
Hari berikutnya siang sampai sore di habiskan bersama untuk jalan jalan sedangkan malam hari akan bertempur sampai menjelang pagi, hari terakhir di Jepang rencana Faro dan Inneke berencana untuk membeli oleh-oleh khas Jepang,
Tukijo outer market, Ameya yokucho, persimpangan scamble shibuya, Tokyo skytree oshiage, Roppingi hills sudah kami jelasahi setiap harinya tidak lupa juga Harajuku style yang sangat terkenal disana sudah di singgahi oleh Faro dan Inneke.
Besok pagi kami rencana akan terbang kembali ke Indonesia karena tiga hari lagi jadwal Kedua honeymoon sudah di susun rapi oleh Mario, terutama jenderal Hendro sudah menghubungi Faro dua hari yang lalu, harus berangkat ke Brunai Darussalam karena sudah di tunggu oleh kerajaan Brunei Darussalam beserta sultan yang sedang memimpin saat ini.
Sampai di bandara internasional Soekarno Hatta, Faro sudah di jemput oleh Mario dan langsung pulang ke rumah umi dan Abi untuk hari ini, dan besoknya akan menginap di rumah ibu Intan atau bunda.
Ketemu Mario di bandara langsung mendapat sindiran pedas dari Mario saat Mario melirik leher Faro yang terlihat merah belang kayak kulit harimau.
"Bos, ganas banget ya bini elu, kok sampai belang begitu lehernya" bisik Mario di telinga Faro sambil melirik Inneke yang bergelayut manja di lengannya.
"Diam elo, jangan ngiri, jangan juga pandangi bini gue sampai segitunya, nanti elo jatuh hati ama bini gue, awas lo" ancam Faro menoyor lengan Mario di sertai kekehan Mario mengalihkan pandangannya kedepan, karena sepertinya Inneke mendengar ucapan Mario tadi sehingga membuat Inneke hanya tertunduk malu.
Sampai di rumah baru pukul tujuh malam, disambut oleh semua keluarga terutama Fia dan Ezo yang minta oleh-oleh baju Harajuku membuat keluarga itu begitu ramai.
"Bang, pesanan adik mana Harajuku" pinta Ezo mendekati Faro yang duduk santai di samping Ken.
"Ini buat adik Ezo, ini buat kakak Fia, umi dan Abi juga kebagian, ini semua khusus Harajuku family nanti kita pakai bareng-bareng ya" kata Inneke mengakrabkan diri pada keluarga Faro.
Yang paling banyak mendapatkan oleh-oleh adalah Ezo dan Fia sampai tangan tidak bisa memegangnya.
"Terima kasih kakak baik banget" rayu Ezo kepada Inneke kakak ipar barunya.
"Kenapa sama dia aja terima kasihnya, Abang juga lah" protes Faro sambil melempar bantal kepada Ezo.
"Tidak Abang kalau ngasih oleh-oleh cuma satu, kakak Inneke banyak banget" jawab Ezo lari ke kamar dengan membawa oleh-oleh itu.
Bibi, sekuriti, para salesman, Pak Min semua mendapatkan oleh-oleh masing-masing, dibagikan oleh Inneke sekalian perkenalkan sebagai anggota keluarga baru.
Koper kemudian dibawa ke kamar atas oleh bibi, sedangkan Inneke dan Faro masih bercengkerama dengan akrabnya bersama Ken dan Imma.
"Bang, kok lehernya belang, apa istrimu mau buat baju harimau, untung Ezo dan Fia tidak lihat, kalau lihat apa jadinya" usil Ken memandangi leher Faro.
Faro terkekeh mendengar bisikan Ken di telinga Faro, sedangkan Imma hanya melirik Ken bergantian ke leher Faro dan menggelengkan kepalanya.
"Honey, Abi juga mau seperti itu" cabik Ken di telinga Imma, sedangkan Imma menatap horor Ken yang terkekeh membayangkan itu.
"Istirahat sana Bang, kasihan istrimu, kecapean dia, mandi biar segar, baru makan malam" perintah Imma membelai rambut Inneke dengan lembut.
