
Terakhir sekarang adalah El menunjukkan salah satu kemampuannya, yaitu melempar bola basket tetapi ini tidak seperti pemain pada umumnya.
Tampak panitia mengangkat kayu tiang keranjang basket berbentuk bulat keatas panggung menyerahkan satu bola basket kepada El, penampilan El yang mengenakan baju olah raga dan sepatu sport membuatnya leluasa untuk bergerak.
"Ini adalah salah satu kemampuan unik yang dimiliki anak didik kami yaitu Rafael, sudah siap nak?" tanya ibu guru yang memegang mikrofon.
El mengacungkan jempolnya berdiri diujung panggung dan membelakangi keranjang basket yang berada di ujung panggung satunya.
"Jeeeeep....." lemparkan tangan El tepat masuk keranjang bola basketnya padahal El tidak melihat keranjang sama sekali.
Tepukan tangan bergemuruh, El berbalik badan mengambil bola basket kembali dan mengulangi lemparan bola dengan membelakangi keranjang basket sampai lima kali tetap bola masuk tanpa ada yang meleset satupun.
Tepuk tangan semakin bergemuruh karena kecepatan dan ketepatan ditunjukkan oleh El dengan penuh percaya diri, ada salah satu wali murid berteriak "Coba turun dari panggung lempar dari bawah panggung dan membelakangi seperti tadi sanggup tidak?"
"Bagaimana sanggup El?" tanya Bu guru dengan cepat.
Faro dan Inneke sudah cemas dan dak dik duk takut El jadi nerfes melihat putranya di teriaki seperti diremehkan.
"Sanggup Bu!" teriak El penuh percaya diri.
Mengambil bola berjalan turun dari panggung, dua meter dari panggung sesaat mengawasi jarak dan posisi keranjang, berbalik badan dan
"Jeeeeep..."bola itu masuk lagi tepat pada tengah lobang keranjang tanpa meleset sedikitpun.
Kembali tepuk tangan bergemuruh bahkan banyak yang berdiri memberikan standing aplouse pada kelihaian anak berusia lima tahun putra dari Faro dan Inneke.
Hampir lulus TK El, Kanno dan Cello semakin kompak karena mereka bisa memantau satu sama lain dimanapun mereka berada, gelang itu semakin sempurna setelah dihubungkan dengan google map oleh Rafael di handphone masing-masing, membuat mereka bisa mengetahui alamat detail dimanapun mereka berada.
Pernah saat Erna dan Ara belanja bersama di sebuah mall mengajak Kanno dan Cello tanpa disadari Kanno terpisah karena Kanno terlalu fokus melihat model handphone yang berjajar rapi dengan tipe yang sangat canggih, saat Erna sudah panik hampir menangis mencari Kanno, Cello memanfaatkan teknologi gelang mutakhir yang mereka pakai dengan mengaktifkan handphone dan seketika terbaca dengan cepat bahwa Kanno sedang berada di toko handphone lengkap dengan alamat dan nomor telepon toko itu.
"Mommy Erna sepertinya Kanno tertinggal di lantai dua disebuah toko handphone" kata Cello santai menggandeng tangan Mama Ara yang ikut panik yang karena saat ini mereka ada di lantai empat mall.
"Ayo kita kesana" ajak Erna berlari mendekati lift diikuti oleh Ara dan Cello.
"Jangan lari, sini paper bag belanjaan aku bantu membawakan sebagian" Ara mengambil sebagian paper bag yang ada di tangan Erna.
Sampai dilantai dua ternyata benar, Kanno masih fokus memandangi handphone yang berjajar rapi tanpa memperdulikan keadaan sekitar, bahkan Kanno tidak menyadari jika mommy nya tidak bersamanya.
"Untunglah, dia tidak menyadarinya" monolog Erna sendiri.
__ADS_1
"Sayang ayo kita pulang" Erna menarik tangan Kanno mengajak keluar dari toko handphone.
"Mommy bolehkah Kanno membeli handphone yang model terbaru itu Mom?" pinta Kanno dengan memelas.
