Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
6. Pendekatan Calon Makmum


__ADS_3

Sampai di kampus Faro begitu bahagia, walau pertemuan masih nanti siang jam makan siang, dia melenggang ke kelas dengan hati yang riang.


"Beeuuuh, pangeran darimana ini tumben wangi banget?" Rendi yang mendekati Faro dengan penampilan yang berbeda.


"Syirik aja lo, gue mau ketemuan ama calon makmum" jawab Faro sambil berlalu.


Sari Sagita dan temannya yang sedang berjalan berpapasan dengan Faro mendengar Faro berceloteh dengan Rendi, teman Sari langsung menyikut Sari "Si doi udah punya gebetan sepertinya, Sari".


Sari Sagita hanya melirik Faro dan Rendi tanpa menyapa mereka, Faro duduk dan bermain handphone dengan asyiknya tanpa melihat ada dua gadis yang memperhatikan penampilannya yang berbeda dari biasanya.


Waktu sepertinya berjalan melambat, berkali-kali melirik jam tangan saat mengikuti mata kuliah seakan ingin memutar jarum jam sampai jam istirahat tiba.


Ternyata dosen mata kuliah yang di jadwalkan pukul sebelas berhalangan hadir, sehingga Faro berniat untuk menunggu pujaan hati di kantin saja.


Baru sampai pintu masuk kantin ada notifikasi pesan WA yang masuk di handphone Faro, tanpa menunggu lama Faro membuka handphone dan membacanya.


"Bang, aku sudah tidak ada mata kuliah lagi, apakah bisa ketemunya besok aja karena takut kelamaan nunggu Abang" tulis Inneke dalam pesannya.


Faro menggeser tombol hijau dengan tulisan calon makmum dan menghubungi dengan cepat.


"Halo...dimana?" kata Faro dalam teleponnya.


"Ini baru mau keluar kelas Bang, ada apa?" jawab Inneke.


"Abang tunggu di parkiran, sekarang ya"


Tanpa menunggu jawaban Faro langsung mematikan handphone, berbalik badan berlari ke parkiran, menunggu Inneke di samping motor metik Inneke.


"Bang..., sudah tidak ada mata kuliah lagi?" tanya Inneke saat melihat Faro berdiri di samping motor.


"Tidak ada, kita ke kafe NN di seberang jalan itu aja, sini kunci motor elo, Abang yang bawa!".


Inneke memberikan kunci motornya, duduk di jok belakang agak mundur takut menempel pada punggung Faro, hanya sepuluh menit, mereka sudah sampai di halaman kafe NN.


"Lo mau pesan apa?, Ada nasi lamak disini kalau elu mau, bukankah itu makanan khas Malaysia?" tawar Faro saat sudah duduk berhadapan di pojok Kafe.


"Boleh bang, sudah lama aku tidak makan itu" jawab Inneke dengan senyum mengembang.


"Minumnya apa?" tanya Faro lagi.


"Es jeruk aja".


Pramusaji mendekati mereka berdua dan menanyakan pesanan apa yang sudah di pilihnya.


"Mbak, nasi lamak dua dan es jeruk dua juga"


"Elo sudah lama tinggal di Jakarta?" tanya Faro saat pramusaji meninggalkan mereka untuk mengambilkan pesanan.


"Belum ada satu tahun kok Bang, selama kuliah di sini aja".


"Apakah ada yang marah Abang ngajak elo jalan?".


Belum sempat menjawab pertanyaan Faro, makanan sudah datang diantar oleh dua pramusaji yang satu membawa nasi lamak dan satu lagi membawa pesanan es jeruk.


"Selamat menikmati" kata salah satu pramusaji itu.


"Terima kasih" jawab Faro dan Inneke bersamaan.

__ADS_1


Baru menikmati makan belum sampai habis di piring datang pengganggu, teman akrab Faro yaitu Rendi dan Mario datang dan parahnya ikut duduk di antara mereka.


"Kalian ini, ke kafe berduaan tanpa mengajak gue, parah lo?" kata Rendi.


"Napa kesini, mengganggu aja sih, lagi berduaan juga" protes Faro dengan menendang kaki Rendi.


"Jangan berduaan nanti di datengi setan" celetuk Mario.


