Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
75. Tingkah Aneh Inneke


__ADS_3

Malam ini adalah hari pertama Jasson tidur di rumah mertuanya, didalam kamar Fia yang serba pink berpadu dengan hijau cerah yang merupakan warna favorit Fia, Jasson benar-benar merasakan kehidupan yang berbeda dan lebih berwarna.


Seperti yang diinginkan Fia jika akan berpacaran setelah menikah, Jasson memperlakukan Fia bukan seperti istrinya tetapi lebih cenderung seperti pacaran, saat malam pertama di hotel hanya bisa memeluknya, hari pertama berada di kamar Fia hanya bisa menggandeng tangan, membelai rambutnya sesekali dan mencium pipinya.


Hari ini adalah hari ketiga setelah Fia dan Jasson menikah, besok pagi Fia akan mulai aktif kuliah dan Jasson akan mulai masuk kerja kembali seperti biasa, Jasson bertekad malam ini harus ada kemajuan dalam usahanya mendekati istrinya.


Saat Fia duduk di depan meja belajarnya memeriksa keperluan apa yang akan dibawa kuliah besok, Jasson memeluknya dari belakang.


"Sayang apakah sudah sesuai belajarnya?" Jasson meletakkan dagunya dipundak Fia.


"Ini hampir selesai Bang, emang ada apa?" tanpa menoleh Fia merapikan meja belajarnya.


"Abang boleh tanya sesuatu?".


"Tanya apa sih Bang?" Fia sambil memasukkan leptopnya di tas ransel.


"Sayang, kalau PMS biasanya berapa hari?" dengan spontan dan tanpa sadar Fia berbalik badannya menghadap Jasson.


"Paling satu Minggu aja sih" Fia mengatakan itu dengan hati yang berdebar-debar.


Saling berhadapan, mata bertemu mata saling pandang, tangan Jasson melingkar di pinggangnya, kemudian Jasson menurunkan pandangan kearah bibir mungil nan merona membuatnya spontan langsung mencium bibir itu dengan lembut, walaupun tidak ada penolakan dari Fia tetapi tidak ada balasan darinya membuat Jasson melepas tautan itu dan memandangi mata Fia yang sendu.


"Abang bikin malu aja sih, seperti ini ya rasanya ciuman?" Fia dengan polosnya bertanya kepada Jasson dengan mengusap bibirnya yang sedikit basah karena ulah Jasson.


Jasson terkekeh mendengar kepolosan Fia yang baru pertama kali berciuman "Harusnya di balas sayang kalau di cium".


"Bagaimana membalasnya aku tidak tahu?" jujur Fia melepaskan pelukan Jasson duduk di sofa panjang yang ada di samping tempat tidur, mencari remote televisi dan menyalakannya.


"Bukannya sering nonton film Korea, itu banyak lo Yang adegan ciumannya?" Jasson menyusul Fia duduk di sampingnya.


"Tapi cuma melihat saja, belum pernah praktek" cabik Fia sambil mengotak-atik remote mencari film kesukaannya.


"Baiklah ayo praktek sekarang" langsung Jasson kembali mencium bibir mungil Fia dan memintanya membuka sedikit mulutnya mengabsen semua yang ada didalamnya sampai asupan udara keduanya hampir habis, bergegas Jasson melepas tautannya.


"Mulai pintar Abang suka" Jasson mengajak rambut Fia dengan gemas.


Semenjak malam itu setelah satu Minggu pernikahan mereka Jasson semakin intens gerakannya merayu Fia, dia bertekad hanya satu Minggu saja masa berpacaran nya, bahkan Jasson berhasil memberikan tanda kepemilikan di leher jenjang Fia beberapa kali.


Hampir satu Minggu ini Jasson dengan susah payah menahan rasa dan sering bermain solo di kamar mandi, bertekad Minggu depan saat honeymoon ke Korea bisa menikmati indahnya malam pertama.


Sehari sebelum keberangkatan Jasson dan Fia Honeymoon ke Korea, Imma mengajak putrinya berbincang dari hati ke hati.

__ADS_1


"Apakah jadi kakak ingin menunda memiliki momongan sampai lulus kuliah?" tanya Imma saat mereka duduk berdua di samping kolam renang.


"Iya umi Bang Jasson juga setuju kok" jawab Fia singkat.


