
Sudah hampir dua bulan Imma dan Ken berada di kampung, di ajak mengunjungi mall, restauran, acara aqiqah putra dari mbak Lia bahkan pergi ke pasar Imma bisa beradaptasi dengan baik.
Hanya saja belum seratus persen sembuh kata Ken karena Imma belum mau diajak sampai ronde kedua jika bercinta seperti sebelumnya terjadi kejadian Penculikan itu, Ken pun tidak mau diajak pulang ke Jakarta jika belum normal seperti dulu lagi, alasan yang aneh memang tetapi inilah Ken yang selalu mesum dan candu jika dekat dengan istri tercintanya.
Selama ini juga Faro selalu berada di kampung jika hari Jum'at sampai Sabtu, dan Senin sampai Kamis akan ada di Jakarta untuk bekerja ke kantor dan markas intelejen.
Sekarang sudah hampir enam bulan berlalu peristiwa mengerikan itu, hari Jum'at kebetulan hari besar nasional sehingga membuat Ezo dan Fia yang sangat merindukan sosok kedua orang tuanya ingin berkunjung ke kampung.
"Abang, besok libur adik kangen umi dan Abi, boleh ikut ya" rayu Ezo kepada Faro yang sedang menikmati camilan yang di buat uthi mami di ruang keluarga sore itu.
"Hemmm" jawab Faro singkat.
"Kakak juga ikut Bang, ada yang ingin kakak ceritakan ama umi dan Abi" Fia juga ikut nimbrung dan duduk di samping Faro merebut camilan yang sedang dinikmati oleh Faro.
"Cerita apa memang kak?" tanya Ezo curiga dan suka ingin tahu tentang kakak cantik satu-satunya.
"Kepo, rahasia dong, ya Bang jangan lupa kakak ikut" pinta Fia dengan mengguncangkan lengan Faro yang sedari tadi diam saja tidak menanggapi kedua adiknya.
Belum sempat menjawab pertanyaan kedua adiknya datang Uthi Mami dan Akung Papi bergabung dengan mereka duduk diantara mereka.
"Akung dan Uthi ikut juga, tidak masalah walaupun hanya tiga hari" usul Akung Papi yang juga merindukan putra dan menantunya karena sudah lama tidak bertemu.
"Baiklah, Abang cek tiket dulu sekarang" akhirnya Faro pasrah dan mengambil handphone untuk mencari informasi tentang tiket pesawat ke Surabaya.
Ada tiket yang masih kosong hari ini dengan harga yang lumayan miring penerbangan terakhir yaitu pukul delapan malam.
"Sudah Abang beli tiketnya, hari ini juga cepat adik dan kakak packing baju dahulu nanti jam enam kita berangkat" perintah Faro dengan senyum mengembang bisa membahagiakan adiknya dan Uthi dan Akung juga.
"Asyik... terima kasih Abang ganteng muuuah" ucap Ezo kegirangan langsung mencium pipi Faro tanpa sadar, dan berlari ke lantai atas dengan sedikit meloncat kegirangan.
"Senang ya senang dik, tidak usah cium pipi Abang juga kali, masak jeruk makan jeruk" cabik Faro mengusap pipi yang sudah dicium oleh Ezo tadi.
"Terima kasih Bang, muaaah" gantian Fia mencium pipi Faro sebelah tanpa minta ijin juga dan mengikuti Ezo ke lantai atas.
Faro hanya menggelengkan kepalanya saja melihat kedua adiknya yang begitu bahagia ingin bertemu dengan kedua orang tuanya di kampung.
"Uthi Mami juga akan packing, Akung coba hubungi Kemmy dan Rama jika kita akan ke kampung" perintah Mami Winda naik lantai atas menuju kamarnya.
Faro tidak lupa mengirim pesan WA kepada Opa Tomy jika malam ini akan ke kampung bersama kedua adiknya dan juga kedua orang tua Ken, agar bisa mengirimkan anak buahnya untuk bisa menjemputnya di bandara internasional Juanda Surabaya malam ini juga.
Hampir tengah malam rombongan Faro tiba di rumah, sedangkan Ken dan Imma belum tidur karena Ken sedang melakukan ritual hariannya apalagi kalau bukan mencari kenikmatan dunia bersama istri tercintanya.