"Ya elu berdua tuuuh setannya" Faro jengkel.


Dengan terpaksa mereka berempat bercengkerama, makan bersama hampir satu jam berceloteh ngalor ngidul dengan obrolan receh tanpa makna.


Inneke yang tidak bisa mengimbangi bahasa para cowok yang nyeleneh dan cenderung lucu hanya sesekali ikut tersenyum tanpa banyak bicara.


Setelah Inneke membaca pesan dari handphone nya, meminta ijin pulang duluan dengan tergesa-gesa.


"Maaf ya, aku duluan ada sesuatu yang harus aku beli pesanan nenekku" kata Inneke berdiri dan berjalan berniat akan membayar pesanan nasi lamak yang baru saja di makannya.


"Inneke biar Abang aja yang bayar, elu pulang aja kalau buru-buru" ucap Faro.


"Oooooo terima kasih Bang, nanti lain kali gantian aku yang traktir" jawab Inneke sambil berlari kecil menuju pintu keluar Kafe dan bergegas mengambil motornya.


Sedangkan Faro kesal bukan kepalang lantaran kencannya gagal gara-gara Rendi dan Mario yang tidak memberikan kesempatan untuk bicara berdua dengan Inneke.


"Dasar pengganggu, kenapa kalian kesini sih, gue jadi tidak bisa modusin itu calon makmum" protes Faro dengan kesal.


"Bro, harus sabar...ini namanya cobaan buat elo" celetuk Rendi dengan tersenyum devil.


"Cobaan apa?, Cobaan mbahmu?".


Faro mendapatkan panggilan dari jenderal Hendro, menyuruhnya ke markas intelejen sekarang karena ada hal yang penting.


"Bro..gue cabut dulu, ada tugas dari bokap, sorry, makanan udah gue bayar".


"Ok thanks, elu emang yang terbaik" jawab Mario mengacungkan dua jempol.


Terpaksa Faro berlari dari kafe ke parkiran kampus dengan cepat, melajukan mobilnya ke markas intelejen, jika jenderal Hendro menghubungi biasanya ada hal yang mendesak yang harus di kerjakan.


Sampai markas sudah di tunggu oleh staf intelejen, dan layar monitor sudah standby, tanpa menunggu lagi, saat Faro tiba di situ, bergabung dan menganalisa.


"Apakah ini berkaitan dengan penembakan di halte busway kemarin pak?" tanya Faro tetapi matanya fokus ke layar monitor besar yang ada di depannya.


"Iya...itu sniper yang telah menembak pelaku pengedar narkoba kemarin" jawab jenderal Hendro.


Faro membesarkan gambar sniper handal itu, berumur sekitar dua puluh sembilan tahun, berperawakan tinggi besar, rambut cepak, kekar dan berkulit kuning Langsat.


"Siapa dia, sepertinya dia bukan orang Indonesia?" tanya Faro lagi.


"Dia putra angkat Theo Thanapon yang bernama Decha Thanapon, dia juga yang memegang perdagangan gelap wilayah Singapura" jawab jenderal Hendro kemudian.


"Apa hubungannya denganku pak?" tanya Faro penasaran.


"Coba kamu perhatikan terlebih dahulu, jangan terlewati sedikitpun" perintah jenderal Hendro.


Faro memperhatikan dengan seksama dari sniper itu, selesai menembak sasaran, dia menggunakan jas, dasi dan mengganti sepatunya dari sepatu olahraga menjadi sepatu pantofel.


Turun dari gedung, di depan pintu gedung melihat dia bersalaman dengan dua orang yang tidak asing bagi Faro, siluet tubuhnya begitu di kenali oleh Faro, sengaja Faro membesarkan gambar vedio itu.

__ADS_1


Mata Faro terbelalak lebar melihat sosok kedua laki-laki itu, penampilan mereka mencerminkan seorang pengusaha sukses.


"Mengapa dia bertemu dengan pak Andri Pranoto dan Lewi Cervantes?" tanya Faro heran.


"Sepertinya mereka bekerja sama tetapi pada bisnis apa tidak tahu, dalam hal legal ataupun ilegal?.... inilah tugasmu, karena kamu dekat dengan Andri Pranoto kan?" tanya jenderal Hendro.


