Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
107. Akhirnya


__ADS_3

Waktu baru menunjukkan pukul sembilan malam saat Faro kembali dari rumah sakit pulang ke rumah, masuk kamar, berharap langsung mengajak istrinya main kuda-kudaan yang sempat tertunda kemarin malam.


Tetapi setelah masuk kamar Faro harus masih bersabar lagi karena ternyata baby Rafael belum tidur masih terjaga dan masih bermain bersama Inneke.


"Putra ganteng Papi tumben belum bobok ada apa?" tanya Faro duduk disamping baby Rafael menciumi pipinya yang gembul.


"Baby El tidak bisa tidur Papi, masih tunggu Papi pulang, El kan sayang Papi" Inneke menirukan suara anak kecil.


"Gantengnya Papi, tidur nak sudah malam, Papi ganti baju dulu ya" memeluk baby Rafael sejenak mencium pipi kanan dan kiri, bergegas ganti baju tidur dan berbaring disisi baby Rafael, tidak sampai setengah jam akhirnya baby Rafael terlelap dengan nyenyak.


"Pindah ya sayang di box bayi, biar lebih nyenyak" Faro menggendong baby Rafael dengan mengedipkan matanya kepada Inneke dengan senyum mengembang dan membaringkan baby Rafael dengan perlahan agar tidak terbangun.


"Tidur yang nyenyak ya ganteng, Papi ijin berdua sama Mami, muuuah" kembali ke tempat tidur dimana Inneke berbaring disana dan langsung memeluknya dengan erat.


"Sayang hari ini Abang bisa buka puasa sepuasnya ya" Faro mulai menciumi bibir Inneke dengan mesra.


Bergerilya dengan penuh gairah, sudah lama badan istrinyanya tidak ada tanda kissmark, sekarang waktunya memberikan tanda itu di setiap inci lekuk tubuhnya seperti dulu lagi.


Tidak dipungkiri Inneke juga merindukan sentuhan dan gairah cinta suaminya yang selama ini membuatnya melayang ke surga dunia, sehingga Inneke tidak kalah memberikan tanda kissmark terutama di leher jenjang Faro yang menjadi favorit Inneke.


Sampai pada puncak penyatuan keduanya dan mengeluarkan cairan pekat itu bersama membuat Faro sangat bahagia, sehingga Faro berniat untuk meminta ronde kedua.


"Sayang boleh Abang minta tambah lagi ronde kedua, kobranya bangun lagi" rayu Faro kembali mulai bergerilya.


Semakin intens tangan Faro bergerilya, semakin suara desahan kecil Inneke terdengar menambah gairah Faro untuk melanjutkan ke penyatuannya kembali dengan hati yang bahagia.


Saat Faro menatap intens Inneke seperti masih ingin melanjutkan pergulatan panas malam itu, Inneke langsung menyelimuti tubuhnya sampai leher.


"Jangan bilang mau minta ronde ketiga ya Bang, sebentar lagi waktunya baby Rafael bangun minta ASI" seloroh Inneke tahu pasti apa yang ada di otak mesumnya.


"Istri Abang memang tahu apa yang Abang pikiran" Faro mulai memeluk Inneke dengan mesra.


Tidak lama baby Rafael mulai bangun dan menangis kecil karena haus, jika tidak cepat di dekati pasti akan menangis melengking menggema ke seluruh kamar.


"Ya sayang, Mami datang sebentar" teriak Inneke dan berangsur angsur baby Rafael hanya bergumam ah ih uh, Inneke mengenakan baju dengan asal dan berlari mendekati box bayi dan segera menggendong baby Rafael untuk diberikan ASI eksklusif.


Hampir setengah jam Faro menunggu baby Rafael menyusu sampai dia tidak tahan rasa kantuk yang menyerangnya, bertahan untuk tetap terjaga tetap saja tidak bisa diajak kompromi matanya.


Setelah selesai menyusui baby Rafael dan dibaringkan kembali di box bayi kemudian mendekati Faro yang ternyata terlelap dengan pulas dan tenang.


"Dasar tukang mesum, setelah dapat saja langsung terlelap" gerutu Inneke naik ke atas tempat tidur berbaring disamping Faro dan memejamkan matanya.


