
Tamu mulai datang satu persatu dari rekan bisnis, kolega, pejabat memerintah, pegawai intelejen bahkan menteri pertahanan dan keamanan juga hadir dalam acara pernikahan Faro.
Sampai menjelang senja tidak ada henti-hentinya tamu yang datang, istirahat sebentar sekitar ada waktu sekitar dua jam, kedua mempelai masuk dalam hotel dan memang di sediakan untuk kedua mempelai.
Ada juga koper kecil ada di samping meja rias, yang sudah di persiapkan oleh umi dan bunda untuk ganti baju selama menginap di hotel.
"Capek banget Bang, kakiku seperti ada banyak semutnya" ucap Inneke merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur big size tanpa memperdulikan Faro yang memandangnya dengan penuh cinta.
Faro duduk di samping Inneke yang terlentang meraih kedua kakinya dan memijitnya dengan lembut.
"Bagaimana enakan, kakinya" Faro meletakkan kedua kaki Inneke di pangkuan Faro dan terus memijatnya, Inneke hanya mengangguk dan tersenyum manis.
Pijitan Faro sedikit demi sedikit naik ke kaki bagian atas, sambil tersenyum sedikit nakal Faro mulai ke atas lagi.
"Eeee Bang, jangan keatas" Inneke kaget bangun dari tempat tidur itu, gugup karena tangan Faro yang mulai tidak bisa di kendalikan.
"Bang, aku mau mandi dulu gerah, sudah hilang capeknya terima kasih" ucap Inneke gugup ingin turun dari tempat tidur, tetapi kalah cepat dengan tangan Faro yang menarik tubuh Inneke dalam pelukannya dan langsung di peluk erat.
"I love you sayang, I love you so much" ucap Faro meraih dagu Inneke menyesep bibir Inneke yang manis, awalnya Inneke malu-malu tidak membalas ciuman itu, tetapi lama-lama Inneke membuka mulutnya membuat Faro semakin menjelajahi seluruh rongga mulut Inneke dan mengabsen satu persatu yang ada disana sambil terus menyesap bibir itu sampai hampir habis napasnya.
"Pppfff....... Abang aku tidak bisa napas" protes Inneke melepaskan tautan bibir mereka.
"Bernafas dong sayang" kata Faro terkekeh melihat tingkah Inneke yang polos menjadi semakin gemas karenanya mengusap pipi Inneke yang lembut.
"Ya sudah mandi dulu sana, nanti kita sambung lagi, handuknya sudah ada di kamar mandi sepertinya" Faro mendorong Inneke kearah kamar mandi.
Sudah hampir dua puluh menit Inneke di kamar mandi tangannya meraih resleting belakang tidak sampai dan tidak bisa membukanya, dari tadi hanya membuka hiasan rambut saja yang baru terlepas sedangkan bajunya sama sekali tida bisa di lepas dari badannya, Inneke memutuskan untuk keluar dari kamar mandi.
"Bang..." gontai Inneke mendekati Faro yang duduk di pinggir tempat tidur sambil membuka handphonenya entah apa yang dia kerjakan.
"Lo kok belum jadi mandi katanya gerah, atau kurang tadi di ciumnya, atau minta dimandikan Abang?" goda Faro mendekati Inneke yang berdiri kaku menghadap Faro yang berjalan mendekat.
"Ti...ti tidak bisa buka baju Bang, tidak sampai resletingnya" gugup Inneke karena semakin dekat Faro mendekati Inneke.
"Ooooo, sini Abang bantu, tapi boleh pegang dikit ya" Faro merayu lagi sambil memiringkan badannya dan menarik resleting itu dari atas ke bawah perlahan-lahan, dengan sudah payah Faro menelan ludahnya dengan kasar karena melihat punggung mulus Inneke tanpa sadar Faro menyentuh punggung itu perlahan.
"Idih....Abang aku malu ih, terima kasih aku mau mandi dulu" cabik Inneke berlari meninggalkan Faro masuk ke kamar mandi dan menguncinya dengan cepat.
