
Ternyata ikatan batin antara ibu dan anak itu nyata adanya, saat Inneke sakit, baby Rafael selalu rewel jika di gendong bibi Jum, umi ataupun bunda, tetapi jika di gendong oleh Faro dan duduk disamping Inneke sesekali mendengar suara maminya baby Rafael akan anteng dan tidak rewel lagi.
"Mami cepat sembuh ya, Rafael mau minta di gendong dan disayang Mami" Faro menimang putranya dengan menirukan suara anak kecil.
"Sini nak, Mami mau peluk dan cium El, maaf ya sayang mami belum bisa gendong lama" Inneke duduk bersandar di dastbor tempat tidur memeluk dan mencium putranya dengan lembut.
"Mami cepat sembuh ya, Rafael dan Papi sayang Mami" kembali Faro bersuara seperti anak kecil.
Selama Inneke sakit baby Rafael berdekatan dengan Inneke saat haus saja selebihnya diasuh bibi Jum dibantu umi dan bunda, tetapi seringnya di gendong Faro dan tetap di samping Inneke agar baby Rafael tidak rewel.
Dengan telaten dan penuh kasih sayang Faro merawat Inneke dan minum obat secara teratur, setelah dua hari Inneke sehat kembali, baby Rafael juga sudah mulai pintar tidak rewel dan selalu menempel pada maminya.
Faro akan kembali ke mode mesumnya setelah Inneke sehat, selalu menggoda dan mengganggu baby Rafael saat sedang asyik ***** ASI di kamar.
"Sayang....kapan Papi dapat giliran juga, sekarang baby Rafael aja yang menguasai, bagi sedikit dong buat Papi?" Faro mentowel hidung baby Rafael bergantian mentowel gunung kembar Inneke membuat ujung gunung kembar itu terlepas dari mulut baby Rafael.
Dengan kencang baby Rafael menangis karena terlepas ujung gunung kembar dari mulutnya, dengan segera Inneke memasukkan lagi agar tangisannya berhenti.
"Papi... Rafael belum kenyang jangan di ganggu" kesal Inneke melotot tajam kearah Faro yang cengar-cengir.
"Makanya bagi sedikit dong sayang, masih lamakah Abang puasa?" Faro meletakkan dagunya di pundak Inneke.
"Papi sayang, ini baru sepuluh hari umur baby Rafael, masih tiga puluh hari lagi, tenanglah masih ada jalan lain menuju Roma, ingat" rayu Inneke mengusap pipi Faro dengan lembut.
Mata Faro membuat sempurna, spontan mengingat saat dulu Inneke melakukan hal yang absurt sampai dia mencapai puncak klimaks tanpa harus masuk ke jalan yang sebenarnya.
"Mami baby Rafael memang is the best, Papi sayang Mami dan Rafael" bertubi-tubi Faro menciumi pipi Inneke dan baby Rafael bergantian.
Kembali baby Rafael menangis keras, karena dicium oleh Faro ASI nya terlepas membuat Inneke memukul lengan Faro dengan pelan
"Ini nak, jangan nangis lagi, ***** sampai kenyang ya... jangan hiraukan Papi yang nakal ya" hibur Inneke sambil memasukkan lagi sumber ASI agar baby Rafael diam.
"Maaf sayang, Papi tidak sengaja" cabik Faro tersenyum dan mengusap lengannya.
__________________
Karena bertepatan dengan weekend, hari Senin ini Ken dan Hasan Hidayat bertemu setelah istirahat siang di kantor pusat PT WIGUNA GROUP.
Hasan Hidayat datang berdua dengan inspektur Ahmad sedangkan rombongan yang lainnya masih berwisata di ragunan zoo,
__ADS_1
"Tuan Ahmad, inspektur Ahmad selamat datang, perkenalan saya Sandi asisten pribadi dari bos Ken" Sandi mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan bergantian.
"Terima kasih salam kenal juga asisten Sandi" jawab inspektur Ahmad membungkukkan badannya.
"Mari kami antar ke ruang meeting, anda sudah ditunggu" Sandi berjalan menuju ruang meeting yang ada di samping kantor Ken
Ternyata di dalam sudah ada Faro, Mario, Opa Tomy, Rama, Hari Pranoto, dan Jasson serta Papa Andri.
