Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
88. Inspektur Ahmad


__ADS_3

Selesai Faro bercerita tentang Ahmad suaminya Sanah teman Inneke, Faro bergabung berenang sampai menjelang sore, karena keseruan berlomba menjajal kemampuan lawannya sampai lupa waktu, mengakibatkan Rendi yang masih sering mabuk karena ngidam badannya menggigil masuk angin dan terkapar di tempat tidur pada malam harinya.


Seperti janji Ahmad malam ini dia dan istrinya berkunjung ke villa dimana Faro dan rombongan menginap.


"Selamat datang, silahkan masuk perkenalkan dia asisten pribadi saya Mario namanya" Faro memperkenankan Mario mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Saya Ahmad tuan Mario salam kenal" Ahmad membalas jabat tangan Ahmad.


Inneke membiarkan ketiga orang laki-laki itu berbincang dan mengajak Sanah masuk kedalam ruang makan bertemu dengan Ara dan Erna yang sedang menikmati jus dan camilan ringan khas Malaysia yang dibuatkan oleh ibu penjaga villa.


"Saya langsung pada intinya ya tuan, saya petugas polis Diraja Malaysia yang menangani kasus kakak sepupu saya yang banyak membuat orang rugi dan menderita karenanya" awal Ahmad bercerita kepada Faro dan Mario.


"Siapa kakak sepupu anda?" tanya Mario cepat karena tidak sabaran membuatnya sedikit meninggi suaranya.


"Kakak sepupu saya bernama Andrew Hidayat" jawabnya singkat.


Kedua mata Faro dan Mario terbelalak membulat sempurna dan saling menatap, sangat di luar dugaan dan tidak sesuai prediksi mereka yang hanya menebak saja dari tadi siang.


Akhirnya Ahmad bercerita awalnya dia menemukan foto-foto yang lumayan banyak di lemari kamar Andrew Hidayat setelah dia mengalami amnesia permanen karena kecelakaan yang terjadi di Singapura.


Sudah dia selidiki dan di laporkan juga kepada komandan polis Diraja Malaysia tentang penemuan itu, hampir setengah tahun ini dia menyelidiki siapa dan dimana mereka tinggal yang ada di dalam foto-foto itu, tetapi sebagian besar dalam foto itu sudah meninggal dunia karena tertembak oleh Andrew Hidayat, dengan terpaksa Ahmad dan keluarga meminta maaf kepada semua korban kekejaman dari Andrew Hidayat serta tidak sedikit pula keluarga Andrew Hidayat mengganti rugi dengan materi yang sangat besar.


Keluarga baru mengetahui sepak terjang Andrew Hidayat setelah dia mengalami amnesia permanen, keluarga juga baru mengetahui jika dia adalah seorang ketua mafia cabang Malaysia yang dipimpin oleh Theo Thanapon sebagai ketua umum seluruh Asia tenggara.


Tetapi setelah melihat Faro ada di depan matanya ada sedikit kelegaan dihati Ahmad karena belum semua target di dalam foto itu tewas karena kekejaman dari Andrew Hidayat.


Ahmad juga bercerita Sebelum datang berkunjung juga sudah mendapatkan informasi tentang kejadian saat Andrew Hidayat menculik ibunya Faro dan menembak sopir pribadinya.


"Saya sebagai keluarga mohon maaf yang sebesar-besarnya atas perbuatannya kakak sepupu yang membuat keluarga anak mengalami peristiwa yang terjadi tuan" ucap Ahmad dengan melipatkan tangannya di dada dengan mata yang berkaca-kaca.


Mata Faro langsung memerah menahan amarah hampir tidak terkendali mengingat penderitaan uminya yang harus mengalami trauma karena perbuatan Andrew Hidayat.


"Anda kira dengan hanya minta maaf persoalan dengan mudah selesai, anda tahu ibu saya hampir gila karena trauma dengan ulah Andrew Hidayat hampir satu tahun kami harus mencari cara bagaimana melupakan kejadian itu" balas Faro dengan suara lantang dan berapi-api karena marah.


"Kami tahu tuan, keluarga kami akan meminta maaf langsung kepada ibu anda jika diperkenankan" Ahmad berkata dengan menundukkan kepalanya merasa bersalah karena ulah kakak sepupunya.


