Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
122. Ulang Tahun Pertama El


__ADS_3

Setelah sampai di rumah Mama Meera langsung menempati kamarnya di lantai dua paling ujung sebelah ruang kerja Faro, dilantai bawah setelah Rafael mengenali rumahnya langsung melorot turun dari gendongan bibi Jum, berjalan memutari ruang keluarga seolah olah mengatakan dia sudah datang menguasai ruangan itu.


Ken, Imma dan bibi Jum duduk sambil mengawasi gerak-gerik Rafael bermain memutar ruang keluarga dengan riang, tidak diawasi hanya beberapa menit kaki Rafael sudah sampai tangga ketiga dengan suara tawa riang dengan bergumam bahasa planet.


"Bibi...!!!!!" teriak Imma dengan suara keras sambil menunjuk arah tangga.


Ken langsung berlari mendekati Rafael menyambar tubuh mungil itu, tetapi sayangnya Rafael malahan terkekeh renyah seolah diajak bercanda oleh grandpa, padahal Ken sudah ngilu mengingat dia pernah terjatuh dari tangga dan patah tulang punggungnya, Imma dan bibi Jum juga ikut berlari mendekati tangga


Faro, Inneke dan Mama Meera yang posisinya sedang mengobrol didepan kamar Mama Meera mendengar teriakkan kencang umi berlari mendekati tangga, sudah melihat Ken tidur terlentang sedangkan Rafael duduk diatas perutnya tertawa renyah, sedangkan umi dan bibi Jum terduduk dilantai dengan memegangi dadanya.


"Abi ada apa Abi, umi?" bertiga berlari menuruni tangga hampir bersamaan ikut duduk jongkok disamping umi dan bibi Jum.


"Rafael sudah bisa naik tangga sendiri padahal hanya beberapa menit saja tidak mengawasinya, sudah di tangga ketiga tadi" cerita Imma dengan mengusap dadanya dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Gantengnya Papi mau kemana ha, buat semua kaget" dengan mengelus pipi Rafael Faro dengan sendu menatap umi dan bibi Jum yang mukanya terlihat pucat.


"Bang sebaiknya untuk sementara tangga dibuatkan pintu baik dari atas maupun bawah" saran Mama Meera ikut duduk disamping bibi Jum.


Bibi Narti, bibi Tini, para bodyguard serta sekuriti yang sedang duduk menikmati kopi setelah makan siang mendengar Imma berteriak juga menghambur berlari menuju arah teriakan tadi.


"Bos...ada apa?" tanya salah satu bodyguard yang pertama tiba di bawah tangga dimana banyak yang duduk disana.


"Ini Rafael mencoba menaiki tangga" jawab Faro singkat.


Suara renyah celotehan Rafael membuat semua akhirnya jadi tertawa lepas, tidak bisa marah karenanya walaupun hati seperti mau loncat dari tempatnya.


Satu Minggu setelah peristiwa Rafael menaiki tangga sekarang tangga itu memiliki pintu pada bagian bawah dan atasnya, tetapi bukan Rafael kalau tidak membuat ulah, jiwa petualangannya semakin hari semakin besar, seperti hari ini hari ulang tahun Rafael yang pertama, saat pagi hari dia seperti biasa bangun terlebih dahulu dari Faro dan Inneke melempar bantal dan guling itu satu persatu dengan cara di tumpuk di pinggir box yang biasa dia pakai untuk tidur, melangkah perlahan dan kakinya didaratkan pada guling yang ada ditumpukan paling atas.


Setelah selesai keluar dari box bayi, Rafael melenggang berjalan menuju kamar orang tuanya kebetulan pintu antara kedua kamarnya tidak tertutup.


"Mi...mi...Pi... Pi..hm...hm" Rafael menepuk tangan Faro yang ada di pinggir tempat tidur.


Sontak Faro terbangun dan langsung duduk meraih Rafael untuk didudukkan disamping Inneke.


"Gantengnya Papi siapa yang membantu keluar dari box ha?" tanya Faro tangan sebelah kiri membangunkan Inneke yang masih terlelap.


