
Hari Minggu sore ini hati Imma begitu bahagia, senyum selalu mengembang di bibirnya, Faro yang melihat wajah Imma berseri seri ikut menghangat, baru kali ini uminya begitu antusias pulang kembali ke Jakarta tanpa memperdulikan keadaan dan situasi sekitar yang berlalu-lalang di sekitarnya, memang Imma sudah pulih seratus persen seperti yang Ken katakan selama ini walau dalam versi yang berbeda dari sudut pandang Ken maupun Faro.
Sampai di rumah sudah di sambut oleh keluarga dan teman dengan meriah, Kemmy sekeluarga, Marisa sekeluarga, Mely juga bersama keluarga dan tak lupa Bayu juga membawa keluarga kecilnya.
Kehangatan keluarga dan keinginannya untuk melamar Keke untuk Faro, membuat hati itu tidak henti-hentinya menghangat, bahkan semua senyum itu menular kepada semua keluarga yang berkumpul.
Senyum simpul Faro sangat menghangat juga, melihat uminya begitu antusias menyambut hari esok yang akan memulai rencananya untuk memulai perjodohan itu.
Imma menarik Kemmy untuk menjauhi para keluarga yang sedang berkumpul, di ruang keluarga sedang menikmati camilan yang sudah di sediakan oleh para bibi.
"Ada apa sih kak?" tanya Kemmy penasaran dengan tingkah laku Kakak ipar yang baru saja tiba di rumah belum ada Sahari.
"Apakah besok bisa antar kakak ke rumah ibu Intan Ariyani?" pinta Imma dengan sedikit berbisik.
"Kenapa harus bisik-bisik sih?" tanya Kemmy lagi mendekatkan wajahnya dekat telinga Imma.
"Stt..ini masih rahasia, coba kamu hubungi beliau, kalau kakak ingin bertemu, nanti kalau sudah ok kabari kakak secepatnya ya" perintah Imma lagi.
"Baiklah" jawab Kemmy mengambil handphone yang ada di tas kecil yang di selempang di badan rampingnya.
Kemmy awalnya mengirimkan pesan WA saja karena menunggu lima menit tidak dibalas, Kemmy langsung menelepon Ibu mertuanya itu.
"Halo Bu" Kemmy mengawali pembicaraan dalam telepon itu.
"Iya nak ada apa?" tanya Ibu Intan lagi hanya terdengar suaranya saja.
"Ibu dimana sekarang, kakak Imma ingin bertemu dengan ibu dan bundanya Keke" langsung Kemmy pada intinya saja.
"Ibu di Bandung nak, besok sore baru pulang, lusa pagi aja langsung ke rumah ya, apakah kakak iparmu sudah sehat?"
"Kakak sudah sehat Bu, baiklah lusa pagi kita kesana" jawab Kemmy mengakhiri perbincangan hangat dalam telepon itu.
Kemmy keluar dari ruangan itu mencari kakaknya kembali, ternyata dia sedang duduk di sofa panjang bersama dengan yang lain tetapi di peluk mesra oleh kakaknya Ken.
"Ih....kakak kenapa masih bucin aja sih, awas aku pinjam kakak ipar sebentar" protes Kemmy melihat kakaknya Ken memeluk Imma dengan mesra tanpa malu-malu padahal banyak tamu yang berkumpul bersama.
"Ngomong aja disini, jangan bawa Istriku" jawab Ken sekenanya, tidak mau melepaskan pelukannya sedikitpun, seperti ABG yang sedang jatuh cinta.
"Tidak bisa ini urusan wanita, sana kakak minggir, ayo kak Imma cepat" Kemmy menarik paksa tangan Imma tanpa memperdulikan pelukan Ken yang seolah tidak mau lepas dari Imma.
__ADS_1
"Sayang sebentar ya, umi ada urusan ama adik ipar yang cantik ini" rayu Imma mencoba melepaskan pelukan Ken yang melingkar sempurna di pinggang Imma.
"Jangan lama-lama, Kemmy sepuluh menit harus sudah di balikin Istriku, awas ya lebih" ancam Ken dengan mengepalkan tangannya.
