
Umi, ini tespack nya kita bingung mana yang betul beda beda soalnya hasilnya?" tanya Jasson duduk disamping Imma dan Ken yang sedang bercengkerama menunjukkan kelima tespack itu.
"Waaaah sayang selamat sepertinya ini positif hamil" Imma tersenyum memeluk putri kesayangannya.
"Betulkah kah umi, sebentar lagi aku akan menjadi Daddy?, terima kasih sayang terima kasih" lagi lagi Jasson memeluk dan menciumi seluruh wajah Fia tanpa malu-malu padahal ada Ken dan Imma disampingnya.
"Sebaiknya untuk memastikan kalian buat janji dengan dokter kandungan siapa kemarin yang membantu Keke lahiran?" usul Ken sambil mengingat dokter itu.
"Dokter Rianti kalau tidak salah namanya Bi" Imma menjawab dengan cepat.
"Iya itu dia dokter Rianti, dia juga yang menangani istri Mario juga, kalian coba buat janji, tetapi hubungi Keke untuk meminta nomor handphone dia" titah Ken kemudian.
"Iya Bi, terima kasih" jawab Jasson diikuti anggukkan oleh Fia.
Dengan cepat Fia menghubungi kakak iparnya Keke untuk menanyakan tentang dokter Rianti, tidak lupa bercerita tentang kemungkinan sudah berhasil mengabulkan keinginan suaminya yang pingin memiliki baby.
Setelah selesai chatting dengan Inneke Fia membuat janji dengan dokter melalui online dengan asisten dokter Rianti hari ini rencana bertemu dengan dokter Rianti pukul sebelas siang, tetapi Jasson ada meeting pukul sembilan pagi hari ini, sehingga setelah meeting baru Jasson akan menjemput Fia untuk bertemu Dokter.
Jasson memajukan meeting yang seharusnya pukul sembilan pagi menjadi pukul delapan pagi, hanya karena akan mengantar istri tercintanya ke dokter kandungan, senyum selalu mengembang di bibirnya, hanya membayangkan dia akan memiliki baby hatinya begitu bahagia.
Pukul sembilan pagi meeting sudah selesai, tetap selalu tersenyum ingin sekali berlari untuk segera pulang menemui istrinya, Gio asistennya yang dari tadi memperhatikan bosnya selalu tersenyum tanpa henti jadi penasaran ada apa sebenarnya.
"Bos, perasaan dari pagi senyum senyum sendiri, ada apa?" Gio mendekati Jasson setelah selesai merapikan dokumen yang ada diatas meja meeting.
"Memang kelihatan, aku senyum senyum sendiri?" Jasson menjawab pertanyaan dengan pertanyaan juga.
"Banget bos, kirain bos sedang miring sedikit, habisnya aneh" cabik Gio dengan cengar-cengir menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sembarangan, mana ada seorang pimpinan perusahaan miring, kamu kali yang miring?" tetap saja Jasson mengatakan itu sambil tersenyum.
"Terus apa yang terjadi, kenapa dari pagi sampai sekarang senyum senyum sendiri?".
"Aku mau antar Istri ke dokter kandungan, kemungkinan aku akan memiliki baby, sudah sisanya kamu yang handle, aku pulang dulu" Jasson keluar dari ruang meeting dengan hati bahagia seperti seharian tidak bertemu Fia padahal baru dua jam lalu dia berpisah dengannya.
"Ooooo selamat bos, pantas dari tadi kayak orang yang tidak jelas" gumam Gio tetapi masih bisa didengar oleh Jasson.
"Aku dengar Gio, untung aku lagi bahagia" kata tetap melenggang keluar ruang meeting bergegas pulang ke rumah.
"Sorry bos" suaranya sedikit keras.
Dalam perjalanan ke parkiran tidak lupa menghubungi Mama Trisya kabar gembira ini, karena sangat bahagia beliau ingin juga ikut ke rumah sakit, tanpa menunggu lama langsung berangkat padahal janjian dengan dokter masih dua jam lagi.
Pukul sepuluh pagi Mama Trisya sudah sampai di rumah sakit, sedangkan Jasson, Fia dan Imma baru berangkat dari rumah, beliau menunggu di parkiran rumah sakit.
