Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
135. Masuk Kandang Macan


__ADS_3

"Saya......sa.. saya hanya ingin mendapatkan perhatian dari Bang Faro" jujur Susi dengan terbata-bata.


"Apa kamu tidak sadar diri nduk, kamu itu siapa?, kamu mau mengulangi kelakuan mu mengganggu suami orang seperti dulu lagi, bocah edan" bibi Narti naik pitam karena kejujuran dari Susi.


Kembali bibi Narti memukuli Susi dengan membabi-buta, dan terpaksa Mario memeluk bibi Narti dari belakang dan di tariknya menjauhi Susi, sedangkan Susi menangis tersedu-sedu melorot duduk di lantai karena pukulan dan dorongan ibunya.


"Kamu dibantu siapa atau ada yang memberikan ide tentang obat pencahar itu hah?" bentak jenderal Hendro lagi dengan mencondongkan badannya mendekati Susi yang sudah terduduk di lantai dengan isakan tangis terdengar tiada henti.


"Ti... tidak itu ideku sendiri, karena selama disini saya tidak mendapatkan kesempatan mendekati Bang Faro" jawabnya sambil tetap terisak.


"Mimpi elo, kesel juga gue" cabik Mario ikut emosi karena kelakuan Susi.


Jenderal Hendro sudah bisa menyimpulkan jika Susi bertindak sendiri, tanpa ada kaitannya dengan Agus Martono atau pihak lain, karena melihat gerak-gerik Susi dan sorot mata yang seperti menjawab jujur akhirnya langsung menghubungi Faro yang berada di rumah utama perkebunan sedang beristirahat di kamar bersama istri tercintanya.


"Bagaimana Bang, apakah dia di laporkan ke polisi, atau bagaimana?" tanya jenderal Hendro dalam suara handphone.


"Tidak enak sama bibi Narti jenderal, tendang aja dia dari rumah, lempar kembali ke kampung halaman, tetapi beri pelajaran sedikitlah biar kapok dan tidak mengulangi lagi suatu hari nanti" pesan Faro memberikan jawaban dari balik handphone juga.


Memanggil Mario dan Pak Kumis menjauhi Susi dan bibi Narti menyampaikan perintah Faro tadi kepada mereka berdua dan meminta pendapat apa yang akan dilakukan biar dia jera tidak berani lagi menggoda pria terutama yang sudah menikah.


Setelah selesai mereka berdiskusi kembali mendekati Susi dan bibi Narti yang duduk kembali didepannya.


"Mario cepat panggil polisi, sebaiknya wanita ini kita serahkan kepada mereka saja" perintah jenderal Hendro dengan menyenderkan tubuhnya ke belakang sofa, menumpangkan kaki kiri diatas lutut kaki kanan menjadikan wajahnya garang dan menakutkan.


Susi dan bibi Narti langsung menangis sejadi-jadinya melipatkan tangannya memohon untuk diampuni.


"Bibi bangunlah jangan duduk di bawah nanti jahitan yang di perut bibi robek lagi" nasehat Mario membantu bibi Narti duduk kembali di sofa.


"Ini tidak ada sangkut-pautnya dengan bibi, ini murni kesalahan Susi, jadi bibi Narti jangan khawatir, naaah bagaimana Susi kamu siap di jemput oleh polisi?" jenderal Hendro mulai menakut nakuti Susi.


Sontak Susi ketakutan menangis dan menggelengkan kepalanya "Saya tidak mau dipenjara pak, tolong ampuni saya".


"Gampang sekali kamu minta diampuni ini menyangkut dua nyawa yang hampir melayang gara-gara kamu lo?" tambah Pak Kumis memperkeruh suasana.


"Ampun pak, saya mau melakukan apapun asal jangan dipenjara, tolong pak ampuni saya" dengan terus memohon Susi tidak ingin dipenjara.

__ADS_1


"Benar kamu mau melakukan apa saja?" tanya lagi jenderal Hendro dan diikuti anggukkan kepala oleh Susi dengan cepat.


"Baiklah, bibi Narti boleh istirahat sekarang, Susi ayo ikut" perintah jenderal Hendro berjalan kearah belakang keluar melewati pintu dapur kearah ruang menembak milik Faro diikuti oleh Mario dan Pak Kumis.