"Kalau begitu beli pil KB aja, nanti bibi suruh ke apotek, tetapi harus rutin ya minumnya!" titah Imma kemudian.


"Minumnya harus rutin ya umi?".


"Iyalah sayang, kalau tidak Kakak bisa kebobolan, Tek dung perutnya mlendung" Imma cengar-cengir sambil memeragakan membuat setengah lingkaran di depan perutnya.


"Umi bisa aja" Fia jadi ikut cengar-cengir.


Hari Minggu pagi ini Fia dan Jasson sudah bersiap berangkat ke bandara internasional Soekarno Hatta menuju bandara Incheon Korea Selatan, tetapi baru menarik koper keluar pintu utama rumah Rayhan dan Ezo yang baru datang langsung protes ingin ikut ke Korea.


"Abang, kakak kami ikut dong please" rayu Ezo dan Rayhan bersamaan melipatkan tangannya di dada.


"Kalian ini, tidak boleh bagaimana dengan sekolahnya?" alasan Ken yang berdiri disamping Fia mengacak rambut Ezo dan Rayhan bergantian.


"Sebaiknya kalian konsentrasi dengan detektif remaja aja, jangan lupa kirim laporannya lewat WA ke handphone Abang" Jasson memberikan alasan yang membuat mereka mengurungkan niatnya untuk ikut.


"Baiklah, tapi jangan lupa oleh-oleh buat kita nanti, daftarnya adik kirim lewat WA, Abang harus mendapatkan semuanya" pinta Ezo dengan sedikit kesal.


Dengan sedikit drama dari Ezo dan Rayhan akhirnya Fia dan Jasson bisa berangkat ke bandara di antar pak Min dan di kawal oleh dua bodyguard.


Sementara di kediaman Faro sudah hampir satu Minggu ini dipusingkan oleh Inneke yang jarang makan nasi, dia hanya makan ikan baik dibakar, stims ataupun di goreng, dan minum jus buah, buahnya hanya tiga macam saja yang di mau Inneke yaitu mangga, alpokat dan stroberi.


Belum lagi sekarang Inneke lebih sering tidur pagi dan menjelang sore hari, sedangkan malamnya sering bergadang dengan nonton televisi ataupun film laga, superhero ataupun spy film.


Hari Minggu ini Faro hanya menghabiskan waktu di rumah memperhatikan gerak gerik istrinya yang semakin hari semakin terlihat berbeda, baik pola makan pola tidur dan mood serta hatinya yang selalu mudah berubah.


Pagi setelah sarapan jus stroberi dan ikan emas yang di stims dengan irisan jahe, bawang merah, bawang putih, cabai dan tomat buatan bibi Jum dan membantu Faro sarapan, Inneke langsung masuk kamar dan tidur cantik.


Bangun pukul sebelas siang mencari suaminya yang sedang sibuk di ruang kerja, dia hanya mengintip saja tanpa menyapanya, turun ke lantai bawah ke dapur untuk melihat bibi sedang memasak apa.


"Neng Keke, ikan bawalnya ini baru mulai di bakar, apakah sudah lapar?" tanya bibi Jum yang sibuk sedang membumbui ikannya.


"Belum bibi, santai aja, yang banyak bakarnya bibi, biar sampai sore" antusias Inneke melihat bibi Narti sedang mengipasi arang yang hampir selesai.


"Neng Keke mau apa, aku bikinkan?" tanya bibi Jum lagi.


"Tidak usah bibi, lanjutkan saja, aku mau bikin jus alpukat sendiri" Inneke mendekati kulkas mengambil alpukat itu dan mulai meracik jus kesukaannya.

__ADS_1


Makan siang dan malam Inneke hanya makan ikan bawal bakar dan jus alpukat, sedangkan Faro dibuatkan menu beda oleh bibi Jum karena dia merasa bosan sudah hampir satu Minggu menunya ikan terus.


Masih ada dua ekor ikan bawal bakar di meja makan sisa makan malam, pukul satu malam saat Inneke terjaga dari tidurnya merasa lapar, bergegas turun dari tempat tidur, melepaskan pelan-pelan tangan Faro yang melingkar di pinggangnya dan keluar kamar menuju lantai bawah.