Saat dikantor pagi harinya, Faro kedatangan detektif Conan yang tanpa membuat janji terlebih dahulu seperti biasanya.


"Ada apa Bang tumben biasanya buat janji dulu?" tanya Faro saat sudah mempersilahkan dia untuk duduk.


"Gue janjian sama Mario bos, kemana hari ini dia tidak masuk kerja?" tanya Conan mengerutkan keningnya berpikiran jika Mario ada di kantor.


"Bininya melahirkan, dia masih di rumah sakit, sebentar gue telepon orangnya" Faro mengambil handphone yang ada didalam kantong jasnya menghubungi nomor Mario.

__ADS_1


Mario yang berada di toko konter handphone untuk membelikan handphone yang diminta mommy, langsung menuju kantor setelah Faro menghubunginya.


Sambil menunggu kedatangan Mario, Conan melaporkan bahwa Minggu yang lalu Agus Martono putra dari pak Basiran sudah di angkat sebagai ketua mafia cabang Indonesia oleh pengacara dan detektif swasta Felix Siregar tetapi tanpa kehadiran ketua mafia Theo Thanapon ataupun cucunya Thora yang saat itu ada di Thailand karena adanya perebutan kekuasaan dengan adik tirinya sendiri.


"Sorry, lama nunggu gue ya, gue harus beli handphone buat mommy mertua soalnya" saat Mario sampai kantor dan duduk didepan Conan dan Faro.


"Ada apa elo janjian sama Bang Conan?" tanya Faro sambil melirik handphone yang dibeli oleh Mario berwarna unyu unyu yaitu ungu dan terlihat cantik.


Kemudian Mario menceritakan tentang mommy mertua yang berniat tinggal di Indonesia dalam waktu lama.


"Apakah bang Conan bisa mengurus paspor mommy di Thailand, jangan khawatir ini gue sendiri yang akan membiayai akomodasi dan tiket pesawat selama Abang ads disana?" pinta Mario dengan penuh harap.


"Bisa sih, tetapi tidak sekarang karena gue masih ada satu kasus yang belum gue selesaikan, Minggu depan mungkin baru bisa berangkat" jawab Conan cepat.


"Tidak apa-apa Bang, santai aja" kelegaan terlihat di wajah Mario karena masalah mommy bisa teratasi.


Setelah Conan dan Mario pulang, Faro melanjutkan pekerjaannya, hampir satu jam konsentrasi dengan dokumen dan fail yang menumpuk dikagetkan ketukan pintu.


"Tok....tok....tok.."


"Masuk" saat pintu terbuka ada kepala bagian HRD dan kepala keamanan datang tergopoh-gopoh dengan suara yang terengah-engah nafas mereka.


"Apa apa pak, atur nafas dulu?" Faro meletakkan dokumen yang akan di tandatangani.


"Maaf bos, itu kepada cleaning servis terkena serangan jantung di kamar mandi" lapor kepala keamanan yang masih syok.


"Ada di klinik bos, beliau sudah meninggal dunia saat di kamar mandi" keterangan HRD itu, sontak membuat Faro kaget.


"Kalian urus kepulangan jenazah, katakan kepada semua instansi dan bagian produksi, hari ini setengah hari saja kerjanya, kita siap siap ke rumah almarhum" perintah Faro cepat.


Sambil mengabarkan kepada Mario melalui pesan WA, jika kepada bagian cleaning servis meninggal dunia, Faro bersama iring iringan staf perusahaan menuju rumah duka, bahkan Faro menghubungi abinya jika ada karyawan yang meninggal dunia.


Contoh yang positif di tunjukkan Faro dan Ken, mendatangi keluarga yang sedang berduka, mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya, agar tabah dan bersabar.


Tanpa sungkan bergabung melepaskan alas kaki menuju ketempat peristirahatan terakhir Faro, Ken dan Mario berbaur dengan karyawan dan masyarakat sekitar rumah duka, tetapi tidak bisa dipungkiri tetap saja ada bodyguard yang mengawal juga.


Kembali kerumah duka setelah selesai prosesi pemakaman, berpamitan dengan seluruh anggota keluarga yang sedang berduka.


