
Keesokan harinya Faro dan jenderal Hendro beserta anggota intelejen memulai lagi penelitian kasus intern kerajaan Brunei Darussalam dari pagi hingga menjelang malam tanpa jeda.
Tentu saja di awasi langsung oleh menteri pertahanan dan keamanan yang datang dengan menyamar seperti kemarin, hanya ingin menyaksikan secara langsung otak cerdas si mata elang.
Betul adanya memang, kasus itu terpecahkan hanya dapat satu setengah hari karena ketajaman mata si mata elang yang dengan kompak bekerja sama dengan tim jenderal Hendro.
Hari Senin ini adalah hari pertama Ezo masuk SMU, Faro akan mengantarkan adiknya itu karena sopir pengganti pak Rudi, dia adalah saudara sepupu pak Rudi yang tinggal di Bogor bernama pak Min, akan mengantar jemput Ezo hari pertama ini masuk jam delapan pagi karena rumahnya ada di Bogor.
"Abang ayo cepat, ini hari pertama gue masuk sekolah, kalau telat kan tidak lucu" teriak Ezo dari ruang makan sarapan roti bakar dan segelas susu.
Faro berlari dari lantai atas turun mendekati Ezo dan Uthi Mami yang sedang membuat roti bakar untuk semua keluarga.
"Bang sarapan dulu" perintah uthi Mami sedikit berteriak karena posisi agak jauh dari Faro.
"Abang minum susu aja uthi, terima kasih" Faro langsung mengambil segelas susu hangat yang ada di meja makan dan menghabiskannya dalam sekali tenggak.
"Ayo berangkat Bang" ajak Ezo begitu antusias dengan hari pertama masuk sekolah dengan loncat kegirangan.
"Jangan macam-macam dik, jangan main cewek aja, awas kalau lo main cewek, Abang kurangi uang jajan elo lima puluh persen" ancam Faro menoyor keningnya dalam perjalanan ke sekolah Ezo.
"Iya Bang, paling cuma gandeng dikit, kagak banyak" celoteh Ezo sekenanya dengan cengar-cengir.
Setelah sampai di sekolah Ezo, Faro langsung ke kantor sampai sore, dan malamnya akan berangkat terbang menyusul Abi dan uminya di kampung, hati Faro merasa tidak tenang jika jauh dari kedua orang tuanya yang sangat di sayanginya.
Sedangkan Imma hari ini sudah bisa berinteraksi dengan tetangga sebelah rumah, menyapa ibu-ibu yang sedang lewat, serta menerima tamu Bu RT yang berkunjung ke rumahnya.
Bu RT bercerita jika dua hari lagi akan mengadakan posyandu penimbangan balita, pemberian vitamin dan penambahan gizi bagi balita yang kurang berat badannya,
"Honey, bagaimana kalau umi buat kue untuk anak balita, lama umi tidak membuat kue?" saran Ken saat bu RT sudah pamit pulang.
"Boleh juga Bi, bahannya bagaimana?" Imma antusias dengan usulan Ken.
"Kita beli aja di warung ujung jalan itu yok" ajak Ken yang sebetulnya Ken mempunyai niat agar Imma mulai bisa berinteraksi dengan banyak orang karena warung itu lumayan banyak pengunjungnya.
Betul saja, karena begitu antusias Imma sudah mulai bisa menguasai diri, bertemu dengan beberapa orang laki-laki yang tidak di kenal juga sudah mulai biasa hanya sedikit menjauh saja dari mereka, ini merupakan kemajuan yang sangat baik bagi Imma dan membuat Ken begitu bahagia.
Bahan sudah di dapat, belanjaan itu sampai tiga kardus, sampai Yu Minah menyusul ke warung untuk membantu membawakannya, tinggal besok di buat kue untuk para balita yang akan ditimbang di rumah bu RT.
Malam harinya Faro sudah sampai rumah di kampung, langsung duduk di meja makan untuk menikmati hidangan makan malam di temani oleh Ken dan Imma.
