
Setelah kepolisian datang, dan tidak terjadi kebakaran, dalam waktu satu jam para tamu hotel bisa kembali ke kamar hotel masing-masing dengan aman dan karyawan bekerja kembali seperti semula.
"Bang saat Abang kebelakang tadi bagaimana situasinya, jangan sampai Abang Conan tertangkap CCTV?" tanya Faro saat mereka berkumpul di kamar Faro.
"Tenang aja bos aman" jawab Conan dengan mengangkat dua jempolnya.
"Serumnya bagaimana?" tanya Conan gantian bertanya.
"Serum apa Bang?" Inneke ikut bertanya karena tidak faham yang di maksud serum itu.
"Serum, tidak apa-apa Yang, ini serumnya Bang Conan ada di tasnya Abang, ini Bang Conan simpan sendiri aja takut nanti hilang" jawab Faro mengembalikan sisa serum kepada Conan, sedikit gugup tidak ingin Inneke mengetahui tentang serum itu.
"Siapa Bang yang membawa senjata otomatis tadi?" tanya Inneke lagi karena tadi saat di luar banyak tamu hotel bercerita jika ada yang menodongkan senjata otomatis.
"Andrew Hidayat yang masih ingin mencari Ara, sepertinya dia masih penasaran karena saat Ara keluar dari Singapura menggunakan nama barunya, sehingga mereka berkesimpulan jika Ara belum meninggalkan Singapura" cerita Faro sambil memeluk Inneke.
"Bang besok gue pulang ke Indonesia penerbangan pagi, tidak jadi malam hari, Abang Conan tunggu sampai selesai penyelidikan target kedua" perintah Faro dan Conan meninggalkan kamar Faro ke kamarnya sendiri untuk istirahat.
"Sayang ayo kita istirahat" ajak Faro sambil tersenyum defil melirik kearah gunung kembar Inneke.
"Istirahat itu tidur Bang, bukan mata jelalatan entah kemana begitu" cabik Inneke yang sudah mengetahui arah dan maksud suaminya.
"Tau aja sih Yang, ayo cobranya sudah bangun" celoteh Faro menarik Inneke ke tempat tidur big size dan bergerilya saling memberi tanda kepemilikan dan memberikan kepuasan nikmat surgawi berdua sampai puncak klimaks berdua bersamaan.
Pukul delapan pagi Faro dan Inneke cek-out dari hotel dan di tunggu Jasson di lobi hotel karena mereka akan pulang bareng ke Indonesia di antar langsung oleh Conan.
"Bang Conan setiap hari jangan lupa kirim laporannya?" Perintah Faro setelah sampai di bandara Changi Singapura.
"Siap bos, pasti itu" jawab Conan cepat.
"Setelah bereaksi serum itu cepat laporkan dan pulang kembali ke Indonesia" bisik Faro di telinga, dan di jawab anggukan kepala oleh Conan.
Setelah Faro, Inneke dan Jasson masuk bandara, Conan melajukan mobilnya ke daerah dimana biasa Andrew Hidayat tinggal, tetapi saat baru masuk daerah kompleks perumahan itu ternyata Andrew Hidayat sedang membawa mobilnya keluar kompleks dengan kecepatan tinggi, Conan berbalik arah mengikutinya dengan cepat dari belakang.
Sampai di pertigaan tanpa lampu merah Andrew tetap mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa melihat kanan dan kiri, ada mobil lawan arah Andrew juga dengan kecepatan tinggi juga sehingga Andrew menghindar dengan membanting setir kearah kiri dan menabrak trotoar.
"Bruuaaak....duar....ssstttt"
Suara mobil berbenturan dengan trotoar sangat keras, banyak orang yang mendekati mobil itu, termasuk Conan juga ikut mendekati Andrew setelah memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, ternyata keadaan sangat parah, kepalanya penuh dengan darah dan dilarikan ke rumah sakit dengan datangnya ambulance dari arah berlawanan.
Ambulance kembali berjalan dengan mengeluarkan suara sirine yang sangat kencang, Conan juga mengikuti ambulance itu dari belakang sampai di UGD rumah sakit terdekat.
Di baringkan di sebuah brankar dan di dorong masuk ruang UGD dengan cepat, sedangkan Conan duduk beristirahat di kursi panjang depan pintu UGD sambil memegang handphone mengetikkan pesan WA kepada Faro.