Ini adalah kesepakatan kerjasama yang lumayan besar karena perusahaan PT WIGUNA GROUP akan semakin besar pula dan semakin terkenal terutama di wilayah Asia tenggara.
Meeting berlangsung hampir dua jam ternyata perusahaan milik Hasan Hidayat terpusat di Inggris sedangkan di Malaysia hanya cabang saja, sehingga PT WIGUNA GROUP akan merambah pasar internasional tidak hanya di Asia tenggara saja.
Inilah cara Hasan Hidayat memperbaiki kesalahan-kesalahan dari putranya Andrew Hidayat secara tidak langsung, walaupun mulutnya tidak berani meminta maaf karena sudah berjanji kepada inspektur Ahmad dan juga dilarang oleh Faro.
Dari sekian banyak foto yang di temukan di lemari Andrew Hidayat memang sebagian besar sudah tewas di tangan putranya tetapi yang masih hidup juga tidak kalah menderitanya termasuk istri dari rekan bisnisnya sekarang ini yaitu istri dari Ken yang bahkan Hasan belum mengetahui siapa namanya.
Bahkan keluarga Hasan Hidayat baru bertemu dengan keluarga Faro yang masih hidup diantara korban dari Andrew Hidayat yang lain, ada kabar seseorang yang masih hidup juga tetapi orang itu menghilang tanpa meninggalkan jejak bahkan polis Diraja Malaysia sudah mencarinya hampir satu tahun tetapi tidak ditemukan.
Setelah meeting itu selesai dengan kesepakatan kerjasama yang ditandatangani oleh dua perusahaan yang di wakili oleh Kenzie Wiguna dari pihak PT WIGUNA GROUP dan Hasan Hidayat dari HASH CORP.
Saat Hasan Hidayat dan inspektur Ahmad keluar dari perusahaan Faro menyusul mereka mengajak mereka berbicara secara pribadi di sebuah kafe yang tidak jauh dari PT WIGUNA GROUP.
Hasan Hidayat memandang dengan lekat dan pandangan yang tajam, ternyata anak dari Kenzie Wiguna mempunyai insting yang tajam karena bisa membaca jika ada tujuan lain selain urusan bisnis gumamnya dalam hati.
"Maaf tuan, tujuan saya tidak buruk, karena anda melarang kami meminta maaf langsung kepada kedua orang tua anda, saya memutuskan untuk mengajak kerjasama agar terjalin silaturahmi dan kekeluargaan" keterangan Hasan Hidayat panjang.
"Dengar tuan, saya hanya menjaga umi tidak depresi lagi, kami hampir kehilangan beliau bahkan sampai satu tahun kami hampir tidak mengenali umi karena depresi berat, jika terjadi sesuatu dengan beliau apakah anda berani bertanggung jawab?" Faro sangat naik pitam karena orang tua kandung Andrew Hidayat mencoba mendekati keluarganya.
"Tuan saya mohon jangan marah, kami berjanji akan menjaga sikap kami, bahkan kami akan menjaga dengan nyawa saya" inspektur Ahmad meyakinkan Faro dan berkata dengan sepenuh hati.
"Percayalah pada kami tuan, niat kami baik, kami hanya meminta maaf kepada keluarga anda terutama umi anda" Hasan meyakinkan kepada Faro jika niatnya baik dan tulus.
"Baiklah saya akan mengijinkan anda mendekati orang tua saya tetapi ingat, jika terjadi sesuatu pada keluarga kami terutama umi, anda akan menerima akibatnya" Faro tanpa basa-basi mengancam dua orang yang ada dihadapannya dengan tegas.
"Baik, kami berjanji akan menepati semua yang kami ucapkan, kami hanya mohon beri kami kesempatan untuk menebus dosa dan kesalahan putra kami" mata Hasan berkaca-kaca hampir menetes air matanya karena mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dari putranya Andrew Hidayat.
Sepulang dari kafe itu Faro langsung pulang kerumah tanpa kembali ke kantor, Mario yang menghandle semua pekerjaan, Faro akan memeriksa melalui email saja dari rumah.
