
Sudah hampir satu Minggu Imma di rawat di rumah sakit, keadaanya mulai stabil, setiap pagi di temani oleh Ken dan Faro, tetapi jika sore bergantian baik Fia ataupun Ezo ataupun bergantian keluarga besarnya.
Pagi hari ini bergantian Faro dan Ken mandi di kamar mandi, setelah selesai bertiga sarapan bubur ayam yang di belikan Faro di depan rumah sakit, Ken mengupas buah melon dan memotongnya dadu.
"Aaaaaa bibi....ibu dia datang lagi" teriak Imma sambil menggeser tubuhnya ke atas tempat tidur tangan menunjuk Mario yang datang dengan memakai baju warna hitam-hitam baik kemeja ataupun celananya.
Badan Imma mulai mengeluarkan keringat dingin, tangan dan kakinya juga terasa dingin, air mata mengalir deras tangan di tekuk di depan dada.
"Honey..... honey tenang, dia Mario" Ken yang awal ingin mengambilkan Imma buah-buahan berlari mendekati Imma dan memeluknya dengan erat.
"Mario cepat keluar, kenapa pakai baju hitam-hitam" cabik Ken dengan begitu khawatir.
Bergegas Mario keluar dari ruangan kamar rawat inap, padahal niatnya ingin bertemu bosnya yang hampir satu Minggu ini jarang ke kantor.
Faro yang baru saja merebahkan tubuhnya, mengantuk kaget karena teriakan uminya berlari mendekati Ken dan Imma dengan begitu khawatir.
"Ada apa Bi, kenapa umi menjerit?".
"Itu ada asisten Abang, membuat umi takut karena memakai baju hitam, coba Abang suruh ganti bajunya baru masuk lagi" perintah Ken dengan sedikit meninggi suaranya.
Faro keluar ruang rawat inap mencari Mario yang begitu kaget dengan reaksi Imma yang begitu takut, Mario hanya mengusap dadanya, karena reaksi Imma yang begitu membuatnya ketakutan.
"Kenapa begitu takut lihat gue bos, apakah muka gue kayak muka kriminal?" tanya Mario sedih dan mengelus dadanya.
"Umi trauma dengan pakaian berwarna hitam sepertinya, dia juga belum bisa bertemu banyak orang, coba elo buka tuh baju hitam, elo pake kaos daleman kan?" perintah Faro.
Mario mengangguk, membuka baju atasan berwarna hitam itu, tinggal kaos oblong berwarna putih tulang melekat di tubuhnya, di masukkan baju itu di tas kerjanya.
Setelah duduk di luar ruang rawat inap Mario dan Faro bercengkerama membicarakan tentang kesehatan Imma baru Faro mengajak Mario masuk.
"Ayo coba kita masuk lagi bagaimana reaksi nyokap" ajak Faro dengan melambaikan tangannya, Mario mengikuti Faro di belakang dengan sedikit takut.
Saat masuk melihat Imma sudah duduk selonjoran di brankar tempat tidur sudah tenang di suapi buah melon yang sudah di potong dadu oleh Ken yang berdiri di samping Imma.
"Mario kenapa kesini hanya makai kaos oblong begitu?" tanya Imma sambil tersenyum melihat Mario menggunakan kaos oblong tetapi menenteng tas kerja terlihat lucu dan seksi karena tubuh yang kekar.
"Ee iya Tante maaf, tadi bajuku ke tumpahan kopi, bagaimana kabarnya?" jawab Mario bohong dan cengar-cengir tetapi dalam hatinya merasa lega karena Imma mengenalinya.
"Bagaimana umi sudah baikan?" tanya Faro mendekati uminya memegang keningnya, sangat khawatir karena belum stabil kondisinya.
"Tenang aja Bang, obat umi selalu di sampingnya, kalau mau bahas kerjaan sana di sofa aja!" canda Ken melirik Imma dan mengusap pipinya yang halus.
"Memangnya apa obatnya Bi?" tanya Imma dengan polosnya.
"Pelukan Abi, apalagi kalau di tambah pelukan plus-plus" bisik Ken di telinga Imma, dan disertai kedipan mata.
"Abang dengar Bi, ini rumah sakit, telinga Abang jadi tidak suci lagi" canda Faro tertawa lepas, diikuti oleh Mario dan Imma.
