
Baby Rafael sudah berumur satu bulan semakin sehat dan terlihat montok pipinya, pola tidur juga sudah mulai teratur, dan jarang bergadang di malam hari, jadwalnya sekarang bangun jam empat pagi, dengan mengeluarkan suara planet ah eh uh tidak ada yang tahu artinya, kaki dan tangan juga bergerak aktif, jika tanpa respon mencari teman disekitarnya dan tidak ada suara Mami dan Papi masih terlelap dalam mimpinya baby Rafael akan mengeluarkan senjatanya melengking tinggi menangis membangunkan seisi rumah.
Inneke juga setiap malam harus terjaga tiga sampai empat kali karena baby Rafael yang bangun karena haus, sehingga mengakibatkan saat jam empat pagi Rafael terjaga mata Inneke susah untuk di buka.
"Sudah bangun ya sayang, mata Mami tidak bisa melek nich ngantuk banget" Inneke mengangkat baby Rafael dari box bayi dibaringkan di samping Faro yang masih terlelap dalam mimpinya, dan ikut berbaring kembali disisi baby Rafael lainnya.
Karena gerakan Rafael yang aktif kepala bergerak ke kanan-kiri mulut yang sedikit terbuka, Faro juga mulai terjaga dan mengerjapkan matanya melirik kearah samping sudah ada putranya disampingnya.
"Bangun Papi, temani baby Rafael ingin mengajak main dia" ucap Inneke yang masih diserang kantuk yang amat sangat.
Karena Faro masih mengumpulkan nyawanya belum merespon putranya, Inneke juga mulai terlelap kembali dengan suasana yang sepi, baby Rafael mengeluarkan suara melengking membangunkan kedua orang tuanya kembali, bahkan sangking kagetnya Inneke dan Faro spontan terbangun duduk menghadap baby Rafael yang menangis kencang.
"Maaf nak, maaf... Mami ketiduran lagi, tidak ada teman main ya, cup cup cup sayang mami sudah bangun" dengan mengusap dan menepuk pipinya yang terlihat gembul dan menganggukkan kepalanya Inneke berbicara dari samping.
"Sayang... Papi lama lama jantungan kalau dibangunkan seperti ini terus setiap hari" cabik Faro sambil mengucek matanya.
"Tuuuh kasihan Papi nak, kaget jadinya, habisnya Rafael di cuekin sih, kesal deh" Inneke menirukan suara anak kecil sambil menganggukkan kepalanya.
"Maaf nak, Papi juga masih ngantuk, sekarang Papi yang temanin ganteng main ya, kalau Mami masih ngantuk tidur aja lagi" Faro ikut menganggukkan kepalanya berinteraksi dengan putranya.
Baby Rafael berhenti menangis dan mulai aktif bergerak lagi karena mendengar kedua orang tuanya mengajaknya bicara.
"Mami juga sudah tidak ngantuk lagi sekarang, Oya Papi hari ini jadwalnya baby Rafael imunisasi BCG ya, apakah Papi sibuk pagi ini?" kembali Inneke mengeluarkan suara anak kecil.
"Jam berapa, Papi ada meeting jam sembilan selama satu jam?" tanya Faro memegang tangan Faro dan menciumi tangan baby Rafael.
"Jam sepuluh, kalau Papi tidak bisa, biar Mami minta temani bunda atau umi" jawab Inneke kemudian.
"Sama Papi aja, nanti setelah meeting Papi langsung jemput, karena Papi meeting di kantor pusat" balasnya dan diikuti anggukkan kepala oleh Inneke.
Setelah matahari mulai mengintip dan terasa hangat giliran baby Rafael berjemur sebentar bersama Papi di samping kolam renang belakang rumah selama setengah jam baru mandi dengan bibi Jum.
_________________
Di kamar tidur Ara sedang melakukan vedio call dengan mommy yang sekarang ada di Thailand, dengan umur kandungan Ara yang memasuki bulan ke sembilan memang seharusnya ada yang mendampingi, selama ini Ara hanya sharing dengan bunda atau umi, atau kadang dengan Jelita saja.
Dengan derai air mata yang terus mengalir berbincang dengan mommy, ingin sekali di dampingi oleh mommy seperti semua temannya yang sedang hamil tua.
