Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
104. Gagal


__ADS_3

Faro siap-siap pulang walaupun sekarang baru pukul empat sore, karena pekerjaan hari ini sudah selesai semua rasanya ingin cepat pulang bertemu dengan putranya yang semakin hari semakin menggemaskan.


Tetapi saat baru mematikan leptop dan mengambil tas kerja dimasukkan leptop berdiri dari singgasananya masuk tanpa mengetuk pintu Mario dan Rendi yang datang berkunjung.


"Elo mau pulang bro?" tanya Rendi setelah membuka pintu melihat Faro sudah siap untuk pulang.


"Eeee elo bro, bikin kaget aja, sudah kayak jelangkung aja sih datang tak diundang tidak mengetuk pintu lagi, iya rencana sih mau pulang, ada perlu ama gue?" tanya Faro Faro kaget tiba-tiba ada makhluk tak diundang datang langsung duduk tanpa permisi.


"Emang ada jelangkung seganteng gue, ngawur aja, gue dari meeting dekat sini jadi sekalian mampir" cabik Rendi sambil menaruh donat diatas meja yang baru saja dia beli setelah meeting tadi.


"Nich.... makan, gue beli ditempat meeting tadi, Oya Minggu depan ke rumah gue ya, Mama ngadain acara tujuh bulanan lagi" tawar Rendi membuka kotak donat merk terkenal di Jakarta.


"Tumben elo bawa makanan, biasanya minta melulu" ejek Mario nyomot satu donat dimasukkan kedalam mulut.


Ada suara alarm yang cukup kencang dari handphone Faro yang ada didalam kantong jasnya, bergegas Faro mengambil handphone dan melihatnya, tanpa sadar Faro langsung berjingkrak jingkrak kegirangan.


"Yes akhirnya.." Faro tersenyum bahagia.


"Ada apa bos sepertinya elo happy banget?" tanya Mario penasaran dengan tingkah bosnya yang aneh.


"Akhirnya puasa gue berakhir" jujur Faro ikut nyomot donat dan dikunyahnya dengan senyum senyum sendiri.


"Bahagia banget, bukannya kemarin bilang ada jalan lain menuju Roma?" tanya Rendi melihat ekspresi Faro yang berbinar seperti lama tidak menyentuh istrinya.


"Gue tidak terlalu suka lewat jalan lain, tidak seenak masuk jalan yang benar, belum lagi jika melihat bini gue seperti menahan rasa sendiri, padahal gue puas tetapi bini gue mukanya susah di tebak gue jadi tidak tega" Faro bercerita dengan jujur bila mengingat kejadian malam saat melewati jalan lain menuju Roma.


Mario dan Rendi terkekeh mendengar kejujuran Faro padahal mereka belum pernah melakukan bagaimana cara hubungan yang disebut jalan lain menuju Roma.


"Kenapa tidak bermain solo di kamar mandi aja bro, agar merasa tidak enak dengan bini elo" saran gersek Rendi dengan cengar-cengir.


"Gue tidak pernah melakukan itu bro, emang seperti apa rasanya jika bermain solo?" tanya Faro mengambil satu lagi donat dan dilahapnya dengan cepat.


"Tanya aja sama ahlinya, gue juga tidak pernah melakukan itu" cabik Mario menunjuk kearah Rendi yang tersenyum defil.


"Rasanya sih puas juga, tetapi betul juga kata elo, tak seenak jika masuk gue sendiri lebih puas dan otak tidak pernah ngeres lagi, tetapi kalau main solo ngeresnya tidak hilang hilang di otak" jujur Rendi masih ingat jika dia main solo di kamar mandi menggunakan sabun.


"Dasar aneh, sudah ah gue mau pulang, mau siap siap untuk nanti malam" seloroh Faro berdiri meninggalkan kantor membiarkan Mario dan Rendi masih duduk disofa kantor.


"Bro tunggu, gue ikut pulang, dasar bucin" Rendi mengikuti Faro keluar dengan sedikit berlari.


Sedangkan Mario keluar dengan santai sampai di kantornya sendiri masih ada sedikit lagi pekerjaan lagi baru akan pulang.


Setibanya di rumah Faro dengan riang mandi membersihkan badannya, bergabung dengan Rafael dan Inneke yang sedang duduk di gazebo bersama bibi bercanda ria bercengkerama dengan akrabnya.