Di rumah bertemu dengan istri dan putranya seketika hilang rasa kesal dan marah karena kejadian tamu dari Malaysia yang tidak terduga.
__ADS_1
"Papi jam segini tumben sudah pulang?" Inneke duduk bersandar di brankar tempat tidur sedang memberikan ASI eksklusif kepada baby Rafael.
"Iya sayang, tadi Papi habis meeting di kantor pusat jadi langsung pulang, kangen baby Rafael, sudah selesai belum itu nenennya anak Papi ganteng ayo kita main?" Faro mentowel hidung baby Rafael yang asyik menyedot ASI dengan lahap.
"Papi ganti baju dulu, cuci tangan baru nanti main dengan baby Rafael" titah Inneke dengan diikuti dengan anggukan kepalanya.
Selesai berganti baju dan baby Rafael juga sudah kenyang Faro menggendong baby Rafael ke gazebo dekat kolam renang, selalu membuat rindu jika jauh dari putranya.
Baru interaksi sebentar dengan putranya, mengajaknya bicara datang Jasson dan Fia bergabung duduk di gazebo, Jasson yang masih memakai jas sepertinya dari kantor dan Fia masih membawa tas kuliahnya juga.
"Kalian dari mana masih pakai baju kerja begitu?" tanya Faro setelah mereka duduk di samping Faro.
"Gue habis jemput Fia dari kampus Bang, karena uncle kangen sama baby Rafael yang ganteng" Jasson langsung mencium pipi bayi menggemaskan.
"Bang Jasson dari kemarin merengek minta kesini Bang, selalu saja baby Rafael yang dibicarakan, kangen terus katanya" cerita Fia ikut mencium pipi baby Rafael.
Faro terkekeh mendengar cerita Fia, Jasson yang unik baru kemarin saat aqiqah bertemu baby Rafael sudah kangen lagi.
"Makanya cetak sendiri palingan kalau sudah punya baby sendiri lupa sama anak gue" cabik Faro dengan suara sedikit mengejek.
"Sudah Bang, setiap hari malahan, tetapi belum datang juga, coba boleh gue bawa pulang baby Rafael" Jasson menjawab dengan mengelus pipi baby Rafael dengan lembut.
"Memang seperti iklan cetak langsung jadi, lepas alat kontrasepsi belum ada setengah bulan, Abang aja yang tidak sabaran" Fia kesal dengan muka masam dan mengerucutkan bibirnya.
"Maaf sayang Abang akan sabar, jangan marah" Jasson ikut mengerucutkan bibirnya dan melipatkan tangannya dan tatapan mata yang sayu.
"Sembarangan mau dibawa pulang, nanti siapa yang akan menyusui baby Rafael, emang elo bisa Jasson?" Celoteh Faro kesal melempar guling kecil yang ada di samping baby Rafael.
"Iya juga ya... Baby Rafael masih ASI eksklusif, gue lupa, habisnya baby Rafael menggemaskan banget sih" cengar-cengir Jasson memandangi wajah bayi itu.
"Rafaet bukan barang uncle, Rafael putra Papi yang ganteng, Rafael pintar seperti Papi, baik hati seperti Mami" celoteh Faro mengangguk anggukan kepalanya mengajak bicara baby Rafael.
Bayi itu seakan ingin juga merespon kepalanya menggeleng ke kanan dan kiri mulutnya terbuka kaki dan tangan juga ikut bergerak keatas dan bawah.
"Putra Papi memang pintar, cuekin aja uncle Jasson datang cuma tangan kosong aja ya sayang" Faro mengajak baby Rafael berinteraksi lagi.
"Iya maaf lain kali uncle kalau datang bawa mainan yang banyak... jangan cuekin uncle, aunty sudah cuekin uncle, lihat tuuuh aunty mukanya cemberut kayak baju belum di gosok" Jasson ikut berbicara seperti Faro berinteraksi dengan putranya.
Lagi-lagi baby Rafael menggerakkan kaki dan tangannya, dengan menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan lincah membuat Jasson semakin gemas.
__ADS_1
"Uncle Jasson jahat El, aunty dicuekin terus lihat tuuuuh, aunty jadi kesal sama dia" cabik Fia masih cemberut dan mengerucutkan bibirnya.