
Pagi harinya Faro bersiap berangkat ke kantor seperti biasa dengan dibantu Inneke memakaikan dasi jas dan mempersiapkan keperluan tas dan sepatunya selesai, Inneke juga ikut berganti baju dengan rapi.
"Sayang, mau kemana rapi banget?" tanya Faro setelah memperhatikan istrinyanya rapi seperti sudah siap untuk keluar rumah.
"Hari ini aku mau ikut Abang ke kantor, pingin lihat Abang duduk di singgasana memeriksa file dengan serius" dengan manja Inneke bergelayut di lengan Faro.
"Kenapa semakin hari istri Abang semakin aneh sih, apa ini juga termasuk bawaan bayi yang masih dalam kandungan?" Faro heran tetapi tidak bisa menolak permintaan Inneke karena alasan yang klasik.
"Entahlah, pokoknya pingin ikut Abang, titik" Inneke mengerucutkan bibirnya merajuk karena takut dilarang oleh Faro.
"Baiklah... baiklah, apapun maumu...ayo kita berangkat" Faro mengalah dan gandeng istrinya keluar kamar turun dengan menggunakan lift, sarapan dan berangkat ke kantor berdua dengan di kawal bodyguard seperti biasa.
Sampai di kantor Inneke duduk di sofa menghadap kearah Faro bekerja memandangi suaminya yang sibuk bekerja sambil sesekali menikmati camilan yang dibawanya dari rumah buatan bibi Jum.
Faro hanya terkekeh melihat tingkah istrinya yang selalu aneh menurutnya, hampir susah diterima dengan nalar dan akal sehat, tetapi demi kesehatan bayi dan ibunya Faro hanya berusaha memenuhi semua keinginan istri tanpa banyak basa-basi.
Sampai dua jam Inneke dengan posisi memandangi wajah Faro, tanpa Faro sadari karena terlalu serius dengan pekerjaan, setelah melirik kearah Inneke ternyata bumil itu sudah terlelap tidur cantik seperti biasa di sofa itu dengan posisi duduk bersender, bergegas Faro menggendong tubuh istrinya dipindahkan di kamar tidur yang ada di kantor itu agar nyaman dan nyenyak, baru kembali ke singgasananya dengan pekerjaan yang menumpuk.
Ada Jasson datang tanpa mengabari terlebih dahulu kepada Faro dan sebelum bertemu dengan Abang iparnya itu mengajak Mario masuk kantor Faro.
"Mana Bu bos, kok tidak ada perasaan tadi ikut masuk kantor?" tanya Mario sambil matanya menyapu seluruh ruangan tanpa berkedip.
"Ada kak Keke disini tetapi mana?" Jasson ikut menimpali.
"Sedang tidur di kamar" jawab Faro singkat.
Mario langsung berpikir mesum jika bosnya habis bercinta karena istri bosnya itu pagi-pagi udah terlelap dalam mimpinya.
"Jangan jangan pagi-pagi bos habis main kuda-kudaan di kantor, kenapa masih pagi sudah tidur" curiga Mario dengan memandangi Faro penuh dengan selidik.
"Abang tega banget sih pagi-pagi main kuda-kudaan padahal perut kak Keke perutnya sudah mulai besar" Jasson tidak kalah mesumnya dengan Mario.
"Sembarang aja, pikiran elo tuuuh dicuci dulu biar tidak kotor, tiap pagi jadwal bini gue tidur cantik, jangankan kuda-kudaan, mau cium saja dia tidak merespon sama sekali karena matanya lengket seperti di lem" cabik Faro dengan melempar pensil kearah Mario.
Jasson dan Mario hanya terkekeh mendengar celotehan Faro yang seperti curhat tanpa sengaja keluar dari mulutnya.
Ada apa Jasson kesini, kenapa tidak datang ke rumah aja?" tanya Faro setelah mereka duduk di sofa tamu saling berhadapan.
"Ini masalah bisnis Bang, bukan masalah rumah" jawab Jasson membetulkan posisi duduknya bersiap-siap untuk bercerita.
Papa Andri yang menyuruh Jasson datang ke kantor Faro untuk menemani pertemuan meeting kerjasama yang selama ini terjalin baik dengan pihak Decha Thanapon, karena Decha Thanapon telah tiada akan digantikan oleh putra sulung Decha, sedangkan pertemuan itu akan diadakan Minggu depan.
