Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
137. Kecelakaan Fia Jasson


__ADS_3

Sebaiknya Abang lebih waspada sepertinya mereka mulai mencurigai dan mencari informasi tentang penembakan saat Abang masih SD dulu" saran Papa Edi dengan penuh pertimbangan.


"Atau kemungkinan mereka sudah mendapatkan bukti tentang peristiwa itu, tetapi tidak mungkinlah karena selama ini tidak seorangpun yang tahu peristiwa itu selain keluarga besar kita" asisten Budi memberikan analisanya setelah Faro bercerita tentang kejadian kejadian satu tahun terakhir ini.


"Bagaimana dengan Ezo, cepat hubungi mereka untuk cepat pulang sudah sore?" titah Papa Edi kepada asisten Budi.


Tetapi belum sempat menghubungi mereka ternyata mereka sudah masuk rumah dengan suara berisik mereka, sehingga membuat lega terutama Faro.


"Bagaimana sudah puas berpetualang disana?" tanya Papa Edi kepada trio cabe-cabean.


"Banget Papa, sampai lupa makan kita, apakah ada makanan Pa, perut Ezo bukan cuma keroncongan tetapi dangdutan dan rok and rol" seloroh Ezo dengan memegangi perutnya yang lapar.


"Adalah pasti sana ke dapur, ada Mama Dini dan Mama Meera" tunjuk Papa Edi kearah dapur.


Ezo, Rayhan dan Bagas ingin berjalan ke dapur karena merasa perut yang sangat lapar tetapi Ezo ditahan oleh Faro.


"Tunggu, sini dulu handphone elo Ezo, Abang mau lihat foto yang kalian ambil, seberapa narsisnya" pinta Faro sambi menengadahkan tangannya.


"Nich gue makan dulu" setelah menyerahkan handphonenya Ezo berlari kearah dapur menuju ruang makan bergabung dengan Rayhan dan Bagas.


Faro mengecek satu persatu hasil jepretan Ezo di wisata yang mereka kunjungi tadi, bukan melihat kenarsis-an mereka tetapi yang dicari adalah orang yang mengawasi mereka.


Ternyata benar dugaan Faro, ada dua orang laki-laki yang selalu mengikuti mereka itu bisa dilihat ada beberapa foto yang tanpa sengaja mereka berdua ikut terpotret oleh Ezo, dikirim kembali oleh asisten Budi untuk diselidiki latar belang mereka.


Selesai makan yg trio cabe-cabean berniat beristirahat tetapi dipanggil oleh Faro.


"Kalian mau kemana? sini aja dulu!" perintah Faro dengan melambaikan tangannya.


"Ada apa Bang?" jawab mereka kompak dan patuh segera duduk di depan Faro.


"Abang mengajak wisata kesini ada tujuannya, bukan hanya sekedar bersenang senang" awal Faro berbicara dengan trio cabe-cabean.


"Maksudnya Bang?" tanya Rayhan penasaran.


"Kalian bertiga saat kuliah nanti dan mendapatkan tugas dari kampus untuk KKN, harus di perkebunan ini, kalian faham?" kata Faro tegas.


Trio cabe-cabean hanya ber-o ria tanpa menjawab pertanyaan dari Faro sehingga membuatnya kesal.


"Malah pada bengong, berjanjilah kalian akan melaksanakan tugas ini dengan baik" dibentaknya mereka bertiga dengan melempar bantal sofa kearah Ezo.


"Iya Bang, kami akan melaksanakan semua perintah Abang" jawab Bagas dengan tegas.


Hari Minggu pagi Faro dan rombongan ke makam Opa Tomy dan Oma Nadia selama satu jam, berpindah ke makam Uthi Sumi, mampir ke rumah umi dan keluarga besar Uthi Mami sampai tengah hari, istirahat sebentar untuk tidur siang baru sorenya berpamitan pulang kembali ke Jakarta..


Sampai di rumah Mama Meera sangat bahagia karena pengganggu anak dari bibi Narti sudah keluar dari rumah tanpa harus ikut turun tangan mengusirnya.