Sesampainya di parkiran Jasson melihat Mama Trisya masih didalam mobil sambil menunduk bermain handphone tanpa menyadari Jasson sampai di samping mobil dan mengetuk pintu mobilnya diikuti Fia dan Imma berdiri disamping Jasson.
"Tok...tok... tok"
__ADS_1
"Mama ayo turun, sebentar lagi waktunya bertemu dokter" pinta Jasson dengan tersenyum mengembang.
"Ya sayang Mama turun, selamat sayang Mama sangat bahagia" Mama Trisya memeluk Fia dan cipika-cipiki dan bergantian dengan Imma.
"Yang anaknya Mama, Fia atau Abang sih, kenapa yang diberi selamat cuma dia aja, Mama tidak adil" celoteh Jasson dengan mengerucutkan bibirnya ngiri karena Jasson tidak dipeluk oleh mama kandungnya.
"Yang hamil istrimu Jasson, jadi Mama memberikan selamat pada istrimu" Mama Trisya terkekeh mendengar celotehan Jasson.
"Abang juga ikut andil Mama, seharusnya adil dong, kan Abang ini calon Daddy-nya".
"Ciek...ciek cemburu nich ye" Fia menggoda Jasson dengan tersenyum dan mengedipkan matanya.
Berjalan menuju ruang dokter Rianti, duduk di kursi ruang tunggu yang telah disediakan, satu persatu di panggil oleh suster.
"Ibu Safia Anjani" panggil salah satu suster yang ada didepan pintu ruang pemeriksaan.
"Ya...." Fia dan Jasson menjawab bersamaan, berjalan berempat masuk ruangan dokter Rianti.
"Dokter selamat siang, maaf kami rombongan" Imma mengawali pembicaraan dan duduk bertiga sedangkan Jasson hanya berdiri dibelakang kursi yang Fia duduki.
"Ibu, anda ibunya bu Keke kan?, selamat siang" jawab dokter Rianti mengulurkan tangannya untuk bersalaman bergantian.
"Iya betul dokter, ini putriku adik dari suami Keke" jawab Imma dengan lembut.
"Ooooo baiklah kita periksa dulu ibu Fia- nya" dokter Rianti memeriksa dengan teliti.
"Tanggal berapa terakhir ibu haid?" dokter Rianti bertanya sambil mencatat semua kondisi kesehatan Fia.
"Waaaah, suami idaman ini tahu betul kapan istrinya haid" puji dokter Rianti tersenyum diikuti oleh semua yang ada di dalam ruangan dokter kandungan itu.
"Baiklah kita periksa menggunakan USG dulu ya, silahkan ibu Fia naik ke brankar tempat tidur sebelah sana!" titah dokter Rianti menunjuk kearah brankar.
"Fia bergegas naik ke brankar dibantu oleh Jasson, suster segera mengoleskan jel diperut Fia, dokter segera menggerakkan alat kecil yang menempel di perut Fia.
"Ini lihatlah ada tumbuh gumpalan kecil yang ada didalam rahimnya, itu calon bayinya umurnya sudah tujuh Minggu, selamat yaa ibu Fia" keterangan dokter Rianti dengan jelas.
Dibersihkan dengan menggunakan tisu oleh suster turun dari brankar tempat tidur dan duduk kembali dikursi yang tadi diduduki oleh Fia serta dibantu oleh Jasson.
"Ada keluhan Bu?" tanya dokter Rianti setelah dia duduk juga di singgasananya memegang buku resep dan bolpoin.
"Kalau pagi hari suka mual, muntah dan sedikit pusing dok" cerita Fia cepat.
"Bagaimana dengan makannya?" dokter Rianti bertanya lagi lebih teliti.
"Akhir akhir ini juga malas makan dok, buah saja yang masuk dalam perut" Fia berkata sedikit ragu dan melirik Jasson yang asa disebelahnya.
"Baiklah ini saya berikan resep untuk obat mual, vitamin juga, dan satu lagi ini khusus suaminya dalam trimester pertama jangan banyak berhubungan intim dulu ya Pak, karena usia kandungan yang masih rentan" nasehat dokter Rianti sambil menulis resep tanpa memandang wajah Jasson yang lesu dan kaget.
__ADS_1
"Kok begitu dok, justru saya pernah baca di artikel katanya daddy-nya harus sering menengok si baby biar mendapatkan jalan lahir dengan mudah.
Semua terkekeh mendengar protes Jasson yang absurt, membaca artikel hanya setengah saja.
