
Sudah satu bulan berlalu setelah Ken jatuh dari tangga, ayah tiga anak itu sudah sehat seperti sedia kala, walaupun umur sudah hampir setengah abad tetapi wajahnya masih terlihat tampan dan semakin matang, yang tidak pernah berubah adalah mesumnya kepada istri tercintanya.
Sudah mendarah daging mungkin jika tidak mendapatkan jatah atau bertemu dengan kesayangannya akan pusing dan tidak konsentrasi dalam bekerja.
Ezo sudah selesai mengikuti ujian akhir SMP nya, Fia juga sudah mendapatkan sertifikat kelulusan SMU di salah satu sekolah negeri favorit yang ada di Jakarta.
Hampir satu bulan ini juga Faro mendengar kelompok Ramos Sandara diawasi ketat oleh pihak kepolisian ataupun intelejen, sehingga gerak-gerik mereka tidak terlalu bebas seperti dulu lagi.
Tetapi sayangnya orang yang menembak dua orang laki-laki yang menyerang Fia tidak di temukan, demikian juga pengacara gaek itu, di Singapura di kabarkan pengacara itu di tembak oleh geng narkoba yang sedang merebutkan daerah disana.
Sudah hampir lewat satu Minggu ini dari janji akan bertemu, Inneke masih belum berani menemui Faro, walaupun Inneke sudah kembali tinggal bersama kedua orang tua dan neneknya di Jakarta.
Faro sendiri hampir putus aja tidak bisa menghubungi Inneke melalui handphone ataupun mencari lewat teman--temannya, bahkan Erna pun tidak bisa jika ingin menghubunginya.
Tanpa di duga, saat Faro sedang duduk di kantor abinya, sedang melaporkan perkembangan perusahaan mendapatkan pesan singkat WA.
"Bang, aku tunggu di restauran tempat kak Jelita kerja, sekarang ya...!".
Faro membelalakkan matanya membaca pesan itu, bergegas pamit kepada abinya.
"Abang otw.... tunggu disitu" tulis Faro singkat dan dikirim ke handphone Inneke.
"Abi, Abang pamit dulu, ada suatu hal yang harus aku kerjakan, Mario ayo cepat ikut aku!" Faro mencium punggung tangan Ken bergegas keluar menuju parkiran perusahaan.
"Ada apa bos, kenapa buru-buru?" tanya Mario penasaran mengikuti Faro dari belakang berjalan tergesa-gesa.
"Coba lo baca ini dari Inneke, setelah menghilang selama satu bulan, mendadak dia ingin bertemu di restauran Jelita" jawab Faro tetap berjalan dan Mario membaca pesan itu.
"Elo yang bawa mobilnya, tetapi ngebut ya, nanti keburu dia pergi dari sana" perintah Faro memberikan kunci mobil kepada Mario
Hampir satu jam Mario membelah jalanan ibukota Jakarta yang padat, dengan kecepatan yang lumayan tinggi berharap Inneke masih menunggu disana.
Baru sampai di depan restauran Faro tidak menunggu mobil parkir sempurna, langsung turun berlari menuju restauran dimana gadis cantik dan anggun itu menunggu disana.
Inneke tersenyum melihat Faro berlari kecil mendekatinya dengan hati yang berdebar-debar kencang.
"Apakah sudah lama?" tanya Faro duduk di depan Inneke berhadapan langsung.
"Belum Bang, apakah Abang sehat?".
"Ya Alhamdulillah sehat, elo sendiri bagaimana?".
"Ya... entahlah Bang, aku sedang menghadapi dilema" cabik Inneke memandangi wajah Faro yang terlihat tampan hampir satu bulan tidak pernah di temuinya.
"Kenapa dilema, ada apa sebenarnya, elo seperti menghindari Abang terus, bahkan si Erna juga susah menghubungi elo?".
"Maaf Bang, sepertinya aku ingin----?" Inneke menunduk, terdiam tidak sanggup melanjutkan ucapannya, lidahnya menjadi kelu.
__ADS_1
Faro menggenggam tangan Inneke, memandangi wajahnya yang sayu, sedikit pucat, seperti banyak pikiran, dan tertekan.
"Ada apa, dilema apa maksudnya?" Faro masih menatap tajam ke mata Inneke yang begitu sayu.
