
Sedangkan Faro tidak henti hentinya menciumi wajah Inneke dengan penuh kasih "Abang malu semua orang melihat kita" Inneke mencoba melepaskan pelukan Faro.
Dengan terkekeh merasa lega melihat istrinya baik-baik saja, sambil melihat orang memang sedang memandangi keromantisan mereka.
"Wuuuih pasangan yang romantis, satunya gagah dan satu anggun" seloroh salah satu pengunjung pasar.
"Itu bukannya putranya pengusaha Kenzie Wiguna yang sering di televisi dan majalah bisnis itu?" tanya seorang gadis yang berdiri disamping pintu pasar.
"Pantas aja bodyguard banyak sekali".
"Ke pasar aja dikawal, keren ya...,!!".
"Kalau mau ke kamar kecil apakah dikawal juga ya?".
Banyak sekali komentar dari pengunjung pasar yang berkomentar tentang Faro dan Inneke serta penyerangan terhadap menantu pengusaha Kenzie Wiguna.
"Sayang ayo cepat kita lihat bibi Narti ke rumah sakit" Inneke menggandeng tangan Faro merengek dengan sedikit terisak.
"Iya nanti kesana Abang hubungi jenderal Hendro dulu, ayo sayang masuk mobil dulu" sambil tetap memeluk pinggang Inneke Faro membukakan pintu mobil, membantu Inneke masuk, dengan menempelkan handphone ditelinga.
"Pak bagaimana dengan belanjaannya ini, kenapa tidak dibawa?" tanya seorang ibu paruh baya.
"Buat ibu saja, atau bagikan kepada siapa yang memerlukan" teriak Faro tetapi dengan suara sopan.
"Jenderal, Abang ke rumah sakit, semua Abang serahkan kepada jenderal" kata Faro dan masuk mobil duduk disebelah Inneke.
"Mario ke rumah sakit sekarang!" Mobil melaju dengan kecepatan sedang ke rumah sakit, sedangkan Faro menghubungi bodyguard yang mengantar bibi Narti.
Hanya dalam waktu setengah jam tiba di rumah sakit, menghubungi bodyguard yang telah membawa bibi Narti tadi ternyata sekarang sudah berada di ruang operasi.
Menunggu sekitar satu jam akhirnya operasi selesai juga di tandai lampu merah yang berada diatas pintu berubah menjadi warna hijau dan dokter yang keluar dari pintu ruang operasi.
"Keluarga ibu Sunarti ya?" tanya dokter sedikit ragu-ragu karena melihat penampilan mereka yang berbeda.
"Iya betul dok, bagaimana keadaan beliau?" tanya Faro mendekati dokter yang baru keluar dari kamar operasi.
"Ibu Sunarti baik, untungnya tidak mengenai organ tubuh hanya tusukan pisau itu tertusuk agak dalam, tetapi tidak usah khawatir, beliau akan baik-baik saja setelah istirahat" keterangan dokter jelas dan tersenyum.
Dipindahkan di ruang rawat inap bibi Narti sudah sadar dan tersenyum saat melihat Faro, Inneke dan yang lainnya mendekatinya.
"Bagaimana keadaan bibi, maaf ya Bi, gara-gara aku bibi jadi terluka?" Inneke duduk di kursi samping bibi Narti dengan berlinang air mata.
"Neng Keke ngomong apa, ini bukan salah siapa siapa, yang penting semua baik-baik saja" bibi Narti bicara dengan lirih.
Karena sudah lumayan lama Inneke keluar rumah Rafael sudah mulai rewel itu ditandai oleh beberapa kali bibi Jum menelpon Inneke, akhirnya Faro dan Inneke pamit pulang nanti akan digantikan oleh bibi Tini dan bibi Jum untuk menemani bibi Narti di rumah sakit.
Keesokan harinya subuh bibi Tini menghubungi pak Pardi sopir Inneke untuk menjemputnya karena tugas yang harus ditinggal di rumah Faro.
Pukul sepuluh pagi anak bibi Narti datang dari kampung, dengan penampilan yang sedikit norak, anak bibi Narti adalah seorang janda tetapi belum memiliki anak.
__ADS_1
Faro datang sejenak untuk menengok bibi Narti setelah pulang dari meeting di hotel dekat rumah sakit dimana bibi Narti dirawat, saat melihat penampilan Faro yang gagah dan elegan mata Susi begitu memuja ketampanan Faro.