Ruang menembak itu menggunakan kode saat ingin masuk, tidak sembarang orang yang mengetahui kode dari ruang menembak, jenderal Hendro menekan nomor kode dengan cepat.


"Masuklah!" Jenderal Hendro mendorong Susi sedikit kasar masuk ke ruangan itu sampai ditengah tengah ruangan.


Susi berdiri mematung melihat banyak sekali senjata otomatis berbagai macam jenis dan ukuran badannya lemas seketika tanpa berani bergerak sedikitpun seperti masuk dikandang macan.


"Sekarang kamu tahu siapa orang yang ingin kamu jebak hah?" bentak jenderal Hendro dengan melotot dan suara yang meninggi.


"Walaupun Bang Faro tidak akan menyerahkan kamu ke polisi, apakah kamu akan selamat begitu saja, untung saja sekarang orangnya sedang liburan, kalau tidak, entah bagian mana dia akan menembakkan peluru itu ditubuh kamu?" dengan suara yang lantang dan keras jenderal Hendro mengintimidasi pikiran Susi.


Susi langsung terduduk dilantai, lemas keluar keringat dingin dan badan bergetar hebat melihat senjata otomatis yang ada disekelilingnya, Mario dan Pak Kumis hanya diam, melihat bagaimana jenderal Hendro memberikan pelajaran kepada Susi agar tidak mengulangi perbuatannya.


"Tadi saya sudah menghubungi Bang Faro, kali ini kamu diampuni, sekarang juga pulanglah ke kampung, jangan pernah kembali lagi kesini ataupun ke Jakarta, jangan sekali-kali kamu ceritakan kepada orang lain kamu telah masuk ruangan ini, bahkan kepada bibi Narti sekalipun, jika ada orang lain tahu dari mulutmu itu, aku sendiri yang akan menembak tepat di mulutmu, kamu faham?" menatapnya tajam jenderal Hendro tetapi dalam hati tertawa terbahak bahak.


Susi hanya menjawab dengan anggukan kepala, menangis tersedu-sedu, air mata sudah menganak sungai tanpa bisa di kendalikan.


"Sudah ayo keluar sana kemasi barang barang kamu, Pak Pardi nanti akan mengantarkan ke stasiun, ingat ya jangan macam-macam juga dikampung, orang kami akan mengawasi kamu mulai saat ini karena kamu sudah tahu rahasia Bang Faro, jika suatu saat nanti kamu berulah lagi peluru panas akan menembus perut kamu dari jarak jauh" jenderal Hendro kembali mengancam dengan suara lebih keras dan penuh penekanan.


Walaupun lemas kaki Susi berusaha berdiri dan berlari terbirit-birit meninggalkan ruangan itu diikuti suara tawa mereka bertiga terbahak-bahak.


Sampai kamar Susi mengemasi barang-barangnya kedalam koper, berganti baju dengan cepat.


"Bu, aku pulang kampung ya, aku tidak mau dipenjara, ibu jaga diri baik-baik, maaf aku sudah membuat malu ibu, aku janji tidak akan mengulanginya lagi" Susi mencium punggung tangan bibi Narti dengan berlinang air mata dan keluar dari kamar.


Bibi Narti hanya menganggukkan kepalanya memeluknya sebentar, dia tahu anaknya membuat kesalahan yang besar, sehingga saat Susi pamit pulang, tidak mengantarnya sampai pintu karena masih marah.


Susi menarik koper keluar berpamitan dan minta maaf dengan bibi Tini keluar rumah sudah ditunggu oleh pak Pardi di halaman dan diawasi oleh jenderal Hendro, Mario dan Pak Kumis didepan pintu utama.


Dengan tatapan mata yang tajam ketiga orang yang menunggu didepan pintu utama Susi sama sekali tidak berani menatapnya, kepalanya tertunduk berjalan mendekati mobil yang sudah standby.


Tiket kereta api dibeli melalui online oleh Mario, uang saku dititipkan pada pak Pardi, Mario tidak mau memberikan langsung kepada Susi karena juga merasa ilfil hanya mendengar cerita dari Faro jika dia janda versi Sari Sagita.

__ADS_1


Susi sudah masuk didalam dengan diam, bahkan Pak Pardi hanya melirik saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun ikut kesal karena ulahnya, setelah hampir setengah perjalanan menuju stasiun kereta api tepatnya dilampu merah baru pak Sardi mengulurkan amplop yang tadi dititipkan oleh Mario.


