Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
132. Janda Versi Sari Sagita


__ADS_3

"Ooooo istri Abang ceritanya cemburu nich?" mentowel hidungnya memeluknya dengan erat menghirup aroma tubuh Inneke yang selalu membuatnya rindu untuk selalu menjadi candu baginya.


Malam harinya saat makan malam Faro turun ke lantai bawah bergandengan dengan Inneke menuju meja makan, menarik kursi untuk Inneke dan duduk disampingnya.


Susi langsung berlari mendekati Faro berdiri didepannya tersenyum manis, tetapi Faro cuek tidak menanggapi senyuman Susi, Inneke membuka piring Faro dan piringnya sendiri, dengan cepat Susi mencoba mengambilkan nasi untuk Faro.


"Saya ambilkan nasinya ya Bang" kata Susi dengan suara yang dibuat buat tangan mencoba mengambil centong nasi.


Bersamaan Inneke mau mengambil botol jus jeruk yang berada di samping nasi, dengan sengaja Inneke menyenggol tangan Susi tetapi tidak bisa dibaca oleh Susi.


"Auwww" Inneke menjerit pura-pura kaget karena jus tumpah mengenai baju Susi yang menempel dimeja makan.


Bibi Jum berlari mendekati meja makan dengan mata tajam kepada Susi yang sok tahu ingin melayani majikannya yang sedang makan.


"Maaf Bang, neng Keke, Susi belum faham peraturan di rumah ini" bibi Jum menarik tangan Susi ke dapur sedangkan bibi Tini berlari membawa lap untuk membersihkan tumpahan jus jeruk.


"Waaaah, Istriku pintar sekali mengusir lalat pengganggu, sebagai hadiahnya Abang suapin dengan tangan Abang sendiri" Faro mengambil nasi sayur dan lauk ayam goreng dan tidak lupa sambal terasi.


Inneke hanya tersenyum lepas dengan apa yang dilakukannya ternyata berhasil mengusir Susi yang mencari perhatian Faro.


Sedangkan bibi Jum dengan geram menarik kasar tangan Susi kebelakang rumah.


"Kalau majikan sedang makan dilarang mendekati mereka jika tidak dipanggil, tadi apa yang kamu lakukan hah" bibi Jum mendorong tubuh Susi sampai terduduk di lantai.


"Bibi aku cuma ingin---" belum melanjutkan ucapannya bibi Jum langsung memotong.


"Jangan sekali kali kamu mendekati meja makan saat majikan sedang makan seperti tadi kecuali dipanggil oleh mereka, kamu faham?" diikuti oleh anggukan kepalanya Susi cemberut dan sedikit kesal.


Bibi Jum kembali masuk dapur bergabung dengan bibi Tini yang sedang membersihkan dapur diikuti oleh Susi dari belakang tetapi matanya menatap tajam kearah Faro yang tersenyum manis sambil menyuapi istrinya dengan mesra.


Susi bergumam sendiri suatu saat nanti aku aku yang akan disuapin oleh si Abang yang ganteng dan tajir itu, lihat aja nanti aku akan mengusir dari rumah ini.


Pada pagi harinya saat sarapan pagi, Susi selalu melirik pintu lift ataupun meja makan menunggu Faro untuk sarapan pagi dan berniat meminta maaf atas kejadian semalam berharap mendapatkan simpati dari Faro.


Tetapi yang keluar dari lift dan datang ke ruang makan hanya Inneke sendiri, saat melihat meja makan belum siap Inneke mendekati dapur dengan santai, Susi membelalakkan matanya melihat leher jenjang Inneke yang banyak dengan kissmark yang terpampang sangat nyata.


"Bibi Tini buat sarapan apa hari ini kok belum siap dimeja?" tanya Inneke dengan santai mendekati kompor.


"Neng ini aku lagi membuat nasi goreng Jawa kesukaan Bang Faro" bibi Tini berkata tanpa menoleh terus mengaduk nasi goreng yang belum tercampur rata dengan sempurna.


"Neng saya minta maaf atas kejadian tadi malam" Susi menundukkan kepalanya pura-pura menyesal atas tindakannya saat makan malam.