"Bagaimana bibi, sudah baikan?" tanya Faro berdiri mendekati brankar tempat tidur.
"Baik Bang, sudah bisa ke kamar mandi sendiri kok, Oya kenalkan dia anakku Bang namanya Susi, baru datang dari kampung kemarin malam" bibi Narti memperkenalkan putrinya.
Saat tangan Susi ingin mengulurkan tangannya untuk bersalaman bibi Narti menariknya bersamaan Faro melipatkan kedua tangannya di dada.
"Oya, jaga bibi Narti ya Mbak Susi" titah Faro singkat.
"Bibi Jum, sekarang sudah ada yang jaga sebaiknya bibi pulang dulu karena Rafael mencari bibi" Faro mendekati bibi Jum yang sedang membersihkan piring bekas sarapan bibi Narti.
Susi selalu memandangi Faro dengan tatapan mata yang seolah olah ingin menerkam mangsanya, ganteng banget majikan ibu, aku harus mendapatkan perhatian dia gumamnya dalam hati.
Faro menjadi risih karena Susi selalu memandangi wajahnya dengan tersenyum dan tatapan mata seperti Sari Sagita menatap wajahnya, bergegas pamit dan meninggalkan tempat itu dan kembali ke kantor.
Setelah dirawat empat hari bibi Narti pulang dijemput oleh pak Pardi sopir Inneke beserta Susi ke rumah, Susi sangat senang karena diajak ke rumah majikan ibunya karena akan bertemu dengan Faro.
Susi berinisiatif mengganti pekerjaan ibunya selama ibunya sakit dengan tujuan bisa memandangi wajah ganteng Faro setiap saat gumamnya dalam hati.
"Bu, nanti aku aja yang mengerjakan tugasmu, ibu istirahat" kata Susi setelah berada dalam mobil menuju pulang ke rumah.
"Nanti tanya bos dulu ya ndok, dan jangan macam-macam disana, kamu harus sopan" nasehat bibi Narti dengan lirih.
Tiba di rumah Faro, bola mata Susi seolah olah akan keluar dari tempatnya karena melihat rumah besar bak sebuah istana di negeri dongeng, ini maah sultan tajir melintir aku harus bisa merayunya agar mendapatkan uang yang banyak gumamnya dalam hati.
Saat masuk rumah di sambut oleh Inneke langsung menggendong Rafael dengan senyum yang mengembang.
Inneke memandangi wajah anak dari bibi Narti yang sedikit genit dan penampilan yang norak, sedangkan Susi memandangi wajah Inneke dengan tatapan yang tidak suka dan ngiri dengan penampilan yang elegan dan anggun.
"Neng Keke ini anakku Susi, bolehkah saat aku sakit Susi yang menggantikan pekerjaanku" pinta bibi Narti dengan menunduk dan sedikit ragu-ragu.
"Sebetulnya bibi Tini dibantu oleh bibi Jum cukup, tetapi kalau Mbak Susi mau juga silahkan aja" Inneke menjawab dengan sopan.
"Terima kasih" Susi menjawab singkat tetapi dengan tatapan mata yang tidak bisa diartikan dan mata menyapu ke seluruh ruangan selain melihat kemewahan isi rumah juga mencari sosok laki-laki yang dipujanya.
Pukul lima sore seperti biasa Faro tiba dirumah disambut oleh senyum Inneke mencium punggung tangannya, mengambil tas kerja Faro mengecup keningnya berjalan bergandengan menuju kearah lift untuk ke lantai dua.
Susi yang melihat kedatangan Faro berlari mendekatinya dari dapur dengan mata berbinar, tetapi Faro dan Inneke tidak memperhatikan jika Susi mendekat, saat Faro dan Inneke sudah berada didalam lift Susi cemberut dan mulut komat kamit ngomel sendiri dan menghentakkan kakinya.
Bibi Jum dengan tajam melihat tingkah Susi yang berada di ruang keluarga saat menemani Rafael yang sedang asyik bermain Lego, ada yang tidak beres sepertinya dan aku harus mengawasinya dengan anaknya bibi Narti gumamnya dalam hati.
Dikamar Inneke bercerita kepada Faro setelah Faro selesai mandi dan duduk berdua di sofa panjang depan televisi jika untuk sementara Susi yang akan mengganti pekerjaan bibi Narti sampai sembuh.