Setelah satu jam Inneke keluar dari kamar mandi hanya menggunakan jubah mandi, dan rambut ditutup dengan handuk kecil membuat Faro gagal fokus, mengikuti arah pandang kemana Inneke bergerak.
__ADS_1
"Abang sana mandi, nanti keburu umi dan bunda kesini, jangan lihatin aku terus, malu akunya" Inneke menyilangkan tangannya di dada karena risih.
"Tapi mau cium dulu ya?" pinta Faro berjalan mendekati Inneke tetapi baru sampai depan Inneke pintu di ketuk dari luar.
"Tok... tok...tok".
"Betulkan Bang, sana mandi dulu, nanti aja ciumnya" Inneke mendorong Faro ke kamar mandi, sedangkan Inneke mendekati pintu dan membukakan pintu ternyata benar ada umi dan Abi, beserta bunda dan ayah datang membawa makan untuk mereka berdua.
"Suamimu mana Ke?, cepat pakai baju kok masih pakai handuk?" perintah bunda meringsek masuk ke dalam kamar dan duduk di sofa tamu.
"Abang lagi mandi Bun, sebentar juga keluar" balas Inneke meninggalkan mereka untuk mengambil baju santai di koper kecil.
Hanya dua puluh menit dari keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di pinggang saja dengan rambut yang basah menetes, melirik Inneke seakan meminta baju yang akan di pakai.
"Bang ini bajunya, pakai dulu nanti dingin" Inneke mengambil kaos celana pendek dan CD yang ada di koper kecil itu juga.
"Pakaikan dong Yang" bisik Faro di telinga Inneke tersenyum defil, Inneke hanya menatap horor dan memukul lengan Faro agar tidak usah mengganggunya karena membuat muka Inneke jadi merah seperti tomat.
"Bang, cepat makan, harus kenyang nanti tidak bisa tahan banyak ronde kalau makan aja lambat" goda Ken tetapi meliriknya pada Imma.
"Abi, apaan sih, makan ya dinikmati, sini sayang duduk, Abang suapin lagi, keburu MUA datang lagi" kata Faro menarik Inneke duduk di samping Faro dan menyuapinya tanpa malu-malu walaupun ada orang tua dan mertuanya.
Sambil bercengkrama bersama dan menunggu Faro dan Inneke makan, MUA datang lagi untuk merias pengantin, kali ini riasan tidak terlalu berat seperti saat siang hari karena acara malam ini sebagian besar adalah undangan untuk teman-teman dan atau karyawan Faro sendiri.
Ini Faro dan Inneke sudah duduk di rapi di pelaminan, yang datang adalah satu rombongan kecil dengan seragam jas biru Dongker, bersama jenderal mereka, jenderal Hendro dan pasangan masing-masing.
Selama ini keluarga besar intelejen ini jarang terekspose di manapun mereka berada sekarang demi Faro mereka menampakkan batang hidungnya demi kebahagiaan Faro.
Setelah menikmati hidangan mereka mengambil foto bersama anggota lengkap beserta istri tercinta mereka, setelah mereka mengucapkan selamat kepada kedua mempelai, jenderal Hendro menarik kebawah sebentar dan memberikan sebuah amplop kepada Faro.
"Ini hadiah dari kami, ini dari pemerintah kerajaan Brunei Darussalam, karena kita berhasil memecahkan penyelidikan saat itu" di letakkan amplop itu di telapak tangan Faro tanpa bisa di tolak oleh Faro.
"Tenang aja mereka akan tetap merahasiakan identitas kamu, karena kami juga akan kesana, penghargaan seolah olah akan di berikan kepada kami, kamu hanya akan menikmati honeymoon seperti biasa, tetapi akan mendapatkan fasilitas istimewa yang penting amplop ini kamu berikan kepada orang yang mengawalmu" keterangan jenderal Hendro dengan sedikit berbisik.
"Saya juga sudah beli tiket honeymoon ke Jepang jenderal bagaimana jadi?" tanya Faro masih ragu-ragu menerima hadiah itu.