Menyalakan lampu ruang makan, membuka tudung nasi mata Inneke langsung berbinar melihat masih ada ikan bawal bakar dan menarik piring berisi dua ikan bawal bakar mendekatinya baru menikmati setengah ikan itu Inneke mendekati kulkas ingin mencari stoberi, ludahnya seperti ingin menetes hanya menayangkan bisa menikmati segarnya jus stroberi, tetapi ternyata habis yang ada hanya tinggal mangga yang masih sedikit mentah.


Entah mengapa hati Inneke menjadi sangat sedih, terduduk di dekat kulkas yang masih terbuka tanpa di sadarinya air matanya sudah menganak sungai.


Saat bersamaan Faro terjaga setelah menyadari istrinya tidak ada dalam pelukannya, Faro langsung mengenakan pakaian tidurnya yang berserakan di lantai karena kegiatan olahraga malam yang mereka lakukan sebelum tidur tadi.


Keluar kamar menuju lantai bawah mendapati istrinya terduduk didepan pintu kulkas menangis terisak membuat Faro semakin khawatir.


"Sayang ada apa, kenapa menangis didepan pintu kulkas?" Faro ikut duduk mensejajarkan tubuhnya dan mengusap air matanya dengan kedua tangannya.


"Bang, aku mau buat jus stroberi tetapi di kulkas tidak ada hwaaaaaa?" Inneke menangis semakin kencang.


Faro jadi semakin heran dengan tingkah Inneke tidak tahu harus berbuat apa, waktu menunjukkan hampir pukul dua pagi, toko manapun pasti sudah tutup.


"Kita besok pagi bisa beli stroberinya sayang, buat jus yang lain aja ya Abang buatkan?" rayu Faro mencari buah yang ada di kulkas.


"Tidak mau Bang, di kulkas adanya mangga yang masih mengkal tidak enak kalau dibuat jus, aku maunya jus stroberi sekarang hwaaaaaa" cabik Inneke masih menangis duduk tidak beranjak depan kulkas itu.


Faro mengerutkan keningnya bergumam sendiri hanya karena ingin minum jus stroberi sampai menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainannya, saat melirik meja makan ada ikan bawal bakar yang belum habis Faro memeluk Inneke.


"Sayang itu ikan bakarnya masih belum habis, kita duduk disana, makan ikan bakar aja ya?" Faro membantu Inneke berdiri, menutup kulkas dengan kakinya dan menuntunnya duduk di kursi meja makan.


Inneke melanjutkan makan ikan tetapi air matanya tetap terus mengalir tanpa henti.


"Sudah dong nangisnya sayang" Faro duduk di samping Inneke memeluk pinggangnya dengan mesra sambil sesekali mengusap air matanya yang terus mengalir.


"Abang buatkan es jeruk mau, ada sirup rasa jeruk di kulkas?" rayu Faro lagi agar Inneke berhenti menangis.


"Bang....aku mau jus stroberi sekarang hwaaaaaa" semakin kencang tangis Inneke.


Faro kembali berpikir, harus bagaimana, kemudian Faro mengingat restauran milik Uthi Intan dan Imma kafe, kira-kira diantara dua itu yang mana yang mempunyai persediaan stroberi.


"Sayang jangan menangis terus, sebentar Abang ambil handphone dulu, nanti Abang usahakan cari stroberinya ok" Faro membelai lembut pipi Inneke dan mengusap air matanya lagi.


Inneke hanya mengangguk, tetap saja tangannya tidak berhenti memasukkan ikan bawal bakar itu ke mulutnya, Faro berlari ke lift untuk ke lantai atas mengambil handphone dan kembali menghampiri Inneke dan duduk kembali di sampingnya.


Membuka handphone mengecek satu persatu nomor orang yang dikenalnya siapa yang sudah terjaga di jam saat ini melalui media sosial ataupun WA.

__ADS_1


Tidak ada satupun yang sedang online saat jam dua malam, semua mungkin sudah tertidur pulas dalam mimpi indahnya, Faro menarik nafas dalam-dalam, sempat mengingat terkadang bunda terjaga karena melaksanakan ibadah malamnya, sehingga Faro memberanikan diri menghubungi ibu mertuanya itu dengan ragu-ragu.


Menekan tombol hijau dengan nama bunda, sambungan pertama tidak di angkatnya, Faro mencoba sekali lagi siapa tahu diangkatnya gumamnya sendiri dalam hati.


__ADS_2