__ADS_1


"Tidak apa-apa mbak, tetapi lain kali jangan mendekati suamiku saat lagi makan, karena dia tidak suka" jawabnya jelas.


"Abang minta sarapan di kamar aja, sini satu piring aja buat berdua, bibi sudah bikin minum apa?" tanya Inneke mendekati bibi Tini membawa satu piring.


"Nanti biar saya saja yang mengantar ke kamar anda neng" tawar Susi dengan senyum yang dibuat buat.


"Tidak usah mbak, tanpa seijin suamiku tidak ada yang boleh masuk ke kamar kami, mbak faham itu?" dengan tegas Inneke menatap tajam mata Susi, dan membuatnya tertunduk seketika.


Tetapi hatinya tidak terima dengan penolakan yang dibunyikan istrinya bos yang sangat digilainya itu, sebaiknya aku tunggu berangkat kerja saja dan mencari cara bisa berbincang dengan bos ganteng gumam dalam hati.


Inneke membawa satu piring besar nasi goreng Jawa, satu botol jus jeruk dan membawanya sendiri ke atas.


"Terima kasih bibi Tini, baunya harum banget nasi gorengnya" Inneke meninggalkan dapur berjalan kearah pintu keluar menuju lift.


Satu jam berlalu, Faro menggendong Rafael dan Inneke menenteng tas kerja Faro berjalan beriringan dengan tangan bergelayut manja di tangan Faro, keluar akan berangkat kerja sambil berbincang rencana liburan nanti.


Susi yang sedang di ruang mesin cuci mendengar suara Faro langsung berlari keluar dengan kaki yang terkena diterjen untuk cuci baju, ingin menyusulnya melewati dapur, di tarik oleh bibi Jum karena kakinya licin Susi terpeleset dengan posisi terduduk bokong duluan yang membentur lantai.


"Aduuuh bibi, kenapa menarik tangan aku, pantatku sakit nich" bentak Susi kepada bibi Jum.


Faro dan Inneke yang sedang asyik bercanda dengan Rafael tidak begitu mendengar keributan yang ada di dapur, karena posisi mereka sudah di teras menuju garasi.


"Makanya jangan pecicilan begitu, kaki dan tanganmu masih basah kenapa berlari kearah sini, siapa yang mengijinkan kamu ceroboh dan meninggalkan pekerjaan kamu" bentak bibi Jum dengan sedikit kesal karena bibi Jum tahu betul niat Susi terhadap Faro.


Pagi ini Faro tidak langsung ke kantor, tetapi langsung ke kantor intelejen, untuk mengetahui siapa sebenarnya dalang dari penyerangan Inneke saat di pasar kemarin.


Sampai di kantor intelejen Faro langsung bergabung dengan seluruh anggota intelejen yang sudah hadir terlebih dahulu untuk mengadakan evaluasi bulanan yang telah dicapainya.


"Baiklah kita mulai, semua sudah kumpul?" Jenderal Hendro mulai membuka pembicaraan.


"Dalam bulan ini kita bisa menyelesaikan tugas sesuai dengan target yang sudah di tentukan tetapi khusus untuk kasus mengenai si mata elang, belum semua terpecahkan" kemudian jenderal Hendro melanjutkan laporannya.


"Maksudnya bagaimana jenderal?" tanya Faro saat namanya di sebutkan.


"Maksudnya setelah kejadian di supermarket itu, sepertinya Agus Martono dan Felix Siregar mulai mengintai gerak gerik keluarga Abang, demo dan penusukan di pasar kemarin juga ada campur tangan mereka berdua" jenderal Hendro memberikan keterangan kembali.


Faro membelalakkan matanya, seperti hampir tidak percaya pada perkembangan akhir akhir ini, banyak sekali kendala yang selalu merintangi keluarganya.


"Jadi Bang, jangan kaget kalau ada orang kita di sekeliling Abang atau keluarga" Faro hanya mengangguk tanpa menjawab sepatah katapun.


Setelah selesai Faro mengadakan pertemuan dengan intelejen, berangkat ke kantor karena berkas yang telah menumpuk, sampai di kantor ternyata ada Conan yang sudah menunggu di ruang Mario.