"Kami mandi dulu Abi, umi" Faro menggandeng Inneke mengajak ke lantai atas masuk di kamar Faro.
__ADS_1
Sampai di dalam kamar kesan pertama Inneke adalah kamar yang manly, kamar warna crem, lemari buku di pojok kamar yang tertata rapi, tempat tidur big size dengan spray warna biru Dongker dengan ruangan aromaterapi rasa vanilla.
"Ayo mandi Yang, bareng aja nanti keburu dingin makan malamnya sudah disiapkan sama bibi" ajak Faro menggandeng pinggang Inneke tetapi bibir Faro menciumi bibir Inneke dengan rakus.
Terbiasa pintu kamar tidak di kunci, Faro sudah hampir terbawa suasana ******* bibir Inneke Ezo masuk kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Oe...oe Abang kenapa porno, diapain kakak ipar" ucap Ezo menutup mukanya masuk kamar melihat adegan ciuman yang panas.
"Elo ngapain masuk kamar, tidak ketuk pintu dulu" omel Faro melepaskan bibirnya dari Inneke.
"Maaf Bang, kebiasaan, Abang juga salah lain kali di kunci kamarnya, mata adik jadi ternodai lagi, hot banget sih Abang" Ezo cengar-cengir tanpa dosa nyelonong keluar dari kamar Faro.
"Mau ngapain kesini?" tanya Faro pada Ezo yang keluar kamar tanpa pamit.
"Tidak jadi, nanti aja setelah Abang dan kakak Keke makan" Ezo dan berlari turun tangga bergabung dengan Imma dan Ken.
Setelah Ezo keluar dari kamar bergegas menuju ke kamar mandi membersihkan badannya tanpa plus-plus karena gara-gara Ezo masuk mood Inneke jadi sedikit terganggu.
"Ayo Bang, aku sudah lapar ini bajunya" Inneke mengambilkan baju rumah dan mengambil bajunya sendiri di pakai dengan cepat.
Turun ke lantai bawah bergabung di meja makan untuk makan malam bersama yang pertama kali bagi Inneke di keluarga barunya.
"Seberapa Bang, segini kurang?" tanya Inneke mengambilkan nasi buat Faro.
"Baiklah ganteng, spesial untuk Ezo, ini nasinya dan lauknya" diserahkan piring Ezo yang penuh dengan nasi lengkap dengan sayur dan lauk.
"Dasar manja" cabik Fia melempar kerupuk kearah Ezo.
"Fia mau juga sini kakak ambilkan" tawar Inneke pada adiknya satu lagi.
"Tidak kak, terima kasih, bisa sendiri" jawab Fia lembut, dengan senyum manis yang mengembang.
"Abi, umi sini aku yang ambilkan nasi dan lauknya" Inneke sekalian mengambilkan makan untuk Imma dan Ken.
"Waaah kalau begini tiap hari, Abi pasti jadi gemuk, kalau di ladeni begini"
Inneke hanya tersenyum, duduk di samping Faro berniat mengambil makan sendiri tetapi di larang oleh Faro.
"Sini Abang suapin aja, tidak usah ngambil sendiri makannya, hayo makan haaaa" Faro makan satu piring berdua disuapi bergantian.
"Abang, mesra banget, adik jadi pingin suap-suapan juga" Ezo usil melirik Faro dan Inneke yang ada di sebelahnya.
__ADS_1
"Sini adik suap-suapan sama Abi aja" celoteh Ken terkekeh sambil menyodorkan satu sendok nasi kepada Ezo.
"Ogah kalau sama Abi, tidak ada mesranya sama sekali" cicit Ezo diikuti tertawa bersama seluruh anggota keluarga.
Di malam harinya setelah selesai makan malam Faro mengajak beristirahat di kamar dan duduk di sofa panjang sambil menonton televisi.
"Tiga hari lagi kita ke Brunai Darussalam lo Yang, jangan lupa, besok Abang ke kantor, kamu mau ikut atau ke rumah bunda?" tanya Faro mulai menciumi pipi Inneke dan memainkan rambutnya dengan mesra.