"Honey.. boleh minta ronde kedua ya, katanya ingin pulang ke Jakarta, kalau cuma sehari satu ronde berarti umi belum sembuh betul" rayu Ken dengan mendaki gunung
melalui lembah di tubuh Imma yang tanpa sehelai benangpun.
__ADS_1
"Jangan modus terus sayang, kenapa semakin hari Abi semakin mesum aja sih" jawab Imma berusaha memindahkan tangan Ken dan menaikkan selimut sampai di lehernya.
"Tok....tok....tok" ada ketukan pintu dari luar, untungnya pintu itu di kunci, jika tidak akan seperti apa jika si Ezo yang masuk kamar sedangkan kedua orang tuanya sedang tidak menggunakan sehelai benangpun di badannya.
"Bi, ada yang mengetuk pintu" kata Imma sambil mengambil baju yang entah dimana letaknya.
"Siapa?, mengganggu aja sih, awas ya honey masih punya hutang satu ronde, kalau tidak di kasih besok akan Abi gandakan menjadi tiga ronde" bisik Ken bangun dari tempat tidur juga mengambil kaos, CD, dan celana pendek yang berada di bawah tempat tidur memakainya dengan cepat.
"Umi, Abi ini adik Ezo, cepat buka adik kangen" teriak Ezo dari luar pintu kamar kedua orang tuanya.
"Iya sayang sebentar ya" teriak Imma, tersenyum simpul memandangi wajah Ken yang sedikit kesal karena kesenangannya terputus.
"Umi dan Abi lagi ngapain sih lama banget" protes Ezo, datang juga Fia, Faro Uthi Mami dan Akung Papi ikut berdiri di depan pintu kamar Ken.
Pintu terbuka, melihat Ken yang senyum senyum sendiri sehingga Faro bisa membaca apa yang sedang di lakukan kedua orang tuanya itu.
"Maaf Bi, kami sedang mengganggu kesenangan umi dan Abi sepertinya" cabik Faro menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Emang kesenangan umi dan Abi apa sih kok sampai terganggu?" tanya Ezo dengan polosnya dan memandangi wajah umi dan abinya bergantian.
"Sudahlah tidak usah di pikirkan katanya kangen, ayo peluk Abi" jawab Ken masih senyum senyum sendiri merentangkan kedua tangannya memeluk putra bungsunya dengan erat.
Fia juga tidak lupa memeluk umi dan Abi bergantian serta Papi Bastian dan Mami Winda memeluk mereka, begitu rindu dengan putra dan menantu yang sangat di sayanginya.
Setelah selesai melepas rindu, kembali beristirahat karena waktu sudah lebih dari tengah malam, masuk di kamar masing-masing untuk Papi Bastian dan Mami Winda tidur di kamar tamu.
"Mau di hukum sekarang atau besok harus tiga ronde?" tanya Ken dengan menyusupkan tangannya masuk di balik baju tidur Imma.
"Abi, kenapa mesumnya bersambung, umi kira sudah lupa?" jawab Imma sekenanya.
"Jawab dulu, mau satu ronde lagi malam ini atau besok tiga ronde?" Ken sudah mulai lagi bergerilya tanpa menunggu jawaban Imma.
Dengan suara ******* kecil Imma yang menambah gairah Ken semakin tinggi dan melakukan penyatuan keduanya sampai *******, akhirnya hari ini Ken sudah dapat menyimpulkan jika istrinya sembuh total seratus persen.
"Terima kasih Honey, sekarang Abi nyatakan umi sembuh seratus persen, awas aja besok kalau cuma satu ronde Abi cabut lagi pernyataan sembuh seratus persen menjadi delapan puluh persen saja" kata Ken saat tumbang di samping Imma setelah selesai melakukan pelepasan keduanya.
"Alasan aja sih, bilang aja mesumnya kumat lagi, yang menyatakan sembuh itu dokter bukan Abi" protes Imma dengan menyusupkan kepalanya di dada Ken dan mulai memejamkan matanya untuk tidur.