Pertimbangan Papa Andri meminta bantuan Faro karena banyak faktor yang harus di rencanakan matang matang, ini secara tidak langsung berhubungan dengan mafia yang selama ini masih mengincar keselamatan keluarga besar Ken.
"Papa bilang sebaiknya menggunakan nama Abang saja untuk kerjasama selanjutnya dengan putra Decha Thanapon agar lebih leluasa mengawasi gerak-gerik mereka" Jasson menyampaikan pesan dari papa Andri.
__ADS_1
"Bagaimana bro menurut elo?" tanya Faro kepada Mario.
"Setuju, lebih baik bos aja yang menghendel kerjasama itu tetapi tetap atas nama perusahaan bos Andri, nanti gue akan tanya Ara bagaimana karakter dari putra Decha Thanapon" pendapat Mario lebih rinci.
Inneke bangun ternyata sudah berpindah ke kamar yang ada di dalam kantor Faro, karena mendengar ada suara yang sedang berbincang bergegas keluar kamar menghampiri mereka bertiga.
"Sudah bangun sayang, sini dekat Abang" Faro melambaikan tangannya menepuk sofa kosong yang ada disampingnya, duduk disamping Faro tersenyum manis melihat adik iparnya dengan pakaian lengkap seorang eksekutif muda terlihat agak berbeda biasanya hanya mengenakan kemeja panjang yang digulung sampai siku.
"Elo kabari aja kalau sudah pasti meeting tempat dan waktunya Jasson" perintah Faro dengan tegas.
"Baik Bang, gue pamit dulu sekalian mau jemput Fia di kampus, kak Keke, Bang Mario sampai jumpa" Jasson pamit pulang dengan hati lega.
"Bos, Bu bos, gue mau ke ruang kerja lagi sekarang" pamit Mario keluar kantor Faro.
Faro semakin menempelkan tubuhnya kearah Inneke, memeluknya tangannya mulai menyusup ke dalam gaun sederhana yang dikenakan Inneke.
"Sayang kita ke kamar lagi yok, Abang mau nengok dekbay.... sekali aja please" rayu Faro memelas tetapi tangannya sudah melepaskan kaitan yang membungkus rapi gunung kembarnya.
"Abang, apa tadi malam masih kurang, tadi malam Abang sudah menengok dekbay?" cicit Inneke menggeliat manja karena dia sudah terpancing ulah tangan suaminya.
"Cuma sekali aja tadi malam sayang, sepertinya cobra Abang masih kangen" tetap dalam aksinya Faro terus mengiba dan merayu.
"Tapi janji dulu setelah ini ajarin aku menembak menggunakan senjata otomatis Laras panjang ya" pinta Inneke matanya merem melek menahan aksi dari Faro.
Hampir satu jam pergulatan panas itu berlangsung sampai mereka puas pada pelepasan klimaks antara keduanya, baru mandi berdua dikamar mandi dalam kantor itu juga.
Keluar kamar dengan rambut yang masih sedikit basah, duduk kembali di sofa tamu kantor dengan perut Inneke yang meronta ronta untuk diisi.
"Bang aku lapar, ayo kita makan dulu" Inneke memegangi perutnya yang membuncit seolah olah yang didalam perut meronta ronta ingin segera di kirimi asupan makanan segera.
"Mau pesan online atau kita keluar?" tawar Faro mengambil handphone dari kantong celananya.
"Online aja, tenagaku sudah habis untuk jalan, sudah Abang sedot semua" cabik Inneke mengerucutkan bibirnya karena adegan panas itu menguras tenaganya.
Faro terkekeh mengacak rambutnya karena gemas, walaupun perutnya membuncit tetapi di mata Faro semakin hari dia semakin seksi dan menggairahkan.
"Bos, gue mau keluar makan siang mau ik-----?" Mario masuk tanpa mengetuk pintu, tidak jadi melanjutkan ucapannya melihat dua sejoli yang sedang duduk berpelukan dengan rambut yang masih basah.
"Dasar bos mesum, tidak pagi tidak siang kerjanya main kuda-kudaan tidak tau tempat" Mario nyelonong keluar kantor sambil mulut terus mengoceh tidak karuan.
