Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
73. Pengantin Membeli Bantal Kecil


__ADS_3

Fia semakin bingung harus mengatakan apa, masih tetap berdiri tanpa mau disuruh duduk ataupun tiduran di tempat tidur.


"Sayang, ayolah bicara aja, Abang harus bagaimana mukamu pucat, hanya berdiri saja, tidak mau duduk atau tiduran, masak sampai pagi akan tetap berdiri terus seperti itu" cabik Jasson bertambah khawatir.


"Aku.....aku bisa minta tolong?" ragu-ragu Fia bicara.


"Sayang sudah berkali kali Abang bilang, apa yang harus Abang lakukan tidak usah malu-malu, jangan malu sama suami sendiri" lagi-lagi Jasson meyakinkan Fia untuk bicara.


"Bisa minta tolong belikan bantal kecil.....eee salah belikan pembalut, aku tidak berani duduk karena takut roknya terkena darah lagi?" akhirnya Fia jujur apa yang di perlukan saat ini.


"Ooooo itu baiklah Abang keluar sebentar, mungkin di supermarket dekat lobi ada yang menjual itu" ucap Jasson mengambil dompet dan ingin keluar kamar.


"Abang...." panggil Fia cepat Sebelum Jasson keluar kamar.


"Ya sayang, ada yang diperlukan lagi selain pembalut?" tanya Jasson berbalik badan menatap sendu wajah Fia.


"Ganti bajunya dulu Bang, nanti apa kata orang, ada pengantin membeli bantal kecil di hari pernikahannya.


Jasson terkekeh geli mendengar ucapan Fia, sambil menahan sakit tetapi masih bisa bercanda.


"Tidak usah Abang buka jasnya aja, lagian tidak mungkin pelayanan toko mengenali pengantin yang baru menikah hari ini" celoteh Faro sambil tersenyum mentowel hidung Fia gemas.


"Sekalian beli jamu pereda nyeri haid ya Bang, terima kasih sebelumnya, maaf merepotkan" Fia merasa bersalah karena di hari pertama sudah merepotkannya.


"Baiklah sayang, Abang pergi dulu" Jasson bergegas keluar kamar berlari kecil menuju lift berjalan kembali setelah keluar lift sampai dekat lobi ada sebuah supermarket kecil dan mendorong pintu supermarket.


"Mbak bisa tolong ambilkan pembalut dan jamu pereda haid?" Jasson langsung bertanya kepada kasir yang ada di depan pintu masuk.


"Buat siapa mas?" spontan kasir itu bertanya kepada Jasson.


"Aduh si mbak ini aneh, buat istriku lah, masak buat aku pakai sendiri" cicit Jasson dengan sedikit kesal.


"Oya maaf mas, refleks bertanya" kasir itu bergegas mengambilkan pesanan Jasson dan Jasson dengan segera membayar dan kembali ke kamar hotel.


Sampai di kamar Jasson masih melihat Fia yang masih dalam posisi berdiri di tempat saat dia meninggalkan Fia Sebelum berangkat ke supermarket.


"Sayang masih tetap berdiri begitu apa tidak capek kakinya, ini bantal kecilnya, cepatlah di pakai, apa perlu Abang bantu?" rayu Jasson dengan mengedipkan matanya.


"Sini Bang terima kasih" Fia mengambil pembalut itu berlari ke kamar mandi.


Hanya sepuluh menit Fia sudah keluar dari kamar mandi, bergantian Jasson yang membersihkan badannya, saat keluar dari kamar mandi Jasson melihat Fia tidur miring meringkuk tangan kiri memegangi lututnya dan tangan kanan memegangi perutnya.


Jasson bergegas memakai baju tidurnya, mengembalikan handuk ketempat semula dan duduk dipinggir tempat tidur memeriksa dahi Fia, dan membelai rambutnya dengan lembut.


"Sayang.. apanya yang sakit, ayolah bilang sama Abang" Jasson yang sangat khawatir kembali.

__ADS_1


"Bang, perutku mulas sekali, apakah ada dispenser di kamar hotel ini?" tanya Fia lirih sambil menahan sakit perutnya.