"Abi sih, mesum didepan putranya" jawab Imma sambil tersenyum.
__ADS_1
"Naah gitu mi, umi cantik kalau tersenyum, Abang suka" rayu Faro bahagia mendengar uminya sudah mulai bisa tertawa.
"Ee enak aja, kenapa Abang rayu istri tercinta Abi, sana rayu pacar Abang" protes Ken pura-pura merajuk.
"Apa sih Abi, kenapa cemburu sama putranya sendiri" jawab Imma sambil tertawa lepas.
Tidak di pungkiri Ken dan Faro begitu bahagia melihat orang yang sangat di sayangnya sudah bisa tersenyum, dengan candaan mereka.
Kondisi Imma memang mudah merubah, terkadang masih sedih, terkadang juga bisa tertawa karena hal kecil, apalagi saat sepi dia akan sangat sedih dan sering menangis sendiri.
Dokter juga menyarankan agar Imma tidak boleh di tinggal sendiri, tidak boleh tertekan, membuat dia nyaman dan masih banyak lagi yang harus di hindari.
Faro dan Mario duduk di sofa membahas tentang laporan dari perusahaan, dengan serius, tidak lama Sandi juga datang untuk mengantar dokumen yang harus di tandatangani oleh Ken.
Faro dan Ken memang kompak untuk bekerja melalui online saja, akan menjaga Imma dengan baik, kadang bergantian kadang juga bersama-sama.
Saat Imma istirahat lagi dan tertidur pulas, Ken mulai memeriksa dokumen yang dibawa Sandi, menandatangani, memeriksa dan memberikan instruksi yang di perlukan untuk kemajuan perusahaan.
Sore harinya Ezo dan Fia bergabung di rumah sakit membesuk umi tercinta bercengkerama dengan akrabnya, membuat hati Imma bisa melupakan kejadian yang sangat mengerikan itu.
Saat Faro mendapatkan pesan dari Rendi, bergegas Faro membaca pesan itu.
"Bro.. maaf, gue belum sempat jenguk nyokap, salam buat beliau, gue ikut prihatin atas apa yang menimpa nyokap, maaf Minggu depan gue akan akad nikah, ini sudah di rencanakan satu bulan yang lalu, mohon doa restunya"
Faro mengambil napas dengan kasar, teman yang berjuang bersama dari kecil akan segera menikah melepas masa lajangnya, tetapi dia ragu apakah bisa menghadiri undangan itu, karena rencana resepsi akan di adakan di Bandung.
"Tidak apa-apa bro, doanya aja, tetapi maaf gue tidak bisa janji ya, harap maklum yang jelas semoga lancar, dan gue doakan semoga samawa" tulisan Faro dalam jawaban pesan singkat.
"Diusahakan ya bro, apalah artinya gue tanpa adanya elo saat akad nikah" pinta Rendi dengan tulus.
"Gue usahakan" jawab dalam tulisan pesan Faro lagi.
____________________
Tomy Sanjaya dan Nadia yang baru kabar bahwa Imma di culik oleh anak buah Theo Thanapon setelah seminggu kejadian itu merasa sangat bersalah, karena tidak bisa di pungkiri bahwa semua permasalahkan berawal dari dirinya.
Tomy dan Nadia mendengar kabar itu tidak sengaja percakapan antara Edi Darmawan dengan asistennya Budi, niatnya tidak memberi tahukan kedua mertuanya itu agar tidak membuat mereka khawatir.
"Bos apakah anda tidak ingin melihat keadaan uminya Abang setelah penculikan itu?" tanya Budi kepada Edi Darmawan.
"Sebenarnya pingin kesana tetapi masih banyak pekerjaan yang tidak di tinggalkan, nanti coba aku tanya istriku atau mbak Meera siapa tau mereka yang akan kesana" jawabnya kemudian.
Tomy dan Nadia yang mendengar itu langsung mendekati mereka berdua, jalan sepasang suami istri itu sudah membungkuk karena umur sudah lebih dari delapan puluh tahun.
"Kenapa kalian tidak cerita padaku Edi?" tanya Tomy mengagetkan mereka.
"Opa, Oma kenapa kesini?" tanya Edi Darmawan gugup membantu mereka untuk duduk di sofa.