"Putra Papi ganteng lagi ngapain, kok ngumpul disini semua?" tanya Faro duduk disamping Inneke memeluknya dengan mesra.

__ADS_1


"Sayang, Papi pinjam mami sebentar ya, Papi lapar tadi siang tidak sempat makan, baby Rafael sama bibi Jum dan yang lain ya" Faro menarik tangan Inneke masuk ke ruang makan.


"Sayang kebiasaan makan tidak teratur, nanti kalau sakit bagaimana?" Inneke mengikuti langkah Faro yang sedikit lebar, dan tangannya tetap ditarik olehnya.


"Masuk dulu, Abang mau bicara penting" sampai duduk dikursi meja makan, Faro duduk disamping Inneke menggenggam tangannya dengan mesra.


"Sayang bagaimana aku mengambilkan makan jika tanganku dipegang begini terus" protes Inneke ingin melepaskan genggaman tangan Faro.


"Sayang dengar, Abang tadi sudah makan siang di kantor, tadi cuma alasan saja".


""Iiiih Abang bohong, ada apa sih sebenarnya?"


"Itu.....itu ....Abang mau tanya....yang itu sayang?" Faro ragu-ragu tanya tetapi tanpa sadar yang dibawah sana sudah berdiri tegak karena sudah lama di anggurin.


"Itu ....itu apa sih Abang, kalau ngomong yang jelas atuh iiih?" Inneke jadi kesal sendiri karena Faro bertingkah aneh.


Karena sudah mulai mengeras tanpa di komando Faro menarik tangan Inneke untuk di dekatkan dengan kobranya, Inneke jadi melotot tajam memandangi wajah Faro yang mulai mesum.


"Apa sih Bang, ini diruang makan kenapa mulai mesum lagi, nanti kalau ada yang lihat gimana?" Inneke menarik tangannya menjauhkan dari kobra yang sudah tegak berdiri dan bersiap masuk untuk bertempur.


"Apakah Abang malam ini sudah boleh buka puasa, soalnya tadi alarm handphone Abang sudah memperingatkan jika Abang boleh buka puasa?" Faro bertanya dengan penuh harap.


Akhirnya Inneke faham maksud Faro menarik Inneke kedalam rumah dan berbohong ingin makan.


"Apapun syaratnya sayang, yang penting Abang buka puasa malam ini" pinta Faro dengan penuh harap.


"Jangan sekarang ya, nanti malam saja, kalau baby Rafael sudah tidur, dan satu lagi" jawab Inneke sedangkan Faro membelalakkan matanya banyak sekali syaratnya yang harus dilakukan.


"Apa lagi sayang jangan banyak banyak syaratnya?" menggenggam tangan Inneke sesekali menciumi tangan itu dengan mesra.


"Kita tidak boleh dilakukan itu jika ada baby Rafael berada diantara kita, Abang mengerti?, Abang... Abang kita harus mengedukasi baby Rafael, faham kan maksud aku" Inneke berbicara dengan tegas, Faro hanya mengangguk tanda setuju, itu memang benar harus mulai bisa menahan rasa jika ada putranya gumamnya sendiri.


"Tapi bolehkah Abang cicil sedikit aja please?" rayu Faro melipatkan tangannya penuh harap.


"Nyicil apalagi Bang, perasaan setiap hari Abang nyicil terus, tidak pagi, malam yang penting kita di kamar Abang selalu nyicil tidak usah modus" Inneke berdiri berjalan menuju belakang rumah ingin menemui baby Rafael yang ada di gazebo bersama bibi.


"Tetapi ini beda sayang, rasanya pasti lain ayolah sekali saja" tetap Faro masih merayu Inneke karena sepertinya hampir tidak bisa menahan rasa lagi ingin menuju gua tempat dimana kobra sering berkunjung.


Saat Inneke ingin menyetujui permintaan suaminya yang selalu mesum datang baby Rafael digendong oleh bibi Jum dan diikuti oleh bibi Narti dan bibi Tini.


"Mami, baby Rafael haus, mau *****, sudah selesai belum Papi makan?" bibi Jum dengan menirukan suara anak kecil.


"Maaf ya Bang, tidak perlu pakai nyicil, nanti malam langsung bayar lunas" bisik Inneke ditelinga Faro sambil tersenyum defil.