"Itu kalau kandungan sudah di usia mendekati lahiran Pak, sepertinya anda membaca hanya setengah, coba bapak ulangi lagi membaca artikel itu dari awal" sambil tersenyum simpul dokter Rianti memberikan saran.
"Baik dok, memang kemarin saya baca bagian belakang hehehe, tetapi satu Minggu sekali boleh ya dokter?" pinta Jasson tanpa tahu malu dengan cengar-cengir.
Fia langsung mendongak melotot tajam sambil mencubit perutnya "Abang bikin malu aja" bisiknya pelan.
"Sakit sayang, Abang kan cuma bertanya bolehkan ya dok?" seloroh Jasson sambil mengusap perutnya yang dicubit oleh Fia.
"Tidak apa-apa Pak tidak ada yang melarang bertanya, boleh kok melakukan hubungan intim seminggu sekali asalkan pelan pelan dan tidak menekan terutama di perut ibunya" saran dokter Rianti dengan senyum yang mengembang.
"Ini resepnya silahkan tebus di apotek, jangan lupa minum susu hamil ya Bu, biar janinnya kuat" pesan dokter Rianti lagi sambil memberikan resep yang baru saja ditulisnya.
"Baik terima kasih dokter" Jasson mengambil resep itu, berpamitan keluar ruangan menuju ke apotek untuk menebus obat.
Selesai mengambil obat, diparkiran Mama Trisya mengajak umi belanja berdua karena ingin membuat syukuran di rumah dan mengundang seluruh keluarga.
Jasson dan Fia membeli susu hamil ke supermarket sedangkan umi dan Mama Trisya pergi ke pasar tradisional tentu saja bersama empat bodyguard yang mengawal menggunakan dua moge yang selalu setia dibelakang umi.
Didalam supermarket Jasson bingung ternyata susu untuk ibu hamil ada banyak sekali jenis merk dan varian rasanya.
"Sayang mau yang mana susunya Abang bingung?" kata Jasson kepalanya mendongak keatas membaca merk susu hamil dan mencoba meraih tangan Fia tanpa melihat siapa yang digandengnya.
"Eeee kodok buntung, cicak loncat, Abang iiih susunya ada di bawah sini jangan melihat diatas terus" ternyata suara wanita jadi-jadian yang di gandeng Jasson tanpa sengaja, sedangkan Fia tertawa lepas melihat Jasson yang kaget karena mendengar Cinta yang akhir akhir ini latah.
Dengan spontan Jasson mundur mengusap tangannya, bergeser dibelakang Fia dengan cepat.
"Cinta jangan godain laki gue, lihat dia ketakutan" Fia mendekati Cinta, sedangkan Jasson sembunyi dibalik badan Fia memegang pundak istrinyanya.
"Abang ini bagaimana katanya tadi mau susu, ini lo disini, gue cantik jelita tiada tara, jangan takut" goda Cinta lagi dengan menggoyangkan badannya.
Fia semakin tertawa lepas melihat tingkah kocak Cinta, sedangkan Jasson semakin merapatkan badannya pada Fia.
"Sayang, Abang geli sama dia, kita pulang aja yok, cepat nah" Jasson semakin menempel pada tubuh Fia.
"Tenang Abang sayang, gue sudah jinak tidak usah takut" Cinta semakin menggoda Jasson.
"Cinta mau cari apa, emang elo mau beli susu hamil juga?" Fia mengalihkan perhatian agar Cinta tidak menggoda Jasson lagi.
"Tidak dong sayang, tidak mungkinlah gue hamidun, sebetulnya gue kan punya burung" celoteh Cinta dengan menggunakan suara aslinya.
Fia tertawa lepas lagi, Jasson juga ikut tertawa akhirnya setelah mendengar suara asli Cinta.
"Eeee ngomong ngomong siapa yang hamidun, Abang ganteng itu atau kakak cantik?" Kembali Cinta menggoda Jasson.
__ADS_1
"Gue dong Cinta, emang bisa laki gue mlendung perutnya" jawab Fia sekenanya.
"Amit amit jabang bajul, jangan sampai dong, si Abang ganteng mlendung, ah sudah gue mau cari alat makeup dulu daaaa" Cinta meninggalkan Fia dan Jasson dengan langkah yang melenggak-lenggok bak peragawati kesasar.