"Ini uang saku untukmu dari asisten bos" tanpa melihat wajah Susi Pak Pardi memberikan amplop itu.


"Terima kasih" Susi mengambil amplop dengan menjawab singkat.


"Berarti waktu kemarin mampir di apotek kamu membeli obat pencahar itu ya?, coba kalau seandainya aku tahu kamu sudah aku tendang dan aku buang ke Bantar gebang" baru Pak Pardi meluapkan kemarahannya.


"Aku....aku..... hanya---" Susi tidak berani melanjutkan ucapannya.


"Kamu tahu Susi, seandainya nanti bos tahu kalau aku yang mengantarkan ke apotek, pasti aku akan mendapatkan masalah juga, awas aja kalau aku dipecat, kamu pertama yang akan aku mencari" tambah naik pitam Pak Pardi membayangkan jika nanti akan kehilangan pekerjaan gara-gara ulah Susi.


"Maaf.... maaf pak" hanya itu yang keluar dari mulutnya.


Dari kaca spion Pak Pardi memperhatikan wajah dan gerak-gerik Susi pucat pasi, menunduk keringat dingin seperti ketakutan, entah apa yang terjadi.


"Apa kata asisten Mario tadi sama kamu?" tanya Pak Pardi penasaran dan melirik di spion yang ada didepannya.


"Tidak apa-apa kok Pak, dia hanya menyuruh aku pulang kampung, orang itu galak sekali aku takut' jawabnya jujur.


"Ha ha ha itu baru omongannya Susi, dia akan lebih kejam jika melihat bosnya lecet sedikit saja, dulu waktu Bu bos terjebak dalam tawuran, kami semua di hajar habis-habisan baik bodyguard, sekuriti ataupun aku sendiri" cerita bohong pak Pardi dengan senyum yang menyeringai.


Karena sebelum mengantar Susi tadi pak Pardi sudah di berikan pesan agar memberikan sedikit pelajaran agar tidak akan mengulangi lagi perbuatannya.


"Apa sebenarnya pekerjaan mereka memangnya Pak?" tanya Susi dengan sedikit ragu-ragu dan takut.


"Aku tidak tahu pasti sih, tetapi kamu tahu sendiri orang kaya itu memiliki misteri yang susah di tebak, kamu tahu siapa sebenarnya orang yang mengintegrasi kamu yang dipanggil jenderal itu?" tanya Pak Pardi dan sontak Susi kaget karena baru menyadari jika orang yang menanyainya adalah seorang jenderal dengan cepat Susi menggelengkan kepalanya.


"Coba kamu bayangkan Sus, seorang jenderal saja mau melakukan penyelidikan tentang ulahmu yang gak jelas itu, kamu bisa bayangkan seberapa hebat dan tingginya kedudukan bos Faro" cerita lagi tanpa henti Pak Pardi sambil memperhatikan raut wajah Susi.


"Baru kemarin bos Faro memenjarakan seorang wanita yang katanya teman kuliahnya dulu, wanita itu dipenjara seumur hidup karena diancam akan dilemparkan ditempat prostitusi internasional yang berada di Cina".


"Betulkah itu Pak, siapa nama wanitanya pak?" tanya Susi sedikit panik.


"Namanya siapa ya?, sebentar tak cek dulu, ada kok beritanya di media sosial....Oya namanya Sari Sagita, kamu cari saja di media sosial, tetapi diberita itu hanya dikabarkan dipenjara saja, karena menurut sumber yang dipercaya Sari Sagita tidak berani mengungkapkan peristiwa yang lainnya karena memeng dia juga seperti kamu yang ingin mendapatkan cinta bos Faro" dengan cepat Pak Pardi menunjukkan media sosial tentang berita Sari Sagita beberapa waktu lalu.

__ADS_1


Dengan cepat Susi membaca berita tentang Sari Sagita, memang benar adanya bahwa wanita yang bernama Sari Sagita dipenjara karena mengejar cinta dari bos Faro.


"Ya sudah Susi, ini sudah sampai di stasiun, ingat kamu sudah sekali menyakiti bos Faro, jangan lagi membuat ulah kalau ingin nyawamu selamat, pasti dia akan mengawasi gerak-gerik kamu".


__ADS_2