"Tentang aja Bang, ini masih lama, acaranya berbarengan dengan ulang tahun kemerdekaan negara itu, sekitar sepuluh hari lagi masih, kalian masih bisa ke Jepang dulu, ayo kita ke panggung pelaminan lagi kasihan istrimu sendirian" ajak jenderal Hendro berjalan kembali ke panggung.
Faro langsung menyerahkan amplop itu kepada Inneke tanpa ragu-ragu.
__ADS_1
"Nich..pegang Yang dari jendral Hendro" seloroh Faro memeluk pinggang Inneke dengan mesra.
"Apa ini Bang, paket honeymoon ke Brunai Darussalam" balas Inneke dengan membolak-balik kertas itu.
"Itu baru satu Yang, Abang juga sudah beli paket honeymoon ke Jepang, persiapkan dirimu saja dengan baik" ucap Faro lagi.
Setelah setengah jam datang silih berganti tamu yang mengucapkan selamat keluarga calon besan satu lagi yang datang memberikan selmat yaitu Andri Pranoto, Istri bersama Jasson dan Jessi, tidak tanggung-tanggung hadiah paket honeymoon ke Singapura selama lima hari di serahkan Andri Pranoto kepada Inneke.
"Menantu bapak cantik banget Bang, ini hadiah dari kami, semoga kalian samawa" doa tulus dari Andri Pranoto dan keluarga.
"Kok banyak Bang, paket honeymoon nya, kita mau kemana dulu jadi?" tanya Inneke bingung.
"Terserah aja, yang penting bagi Abang, hanya fokus makan kamu aja, masalah tempat terserah" rayu Faro mengedipkan matanya.
"Aduh, jangan mesum Bang, malu di dengar banyak orang" pipi Inneke jadi merah seperti tomat malu dengan kata Faro yang fulgar tanpa di saring terlebih dahulu.
Datang satu lagi ke panggung dengan membawa map, mengucapkan selamat kepada kedua mempelai dan sekali lagi menarik pengantin laki-laki untuk turun panggung.
"Kakak ipar pinjam suaminya sebentar ya, ini urusan bisnis" Conan sengaja menarik dari keramaian turun dari panggung dan mengajak duduk di meja tamu.
"Bang paket honeymoon lagi kah?" bisik Inneke kepada Faro, sedangkan Faro hanya mengangkat bahunya saja.
"Ada apa, apakah sudah pasti target menetap dimana?" tanya Faro dengan penuh harap dan penasaran.
"Iya bos sudah finally, target tinggal di Malaysia, dan satu lagi serum juga sudah bisa digunakan dengan jarak jauh dengan dikendalikan oleh handphone kita, ini laporannya" Conan menyerahkan semua laporan dan bukti autentik yang mendukung dua Kasus itu.
"Bagaimana kalau anda honeymoon ke Malaysia aja bos, biar aku yang atur?" saran Conan kepada bosnya.
"Tidak bisa, aku sudah punya tiga paket honeymoon, nanti aja kita atur lagi, Mario sini sebentar" teriak Faro memanggil Mario yang dari tadi sedang ngumpul bersama dengan Rendi dan kawan-kawan.
"Ada apa bos, ini malam resepsi anda bos, masih aja tetap kerja, terlalu" protes Mario sedikit kesal melihat tingkah bosnya.
"Tidak usah protes urusin tuuh laporan, simpan aja dulu, jangan sampai bocor kemana-mana" perintah Faro, meninggalkan tempat itu naik lagi ke panggung mendekati Inneke yang sendiri di sana.
Waktu semakin malam, Mario, Ara, Rendi dan Erna mengambil foto bersama sebagai kenang-kenangan, dan juga seluruh keluarga besar juga foto bersama.
"Bro, sana istirahat, jangan langsung tancap gas ya, awas kalau Inneke tidak bisa jalan, bagaimana mau honeymoon nya?" Sindir Rendi mendorong tubuh Faro pelan.
"Yeee, suka-suka gue, dia istri gue, kenapa elo yang sibuk" ucap Faro mendekati Inneke yang tersenyum manis walaupun semakin malam tetap saja manis di mata Faro.
__ADS_1