"Target kedua baru saja tumbang, informasi selanjutnya tunggu berita selanjutnya" tulis Conan dalam pesannya.
__ADS_1
Datang keluarga Decha Thanapon termasuk ibunya Ara datang ke UGD dengan wajah yang cemas, dokter keluar dari pintu UGD mencari mereka.
"Bagaimana dengan adik saya dok?" tanya Decha Thanapon dan di ikuti oleh seluruh keluarga.
"Adik anda mengendarai mobil dalam keadaan mabuk dan fly, bukan mabuk minuman keras tetapi karena narkoba" kata dokter itu jujur.
"Jadi bagaimana keadaan dia sekarang?" tanya Decha lagi.
"Kepala bagian belakang pasien terbentur dengan benda keras, banyak darah yang keluar, harus kita operasi sekarang juga" keterangan dokter itu lagi.
"Baiklah dok, lakukan yang terbaik untuknya, saya akan segera mengurus administrasinya" Decha berjalan meninggalkan dokter berjalan kearah administrasi rumah sakit.
Hampir dua jam operasi berlangsung tetapi belum ada tanda-tanda lampu merah yang berada di atas pintu kamar operasi berganti dengan warna hijau, semua keluarga sangat khawatir tidak terkecuali ibunya Ara.
Conan yang duduk di kejauhan mengawasi jalannya operasi melihat ibunya Ara yang sekilas memandangnya dengan tatapan sendu, dan mendekati Conan perlahan serta duduk disebelahnya.
"Apa yang terjadi Bu?" tanya Conan dengan pandangan mata kedepan tanpa menatap ibunya Ara agar orang tidak curiga jika mereka saling mengenal.
"Pulanglah, nanti saya kabari perkembangan Andrew, tetapi dengan syarat harus menceritakan tentang Ara putri saya" titah ibunya Ara juga tanpa memandangi wajah Conan.
"Baiklah Bu, saya tunggu kabarnya, pamit ya Bu, terima kasih atas kerjasamanya" senyum manis mengembang dari wajah Conan mendapatkan tawaran yang sangat menguntungkan baginya.
Conan kembali ke hotel dengan santai menunggu kabar dari ibunya Ara akan sedikit mempermudah pekerjaannya, membersihkan diri, menikmati hidangan makan yang baru saja di pesan, membuat Conan lebih sedikit rileks.
"Andrew Hidayat di operasi selama empat jam, kepala belakang mengalami keretakan dan ada darah beku yang harus di keluarkan dari sana, dia mengalami amnesia permanen, dan setelah operasi Andrew sudah terdeteksi hanya memiliki kemampuan otak tidak melebihi anak laki-laki berumur sepuluh tahun, bertingkah seperti anak laki-laki yang belum pernah di khitan, sudah tidak mempunyai kemampuan sniper handal lagi"
Setelah membaca pesan dari ibunya Ara Conan menarik nafas dalam-dalam, membalas menceritakan tentang Ara dengan lengkap, rencana Conan tunggu satu atau dua hari lagi baru akan pulang ke Indonesia setelah mendapat kabar kondisi Andrew Hidayat sudah membaik, keluar dari rumah sakit dan akan kembali ke Malaysia dengan di jemput oleh ibunya yang tinggal di Malaysia.
________________________
Di kamar tepatnya di tempat tidur Inneke nungging memegangi perutnya yang mulas dengan sedikit muka pucat, pinggang terasa nyeri, seperti itulah jika dia halangan pada hari pertama, sedangkan dia tidak berani mengganggu Faro yang sedang asyik mengerjakan pekerjaan kantor yang belum selesai di ruang kerjanya.
"Aduuuh.... ssstttt kenapa harus mulas begini" Inneke mengeluh sendiri tanpa menyadari jika Faro masuk kamar mendengar Inneke yang sedang kesakitan menahan rasa sakit mulas dan pinggang yang nyari.
"Sayang...ada apa, apanya yang sakit?" tanya Faro membalikkan badan Inneke yang sedari tadi masih nungging di tempat tidur.
"Tidak apa-apa Bang, biasa kalau hari pertama PMS seperti ini" hibur Inneke agar Faro tidak khawatir.