"Dasar kakak bucin, sudah tua juga kayak anak ABG" Kemmy melempar tisu yang ada di meja tetapi sebelumnya di remas terlebih dahulu tisu itu.
Kemmy menarik Imma sampai ruang makan kembali dan menceritakan jika ibu Intan dan bundanya Keke sedang ada di Bandung Senin sore baru akan pulang sehingga Ibu Intan mengajak bertemu hari Selasa pagi.
Setelah selesai berbisik-bisik di ruang makan itu bibi datang dan mengatakan jika makan malam sudah siap, kemudian Kemmy dan Imma memanggil semua keluarga untuk di ajak makan malam bersama.
"Honey Abang dan Opa di panggil juga, ada di kamar" perintah Ken berdiri berjalan ke arah ruang makan.
Selesai makan malam mereka kembali bercengkerama di ruang keluarga kembali, termasuk Opa Tomy ikut bergabung juga.
Sedangkan Faro terburu-buru keluar rumah tetapi hanya menggunakan kaos dan celana pendek saja.
"Mau kemana Bang?" tanya Imma melihat Faro menenteng laptop berjalan kearah pintu keluar.
"Mau ketemu Mario dan temannya umi, di kafe aja kok" jawab Faro berjalan cepat kearah Imma kafe, ternyata Mario bersama si Conan yang sudah menunggu dan duduk dengan manis disana.
"Ada apa?" tanya Faro sambil duduk di bangku depan mereka hanya meja yang menghalangi jarak mereka.
Faro langsung membaca laporan itu, lembar demi lembar lengkap dengan foto-foto kegiatan yang dia lakukan tiap harinya, Ramos Sandara berada di negara Brunei Darussalam dan menjadi wakil ketua kelompok mafia yang ada di negara itu.
Walau ada di negara yang mempunyai mayoritas penduduk Islam dan sangat makmur, dan mempunyai peraturan pemerintah kerajaan yang sangat berbeda dengan Indonesia, tetapi kelompok mereka tetap saja bisa mencari celah kecil untuk melakukan perdagangan gelap, narkoba, minum keras dan masih banyak lagi yang bisa mereka lakukan.
Di Brunei Darussalam Ramos Sandara berganti nama menjadi Romi Santos dan tercatat sebagai karyawan bengkel yang ada di kota Bandar Seri Begawan.
"Mario besok sore beli tiket untuk kita bertiga selama empat atau lima hari" perintah Faro dengan tegas.
"Dan untuk elo Bang Conan bagaimana pengembangan serumnya?"
"maaf bos gue belum bisa menemukan seperti apa yang bos mau, masih sedikit terkendala dengan bahan baku" Conan memberi penjelasan dengan teliti.
"Baiklah besok kita berangkat ke Brunai Darussalam, jangan lupa bawa serum itu, gue tidak perduli walaupun menggunakannya dalam jarak dekat" cabik Faro dengan mata yang memerah menahan merah.
"Bos apakah elo akan---?" tanya Mario sedikit takut seperti tidak mengenal Faro yang sekarang.
"Ya, gue yang akan melakukan sendiri, dia telah membuat nyokap gue menderita hampir enam bulan ini" kata Faro dengan suara berat dan penuh amarah.
__ADS_1
Mario dan Conan saling pandang, ternyata begitu dalam sakit hati yang di rasakan olehnya tentang peristiwa penculikan mereka pada uminya.
"Apakah aman bro, gue tidak mau terjadi sesuatu dengan bos?" tanya Mario kepada Conan.
"Gue jamin dengan nyawa gue sendiri, karena serum itu akan bekerja efektif lebih dari dua puluh empat jam, tidak akan terdeteksi, kecuali orang yang ahli tabib cina yang handal" jawab Conan dengan penuh keyakinan.
Rupanya pengalaman hidup, cobaan akan mengubah seseorang menjadi pribadi yang berbeda, seperti Faro saat ini, karena melihat uminya yang sangat di cintainya menderita hatinya mulai tumbuh rasa dendam yang sebetulnya tidak ada dalam hatinya sejak kecil.