"Maaf, tidak bermaksud menyembunyikan ini pada Opa ataupun Oma".
__ADS_1
Akhirnya Edi Darmawan menceritakan tentang kejadian yang telah menimpa Imma di Jakarta, tanpa di tutup-tutupi sedikitpun.
Malam harinya Oma Nadia terus terbayang cerita Edi Darmawan menantunya, semua penderitaan Imma dari masih duduk di bangku SMU sampai sekarang hanya demi melindungi keselamatan cucunya saja.
Ada rasa bersalah yang begitu dalam di rasakan oleh Oma Nadia tentang kejadian Imma di Jakarta, ingin sekali rasanya mengunjungi keluarga cucunya itu saat ini juga, tetapi apalah daya badan sudah tidak bisa diajak berjalan jauh.
Oma Nadia seolah olah kehilangan separuh nyawanya, membayangkan Imma yang mengalami depresi kembali seperti saat Faro lahir, sebagian besar karena hanya melindungi Faro dari orang-orang yang tidak menginginkan nya.
Akhirnya hari demi hari Oma Nadia jalani hanya dengan berbaring di tempat tidur tanpa bisa bangun dari tempat tidurnya, hanya mendapatkan cerita dari putrinya Dini yang sering bertanya kepada Faro bagaimana keadaan Imma disana.
Dini mendapatkan informasi dari Faro jika tidak ada halangan Minggu depan uminya sudah di perbolehkan pulang, hanya senyum yang tersungging di bibir Oma Nadia.
Malam ini hati Oma Nadia terasa sangat damai mendengar kabar jika Imma sudah boleh pulang, rasanya tidur terasa nyenyak, pukul sepuluh malam Mama Dini mencoba membangunkan mamanya.
"Oma, bangun ini waktunya minum obat" ucap Mama Dini lembut.
Karena tidak ada respon dari mamanya, dia langsung memeriksa nadi di tangan, memegang dahi dan kakinya dengan cepat.
"Kenapa dingin semua ini.... Papa........ Papa!" teriak.
Seketika Edi Darmawan suaminya masuk ke kamar Oma Nadia di ikuti oleh Opa Tomy Sanjaya yang baru saja dari ruang menebak.
Edi Darmawan memeriksa dengan teliti keadaan Oma Nadia dari nadi, detak jantung dan suhu tubuh.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un" kata Edi Darmawan duduk lemas di samping istrinya.
Tomy Sanjaya juga mencoba memeriksa istrinya dengan teliti, memang ternyata istrinya sudah di panggil oleh yang maha kuasa.
Kabar itu dengan cepat menyebar ke seluruh keluarga, relasi, teman bisnis tak terkecuali keluarga besar Bastian Wiguna.
Faro langsung terbang malam itu juga untuk menemui Oma kandungnya untuk terakhir kalinya, tanpa di dampingi oleh asistennya Mario, karena berbarengan dengan akad nikahnya sahabat karibnya Rendi.
Dengan menyesal Faro tidak bisa menghadiri acara akad nikah dan resepsi pernikahan Rendi dan Erna, bukan disengaja memang jodoh, maut hanya ada di tangan yang maha kuasa, manusia hanya bisa merencanakan tetapi tetap Allah lah yang menentukan segalanya.
Menjelang pagi hari Faro sampai di kediaman Opa Tomy dengan selamat.
"Maaf Opa, Abi dan seluruh keluarga tidak bisa kesini, Abang hanya sendiri mewakili keluarga" kata Faro saat bertemu dengan Opa Tomy di kediaman keluarga mereka.
"Tidak apa-apa Bang, bagaimana keadaan umi dan seluruh keluarga?" tanya Opa Tomy.
"Beliau sudah membaik Opa, Abang mewakili keluarga mengucapkan belasungkawa yang sedalam dalamnya" jawab Faro sedang linangan air mata.
Cobaan demi cobaan Faro lalui dengan berat akhir-akhir ini, dari di tinggal oleh Inneke, penculikan uminya sekarang kehilangan Oma Nadia yang begitu menyayanginya.
Saat Inneke kuliah di Jakarta.
__ADS_1
Inneke Bekerja di salah satu bank swasta di Malaysia.