__ADS_1


Conan melaporkan dua pasang suami istri yang memprovokasi karyawan untuk demo adalah anak buah dari dari Felix Siregar, dia juga memberikan kabar bahwa Agus Martono baru pulang dari Singapura dengan memakai pasport ijin untuk menghadiri seminar bisnis selama satu Minggu.


"Bang Conan, itu sudah gue kirim rekaman CCTV yang ada di pasar saat terjadinya penusukan Inneke kemaren, apa hubungannya teror itu dengan Agus Martono?" perintah Mario sambil mengirim vedio pada Conan.


"Kasus baru kah bos?" Conan mengambil handphone yang ada di dalam kantong celananya membuka pesan WA.


"Iya coba kau cari informasi tentang mereka, kata jenderal Hendro mereka anak buah Felix Siregar" jawab Faro kemudian.


Setelah Conan pamit pulang Faro melanjutkan mengerjakan tugas dokumen yang menumpuk sampai jam istirahat, memilih memesan makan siang melalui online saja berdua dengan Mario sambil bercerita tentang adanya Sari Sagita versi anaknya bibi Narti yang baru datang dari kampung.


"Gue jadi penasaran pingin lihat seperti apa janda versi Sari Sagita.


"Kalau mau lihat nanti ke rumah gue, elo lihat aja sendiri".


"Ogah aaah, nanti setelah gagal mendapatkan elo, takutnya gue jadi target selanjutnya" Mario menggelengkan kepalanya sambil tersenyum defil membayangkan bagaimana sikap Faro menghadapi wanita versi Sari Sagita.


Pukul lima sore seperti biasa Faro sudah sampai di rumah kembali, tetapi baru turun dari mobil, mata sudah tercemar karena kelakuan Susi yang sedang duduk di teras dengan pakaian seksi, baju yang terlihat belahan dadanya, duduk menyamping memamerkan paha yang besar seperti badan bodyguard.


Faro yang biasanya memarkirkan mobilnya di halaman rumah, tidak jadi turun dari mobilnya, tetapi langsung memarkirkan mobilnya masuk garasi dan masuk rumah melalui pintu garasi tembus ruang keluarga dari samping rumah, sehingga tidak sempat bertemu dengan janda versi Sari Sagita.


"Sayang kok lewat pintu samping, mobil langsung masuk garasi memangnya?" tanya Inneke berlari mendekati Faro mengambil tas kerja menggandengnya menuju naik lantai atas menggunakan lift.


"Abang tidak suka melihat anaknya bibi Narti itu sayang, sikapnya seperti Sari Sagita".


"Jangan khawatir selama dia masih disini dan bersikap wajar, aku yang tangani Bang tenang aja, tetapi kalau ketahuan melampaui batas baru kita usir pulang kampung".


"Aku tidak enak soalnya bibi Narti masih sakit Bang, kasihan dia, sabar ya" alasan Inneke dengan jelas.


"Ya sudah, tetapi selama ada dia Abang makan di kamar aja, malas harus melihat sikap absurt wanita itu".


"Baiklah ayo kita mandi dulu" Inneke membantu Faro membukakan dasi, baju dan meletakkan sepatunya di tempat rak sepatu.


Hampir setengah jam Susi duduk di teras menunggu Faro keluar dari garasi mobil, tetapi tidak keluar juga padahal dia sudah berpose seseksi mungkin dengan tujuan tertarik kepadanya.


Tetapi yang tertarik malah salah satu sekuriti yang sedang bertugas di dekat gerbang, dari awal Susi duduk di teras, selalu di tatap dengan wajah yang memerah menahan degup jantung yang cepat.


Di pos sekuriti itu ada dua orang yang sedang bertugas, dan salah satunya adalah laki-laki paruh baya tetapi masih terlihat kuat.


"Kalau naksir deketin sana, jangan dilirik aja!" goda sekuriti paruh baya itu.


Sekuriti muda itu akhirnya mendekati Susi dengan senyuman manisnya "Hai cantik boleh dong mas temanin dari pada sendirian".

__ADS_1


"Tidak, sana pergi" jutek Susi langsung berdiri dan berjalan masuk rumah dengan terburu-buru.


"Bruuuk..aduh, kalau jalan pakai ma-----" Susi tidak melanjutkan ucapannya setelah melihat siapa yang ditabraknya.


__ADS_2