"Nanti bilang dulu ya sayang sama Daddy, sekarang kita pulang dulu, ok" ajak Erna dengan menarik tangan Kanno keluar mall.
Tetapi sayangnya Erna dan Ara tidak begitu memperhatikan dan memikirkan darimana Cello tahu jika Kanno masih tertinggal dilantai dua.
Jika di rumah masing-masing El sangat dekat dengan keluarga besarnya, demikian juga dengan Kanno dan Cello, Cello selalu vedio call dengan grandma yang tinggal di Singapura, terkadang juga vedio call dengan Lung Dio di Thailand.
_____________________
Sementara Agus Martono dan Felix Siregar semakin bersinar memimpin organisasi yang ada di Indonesia semenjak memiliki seorang asisten yang memiliki kemampuan IT yang handal bernama Toni, hampir setahun ini Toni menyelidiki keluarga besar Ken, Faro, Mr misterius dan keluarga besar Tomy Sanjaya.
Tegnologi mutakhir saat ini memang berkembang semakin pesat, dan keahlian Toni membuat penemuan yang membuat Felix Siregar tercengang sebab analisanya sangat akurat, Toni sudah bisa menyimpulkan jika penembak jitu yang menewaskan putra angkat Theo Thanapon, Faro dan Mr misterius adalah satu orang yang sama, Toni menyimpulkan itu karena bukti yang akurat yang dikumpulkan selama satu tahun terakhir ini.
Yang selama ini Theo Thanapon tidak pernah membayangkan jika laki-laki yang berumur dua belas tahun itu mempunyai kemampuan menembak setara dengan sniper, mereka hanya menilai dari penampilan saja, ternyata sangat menipu penampilan lugu Faro membuat mereka terkecoh selama bertahun-tahun.
Kebahagiaan kelegaan sedang berkecamuk dipikiran Felix Siregar, karena sudah bertahun tahun mendapatkan tekanan dari bos besarnya.
Setelah mendapatkan hasil penyelidikan 100% dari Toni, Felix Siregar langsung menghubungi Theo Thanapon yang saat ini berada di Thailand.
"Baik bos, akan kami kirim putranya kepada anda segera" jawab Agus Martono dengan penuh keyakinan.
Hampir satu Minggu ini anak buah Agus Martono mengawasi keseharian dari Rafael, dari mulai berangkat sekolah sampai mau tidur tidak satupun yang luput dari pengawasan mereka, rencananya sudah sangat matang tinggal waktu eksekusi saja yang rencananya hari Jum'at mereka akan menculik Rafael saat di sekolah TK
Tetapi yang bertugas mengawasi dan menculik Rafael adalah orang yang berbeda, hanya diberikan nama saja, dengan menggunakan mobil tanpa nomor kendaraan empat orang laki-laki yang ditugaskan menculik Rafael datang saat istirahat sekolah berlangsung dengan muka memakai topeng dan keempat orang itu memegang senjata rakitan memasuki area sekolah TK.
Sebelum yang bertugas menculik Rafael beraksi ada seorang wanita yang datang ke sekolah TK bertugas untuk melumpuhkan dua bodyguard yang selalu mengawal Rafael dengan cara memberinya obat bius dengan di tembakan dari jarak jauh yang di pegang wanita itu dari balik baju, dua sekuriti yang menjaga sekolah juga dilumpuhkan dan satu tukang kebun, jadi hampir semua laki-laki dewasa yang ada di lingkungan sekolah itu sudah terkapar terkena tembakan obat bius.
Mobil diparkiran didepan pintu gerbang, mereka masuk area sekolah dengan terang-terangan dan mengacungkan senjatanya kepada setiap orang yang dilaluinya menuju area belakang gedung sekolah TK itu karena mereka mengetahui jika sedang istirahat ketiga sahabat itu berada disana, sedang membuat penelitian yang terkadang aneh.
Awalnya keempat orang laki-laki itu mendekati Rafael dan langsung memegangi tangannya.
"Om bertopeng mau apa dan mencari siapa?" bentak El saat tangannya di cengkeraman oleh salah satu laki-laki yang akan menculiknya.