"Tidak ada sih, tapi Abang lihat di lobi hotel ada, sebentar Abang ambilkan" Jasson berlari keluar dengan cepat.


Hanya dalam seperempat menit Jasson sudah kembali ke kamar hotel, dengan nafas yang terengah-engah membawa air panas yang di masukkan ke botol Aqua botol sedang yang dia beli di supermarket, untungnya dompet tadi sempat dia bawa saat keluar dari hotel karena sangking paniknya melihat Fia sakit perutnya tidak berpikir tempat apa yang akan di pakai untuk mengambil air panas, sehingga mendapat ide membeli Aqua botol sedang, airnya di minum dan di ganti disisi air panas.


"Sayang ini air panasnya, apa lagi?" tanya Jasson cepat.


"Terima kasih Bang, sebentar aku ambil gayung kamar mandi dulu" Fia mencoba bangun dari tempat tidur walau sedikit lemah.


"Abang aja yang ambil, jangan turun dari tempat tidur, tiduran aja lagi" perintah Jasson berjalan ke kamar mandi.


"Diisi air setengah ya Bang" lirih Fia berucap.


Jasson hanya mengacungkan jempolnya mengambil air dengan gayung dan mendekati Fia kembali.


"Apalagi sayang setelah ini?" tanya Jasson kemudian.


"Tolong campurkan dengan air panas, dan tolong ambilkan handuk kecil" titah Fia kemudian.


"Sebetulnya ini buat apa sih sayang?"tanya Jasson jadi penasaran.


"Untuk mengompres perutku" jawab Fia singkat, sambil membuka baju tidurnya dan meletakkan handuk yang sudah di peras di atas perutnya.


"Abang aja yang mengompresnya" Jasson dengan telaten mengompres perut Fia, handuk yang sudah dingin di ambil di masukkan ke gayung yang berisi air hangat dan di letakkan kembali di perut Fia.


"Coba dari awal perlu air hangat untuk mengompres perut, kan ada air shower di kamar mandi yang ada air hangatnya, tidak perlu susah susah mencari air panas" celoteh Jasson panjang lebar.


Fia terkekeh sambil menahan sakit, mengapa tidak kepikiran kesana, gara-gara sungkan dan tidak ingin merepotkan suaminya justru membuatnya mengerjakan hal yang seharusnya tidak perlu gumamnya dalam hati.


"Betul juga, maaf aku tidak kepikiran kesana, sebetulnya tidak ingin merepotkan Abang" balas Fia tersenyum manis.


"Sudahlah tidak apa-apa, bagaimana sudah enakan perutnya?" tanya Jasson dengan mengusap perut Fia.


"E..e, Abang lagi ngapain?" tanya Fia gugup.


Jasson hanya tersenyum dengan kegugupan Fia, padahal jauh di dalam lubuk hati yang paling dalam Jasson menelan selvinya dengan kasar, hanya dengan mengusap lembut perutnya saja sudah ada yang terbangun di bawah sana.


"Diamlah Abang sedang mengobati sakit perut Istri cantik Abang"Jasson merayu Fia dengan mengedipkan matanya.


"Sudah enakan Bang, istirahatlah dari tadi Abang belum istirahat sama sekali" Fia mencoba melepaskan tangannya dari perutnya.


Jasson kemudian langsung naik ke tempat tidur berbaring di samping Fia, Fia menjadi sedikit gugup bergerak sedikit menjauh dari tubuh Jasson, tetapi tidak sampai lima menit Jasson sudah terlelap tidur, nafas yang teratur menandakan jika dia sudah berada didalam mimpi indahnya, akhirnya Fia juga ikut terlelap tidak di pungkiri dia juga sangat ngantuk dan capek.


Pukul tiga pagi saat Fia terbangun tangan Jasson sudah melingkar sempurna di perut Fia, perlahan Fia mengangkat tangan Jasson untuk di pindahkan ke guling yang sengaja di letakkan di antara keduanya.

__ADS_1


Tetapi ternyata Jasson sudah bangun dari tadi hanya pura-pura masih tertidur dan memejamkan matanya.


"Mau kemana, tidurlah lagi ini belum pagi?" Jasson masih pura-pura memejamkan matanya dan memeluknya kembali.