__ADS_1
"Bagaimana umi, sekarang sudah lebih baik?" tanya Faro memandangi uminya dengan wajah yang berseri dan lebih bersemangat.
"Sudah beberapa hari ini umi mulai berinteraksi dengan tetangga Bang, tadi aja ke warung yang ada di ujung jalan itu, membeli bahan kue besok umi mau buat kue, Bu RT akan mengadakan posyandu besok" cerita Ken antusias dan bahagia karena perkembangan Imma sangat signifikan.
"Waaah Abang sangat bahagia mendengarnya Bi, sehat terus ya umi" Faro tersenyum melihat kemajuan kesehatan uminya.
"Aamiin, terima kasih doanya Bang, besok bantuin bikin kuenya ya Bang?" jawab Imma tersenyum.
"Ok siap" balas Faro dengan mengangkat kedua jempolnya.
Membuat dua varian kue dengan rasa yang berbeda, hari ini Imma di bantu Ken, Faro dan Yu Minah, bau harum kue itu membuat orang yang menciumnya ingin segera menikmati kue buatan Imma.
Pukul sepuluh pagi semua sudah siap untuk di antar ke rumah bu RT, semua anggota posyandu baik ibu dan anak sudah berkumpul.
Tiba di rumah Bu RT, kue itu diantar Imma, Ken, Faro dan Yu Minah serta putra kecilnya semua anggota posyandu menoleh kearah kedatangan mereka, anak-anak tertuju pada kue yang harum dan begitu menggoda ingin segera di santap, tetapi sebagian ibu-ibu gagal fokus melihat dua lelaki tampan yang berbeda generasi itu.
Banyak yang komentar dan bergumam sendiri kepada dua lelaki itu, tanpa memperdulikan keberadaan Imma yang sedang di gandeng Ken setelah kue di letakkan di atas meja.
"Kenapa aku sudah nikah ya, coba belum, sudah aku gebet dua-duanya" celetuk wanita muda beranak satu.
"Mas ganteng maukah jadi mantu ibu?" ucap wanita paruh baya yang sedang mengantar cucunya timbang berat badan.
Tidak hanya dua ibu-ibu yang begitu heboh karena ada pemandangan yang jarang mereka temui, pemandangan indah ketampanan paripurna yang ada didepan mereka, bagi para Ibu baik muda ataupun tua membuat Faro menjadi risih, padahal Ken cuek bebek menggenggam tangan Imma dengan kedua tangan itu bertaut sempurna.
"Kita pulang bareng aja Bang, tapi pamit dulu sama Bu RT dan ibu-ibu yang lain" jawab Imma tumbuh dengan tubuh yang sedikit dingin.
Akhirnya Ken yang berinisiatif pamit kepada semua anggota posyandu dengan melipatkan kedua tangannya di dada.
"Ibu-ibu mohon maaf kami pamit dulu ya, selamat menikmati kue dari kami terima kasih".
Suara gemuruh dari para ibu-ibu posyandu yang seakan-akan protes kenapa harus cepat pulang pemandangan yang indah didepan mata.
"Iya pak silahkan, kami mengucapkan terima kasih atas kunjungan dan kue yang sangat lezat" jawab Bu RT mewakili mereka semua anggota posyandu.
Imma keluar dari halaman rumah Bu RT digandeng mesra dengan tangan yang saling bertautan pada tangan Ken diikuti Faro yang berjalan di samping Imma.
Sesampainya di rumah hanya dalam waktu sepuluh menit saja, sudah di tunggu oleh Opa Tomy, Mama Meera dan Mama Nadia.
"Naah anak Mama terlihat ganteng seperti semula lagi setelah tidak ada brewok dan cambangnya" rayu Mama Meera mendekati Faro yang mencium punggung tangan mereka bergantian.
__ADS_1
"Dari sononya emang ganteng Mama" celoteh Faro tanpa memandang mama angkatnya yang memandanginya sedari tadi.
"Idih malah GR, dasar anak Abi, hanya sebelas dua belas aja kan bedanya?" ucap Ken tidak mau kalah.