"Bos ini namanya di gelang bukan Rafael tapi Kanno?" tanya salah satu orang laki-laki yang akan menangkap Rafael.
"Coba periksa lagi keduanya" jawab orang yang berada di belakang laki-laki yang memegang Rafael.
__ADS_1
"Yang ini bos ada tulisan Rafael" jawabnya cepat.
"Bawa dia cepat" perintah laki-laki yang dipanggil bos dengan cepat.
Cello lah yang dibawa oleh mereka dengan di gendong paksa berjalan menuju pintu gerbang sekolah.
"Turunkan aku Om...awas turunkan" Cello meronta ronta dan memukuli punggung orang yang telah menggendongnya.
"Tunggu mau dibawa kemana temanku?" teriak Rafael meronta ronta masih dipegang oleh salah satu penculik ingin mengikuti Cello yang sudah menjauh dari mereka berdua.
"Diam, kalau tidak mau aku tembak kepalamu?" bentak salah satu dari mereka yang memegang senjata.
Rafael tidak memiliki kesempatan untuk mengatakan yang mereka culik adalah Cello, karena mereka bergerak cepat dan sangat rapi, membuat Rafael tidak berdaya.
Kanno yang cengeng hanya bisa menangis tersedu-sedu dan ketakutan karena melihat Cello dibawa orang yang bertopeng dan memegang senjata, lain lagi dengan Rafael yang terbiasa dengan senjata otomatis dan sering menggunakannya tanpa takut sedikitpun.
Susana TK menjadi sangat mencekam, ada yang menjerit takut senjata, ada yang menangis bahkan ada juga yang pingsan karena saking takutnya.
Semua guru dan staf juga tidak bisa berbuat banyak karena selalu diancam akan ditembak jika berani melawan, apalagi guru dan staf sudah melihat sekuriti dan bodyguard terkapar di lantai tanpa bergerak menambah suasana semakin mencekam.
Saat Cello dimasukkan ke mobil yang tadi diparkiran didepan gerbang, semua murid, guru dan staf digiring dalam satu aula yang tidak ada kursinya, mereka diperintahkan untuk duduk dilantai dengan ditodong dengan senjata jika tidak menurut.
Tetapi karena sebagian besar adalah anak-anak suara jeritan dan tangisan mendominasi suara yang ada di sana, membuat para penculik pusing tujuh keliling dan menutup rapat mengunci Aulia dari luar dan kunci dibiarkan tergantung disana, kemudian meninggalkan mereka begitu saja.
Ternyata saat semua murid dikumpulkan tadi Rafael bersembunyi dibalik pintu kantor dan tidak ada seorangpun yang tahu, sehingga setelah mereka pergi Rafael berlari mendekati Aula dan membuka pintu dengan cepat.
"Bu guru.... Bu guru" teriak Rafael dari luar mencari guru kelasnya karena bingung apa yang harus dilakukan.
"Ya El terima kasih, ibu guru hubungi polisi dulu ya" Bu guru kelas berlari bergegas ke kantor untuk menghubungi polisi.
Karena Bu guru mengatakan ingin menghubungi polisi baru Rafael mengingat papi dan berlari menuju kelasnya untuk mengambil handphone.
Dengan berlari sekuat tenaga tanpa memperdulikan keadaan sekitar dan panggilan Kanno yang terus menerus memanggilnya dan mengikutinya dari belakang Rafael terus berlari menuju kelas, tetapi baru sampai pertengahan antara aula dan kelasnya Rafael melihat bodyguard yang biasa mengawalnya tergeletak di lantai berhenti sebentar ingin membangunkan mereka berdua.
"Om...om Sarwan bangun!" digoyangkan badan kekar Sarwan tetapi tidak ada reaksi apapun.
"Kanno ayo ke kelas, telpon Papi saja!" kembali Rafael berlari menuju kelas dengan cepat dan mengambil tasnya, mencari handphone dan menekan tombol hijau setelah tertulis nama Papi di handphone itu.
"Papi.... papi cepat ke sekolahan El, ada penculikan, Cello di culik Pi" dengan suara tersengal-sengal Rafael menghubungi Faro.
__ADS_1