"Sayang coba lihat El dia sudah di kamar kita, siapa yang membantunya turun dari box bayi?" dengan menarik selimut Inneke sedikit karena tubuhnya masih belum menggenakan sehelai benangpun menutupi tubuhnya.

__ADS_1


Inneke yang juga kaget sudah ada suara planet Rafael ikut duduk dengan menutup tubuhnya sampai dada.


"Bang siapa yang membantu turun dari boxnya?" Mata Inneke menyapu seluruh kamar tidak ada orang satupun yang masuk kamarnya, pintu juga masih tertutup rapat, hanya pintu yang menghubungkan antara kamar Rafael saja yang terbuka.


"Makanya sayang, Abang juga bingung ini pegang dulu El nya, coba Abang lihat di kamarnya"


Faro berjalan kearah kamar Rafael melihat ada bantal dan dua guling yang sudah berada di luar box dengan posisi menumpuk keatas, Faro menggelengkan kepalanya dengan tersenyum simpul, kemudian kembali ke kamar.


"Ternyata dia menumpuk bantal dan guling untuk berpijak saat melompati box itu" ucap Faro mendekati Inneke dan duduk disampingnya, sedangkan Rafael sedang anteng dipangkuan maminya sambil menyedot ASI.


Inneke terkekeh mendengar cerita dari Faro "Pinter banget sih, siapa yang ngajarin?, tetapi itu bahaya nak, takutnya nanti kalau jatuh bagaimana?" Inneke sambil mengelus pipi putra semata wayangnya.


Hari ulang tahun pertama Rafael hari ini tidak dirayakan dengan meriah, mulai pukul sepuluh pagi seluruh keluarga inti hanya akan berkunjung ke lima Panti asuhan dengan membawa nasi kotak yang telah dipesan di restauran bunda dan kotak kue yang dipesan di Imma kafe.


Faro dan Inneke sepakat untuk mengajari putranya perduli dengan sesama, anak yang tidak beruntung, di setiap Panti asuhan Rafael sendiri yang memberikan amplop pada setiap anak dengan dibantu Inneke,


Dengan riang Rafael memberikan satu persatu amplop itu sambil bergumam bahasa planet dan tertawa renyah, sebagian besar anak-anak panti begitu menyukai bayi yang sangat menggemaskan.


Pindah dari satu Panti asuhan ke Panti asuhan lainnya Rafael selalu antusias membagikan amplop demi amplop kepada anak-anak Panti asuhan, sampai pukul dua siang masih ada sisa nasi kotak ban box kotak kue Faro membelokkan kearah panti jompo yang ada dipinggir jalan.


Hari ulang tahun itu kebetulan hari Sabtu dan waktunya weekend, sehingga setelah selesai dari Panti jompo Faro mengajak seluruh keluarga menginap di resort yang berada di daerah Ancol, semua bibi juga keluarga bahkan sekuriti dan bodyguard membawa juga seluruh keluarganya menginap di resort itu, malamnya mengadakan BBQ makan bersama di halaman belakang resort, sedangkan Minggu paginya bebas berwisata di daerah Ancol dengan semua tiket permainan di tanggung oleh Faro tanpa kecuali.


Faro, Inneke dan Rafael pagi ini bermain bola dipinggir pantai dengan telanjang kaki berlari kesana-kemari mengejar bola sambil terkekeh riang.


"Mi..mi...mi...Pi.. Pi" tanpa merasa lelah tubuh kecil itu mengejar bola sesekali terjatuh sambil tertawa riang mengikuti gerakan Papi dan Mami.


Bermain hampir satu jam, seakan bosan Rafael berlari mendekati ombak pantai, setiap ombak datang Rafael akan loncat kegirangan dan tertawa lepas, Inneke jadi geleng geleng kepala, setiap ombak menjauh Rafael hanya mematung setelah datang ombak itu kembali dia loncat kegirangan.


Hampir satu jam juga Rafael bermain ombak, panas mulai menerpa tubuh kecilnya, tetapi dia tidak mau beranjak dari pantai itu.


"Sayang ayo istirahat sebentar, minum susu dulu, nanti kita main lagi" rayu Inneke memeluk El dengan erat.