"Sayang, bukannya mommy tidak mau dampingi Ara, situasi yang tidak memungkinkan mommy kesana" ucap mommy ikut berlinang air matanya membasahi pipi.
"Memang apa lagi ulah Deddy mom?" tanya Ara mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
"Setelah berhasil melawan penghianatan pamanmu, sekarang Deddy mempersiapkan adikmu Thora untuk menggantikan posisinya" cerita mommy dengan raut wajah sedih.
__ADS_1
"Sayang mommy mau cerita rahasia, mana suamimu?" tanya mommy dengan sedikit berbisik.
"Sebentar Bang Rio masih di kamar mandi" datang Mario dari kamar mandi duduk disamping Ara mengusap air mata istrinya dengan lembut.
"Hai mommy, apa yang terjadi, kenapa istri kesayanganku jadi menangis, apakah kangen mommy?" Mario melambaikan tangannya menempelkan pipinya pada Ara.
Mommy bercerita jika secara diam-diam hampir setengah tahun ini mengikuti jejak Ara memeluk agama Islam di sebuah masjid di pinggiran kota Bangkok tanpa sepengetahuan Deddy ataupun anak buahnya.
Hati Ara dan Mario langsung menghangat bahagia karena pengakuan mommy yang sudah seiman dengan putri dan menantunya.
"Mommy semoga selalu Istiqomah, selalu sabar ya Mom, dan saya harap saat putraku lahir nanti mommy bisa mendampingi kami disini" pinta Mario dengan mata yang berkaca-kaca karena terharu.
"Insyaallah sayang, akan mommy usahakan" balas mommy sambil mengusap air matanya yang terus mengalir.
"Bagaimana kabar Deddy disana mommy?" tanya Mario penasaran bagaimana perseteruan dengan rival saudara tirinya yang ingin merebut kedudukan ketua mafia saat ini.
"Deddy sekarang sedang merayakan kemenangannya atas rivalnya adik tirinya sendiri yang ingin merebut kekuasaannya" cerita mommy dengan raut wajah yang sedih.
"Sekarang bagaimana keadaan Lung Dio Thanapon, mommy?" tanya Ara ikut bersedih karena melihat raut wajah mommy yang sedih( Lung dalam bahasa Thai artinya paman).
Paman (Lung) Ara satu ayah beda ibu dari Deddy yang bernama Dio Thanapon sebelum ingin merebut kekuasaan dari Theo Thanapon tinggal di negara Myanmar karena ibu kandungnya asli dari negara itu.
"Lung Dio sekarang sudah kembali lagi ke Myanmar, sayang, Thora yang memaksa dia kembali, Thora mengancam akan menghancurkan seluruh keluarganya jika tidak kembali" keterangan mommy lagi.
"Sebenarnya Lung Dio orangnya baik dan jujur, tetapi karena ada orang dalam organisasi Deddy mu yang berkhianat akhirnya dia terseret dan dimanfaatkan oleh anak buah Deddy mu yang ingin merebut kekuasaan Deddy" tambah lagi cerita mommy.
"Baby, coba ceritakan tentang Thora dan Lung Dio dong, Abang jadi penasaran kenapa keluargamu sebagian besar berprofesi sebagai mafia sih?" rayu Mario tersenyum manis, Ara hanya tersenyum tetapi seperti miris jika mengingat keluarga besarnya.
"Kalau Thora aku tidak terlalu mengenalnya hubby, karena waktu aku sekolah di Singapura dia ikut Deddy di Thailand" awal Ara bercerita.
"Memang berapa tahun bedanya umurnya dengan baby?" tanya Mario tetap memeluk dan mengelus perutnya yang buncit.
"Mungkin sekitar lima tahun perbedaan kami, tetapi mommy sering bercerita kalau Deddy dan Thora seperti pinang dibelah dua, dingin, kejam dan selalu menggunakan logika daripada hati nurani.
Mario jadi teringat cerita Faro saat meeting dengan putra dari Decha Thanapon bercerita jika seorang Thora Thanapon adalah pribadi yang kaku, mudah terpancing emosi, mengedepankan logika dan akal sehat itu kesan pertama saat Faro bertemu.
"Bagaimana dengan Lung Dio, baby?" tanya Mario lagi.
Ara menarik nafas dalam-dalam berpindah posisi menghadap Mario sambil mengusap lembut dadanya.