Bahkan seorang Mario pun tidak bisa mengenali sosok pribadi Faro yang sekarang, padahal dia sudah berteman sejak masih kecil, sekarang Faro menjadi pribadi yang lebih dingin dan tertutup terkadang sorot matanya yang tajam seakan penuh amarah yang di tahan.
Perubahan Faro awalnya setelah perpisahannya dengan Inneke, berlanjut adanya perjodohan itu dan yang semakin membuat dia lebih dingin karena penculikan dan depresi yang dialami uminya bahkan sampai dua kali, waktu masih remaja dan tahun ini.
"Gue mau masuk atur semua untuk besok, jangan lupa akomodasinya sekalian" perintah Faro berdiri meninggalkan mereka berdua berjalan kembali ke rumah dengan langkah panjang.
"Baiklah gue pamit juga bro, untuk mempersiapkan perjalanan besok, kabari jika sudah pasti jam berangkatnya" pamit Conan menepuk pundak Mario berdiri dan keluar dari Imma kafe.
Tinggal Mario disitu yang masih termenung, memikirkan perubahan pribadi Faro yang akhir-akhir ini berubah, terlepas benar atau salah tindakan yang akan Faro ambil, Mario juga bisa merasakan bagaimana derita yang Faro dan uminya alami, tidak cuma satu atau dua tahun, hampir seumuran Faro lahir uminya mengalami itu.
Akhirnya dengan setengah hati Mario memesan tiket untuk bertiga besok sore ke Brunai Darussalam, dan memesan hotel ternama di ibukota Bandar Seri Begawan dengan keberangkatan sore hari.
Selesai pesan tiket dan hotel, Mario mengirim email kepada Conan dan Faro tentang jam terbang yang akan mereka lakukan besok.
Mario pulang dengan hati yang gundah dengan apa yang akan terjadi besok saat di Brunei Darussalam, tetapi sebelum pulang Mario mengabari kekasihnya Ara jika akan ke Brunai Darussalam bersama bosnya selama lima hari untuk urusan bisnis alasan yang klise.
Faro yang berjalan masuk rumah ternyata semua keluarga masih berkumpul berbagi kebahagiaan disana, akhirnya Faro ikut bergabung dan duduk di antara Abi dan uminya.
"Apakah Mario sudah pulang, kenapa tidak bergabung dulu dengan kita?" tanya Imma memeluk Faro dari samping, meletakkan kepalanya di pundak Faro, sedangkan tangannya bertautan dengan tangan Ken seperti sedang memeluk kekasih hati dan menggenggam selingkuhannya.
"Sudah umi, titip salam aja katanya dia masih ada pekerjaan yang harus di lakukan, oya besok Abang dan Mario terbang ke Brunai Darussalam selama empat atau lima hari" cerita Faro kepada kedua orang tuanya.
"Urusan bisnis Bang?" tanya Ken penasaran, tetapi Ezo yang melihat dari belakang antara Abi, Faro dan uminya mengabadikan momen itu dengan mengambil gambar dan di aploud di sosial media dengan tulisan antara *Belahan jiwa dan belahan hati*.
"Bang, coba lihat di media sosial gue ada pemandangan yang menyesakkan hati!" usil Ezo berlari dan duduk di dekat Mama Meera untuk mencari perlindungan.
Bergegas Faro membuka sosial media Ezo, melihat dan membaca yang Ezo kirim langsung berteriak "Adik gila lo" Faro melempar bantal kepada Ezo tetapi sayangnya Ezo ada di belakang Mama Meera.
"Abi coba lihat ini, apa Abi sedang mengkhianati Abang" Faro menunjukkan foto itu kepada abinya dan diikuti gelak tawa semua keluarga.
"Harusnya Abi yang marah, Abang telah mengambil posisi Abi, Abang lah yang mengkhianati Abi" celetuk Ken pura-pura cemburu, mengerucutkan bibirnya dan menatap sendu kearah Imma.
__ADS_1
Perdebatan receh tetapi membuat mereka bahagia dan merasa hangat jika melihat orang yang kita sayangi tersenyum lebar tanpa beban.