__ADS_1


Waktu berjalan cepat setelah Lima bulan berlalu Rafael semakin pintar, sudah mulai berbicara walaupun hanya ucapan belakangnya saja yang bisa diucapkan, mainannya juga lebih banyak cenderung seperti papinya, tangan kecilnya mulai mengikuti bakat papinya setiap melempar apapun selalu tepat sasaran.


Rafael sering menghabiskan waktunya bertiga Papi dan Mami diruang tembak, matanya sudah tidak asing lagi melihat Papi dan Mami bertanding menembak, mainan favorit Rafael juga pistol mainan yang berisi air jika dia sedang mandi.


Hari ini Fia dan Jasson berkunjung ke rumah Faro dengan perut Fia yang sudah membesar karena usia kandungan Fia memasuki bulan terakhir, hanya tinggal tunggu waktu saja, kata dokter Rianti Fia akan memiliki anak perempuan.


"Nti...nti....dek..dek" Rafael berjingkrak saat melihat Fia masuk pintu rumah Faro bersama Jasson dibelakangnya.


"Iya aunty tahu El mau pegang adik diperut aunty kan?" Fia duduk mensejajarkan tubuhnya didepan Rafael meletakkan tangan mungil Rafael diperut Fia.


"Kel...Kel....nini" Rafael menarik Jasson mengajak mengusap lembut perut Fia dengan riang.


"Kemungkinan tanggal berapa lahiran, sudah terlihat dibawah kandungannya?" tanya Inneke saat Fia berdiri dan Jasson menggendong Rafael.


"Minggu depan kak prediksinya, doakan lancar bisa lahiran biasa seperti kak Keke" pinta Fia berjalan mendekati sofa dan duduk disana.


"Pasti, semoga si cantik lahir dengan selamat dan sehat termasuk maminya" doa tulus Inneke.


"Aamiin, Aamiin"jawab Fia dan Jasson bersamaan.


"Miiiiiin" Rafael ikut mengamini hanya diikuti belakangnya saja.


Datang Mama Meera dari lantai atas duduk disamping Fia dan mengusap lembut perutnya yang membuncit.


"Sudah lama sayang?".


"Sehat, sebentar lagi Mama akhirnya mendapatkan cucu cantik, senangnya" tambah erat pelukan Mama Meera pada Fia.


"Nanti kalau aku lahiran Mama harus banyak menginap di rumah baru ya Ma, jangan kak Keke aja yang disayangi, aku juga mau" dengan manja Fia merayu Mama angkatnya.


"Pasti sayang, Mama dan umi pasti akan membantu cucu cantik".


Sampai menjelang sore Fia dan Jasson baru pulang ke rumah, hanya berdua saja, memang selama ini Jasson jarang menggunakan jasa bodyguard, kecuali istrinya berangkat sendiri baru ada pengawalan, melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang, sesekali mengelus perut Fia dan tersenyum manis.


"Baik baik didalam sayang jangan buat mommy sakit ok, Daddy always love you" ada tendangan kecil dari dalam sana membuat keduanya berbinar bisa berinteraksi walaupun masih dalam kandungan.


Baru berjalan beberapa kilometer tiba tiba ada dua mobil yang kejar-kejaran dengan kecepatan tinggi datang dari arah belakang, setelah mendekat ternyata dua mobil itu melewati mobil Jasson dari arah kanan dan kiri seketika mereka mengerem mendadak memotong laju jalannya mobil Jasson spontan Jasson mengerem mendadak.


"Ciiiiiiiiit......haaaaaaa" karena mendadak kening Fia terbentuk dasboard depan, suara rem dan teriakan bersahutan membuat Fia syok dan memegangi perutnya yang membuncit.


"Sayang... apanya yang sakit?" panik Jasson melihat kening Fia yang memerah dan bengkak perut di pegangnya dengan erat.


Fia masih meringis kesakitan, belum sempat menjawab pertanyaan suaminya keluar orang yang ada di dua mobil yang memotong jalan mobil Jasson dan salah satunya memegang pistol laras pendek.


Satu orang laki-laki yang tidak memegang pistol mendekati pintu mobil Fia, dan yang memegang pistol di tanggalannya mendekati pintu mobil Jasson.

__ADS_1


Jasson dan Fia saling pandang, diluar orang yang berlalu lalang banyak yang menjerit ketakutan, daerah sekitar jalan raya itu spontan macet total karena mobil Jasson tepat di tengah jalan dan ada dua mobil melintangkan didepannya.