"Aku ke rumah bunda aja ya, bajuku tidak banyak masih di semua" kata Inneke ikut usil mengelus dada Faro, membuat Faro jadi merem melek karena sentuhan Inneke yang nakal.
"Belanja aja bajunya, ini kartu buat kebutuhan sehari-hari kita" Faro memberikan kartu black pada Inneke tetapi tangan satunya sudah bergerilya entah kemana.
"Besok mau diantar atau bawa mobil sendiri, tetapi harus tetap dalam pengawalan, kamu tidak boleh keluar tanpa di kawal oleh salesman" larang Faro semakin intens gerakannya tangan dan tubuhnya.
Di dorong tubuh Faro, memandangi wajahnya heran salesman yang menjadi pengawalnya.
"Memang ada salesman menjadi pengawal, lebih baik aku lindungi diri sendiri Bang, aku pemegang sabuk hitam dalam taekwondo" cerita Inneke dengan bangga.
"Betulkah, Abang tidak terlalu khawatir kalau begitu, itu bukan salesman betulan sayang, mereka bodyguard yang Abang sewa untuk melindungi keluarga kita, hanya seragamnya saja seperti salesman karena umi pernah mengalami trauma tentang penculikan waktu itu" cerita Faro sekilas tentang yang terjadi pada uminya pada waktu lalu.
"Maaf Bang, aku...aku---" kata Inneke ikut khawatir tentang ibu mertuanya itu.
"Stt... sudahlah, semua sudah berlalu, nanti Abang ceritakan semua tentang Abang, tetapi sabar, sekarang yang terpenting, tentang ini" Faro langsung menggendong Inneke ke tempat tidur big size itu, membuka semua yang melekat di badan Inneke, memberikan tanda kepemilikan di seluruh tubuhnya.
Jika sudah terpancing oleh permainan dan gerilya Faro, Inneke akan ikut terbawa dan menjadi lebih agresif juga, tanpa terkecuali tanda merah di seluruh tubuh Faro akan terpampang nyata.
Setelah sampai klimaks berdua dan tumbang, Faro akan tersenyum melihat stempel yang ada seluruh tubuhnya, hanya Inneke yang akan memerah seperti tomat akan tingkahnya sendiri, tidak bisa mengendalikan jika sudah berdua dengan suami tercintanya, padahal Faro selalu memberikan tanda yang tidak bisa di lihat oleh orang lain agar tidak malu jika bertemu orang lain.
Pagi harinya setelah sarapan pagi, Faro mengantar Inneke ke rumah bunda, untuk mengambil sebagian bajunya, karena harus tinggal bersama suami tercintanya.
"Bunda, aku pulang" kata Inneke masuk rumah menggandeng tangan Faro menuju ke ruang makan.
"Abang, Keke ayo sarapan dulu"ajak bunda pada Faro dan Keke yang baru datang.
"Kami sudah sarapan Bun, maaf Abang pamit mau ke kantor dulu, banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, sayang nanti kalau belanja jam sepuluh pagi pak Min dan pengawalnya menjemput kesini, kalau perlu minta temenin bunda atau Uthi Intan, jangan berangkat sendiri" larang Faro mencium keningnya dan mencium bibir Inneke sekilas.
Faro mencium punggung tangan bunda dan uthi Intan bergantian dan termasuk ayah Edi yang sedang sarapan, baru gantian Inneke mencium punggung tangan Faro "Hati-hati ya Bang, I love you".
"I love you to" Faro keluar dari rumah ibu Intan dengan tergesa-gesa menunju ke kantor, sedangkan Inneke duduk bergabung keluarga sarapan, tetapi tidak ikut sarapan hanya minum jus jeruk yang sudah ada di meja itu.
"Keke, kenapa kamu ganas betul sih, leher suami kamu sampai kayak macan tutul, belang begitu?" tanya ayah Edi penasaran karena tadi melihat leher Faro banyak kecupan akibat kelakuan absurd Inneke.
__ADS_1
"He he he, aku sendiri juga heran yah, kenapa aku begitu ya, tanpa sadar aja melakukannya, setelah pagi baru aku malu sekali yah" cerita Inneke jujur sambil tersenyum malu dan diikuti tawa semua keluarga.