Tetapi sebelum pulang, berpesan kepada putra pertama almarhum yang bekerja sebagai seorang buruh bangunan untuk datang ke perusahaan bisa bekerja disana, walaupun tidak menduduki posisi almarhum setidaknya masih ada keluarga yang bisa diharapkan untuk meneruskan tanggung jawab keluarga, dan tidak lupa memberikan uang gaji terakhir, tunjangan dan duka kepada keluarga yang ditinggalkan.


Ken dan Faro langsung pulang ke rumah masing-masing setengah dari rumah duka Sedangkan Mario kembali ke rumah sakit, hari ini belum diperbolehkan untuk pulang masih menunggu satu hari lagi untuk di opservasi tentang kesehatan bayi dan ibunya.


Sudah hampir tiga hari Ara dan baby Cello pulang dari rumah sakit, dan Mario sudah mulai aktif bekerja di kantor sedang menyeleksi pengganti almarhum ketua cleaning servis.


"Mario sebaiknya pak Basiran saja yang diangkat sebagai kepala bagian cleaning servis, sepertinya dia layak untuk menduduki jabatan itu" saran Faro saat Mario sedang membaca beberapa kandidat yang cukup berpotensi untuk menduduki kepala bagian cleaning servis.


"Betul juga bos, sekalian mendekati beliau untuk mencari informasi tentang putranya Agus Martono yang sekarang menjadi ketua mafia jabang Indonesia" Mario menutup dokumen yang dibacanya.


"Gue panggil sekarang ya bos pak Basiran nya" menghubungi bagian kantor cleaning servis memanggil pak Basiran untuk menghadap pimpinan, hanya dalam sepuluh menit Pak Basiran datang mengetuk pintu.

__ADS_1


"Tok.....tok.....tok"


"Masuk....." Mario menjawab dari dalam.


"Selamat siang tuan, apakah anda memanggil saya?" tanya pak Basiran membungkukkan badannya hormat sedikit gemetar.


Selama ini pak Basiran tidak pernah berbincang langsung dengan pimpinannya, hanya sering menyapa saat bertemu pagi hari atau sore hari saja.


"Silahkan duduk pak" Faro menyalami pak Basiran dengan hormat dan tersenyum ramah.


"Terima kasih tuan" dengan sedikit ragu pak Basiran duduk dihadapan haro dengan menundukkan kepalanya.


"Sudah berapa tahun bapak Bekerja disini?" Faro menatap lekat orang yang ada didepannya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Saya lupa tuan, yang jelas sejak perusahaan ini berdiri" jawabnya ragu-ragu.


"Jangan panggil saya tuan, rasanya kurang enak panggil saja yang lain" Faro tersenyum karena jarang dia dipanggil tuan.


Pak Basiran hanya tersenyum dan tidak berani menatap wajah tegas bos yang ada didepannya.


"Begini pak, setelah saya menilai kinerja bapak selama di perusahaan ini saya akan--" belum selesai melanjutkan ucapannya dia memotong ucapan Faro.


"Bos jangan pecat saya, saya masih harus membiayai kedua anak saya yang akan kuliah" dengan sedikit bergetar Pak Basiran memohon kepada Faro.


Faro langsung tertawa lepas, diikuti oleh Mario yang terkekeh melihat sikap pak Basiran yang takut.


"Siapa yang akan memecat bapak, boleh saya tanya ada berapa anak bapak?" Faro pura-pura tidak tahu tentang keluarganya.


"Anak saya tiga pak, tetapi yang pertama sudah tidak bersama kami" dengan sedih Pak Basiran menjawab.


"Kenapa tidak bersama bapak, apakah dia sudah menikah?" tanyanya lagi.


"Belum Pak, tetapi anak pertama saya sudah berbeda prinsip, jadi saya sudah menganggap dia tidak ada" Faro langsung memandang wajah Mario seperti saling memberi kode.


"Baiklah saya memanggil anda karena saya percaya kepada bapak, dan melihat kinerja bapak, anda saya angkat sebagai kepala cleaning servis yang baru" kata Faro tegas dan penuh wibawa.


___________________


Hai shobat


Apa kabar, semoga keluarga


selalu dalam lindungan Allah SWT


jangan lupa like vote dan komentar


serta hadiahnya untuk semangat author


menulis terima kasih

__ADS_1


__ADS_2