Kemudian Imma, Mama Meera dan Mama Dini bercengkerama di ruang makan menikmati sisa kue yang dibuat untuk posyandu, sedangkan Faro, Ken dan Oma Tomy berbincang bisnis di ruang keluarga.
Sudah tiga hari ini Faro di kampung dan rencananya besok akan kembali ke Jakarta untuk urusan perusahaan dan tugas intelejen yang harus dia pecahkan.
Malam hari ini Ken dan Imma mendapatkan kabar jika mbak Lia sudah melahirkan bayi laki-laki di sebuah klinik dekat perkebunan, baby mbak Lia sekitar pukul tiga pagi lahirnya.
"Umi mau ikut Abang Sebelum berangkat ke Jakarta akan besuk baby mbak Lia dulu?" ajak Faro pada uminya yang sedang duduk depan televisi melihat film kesukaannya.
"Boleh ikut kah Bi, ke klinik hari ini?" tanya Imma kepada Ken yang baru datang dari lantai atas duduk manis di samping Imma.
"Iya tentu saja, kita bertiga nanti ke sana, tetapi agak siangan dikit lah, kita sarapan dulu yok" ajak Ken berdiri lagi berjalan kearah ruang makan sudah ada sarapan mi goreng lengkap dengan sayuran disana.
Pukul sembilan pagi mereka bertiga berangkat ke klinik dimana mbak Lia melahirkan seorang baby laki-laki yang tampan.
Turun dari parkiran, Ken langsung menautkan tangannya dengan tangan Imma memberi dukungan agar tidak merasa takut atau keluar keringat dingin jika berada di tempat umum.
"Umi baik-baik saja kan, apakah mulai berkeringat dingin lagi?" tanya Faro khawatir mendekati Imma dan memegang salah satu tangannya yang tidak di genggaman oleh Ken.
Imma mengangguk tersenyum manis, sudah mulai bisa mengendalikan diri dan merasa nyaman di tempat umum apalagi di dampingi oleh Ken dan Faro.
Sampai di ruang rawat inap disana sudah berkumpul, semua keluarga Tomy Sanjaya.
"Waaah mbak, baby nya ganteng banget, kok hidungnya kayak Abang ya.. bukannya seperti papanya" celoteh Faro memandangi wajah baby tampan itu.
"Iya Bang, hidungnya persis kayak punyamu, kalau papanya besar, kenapa dia mungil ya" jawab Lia sambil melirik suaminya yang duduk di sebelah Lia.
"Sini nak, umi gendong sebentar, aduh aduh rambutnya tebal banget ya!" Imma dengan sigap menggendong baby itu dengan lembut dan sesekali menciumi pipinya.
"Honey kita tambah satu lagi yok, kayaknya umi begitu menikmati menggendong baby" bisik Ken di telinga Imma mengedipkan matanya, padahal dalam hati Ken sudah hampir beberapa bulan ini semenjak kejadian Penculikan itu Imma tidak pernah memberikan jatah batin dan Ken tidak pernah memaksakan Imma sampai saat ini, Ken hanya bermain solo saat tidak tahan memendam rasa.
"Sudah tua Bi, jangan macam-macam" jawab Imma dengan memukul lengan Ken sambil menimang bayi lucu yang baru lahir.
"Tetapi kalau melakukan proses pembuatannya masih boleh kan?" goda Ken lagi di telinga Imma dan mendapat tatapan mata horor olehnya.
Sampai tengah hari Ken beserta Imma dan Faro pamit, Faro langsung berangkat ke bandara internasional Juanda Surabaya untuk kembali ke Jakarta.
__ADS_1
Ken mengajak Imma makan romantis di Imma kafe yang ada di tengah perkebunan daerah destinasi wisata pada malam harinya.
Ken sengaja memancing istrinya agar bisa bergairah lagi seperti dulu, karena tidak bisa di pungkiri jika Ken masih selalu menginginkan bercinta dengan istri tercintanya walaupun umurnya tidak muda lagi.