Datang Ara membawa minuman dan makanan ringan keruang tamu, tetapi betapa terkejutnya Ahmad melihat siapa yang datang.


"Ya Allah ya Tuhanku" Ahmad memegangi dadanya dan sedikit memundurkan tubuhnya saat Ara meletakkan minuman dan makanan ringan.


"Baby kenapa kamu yang bawa minumannya kemana ibu pelayan villa itu?" tanya Mario membantu meletakkan makanan ringan itu di meja.

__ADS_1


"Ibu sedang membakar ikan request Inneke hubbby, tidak apa-apa ringan aja kok, silahkan dinikmati" Ara tersenyum dan meninggalkan mereka kembali.


Faro memperhatikan gerak-gerik Ahmad yang kaget melihat Ara datang, bahkan mukanya lebih pucat lagi melebihi dia bertemu pertama kali saat Acara resepsi waktu siang itu.


"Dia....dia... siapa anda tuan?" Ahmad terbata-bata setelah Ara masuk kembali kedalam villa.


"Dia istri saya, apakah anda mengenalnya?" tanya Mario sambil melihat muka Ahmad pias pucat pasi.


"Fotonya dia ada di dompet kakak Andrew Hidayat, polis Diraja Malaysia mengatakan jika dia adalah putri ketua mafia Asia tenggara yang tinggal di Thailand namanya Achara Thanapon dan dia adalah tunangan kakak Andrew Sebelum kecelakaan" cerita Ahmad dengan ragu-ragu.


"Bagaimana ini bos?" tanya Mario mendengar ucapan Ahmad jika dia mengetahui identitas Ara sebenarnya.


"Tuan tolong maafkan keluarga kami, saya akan rela mengabdikan hidup saya kepada anda setelah polis Diraja Malaysia" pinta Ahmad dengan tulus dalam ucapannya.


"Mengapa anda begitu ingin kami memaafkan Andrew Hidayat?" tanya Faro tegas dan sedikit kesal.


"Tuan, keluarga kami selalu terkena karma karena dia, sehingga kami bertekad untuk memohon ampunan kepada keluarga orang yang pernah disakiti olehnya" cerita Ahmad dengan tatapan mata yang sendu.


Faro jadi mengingat Bang Conan, sepertinya laki-laki yang dihadapannya ini orang yang jujur dan gigih dalam memperjuangkan sesuatu, dia bisa di tarik dalam lingkaran untuk melepaskan diri dari orang yang selama ini mengincarnya, bisa di andalkan untuk mencari informasi tentang Theo Thanapon selain Bang Conan.


"Baiklah, saya akan memaafkan keluarga anda termasuk Andrew Hidayat dengan dua syarat?" Faro tegas mengatakan kepada Ahmad.


"Pertama tolong rahasiakan adanya keberadaan istri dari asisten Mario, karena dia memang tidak sejalan dengan ketua mafia terbesar Asia tenggara walaupun dia adalah putrinya" pinta Faro dengan kata yang hati-hati.


"Maksudnya tuan, saya kurang faham?" Ahmad minta penjelasan lebih rinci tentang anak dari Theo Thanapon.


"Ketua mafia itu tidak tahu jika putrinya tinggal di Indonesia dan sudah menikah, karena memang dia tidak setuju dengan profesi dan apa yang dilakukan ayahnya, yang Theo Thanapon tau bahwa Ara putrinya ada di USA dan tidak pernah mau pulang ke Thailand" timpal Mario memberikan penjelasan lebih rinci.


Ahmad menganggukkan kepalanya tanda faham apa yang di maksud oleh Faro dan Mario.


"Baik tuan, rahasia itu akan aman ditangan saya, dan selama anda disini saya sendiri yang akan menjadi bodyguard anda dari pengawasan ketua mafia itu" janji Ahmad dengan tegas.


Mario membelalakkan matanya mendengar Ahmad bisa begitu patuh pada Faro, jiwa intelejen bosnya itu tidak diragukan lagi memang handal dalam bidang itu.


"Panggil Ahmad saja tuan jangan sungkan, apa yang kedua tuan?" Ahmad bertanya lagi.


"Baiklah Ahmad, bisakah dilaporkan juga kepada saya jika mendapatkan informasi tentang sepak terjang Theo Thanapon selain ke polis Diraja Malaysia?" Jelas Faro tanpa ragu.