"Maaf Bang, aku tidak memiliki pilihan lain, aku harus menyerah dan mundur dari perjuangan kita ini" Inneke dengan menundukkan kepalanya matanya sudah menganak sungai tanpa bisa di bendungnya.
Sedangkan Faro terperanjat dan hampir tidak percaya dengan ucapan Inneke, sudah hampir empat tahun hubungan harus berakhir.
"Kenapa harus begini, kita belum berjuang, kita belum bertemu dengan orang tua kita, kenapa elo sudah menyerah?" pertanyaan bertubi-tubi diajukan Faro dengan nada yang meninggi.
"Aku tidak mempunyai pilihan lain Bang, kakek sudah menjodohkan aku dengan anak dari sahabat karibnya" balas Inneke tambah deras air matanya mengalir.
Faro jadi mengingat opa Tomy, yang beberapa bulan lalu juga menyampaikan jika dia juga akan di jodohkan dengan keturunan dari asisten Abi Dona.
"Siapa nama orang yang akan di jodohkan kakek elo itu?" tanya Faro dengan hati yang sangat kecewa.
"Aku tidak tanya Bang namanya, sepertinya aku tidak tertarik dengan orang itu, maaf ya Bang ini adalah pertemuan terakhir kita, aku harus melaksanakan amanah dari kakekku, aku tidak mau jadi anak durhaka, ayah dan bundaku sangat mengharapkan perjodohan ini, semoga Abang bisa menerima keputusan aku, selamat tinggal" Inneke berdiri dan berlari menuju pintu keluar restauran dengan masih berlinang air mata.
Faro hanya bisa menatap kepergian Inneke tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun, bibirnya seperti terkunci rapat, hanya bergumam sendiri ternyata dalam satu bulan terakhir ini dia menghindar karena perjodohan juga.
Mario yang dari awal duduk di meja yang berada belakang Inneke, mendengar jelas percakapan kedua pasangan itu, berjalan mendekati Faro dan menepuk pundak bosnya untuk memberi dukungan.
"Bos, kenapa elo tidak cerita kalau elo juga di jodohkan, tetapi memilih mempertahankan dirinya dari pada gadis yang di amanahkan bokap" tanya Mario lirih dan mengusap bahu Faro.
"Entahlah bro, mungkin dia bukan jodoh gue, seandainya dia jodoh gue pasti kami akan bersatu lagi suatu saat nanti" jawab Faro pasrah, walaupun hatinya masih tidak bisa menerima kenyataan, tetapi Faro mencoba ikhlas, yang di ingatnya hanya pesan dari uminya bahwa pertemuan, perpisahan, jodoh dan maut adalah rahasia Allah yang maha kuasa.
Mario sedikit menarik tangan Faro yang seakan nyawanya masih belum berada dalam raganya, tetapi di dekat pintu Mario menabrak seorang laki-laki yang menggendong gadis berambut panjang berumur sekitar dua tahun dan menggandeng wanita yang di kenalnya dan ada lagi gadis hitam manis yang mengikuti dari belakang.
"Aduh.....maaf " kata Mario menabrak laki-laki itu sambil membungkukkan badannya.
"Bang Rio...elo disini?" tanya Jelita kaget.
"Eee Lita..iya tadi barusan ketemu dengan klien.
Mario kemudian memandangi wajah laki-laki yang menggandeng Jelita tadi tanpa berkedip, seperti tidak asing laki-laki ini gumamnya dalam hati.
"Bang kenalkan dia laki gue, harusnya Abang kenal, Bang Beno dan ini putri kecil kami" Jelita memperkenalkan keluarga kecilnya.
"Beno yang dulu elo lempari mangga terkena kepalanya?" tanya Mario dengan senyum yang tidak bisa di artikan.
"Iya gue Beno yang sering elo ledek kerempeng dan akan terbang jika terkena angin" jawab Beno memeluk Mario dengan erat dan tertawa lepas.
"Hai bro...elo lupa ama gue" gantian Beno memeluk Faro mencoba tersenyum setidaknya ada teman yang bisa menghibur hatinya yang luka.
"Oya kenalkan ini bos gue Bang, namanya Ara, dia berasal dari Thailand lo" cerita Jelita lagi.