"Tok...tok...tok... cepat keluar, keluar" bentak orang yang memegang senjata dengan kasar.


Diluar sudah hampir tak terkendali banyak yang berkerumun jalanan pacet parah tetapi tidak berani mendekat karena ada senjata api yang siap memuntahkan pelurunya menembus siapa saja yang ingin melawan.


"Sayang jangan keluar sebelum Abang perintahkan ok" mencium perut Fia dan mengelusnya sebentar, kemudian Jasson bergerak perlahan dengan memundurkan badannya ke jok belakang mobilnya dan keluar melalui pintu mobil bagian belakang perlahan.


"Hyaaaaaat... bruuuk....argghh" dengan secepat kilat Jasson menendang orang laki-laki yang yang memegang senjata itu dan terjatuh mencium aspal serta pistol yang sudah terlempar menjauhinya.


Setelah menendang orang itu Jasson langsung loncat diatas kap mobil depan dengan sekali hentakan.


"Hyaaaaaat bhuuuuk....." kembali Jasson menendang satu lagi orang laki-laki yang berada di samping mobil yang mendekati Fia.


Bersamaan dengan Jasson beraksi orang yang berkerumun tadi bergerak membantu dan menangkap tersangka, ada juga yang mengambil senjata otomatis laras pendek, ada juga yang menghajar kedua pelaku dengan membabi-buta.


Jasson tidak memperdulikan teriakan dan keributan disekitarnya, Jasson langsung mengetuk pintu mobil.


"Sayang...ayo buka...tok..tok.. tok" dengan cemas Jasson sambil mencoba membuka pintu dari luar.


"Abang cepat ini perutnya sakit banget" rintih Fia dengan meringis mengeluarkan air matanya, ada darah mengalir dari sela sela kakinya.


Jasson semakin panik melihat istrinya kesakitan, menangis memegangi perutnya yang membuncit.


"Aduuuh Abang..cepat sakit banget ini".


Jasson langsung meraih tasnya diselempangkan di bahu, menggendong bridal keluar dari mobil.


"Tolong kami....istriku mau melahirkan, dimana ambulance" teriak Jasson kepada semua orang yang ada disekitarnya.


Spontan ada seorang laki-laki yang membantu Jasson mencarikan jalan agar bisa keluar dari kerumunan.


"Minggir....minggir beri jalan....beri jalan ada yang terluka dan mau melahirkan" teriknya sekencang kencangnya.


Karena jalanan macet total yang bisa Jasson lakukan hanya berlari menyusuri jalan dengan berlari kencang sambil menggendong bridal istrinya tanpa memperdulikan teriakan orang yang ada disekitarnya.


Semua orang memandang dengan rasa iba tetapi tidak ada yang bisa berbuat apa-apa karena jalanan sudah macet parah hampir berlari sekitar satu kilometer meter keluar motor roda tiga VIAR yang ada mau keluar dari gang tetapi tidak bisa karena jalan itu sudah macet mungkin hampir tiga kilometer.


"Pak cepat, istrinya masukkan ke sini" teriak ibu paruh baya turun dari kemudi motor membuka bak belakang.


Tanpa pikir panjang Jasson masuk ke bak kecil itu duduk memangku Fia yang sudah kesakitan hampir tidak sadarkan diri.


"Sayang stay with me please" sambil merembes air mata Jasson menggoyangkan badan istrinya agar tetap tersadar.


Setelah ditutup baknya, ibu paruh baya itu memutar balik masuk gang membelah jalanan gang kecil dengan kecepatan tinggi, tidak perduli ada polisi tidur yang selalu merintangi jalannya dia tetap melajukan motornya mencari jalan menuju rumah sakit terdekat.

__ADS_1


"Pak maaf, ada banyak polisi tidur, akan banyak sekali guncangan tetaplah peluk dengan erat istrinya, sebentar lagi kita sampai" teriak ibu paruh baya itu dengan menjalankan motornya dengan kecepatan diatas rata-rata.


"Iya Bu...bisa lebih cepat lagikah, semakin banyak darahnya keluar, tolong Bu" Jasson berteriak memeluk istrinya yang hampir hilang kesadarannya.


__ADS_2