna sambil mengusap pipi baby El dengan lembut.
"Bro, siapa nama jagoan elo, waah dia tidak perduli walaupun berisik tetap aja terlelap dengan tenang?" Rendi ikut berdiri disamping Erna memandangi wajah bayi yang tertidur lelap.
"Panggil aja baby Rafael, setelah dia kenyang pasti langsung terlelap, kalau haus pasti akan melengking menangis dengan suara tinggi" cerita Faro dengan penuh semangat.
"Apa ASI sudah keluar Keke?" tanya Ara duduk mendekati brankar tempat tidur dan di samping Mario
"Lancar sudah ASI-nya, mana kuat banget lagi baby Rafael kalau lagi haus" cerita Inneke tersenyum.
"Waduh bos, sekarang harus berbagi dong dengan anak elo itunya" seloroh Mario tanpa di saring terlebih dahulu omongannya.
Tangan Ara mendarat di perut Mario mencubitnya kecil tetapi justru sakitnya luar biasa.
"Auw......sakit baby" ucap Mario sambil mengusap perutnya yang dicubit Ara.
"Rasain, hubby kalau ngomong tidak disaring dulu" cabik Ara malu-malu berbisik ditelinga Mario.
"Cuma bercanda baby, jangan dianggap serius" Mario dengan mengerucutkan bibirnya kesal.
Faro dan yang lainnya tertawa melihat tingkah Mario yang manja dengan istrinya tanpa melihat yang ada dalam disekitarnya.
Datang Cinta si wanita jadi-jadian dengan membawa nasi kotak yang lumayan banyak, dengan gaya khasnya berjalan bak peragawati dengan rambut panjang terurai.
"Hay....Hay...Hay... Cinta datang membawa makanan" selorohnya sambil sedikit bersenandung.
"Cinta, elo bawa nasi kotak banyak betul, hasil merampok darimana?" Faro turun dari tempat duduknya membantu cinta membawakan nasi kotak dan diletakkan keatas meja.
"Gue merampok dari teman gue yang ulang tahun, caritanya dia pesan nasi kotak lima puluh, eeeee yang datang tujuh puluh" Cinta bercerita sambil membuka dan mengeluarkan nasi kotak itu dari plastik besar.
"Rugi dong say pedagang nasi kotaknya kasihan" Ara ikut bangun dan mendekati Cinta untuk membantunya.
"Tenang aja sudah gue bayar nasi kotaknya, dia tidak bakal rugi, oya Abang Rendi ganteng tolong dong yang ini kasihkan Abang bodyguard yang ada diluar pintu itu" Cinta menyodorkan empat kotak nasi kepada Rendi yang selama ini menjadi idolanya.
"Kenapa harus gue?" protes Rendi dengan menunjuk kearah mukanya sendiri.
"Beramal dengan tenaga banyak lo Bang pahalanya" Cinta mentowel hidung Rendi dengan gaya yang kemayu.
Rendi membawa nasi kotak itu keluar ruangan rawat inap memberikan kepada bodyguard yang sedang duduk di kursi panjang samping pintu.
Sambil menikmati nasi kotak yang dibawa Cinta sesekali mereka bercanda ria, tetapi Cinta tidak ikut makan karena sudah makan di acara ulang tahun temannya, Cinta malah mengganggu baby Rafael yang sedang tertidur pulas di box bayi.
"Ganteng banget, gue jadi gemes, bangun dong ini ibu angkat sudah datang" Cinta mentowel pipinya yang tembem, karena merasa terganggu baby Rafael menggeliat dan menangis dengan suara yang melengking.
__ADS_1
"Oek......oek.....oek"
"E kodok buntung, cicak loncat" Cinta kaget dengan latah yang absurt.