"Tidurlah, I love you" Ken mencium keningnya memeluknya dengan erat ikut terlelap setelah ritual yang sangat melelahkan.
Pagi harinya, rumah terasa lebih hidup setelah kedatangan Ezo dan Fia di ruang makan, saling bercanda ria dengan menikmati hidangan sarapan bubur ayam yang di buat oleh Yu Minah.
Saat Imma dan Ken duduk santai di ruang keluarga, sedangkan Faro dan Ezo menjemput Opa Tomy di rumahnya, karena Mama Meera sedang ada di butik, dan Mama Dini menggendong cucu kesayangannya, sehingga tidak ada yang mengantar Opa Tomy untuk menemui cucunya, Fia duduk diantara Imma dan Ken dengan sedikit ragu-ragu untuk bercerita.
"Ada apa nak, seperti ada yang mau di bicarakan dengan umi dan Abi?" tanya Imma lembut membelai rambut Fia yang lurus dan panjang.
__ADS_1
"Umi, Abi kakak mau---?" ucap Fia masih ragu-ragu dan tidak tahu harus bercerita mulai darimana terlihat dahulu.
"Ada apa kak, tidak usah takut ngomong aja?" gantian Ken bertanya kepada Fia karena penasaran.
"Ke..... kemarin kakak bertemu Bang Jasson" kata Fia jujur dan sedikit menundukkan kepalanya.
"Jasson putranya pak Andri Pranoto?" tanya Ken lagi mendekatkan tubuhnya kearah Fia.
"Iya" jawab Fia singkat.
"Terus kenapa, apa salahnya jika bertemu dengan orang yang pernah kakak kenal?" tanya Imma pura-pura tidak tahu, padahal jika melihat sorot mata Fia, gadis itu mulai mengenal lawan jenis seperti gadis seumuran dia.
"Bukan begitu mi, ini lain soalnya, umi kan tahu jika kakak tidak akan pacaran, kecuali dengan calon suami kakak kelak" celoteh Fia sedikit kesal dengan jawaban uminya.
"Terus apa maksudnya kak?" gantian Ken bertanya lagi sangat penasaran dengan tingkah laku Fia yang sedang jatuh cinta.
"Awalnya kakak tidak sengaja ketemu dia di sebuah kafe saat dia selesai bertemu dengan klien katanya dan ngobrol cuma sebentar, cuma dia minta nomor handphone kakak" cerita Fia panjang dan lebar.
"Terus kakak kasih?" Imma mendengarkan ceritanya dan di jawab anggukan Fia.
"Nah satu Minggu setelah pertemuan itu, Bang Jasson menghubungi kakak untuk bertemu, dia menyatakan cinta pada kakak, katanya semenjak pertemuan saat peristiwa di depan sekolah SMU dulu, dia sudah jatuh cinta, tetapi kakak berterus-terang jika kakak tidak berniat pacaran" cerita Fia lagi tanpa ragu.
"Terus bagaimana dengan Jasson setelah kakak tolak?" tanya Ken dengan raut wajah yang bahagia mengetahui jika putrinya itu berterus terang tentang masalah pribadi
Tiga hari yang lalu dia menemui kakak lagi, begini ceritanya.
Flashback on.
Di sebuah kafe yang ada di dekat kampus Fia, Jasson mengajak bertemu lagi saat Fia akan pulang ke rumah.
Jasson sudah hampir setengah jam menunggu Fia datang dari kampusnya, melihat gadis pujaannya datang senyum Jasson mengembang dengan hati yang berdegup kencang.
"Maaf Bang, agak telat, karena tadi harus mengembalikan buku ke perpustakaan terlebih dahulu sebelum kesini" kata Fia duduk di bangku depan Jasson hanya terhalang meja saja diantara mereka.
"Oooo tidak apa-apa, baru setengah jam, seumur hidup pun Abang sanggup menanti Fia" rayu Jasson dengan senyum yang mengembang.
"Tidak usah gombal Bang, ada apa ingin bertemu aku lagi?" tanya Fia dengan sedikit menunduk menghindari tatapan mata Jasson yang begitu memujanya.
*
*
*
*
__ADS_1
flashback on nya masih bersambung ke
bab 41 ya...... terima kasih.