"Bang, aku ingin ke kamar mandi, mau ganti bantal kecil sebentar" ucap Fia kembali memindahkan tangannya dari pinggang Fia.


Rupanya Jasson belum menyadari yang di maksud bantal oleh Fia, sehingga Jasson menyodorkan bantal yang sedang dia pakai kepada Fia dengan mata tetap terpejam.


"Bang bukan bantal yang Abang pakai, bantal kecil, apa jadinya kalau aku pakai yang itu, dasar aneh" cabik Fia menyingkirkan tangan Jasson dari pinggangnya bangun dan ingin turun dari tempat tidur.


Jasson terkekeh membayangkan apa yang terjadi jika apa Fia katakan itu benar mata Jasson langsung on tidak ngantuk lagi.


"Malah tertawa dasar aneh" Fia masih menggerutu sambil berjalan ke kamar mandi.


"Maaf tadi nyawanya belum terkumpul semua" jawab Jasson masih tetap terkekeh geli.


Sudah hampir satu jam Fia di kamar mandi, karena Jasson menunggunya sambil membaca dan membalas pesan ucapan selamat atas pernikahannya dari teman atau kolega, sehingga saat melihat jam sudah satu jam berlalu Jasson langsung loncat turun dari tempat tidur menuju ke kamar mandi ingin mengetuk pintu bersamaan Fia membuka pintu kamar mandi.


"Sayang kenapa ganti bantalnya lama sekali?" Jasson berdiri memandangi Fia sudah mandi tetapi masih menggunakan baju yang sama.


"Aku sekalian mandi Bang, tidak cuma ganti bantal" Fia langsung meninggalkan Jasson yang bengong di depan pintu kamar mandi.


"Ini baru jam empat pagi, kenapa sudah mandi nanti kalau masuk angin bagaimana, terus sudah mandi kenapa masih pakai baju yang sama seharusnya ganti baju juga?" protes Jasson panjang lebar.


Terus saja Jasson protes ini dan itu sehingga membuat Fia menggelengkan kepalanya sambil mengambil baju yang ada di koper samping tempat tidur dan kembali ke kamar mandi untuk ganti baju, setelah Fia keluar kamar mandi dan sudah berganti baju berjalan ingin duduk di kursi meja rias langsung di tarik oleh Jasson.


"Sini duduk dekat Abang, biar tidak masuk angin" Jasson langsung memeluknya dengan erat, dan membenamkan wajahnya di dada bidang Jasson.


"Tidak usah lebay deh Bang, aku baik-baik saja, tidak usah peluk-peluk malu atu Bang" cabik Fia gugup dengan jantung yang berdegup kencang.


Akhirnya sampai pagi menjelang Fia dan Jasson bercengkerama berdua dengan membicarakan tentang bermacam hal dari hati ke hati.


Yang seharusnya siang ini Jasson mengajak Fia bulan madu ke Korea seperti impian Fia, demi kesehatan istrinya Jasson mengundurkan sampai Minggu depan.


Jadi pagi harinya di jemput oleh Gio asistennya Jasson memutuskan akan pulang ke rumah Abi dan umi agar membuat Fia nyaman dan bahagia dan bisa di buatkan wedang jahe oleh bibi seperti biasa saat Fia sedang menstruasi.


Saat melihat Fia dan Jasson datang dengan menarik kopernya Ken dan Imma saling pandang merasa heran karena seharusnya hari ini akan ke Korea untuk berbulan madu.


"Kakak, Abang... kenapa kalian pulang, harusnya berangkat honeymoon?" tanya Imma lembut.


"Tidak jadi sekarang umi, Minggu depan aja, Fia tidak enak badan" jawab Jasson mendekati Ken dan Imma mencium punggung tangan mereka bergantian.


"Bibi bisa tolong bikinkan wedang jahr?" Fia sedikit berteriak ke arah dapur ada beberapa bibi yang sedang sibuk di dapur.


"Baik kak tunggu sebentar" bibi ikut menjawab dengan berteriak.

__ADS_1


"Ooooo kakak lagi halangan?, ya sudah ikut sarapan sekalian sini" perintah umi lagi.


__ADS_2