Faro dan Inneke justru tertawa lepas melihat asistennya memergoki sedang bermesraan dan mendengar dia mengoceh tidak karuan.
Hampir setengah jam pesanan makanan datang dengan menu kesukaan Inneke ikan bakar dan jus stroberi, dan ayam bakar dan sayur soup untuk Faro, makan siang dengan lahap berdua sampai habis tidak tersisa sesekali Faro membantu Inneke memilih ikan agar duri tidak ikut masuk dalam mulutnya.
Selesai makan Inneke menagih janji Faro untuk mengajari menembak dengan merengek terus menerus.
__ADS_1
"Sebentar sayang sedikit lagi, ini tinggal dua dokumen lagi, masuklah dulu keruangan menembak, nanti Abang menyusul ok" Faro mencium mesra bibir Inneke, bersamaan Mario masuk lagi dengan membawa map untuk meminta tandatangan.
"Aduh mati gue, lama-lama gue bolos pulang bos, kalau di suguhi adegan mesum seperti ini terus, gue tidak kuat, tidak anak tidak abinya sama aja, sukanya membuat asistennya baper, dasar bucin kronis" celoteh Mario membalikkan badannya tidak ingin melihat adegan mesum lagi membuat jiwa laki-lakinya meronta-ronta.
"Kamu ngomongin saya Mario?" suara bas Ken masuk mengagetkan mereka bertiga datang dengan tiba-tiba.
"Bos besar anda disini, maaf?" Mario kaget dan merasa tidak enak yang baru saja di omongin orangnya ada di depannya.
Inneke dan Faro langsung berdiri mendekati Ken untuk meraih dan mencium punggung tangannya bergantian.
"Abi sendiri kesini?" tanya Faro menggandeng abinya diajaknya duduk di sofa.
"Tidak, Abi bersama Opa Tomy, Sandi dan Papa Andri tetapi mereka mungkin masih di parkiran sepertinya" balas Ken singkat.
Faro melihat wajah Inneke sudah di tekuk karena kesal, keinginannya belajar menembak dengan menggunakan senjata otomatis Laras panjang tertunda lagi.
"Sayang maaf, nanti kalau tamunya sudah pulang ya, maaf" bisik Faro di telinga Inneke melingkarkan tangannya di pinggang.
"Aku mau tidur aja ngantuk, Abi.. saya istirahat dulu ya" pamit Inneke tersenyum terpaksa kepada ayah mertuanya dan masuk kamar.
Dengan menghentakkan kakinya di kamar kesal sendiri, akhirnya membaringkan tubuhnya membuka handphone mencari film kesukaannya, menonton sampai tidak selesai satu film, ingin tidur tetapi karena kesal juga tidak bisa terlelap juga
Setelah berkumpul Faro, Mario, Ken, Sandi, Opa Tomy dan Andri Pranoto sengaja berkumpul untuk membicarakan tentang kerja sama dengan putra Decha Thanapon persis seperti yang dibicarakan dengan Jasson tadi pagi.
Andri Pranoto berniat akan memasukkan nama Faro sebagai direktur pemasaran yang baru, yang akan langsung menemui perwakilan dari perusahaan Andri Pranoto dengan putra Decha Thanapon.
Tetapi Ken dan Opa Tomy berniat ikut menanamkan modalnya di perusahaan Andri Pranoto dan bergabung dengan WIGUNA GROUP.
Datang Jasson bergabung dengan mereka menandatangani kerjasama itu, disamping semakin eratnya persaudaraan perusahaan juga semakin besar dan berkembang pesat perusahaan dan tanggung jawab Faro.
Tetapi Faro menyampaikan jika bisa membantu dalam perusahaan Papa Andri khusus dalam kerjasama dengan putranya Decha Thanapon sisanya Jasson yang akan memimpin perusahaan itu dan semua menyetujui keputusan Faro.
Setelah menandatangani perjanjian kerjasama Jasson mengatakan kepada Faro jika hari Senin nanti akan dilaksanakan meeting bersama putranya Decha Thanapon.
"Sayang.. mereka sudah pulang, ayo kita mulai belajar menembakkannya" panggil Faro membuka pintu kamar mendekati istrinya yang masih ditekuk mukanya.
_________________
Jangan lupa like vote dan komentar
serta hadiahnya.
semoga shobat semua sehat selalu
Aamiin. terima kasih
__ADS_1