Faro hanya mengerucutkan bibirnya, kesal sendiri, saat Inneke menggendong baby Rafael dan berjalan menuju kamar, Faro mengikutinya sampai didalam lift memeluknya dari samping bahkan sengaja menempelkan kobranya di samping badan Inneke.

__ADS_1


"Papi, tidak lihat Mami lagi gendong baby Rafael, jangan macam-macam, katanya tadi sudah janji, sekarang sudah melanggarnya, dasar mesum" lift terbuka bergegas Inneke keluar dari sana dan berjalan cepat masuk kamar duduk dipinggir tempat tidur memberikan ASI eksklusif kepada baby Rafael perlahan.


Kembali Faro ikut duduk disamping Inneke, melingkarkan tangannya dipinggang dengan posesif.


"Bagaimana bisa tidak ingkar janji jika disuguhi pemandangan yang indah seperti itu, mana dikuasai sendiri lagi sama dia, coba bagi sedikit dong" Faro memohon pada putranya, sedangkan baby Rafael hanya cuek bebek tetap menyedot ASI kesayangannya tanpa memperdulikan papinya sama sekali.


Hampir setengah jam baby El menikmati ASI sampai kenyang, yang biasanya dia langsung tertidur sekarang dia malah bergumam ah ih uh tidak jelas seolah olah sedang mengejek Papinya.


"Sayang biasanya langsung tidur, kenapa sekarang malah mengajak Papi bermain, Papi ingin main sebentar dengan Mami" Faro memelas didepan putranya.


"Papi sembarangan aja kalau ngomong dijaga atuh, baby Rafael belum tahu apa-apa, sudah tercemar dengan omongan Papi" nasehat Inneke memukul lengan Faro dengan perlahan.


Hampir jam delapan malam akhirnya baby Rafael tidur pulas di box bayi kesayangan, Inneke yang dari tadi membiarkan Faro bermain berdua, Inneke membantu membuat makan malam sampai menu siap dihidangkan dimeja makan.


Faro turun menyusul Inneke saat diajak makan malam bersama tetapi Faro ingin makan malam di kamar saja, Faro turun hanya untuk mengambil handphone yang tertinggal diatas meja ruang keluarga dan kembali ke kamar dengan cepat.


Terpaksa Inneke membawa makan malam ke kamar dan menyuruh bibi, sekuriti dan bodyguard untuk memulai makan malam.


"Sayang ini makannya sini mau disuapin kah?" rayu Inneke duduk disamping Faro.


"Iya suapin Abang ya, sekarang tangan Abang lagi sibuk" cabik Faro sambil tersenyum defil meliriknya sekilas.


"Eeeee lagi sibuk ngapain?, ini ayo buka mulutnya aaa" Inneke mulai menyuapi dengan lembut.


"Ini tangan Abang lagi sibuk" dengan tersenyum tangan mulai masuk kebalik baju mencari tempat favorit yang selama ini di klaim milik putra kesayangannya.


"Sayang jangan lupa makan juga, biar kuat, jangan sampai kurang tenaga ya" Faro tetap bergerilya nasi hampir habis dipiring tetapi baju Inneke kancing depan sudah terbuka sempurna, sudah terlihat pemandangan yang menggoda Faro untuk menikmati segera.


"Sebentar Bang, ditaruh dulu piringnya, masak aku pegang piring ini terus"


Faro tidak menyadari jika Inneke masih memegang piring, hanya nyengir kuda saja akhirnya Faro mengambil piring itu diletakkan di meja nakas.


"Bang minum dulu" Inneke menunjuk gelas berisi air putih.


Selesai minum Faro kembali bergerilya mulai membuang baju atasan Inneke, membuka kaitan bra dan melemparkannya entah kemana.


Saat Inneke sudah berada di kungkungannya dan membuka rok dan CD akan memulai penyatuan setelah pemanasan hampir setengah jam handphone Faro berdering kencang mengganggu konsentrasi Inneke dan Faro.


"Bang angkat dulu, siapa tahu penting" Inneke mendorong tubuh Faro, membuatnya sangat kesal.


"Mengganggu aja, halo!!!" ucap Faro kesal.


"Bos....bos.. tolong bini gue ada di rumah sakit, sekarang gue ada di UGD" teriak Mario panik.


"Ok gue kesana sekarang"

__ADS_1


__ADS_2