"Baby ayo cerita, atau kita perang-perangan dulu disini, sudah bangun soalnya pedang Abang" cabik Mario menggenggam kedua tangan Ara.
Ara terkekeh terkadang suaminya itu sama persis seperti bosnya Faro selalu mesum jika bersama istrinya.
__ADS_1
"Baik hubby aku cerita aja, jangan di keluarkan pedangnya ini sudah mau siang sebentar lagi berangkat kerja" jawab Ara kemudian bercerita tentang Lung Dio.
Lung Dio adalah adik dari Deddy satu ayah dan beda ibu, jika ibunya Deddy asli gadis Thailand tetapi Lung Dio ibunya gadis asli Myanmar, saat kakek atau Pu Thanapon bekerja di Myanmar terpincut dengan gadis Myanmar dan menikah disana serta dikaruniai satu putra, saat itu Daddy berumur lima tahun (Pu artinya kakek dalam bahas Thai).
Saat Ara kecil mengenal Lung Dio Thanapon adalah seorang pedagang yang cukup sukses dan jujur di negara Myanmar, sehingga saat mommy cerita jika Lung Dio ingin merebut ketua mafia Ara sangat kaget dan hampir tidak percaya.
Tetapi sayangnya hingga saat ini Lung Dio Thanapon tidak memiliki keturunan walaupun sudah dua kali menikah, bahkan Istri pertamanya dulu selingkuh dan memiliki anak perempuan dari selingkuhannya itu.
Saat Ara masih sekolah di Singapura Lung Dio sering mengunjungi Ara karena sudah menganggap Ara seperti putrinya sendiri walaupun tidak pernah diakui sebagai saudara oleh Deddy.
Deddy sangat membenci Lung Dio karena penghianatan dari Pu Thanapon kakek Ara, Deddy hidup susah di Thailand bersama ibu kandungnya.
Tetapi apa yang menyebabkan Lung Dio Thanapon ingin merebut kekuasaan Deddy saat ini Ara belum mendapatkan jawabannya karena saat mommy bercerita tadi pagi mommy tidak menceritakan secara detail.
Pukul sembilan pagi Mario dan Faro bertemu langsung di kantor pusat untuk meeting Bersama jajaran direksi sampai pukul sepuluh pagi, setelah selesai meeting kembali bertemu di rumah sakit, Faro mengantar Inneke dan baby Rafael bertemu dengan dokter anak untuk imunisasi BCG, sedangkan Mario dan Ara akan memeriksakan kehamilannya ke dokter kandungan yaitu dokter Rianti.
Setelah istirahat Mario dan Faro kembali ke kantor dan mulai mengerjakan tugas masing-masing, Mario masuk ruangan Faro karena memerlukan untuk tandatangani dokumen.
"Bos ini yang perlu di tandatangani" Mario menerima setumpuk berkas diatas meja kerja.
"Hhhmmm" Faro tetap fokus pada satu dokumen yang dibacanya.
"Bos, kenapa lesu banget sih, apakah sampai sekarang belum buka puasa?" selidik Mario menatap Faro dengan lekat.
"Elo tahu sendiri ini baru satu bulan, bagaimana bisa buka puasa?" cabik Faro dengan menghembuskan nafas kasar.
Mario terkekeh dan menggelengkan kepalanya, duduk di sofa sambil menunggu bosnya menandatangani berkas itu.
"Katanya kemarin masih ada jalan lain menuju Roma, kenapa cemberut begitu?, dasar bucin kronis" Mario mengejek bos sekaligus sahabat karibnya sendiri.
"Nanti elo rasakan sendiri kalau bini elo sudah lahiran, jalan lain itu tetap saja rasanya beda, tidak seperti melewati jalan resmi, gue kurang suka" jujur Faro dengan sedikit kesal.
"Sabar bro tinggal sepuluh hari lagi, tidak lama itu" nasehat Mario tetapi dengan nada mengejek.
"Bagi elo sebentar, bagi gue sepuluh hari serasa setahun tau, apalagi kalau gue lagi lihat pemandangan baby El sedang menyedot ASI, gue jadi ngiler sendiri" celoteh Faro diikuti tawa lepas Mario.
______________
Dukungannya jangan lupa
untuk menambah semangat author
like vote dan komentar
__ADS_1
bunga, kopi atau yang lain juga boleh
terima kasih.