"Mami mengijinkan dia menggantikan bibi Narti?" tanya Faro kaget.
"Iya, Papi tidak suka?".
"Papi jijik melihat tatapan matanya saat bertemu dia tadi pagi di rumah sakit, tatapan matanya seperti Sari Sagita" cerita Faro kesal.
__ADS_1
"Tenang aja, aku bisa menangani wanita model Sari Sagita, lihat aja nanti mbak Susi pasti akan mendapatkan hadiah dari tidak akan dia lupakan" Inneke memeluknya dengan erat dan berpikir menyusun strategi untuk menghadapi wanita penggoda suami orang atau pelakor.
"Yang penting jangan sampai Papi genit dengan dia lo ya, nanti takutnya dipamerin paha mulus malah matanya nanar" dengan suara manja Inneke lebih mengeratkan pelukannya pada Faro.
"Tidaklah sayang, lihat aja jijik apalagi melihat paha, tidak ada yang anggunnya paripurna seperti istri Abang" Faro memanfaatkan situasi untuk menyusupkan tangannya kedalam dress Inneke dari bawah.
Baru mulai beraksi bibi Jum mengetuk pintu, diikuti Rafael juga ikut mengetuk pintu.
"Mami....papi....ka...ka....tok..tok..tok" Rafael mengetuk pintu dengan dua tangannya.
Inneke berdiri dan mendekati pintu membukakan pintu dengan cepat.
"Sayang mau mandi atau nen dulu?" tanya Inneke jongkok mensejajarkan tubuhnya dengan putranya sendiri.
'Mami nen..nen" Rafael meraih baju Inneke sambil menempel dan memeluk Inneke dengan erat.
"Baiklah Rafael nen dulu ya, bibi persiapkan untuk mandinya Rafael ya" Inneke menggendong Rafael dan mengajak masuk ke kamar.
Saat bibi Jum sedang memandikan Rafael Inneke mendekati bibi Jum karena ingin bertanya tentang anak dari bibi Narti.
"Bibi tahu siapa anak dari bibi Narti?" tanya Inneke perlahan karena takut bibi tersinggung.
"Susi maksud neng Keke?" tanya bibi Jum sambil memandang wajah Keke.
"Iya Bi siapa Susi?".
"Dia itu janda belum mempunyai anak, yang saya dengar sih Susi selingkuh dengan tetangganya yang memiliki sawah lebar, karena cita-citanya ingin jadi orang kaya, ketahuan selingkuh diceraikan suaminya tetapi tidak jadi menikah dengan tetangganya ternyata mau dijadikan istri kedua Susi tidak mau" cerita bibi Jum sambil menyabuni tubuh Rafael.
"Rumah bibi Jum dekat dengan bibi Narti saat tinggal di kampung?" tanya Inneke lagi.
"Termasuk dekat sih neng, hanya beda RT saja, seperti rumah ini dengan bos Bastian".
Selesai mandinya berjalan kembali ke kamar Rafael, Inneke juga ikut tetapi duduk kembali disamping Faro.
"Sayang hari Minggu nanti kita liburan ke perkebunan yok, karena saat kita kesana kita belum sempat berwisata, kita belum sempat menikmati wisata itu" ajak Inneke kepada Faro dengan suara manja.
"Boleh juga, biar Mama Meera juga ikut, kemarin bercerita jika kangen dengan putranya mbak Nia"
"Tetapi--" Faro tidak melanjutkan ucapannya menggantung membuat Inneke penasaran.
"Tetapi apa Bang?".
"Janji dulu, setelah sembuh bibi Narti bekerja kembali, anaknya jangan di terima kerja disini".
"Iya sayang tenang aja, tunggu tanggal mainnya, Abang tau beres pokoknya" Inneke tersenyum defil mempunyai ide untuk membuat pelakor yang akan mendekati suaminya.
"Memangnya apa yang sudah kau rencanakan, kenapa tersenyum aneh begitu?".
"Rahasia dong, yang penting Abang jangan genit dan memandangi wajah si ganjen itu" seloroh Inneke pura-pura merajuk dan cemburu dengan mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Ooooo istri Abang ceritanya cemburu nich?" mentowel hidungnya memeluknya dengan erat menghirup aroma tubuh Inneke yang selalu membuatnya rindu untuk selalu menjadi candu baginya.