Faro hanya menganggukkan kepalanya, berpikir sejenak dengan mengerutkan keningnya, tidak pernah melakukan pekerjaan terjun langsung ke lapangan, biasanya hanya membantu menganalisa suatu kejadian.


"Ini menyangkut kasus kamu Faro, kemungkinan mereka akan mendekati Andri Pranoto untuk menyelidiki kasus penembakan yang kamu lakukan saat kamu SD dahulu".


"Jadi apa yang harus aku lakukan pak?".


"Kamu tunjukkan vedio ini kepada Andri Pranoto tetapi dari dia menembak pengedar narkoba itu, lebih baik berterus-terang saja padanya jadi lebih mudah mendapatkan informasi dari dia langsung" titah jenderal Hendro.


Faro mengirim pesan WA kepada Andri Pranoto jika ingin bertemu, dan menanyakan tentang Ramos Sandara dan Theo Thanapon.


Faro langsung mendapat jawaban dari Andri Pranoto tetapi besok baru bisa bertemu saat makan siang karena kebetulan dia ada janji dengan klien yang berada di daerah pinggiran kota Jakarta.


Faro dan Andri Pranoto berjanji bertemu di Kafe NN yang dekat kampus seperti kemarin karena lebih dekat dengan Faro kuliah.


Faro pulang ke rumah dengan sedikit khawatir karena adanya kerjasama sama antara Andri Pranoto dan Decha Thanapon, tetapi tidak berani bercerita kepada Ken karena belum begitu pasti kerjasamanya.


"Bang..kok lemas gitu, ada masalah di kampus?" tanya Ken melihat Faro yang begitu khawatir.


"Tidak Bi, Abang cuma capek aja" jawab Faro singkat.


"Palingan di tolak ama cewek, kalau lihat muka Abang kayak kertas lecek" ledek Ezo dengan cengar-cengir.


"Enak aja tidak ada yang bisa menolak pesona Abang tau" jawab Faro dengan mengacak rambut Ezo.


"Tapi nyatanya muka Abang kusut begitu, padahal tadi pagi semangat 45, ada yang tidak beres Bang?" tanya Fia penasaran.


"Berisik lo pada.....sok tahu, masih kecil, jangan berpikir lawan jenis!" jawab Faro berlari ke lantai atas menuju kamarnya untuk beristirahat sejenak.


"Kenapa Abang Bi, ada masalah kah?" tanya Imma dari dapur membawa camilan yang dibuat oleh bibi dan diletakkan di meja yang ada di ruang keluarga.


"Mungkin capek aja dia....honey, terlalu banyak kegiatan sepertinya" jawab Ken sambil makan camilan yang ada di atas meja.


"Sepertinya dia lagi naksir cewek, bagaimana dengan amanah dari ayah Dona, sayang?" tanya Imma.


"Entahlah honey.... amanah itu sepertinya sulit di laksanakan, Abi juga tidak berani membicarakan hal ini pada Abang".


Ken hanya terdiam duduk bergeser mendekati Imma memeluknya dari samping, memikirkan amanah dari Anton Sahroni, tetapi sampai sekarang tidak tahu bagaimana mewujudkan amanah itu.


"Sudahlah jangan di pikirkan terus, semoga amanah itu dapat ridho ilahi" ucap Imma ikut memeluk Ken dengan mesra.


"Eleh......eleh, Abi dan umi kenapa berpelukan kayak teletabis sih, bikin ngiri aja" celetuk Ezo reseh.


"Sini, kalau adik ngiri, kita berpelukan" jawab Ken sekenanya.


"Ogah....adik maunya pelukan ama cewek, bukan ama Abi, jeruk makan jeruk dong" cicit Ezo dengan cengar-cengir.


"Eeeeee... Adik masih kecil tahu cewek, jangan macam-macam ya...., Abang dan kakak aja belum punya pacar, adik maunya pelukan ama cewek, anak siapa sih genit banget?" tanya Ken terkekeh melihat putranya absurt.


"Abi, nggak asyik ah..., teman adik banyak yang pacaran" protes Ezo dengan mengerucutkan bibirnya.


"Belum boleh sayang.... ujian tuuuh sudah dekat ok" nasehat Imma dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2