"Tidak apa-apa bagaimana muka pucat begitu, Abang panggil dokter ya?" Faro sangat khawatir melihat Inneke muka pucat dan mengeluarkan keringat dingin membasahi bajunya.
"Tidak usah Bang, minta tolong bibi Jum aja buatkan minum jahe hangat" pinta Inneke dengan suara yang tertahan karena menahan sakit perut dan nyeri pinggang.
"Baiklah Abang turun sebesar sayang, tidak usah turun dari tempat tidur" larang Faro keluar kamar menuju lantai bawah untuk menemui mbok Jum.
"Bibi Jum, bisa minta tolong?" panggil Faro saat bibi Jum sedang duduk di ruang makan menikmati secangkir kopi dengan santai bersama para bodyguard dan sekuriti.
__ADS_1
"Ada apa Bang?" tanya bibi Jum mendekati Faro.
"Bisa tolong buatkan minuman jahe hangat, istriku sakit perutnya karena sedang PMS?" keterangan Faro ingin berbalik badan kembali ke lantai atas.
"Baik Bang, eee tunggu sebentar Bang, coba di kompres dengan air hangat terlebih dahulu perut neng Keke nya untuk mengurangi rasa mulasnya, ini air hangatnya, di kompres dengan handuk kecil ya Bang" titah bibi Jum dengan memberikan air hangat menggunakan baskom kecil.
Terima kasih bibi" Faro membawa baskom itu ke kamar dengan sedikit berlari, membuka pintu kamar dan mendekati Inneke.
"Sayang, coba tidurnya terlentang, Abang kompres perutnya dengan air hangat" Faro membantu Inneke untuk meluruskan kakinya karena sedari tadi Inneke tidur miring dan memegangi lututnya untuk menahan perutnya yang mulas.
Faro membuka selimut yang dipakai Inneke dan membuka baju hanya bagian perutnya, dengan telaten Faro mengompres perut Inneke menggunakan handuk kecil.
"Bagaimana sayang, sudah lumayan?" tanya Faro setelah beberapa kali Faro menempelkan handuk kecil di perut Inneke.
"Iya Bang terima kasih" balas Inneke singkat.
Datang bibi Jum dengan membawa minuman jahe hangat satu gelas gagang dengan menggunakan nampan.
"Bang, neng Keke ini wedang jahenya, di minum dulu, biar berkurang sakitnya" ucap bibi Jum lembut dengan meletakkan di meja rias yang ada di depan tempat tidur.
"Terima kasih bibi" balas Faro cepat.
"Sayang duduklah, Abang bantu ya, diminum wedang jahe hangatnya" Faro membantu Inneke duduk dan menyuapi wedang jahe menggunakan sendok sedikit demi sedikit.
"Sudah Bang nanti lagi" Inneke mendorong lengan Faro, kembali berbaring dan menyelimuti tubuhnya sampai ke perut.
"Bang bisa minta tolong kah?" tanya Inneke dengan mengusap dada Faro lembut.
"Apa sayang katakan saja?" Faro tersenyum manis karena tangan Inneke mulai jahil mengelus dadanya.
"E...e..e" Inneke ragu-ragu.
"Apa sih kok e..e ngomong aja, ini tangan kenapa membuat cobra jadi bangun lo Yang, sedangkan Abang harus libur satu Minggu" celoteh Faro membelai rambut Inneke.
"Maaf, bisa tolong belikan aku pembalut, soalnya tidak ada stok di rumah?" pinta Inneke sedikit ragu-ragu.
"Oooo itu baiklah, Abang belikan di supermarket dekat rumah aja ya, yang seperti apa, model dan merk nya?" tanya Faro sambil memakai celana panjang mengambil dompet, handphone dan kunci mobil.
"Nanti aku tulis lewat pesan WA saja jadi Abang tinggal minta kepada pegawai supermarket dengan menunjukkan pesan" titah Inneke mengirim pesan WA kepada Faro.
Sampai di supermarket Faro langsung memesan dengan menunjukkan pesan yang di tulis Inneke.
"Mbak bisa minta tolong ambilkan ini?"tanya Faro dengan menunjukkan pesan WA dari Inneke.
"Baik tunggu sebentar ya mas" pegawai itu berjalan mengambil pembalut yang diinginkan oleh Faro.
__ADS_1