Rafael meronta dari pelukan Inneke ingin berlari dan bergumam dengan suara planet kembali.


""Berarti nen susu buat papi saja ya, gantengnya Papi tidak usah" Faro berpura pura mendekati gunung kembar Inneke dan mulutnya terbuka sedikit "Yam..yam".


"Mi...mimmm" Rafael seolah tidak rela minuman kesukaannya diambil oleh papinya mendekati Inneke dan memeluknya dan membuka mulutnya menempel di gunung kembar itu tetapi belum terbuka.

__ADS_1


"Kita ke kamar dulu, ganti baju baru minum susu ok" Faro menggendong Rafael di pundaknya, kembali dia tertawa lepas sambil menggoyangkan kakinya di dada Faro.


Dimandikan, berganti baju berbaring di tempat tidur resort minum ASI eksklusif, setelah kenyang, matanya terpejam dengan cepat dengan nafas teratur terlelap tidur dengan nyenyak.


Dilepaskannya perlahan dari mulut mungil Rafael perlahan bangun dan turun dari tempat tidur, perut sudah keroncongan minta diisi, mencari suaminya ternyata tidak ada disofa yang awalnya duduk disana, sontak Inneke kaget setelah pintu terbuka.


"Sayang ayo makan dulu, sini duduk disofa" Faro duduk meletakkan satu piring nasi beserta lauknya dalam porsi besar beserta jus mangga dan air mineral.


"Sini Abang suapin, buka mulutnya haaaa" suapan demi suapan makan satu piring berdua inilah yang sering Faro lakukan dari awal pernikahan sampai sekarang, sesekali mengusap bibirnya dengan jari jempolnya saat ada sebutir nasi di bibirnya.


"Sayang minum dulu" satu gelas mangga juga diminum berdua.


"Terima kasih Bang, sudah kenyang" Inneke berdiri ingin berjalan meninggalkan sofa, dengan cepat Faro menarik tangan Inneke.


"Eeeee mau kemana, selesai makan gantian Abang yang akan memakan dirimu sayang" Faro menarik badan Inneke sampai membentur dada Faro dan memeluknya erat.


"Abang aku mau buang air kecil, awas iiih" Inneke mendorong tubuh Faro bergegas berlari ke kamar mandi dengan muka yang merah, walau sudah hampir dua tahun menikah rasanya masih sama seperti saat menikah dulu.


"Abang tunggu jangan lama lama ya sayang" sambil terkekeh menggoda istrinya dengan mengedipkan matanya.


Kembali dari kamar mandi dengan ragu-ragu mendekati Faro yang dari tadi menatap nanar seolah olah siap mengobrak abrik hatinya.


"Abang ada Rafael, nanti kalau terbangun bagaimana, tadi malam juga sudah tiga ronde kenapa sekarang pingin lagi Bang?" setelah Inneke duduk disamping Faro dengan cepat menarik dan memeluknya.


"Tenang aja kita akan bermain cantik disofa ini saja".


Faro berdiri menggeser sofa dengan sandaran sofa kearah tempat tidur sehingga jika Rafael terbangun, dia tidak akan melihat kedua orang tuanya bermain kuda-kudaan.


"Suasananya sangat mendukung disini sayang, paling Abang hanya minta satu ronde saja".


Dengan cekatan Faro bergerilya, membuka satu persatu baju yang dikenakan, juga baju Inneke di lempar dibawah sofa.


"Ini bukan bermain cantik Abang, sempit banget" Inneke menggerakkan badannya bahkan Faro hampir terjatuh satu sofa untuk berbaring berdua saling berhadapan menempel, bergegas Faro bergerak keatas badannya mengungkung tubuh polos Inneke dan mulai bergerilya menelusuri tubuh dari atas sampai bawah tanpa terlewati sedikitpun.


Sampai pada klimaks keduanya bersamaan dengan menyemburkan cairan pekat itu kemudian Faro terkulai lemas turun dari atas badan Inneke, tetapi dia lupa jika dia ada disofa yang sempit.


"Bruuuk...aduh sayang, pinggang Abang" Faro terjengkang dari sofa dengan posisi terlentang.

__ADS_1


__ADS_2