"Siap tuan, mulai saat ini saya akan melaporkan kepada anda jika mendapatkan informasi tentang apapun mengenai Theo Thanapon" janji Ahmad dengan penuh keyakinan.


Mario masih sedikit meragukan keteguhan hati dari orang yang baru saja di kenalnya yang ada didepannya.

__ADS_1


"Tunggu.... jaminan apa yang akan anda berikan kepada bosku jika anda tidak akan mengingkari janji" jujur Mario karena masih meragukan keteguhan Ahmad.


"Asisten Mario, saya menjamin dengan nyawa saya sendiri bahwa saya akan setia kepada tuan Faro apapun yang terjadi" penuh keyakinan Ahmad berkata itu.


Hari Senin pagi para bumil mulai menikmati paket babymoon nya, diawali di spa yang memanjakan mereka yang ada di lokasi villa itu juga, dari massage, lulur, padicure, menicure, lulur, facial, scrub, creambath, dari pagi sampai menjelang sore hanya beristirahat untuk makan siang saja bahkan para suami juga mendapatkan massage yang di lakukan oleh pegawai laki-laki juga.


Saat selesai di massage Sebelum makan siang, mata elang Faro melihat beberapa orang laki-laki yang berseragam polis Diraja Malaysia berada di sekitar villa yang dia tempati.


"Permisi boleh tanya pak, apakah anda sedang melakukan tugas di daerah sekitar sini?" tanya Faro mendekati salah seorang polis berseragam lengkap.


"Maaf tuan, kami di tugaskan oleh inspektur polis Ahmad Budiansyah untuk mengawal dan mengamankan anda dan rombongan di villa ini" jawabnya dengan tegas dan sopan.


"Terima kasih selamat bertugas" Faro menepuk pundak polis dan berjalan kembali kedalam villa.


"Siap laksanakan" jawabnya tegas.


Hari-hari berikutnya Ahmad Budiansyah membuktikan janjinya, saat rombongan Faro jalan-jalan, belanja oleh-oleh ke mall, makan malam bersama tetap selalu dikawal oleh beberapa orang polis dengan setia.


Hari kelima di Malaysia Ahmad dan Sanah mengundang Faro dan rombongan untuk makan malam bersama di kediamannya, ternyata sengaja Ahmad mempertemukan Faro dengan Andrew Hidayat dengan tujuan ingin memulihkan ingatan kakak sepupunya, sayangnya tidak ada reaksi sedikitpun dari Andrew Hidayat, yang ada hanya membuat Faro merah padam menahan amarah hanya sekedar memandangi wajah Andrew Hidayat yang berubah menjadi anak laki-laki kecil berumur sepuluh tahun.


Rendi yang tidak tahu awal mulanya Andrew Hidayat amnesia permanen, sangat antusias mengajak berbincang dengan Andrew Hidayat karena sedikit aneh laki-laki dewasa bertubuh kekar tetapi terjebak dalam tubuh anak kecil berumur sepuluh tahun.


"Kakak, ayo temani saya main gundu" cabik Andrew dengan menarik tangan Rendi ke ruang keluarga.


"Baiklah ayo kita main" Rendi menuruti keinginan Andrew.


Faro hanya memperhatikan Andrew Hidayat yang ceria dengan mata yang penuh kebencian dan rasa sakit hati, Andrew membidik kelereng dengan tepat sasaran, ternyata masih ada kemampuan tangan ahlinya membidik sasaran dengan tepat.


"Kakak kenapa kakak yang satu itu selalu memandangi saya terus, apakah saya nakal lagi?" cabik Andrew menunjuk kepada Faro.


"Tidak dik, kakak itu kagum karena adik pandai main gundu" rayu Rendi dengan tersenyum defil.


"Kakak boleh saya jujur?" cicit Andrew sambil memandangi tiga bumil yang sedang menikmati camilan di sofa ruang tamu.


"Apa itu?" tanya Rendi penasaran.


"Diantara tiga kakak cantik itu yang tengah lah yang paling cantik" celoteh Andrew lagi.


"Bos ayo kita pulang" Mario marah karena yang duduk di tengah bumil adalah Ara, mengakibatkan Mario ilfil sendiri.


Faro terkekeh mendekati Mario dan berbisik di telinganya "Cemburu bro, dengan anak kecil berumur sepuluh tahun?".

__ADS_1


__ADS_2