Mario langsung mengulurkan tangan menyalami gadis hitam manis yang tersenyum, sedangkan Faro hanya melirik gadis itu seakan enggan mengenal lawan jenis.
__ADS_1
"Halo, I am Ara, nice to meet you, senang kenal dengan kamu" kata Ara ramah.
"Gue Mario dan dia Faro" dengan erat Mario menyalami Ara, sedangkan Faro hanya melipatkan tangannya di dada tersenyum sopan.
"Apakah dia bisa bahasa Indonesia dengan lancar?" tanya Mario mendekati Jelita dengan melirik gadis dari Thailand itu.
"Bang Rio naksir ya, hayo?" goda Jelita mengedipkan matanya.
"Kita duduk dulu yok sebentar, lama tidak bertemu kan!" ajak Beno menarik tangan Mario dengan penuh antusias.
Beno adalah tetangga Mario saat masih SMP rumahnya ada di ujung gang saat itu, mereka sering bermain bersama, memang dari kecil Beno begitu memuja Jelita, sampai akhirnya Jelita pindah dan Beno juga sekolah ke USA.
"Benar-benar cinta sejati, jadi dari SMP elo hanya mengejar gadis tomboi pemajat pohon mangga ini, gila lo?" kata Mario sambil menggelengkan kepala, dan menunjuk ke arah Jelita.
"Kalau memang cinta apa salahnya di perjuangkan, elo tahu gue mengejarnya hampir sepuluh tahun" cerita Beno antusias dan memandangi istrinya dengan tatapan berbinar.
Faro seperti tertusuk tepat di hatinya mendengar ucapan Beno yaitu kalau cinta apa salahnya di perjuangkan, sedangkan dirinya baru di tinggalkan gadis pujaan hatinya karena perjodohan tanpa memperjuangkannya terlebih dahulu.
Hati Faro begitu gamang, harus bagaimana, ingin mengikuti Beno mengejar cinta Inneke tetapi tidak mungkin jika yang akan di perjuangkan memilih perjodohan itu.
Mario melirik Faro karena ucapan dari Beno, pas mengenai hatinya gumamnya sendiri, tetapi Mario hanya mampu mengusap punggung bosnya itu sebagai dukungan moril.
Akhirnya Faro memilih bermain di handphone nya, daripada bercengkerama dengan mereka, hanya mendengar mereka bercerita.
"Oya ... Ara katanya warga Thailand, kok bisa jadi bos lo sih Lita?" Mario bertanya begitu penasarannya karena melihat wajahnya, umurnya tidak jauh berbeda dengan Lita.
Akhirnya Jelita bercerita, jika Ara adalah teman Beno saat kuliah di USA, Ara ikut Beno ke Indonesia karena ingin memeluk agama Islam dan mempelajari tentang agama Islam di Indonesia langsung.
Ara ingin memeluk agama Islam karena sering mendengar Beno membaca ayat suci Al Qur'an saat masih kuliah di USA.
Jelita juga bercerita jika Ara membeli restauran itu untuk mengawali karirnya sendiri tanpa bantuan orang tuanya di Thailand, karena orang tuanya di Thailand tidak menyetujui jika dia masuk Islam.
"Berarti dia sudah lama tinggal di Jakarta?" tanya Mario lagi.
"Tanyalah sendiri kepada Ara, jangan lewat gue terus?" goda Jelita lagi.
Faro mendongakkan wajahnya mendengar Jelita menggoda Mario, menyenggol lengannya dan berbisik di telinga Mario "Sono minta nomor handphone dia, biar hilang julukan jomblo abadinya".
Mario melirik Faro dan berpindah ke Jelita dan Beno, tetapi Mario ragu dan gugup.
"Ara... boleh gue minta nomor handphone lo?" berkata dengan ragu-ragu.
"Oya boleh Bang, ini nomornya" Ara memberikan handphone yang sudah tertera nomor di dalamnya, dan Mario mengetiknya dengan cepat dengan nama calon pendamping.
Faro yang ada di sebelah Mario melirik handphonenya sempat membaca nama yang di tulis Mario.
"kok begitu namanya, untuk apa seperti itu?" tanya Faro heran.
__ADS_1
"Untuk menyemangati diri aja bos, gue tidak mau kalah sama si playboy kampung itu" jawab Mario sekenanya.