Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
69. Kehilangan


__ADS_3

Tiga hari sudah berlalu sepulangnya dari Singapura Faro, Mario dan Conan bertemu untuk mendengar laporan selengkapnya tentang Andrew Hidayat.


"Ini bos laporannya silahkan di baca terlebih dahulu" Conan menyerahkan berkas kepada Faro tentang kejadian Andrew Hidayat.


Faro membaca dari lembar pertama, Andrew Hidayat masih muda memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat, sehingga serum itu hanya menyerang otaknya saja, sehingga setelah di operasi karena kecelakaan saat itu dia mengalami amnesia permanen, semua kemampuan menembak, sepak terjangnya selama ini dia juga sudah tidak mengingatnya lagi, bahkan namanya sendiripun tidak mampu dia ingat, kemampuan berpikir Andrew saat ini hanya seperti anak berusia sepuluh tahun.


Andrew Hidayat juga sudah tidak mengenali orang-orang yang ada di sekitarnya, bahkan ibu kandungnya sekalipun tidak di kenalnya, dokternya mengatakan ada kerusakan sel otaknya karena benturan hebat saat kecelakaan,. juga karena over dosis saat dia mengalami kecelakaan juga mempengaruhi hilangnya ingatannya.


"Mario sekarang elo sudah tidak punya saingan lagi sekarang" ucap Faro sekenanya.


"Kenapa tidak di tumbangkan aja bos seperti Ramos Sandara waktu itu" cicit Mario kesal mengingat kejadian dia menyakiti Ara.


"Beda-beda bro reaksi yang akan di terima tubuh saat terkena serum itu, jika badan fit dan umur masih muda maka hanya akan menyerang organ vitalnya saja, contohnya Andrew, hanya menyerang otaknya saja serum itu saat masuk ke dalam tubuhnya" keterangan Conan panjang dan lebar.


Mario dan Faro hanya menganggukkan kepalanya mendengar keterangan Conan yang mudah mereka fahami.


"Gue malah bersyukur, karena tidak harus merasa bersalah karena dia tidak tumbang, walaupun dia sudah membuat keluarga gue menderita" celoteh Faro sedikit lega bahwa Andrew Hidayat masih hidup walaupun menjadi pribadi yang berbeda.


"Gue jadi pingin lihat bos, seperti apa Andrew Hidayat sekarang?" Mario tersenyum membayangkan Andrew yang miliki badan kekar dan macho tetapi sikap dan pikirannya seperti anak berumur sepuluh tahun.


"waaah betul juga ya, seperti apa jadinya dia sekarang?" Faro ikut terkekeh hanya menayangkan saja.


"Bukannya paket honeymoon ke Malaysia dari ibu Meera masih ada bos, bagaimana kalau kita kesana sepertinya asyik?" saran Mario usil.


"Ogah tidak penting juga, nanti aja lagian akhir-akhir ini numpuk banget kerjaan kita" dengan mengibaskan tangannya Faro mulai mengambil berkas yang akan di tandatangani dan di periksa.


Selesai menyelesaikan laporannya dan meninggalkan kantor Faro, Conan pulang ke apartemennya, Mario kembali ke ruangannya sendiri untuk menyelesaikan tugas-tugas yang masih menimpuk demikian juga dengan Faro mulai berkonsentrasi pada pekerjaan yang seakan tidak ada habisnya.


Pulang kantor pukul empat sore, Faro membersihkan badannya sebentar dan menggunakan baju santai duduk di sofa panjang yang ada di kamar.


"Bang, aku mau belanja ke supermarket apakah Abang mau ikut?" tanya Inneke duduk mendekati Faro duduk di sampingnya.


"Iya Abang antar aja, jangan keluar sendiri" larang Faro, bergegas berganti baju dan menyusul Inneke yang sudah siap di teras.


Sampai di supermarket Faro mendorong troli, sedangkan Inneke memilih belanjaan yang di perlukan untuk kebutuhan sehari-hari, Faro juga tidak mau kalah memilih apa yang sekiranya di perlukan walaupun ini pertama kalinya Faro belanja di supermarket, saat masih sendiri semua kebutuhan sehari-hari Imma dan para bibi yang selalu menyediakan.


Karena saking asyiknya memilih-milih Faro tidak menyadari Inneke masih tertinggal di belakang, Inneke di tabrak oleh orang yang terburu-buru saat berjalan.


"Bruuk...aduh...." Inneke kaget dan terhuyung ke belakang.


"Maaf mbak, saya tidak sengaja, Inneke kamu Inneke kan apa kabarnya?" tanya laki-laki yang menabraknya dengan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Fajar...." Inneke sangat kaget tetapi belum sempat menyebut tangan Fajar untuk bersalaman, Faro berjalan mendekati mereka berdua dan dengan cepat Faro yang mengulurkan tangannya yang menyalami tangan Fajar.


"Kami baik-baik saja, maaf kami permisi" Faro sambil mendorong troli dan menarik tangan Inneke menjauh dari Fajar yang masih terbengong-bengong melihat Inneke pergi tanpa menjawab sepatah katapun.


"Sayang ada apa, apakah Abang masih cemburu dengan Fajar?" tanya Inneke sambil tersenyum melihat wajah Faro yang merah padam karena kesal.


"Siapa yang cemburu, Abang cuma kesal aja, Abang tidak suka jika ada orang yang memegang tangan ini" cabik Faro masih kesal dengan mencium tangan Inneke berkali-kali.


"Ciek..ciek... cemburu, bahagianya aku, suamiku sangat mencintai istrinya" Inneke mentowel hidungnya dan mengedipkan matanya.

__ADS_1


Inneke sudah mulai banyak mengenal sifat suaminya, jika sudah mulai merajuk hanya bisa luluh jika di rayu dan di berikan perhatian yang lebih.


"Sayang... apakah masih ingat saat Abang marah waktu saat Fajar memegang tanganku waktu itu" tanya Inneke sambil tersenyum simpul.


"Memang kenapa, Abang tahu karena saat itu Abang sudah melihat CCTV saat itu" cabik Faro cengar-cengir, karena memang tahu betul saat itu Inneke tidak bersalah.


"Idih.... Abang jahat, mengapa setelah itu Abang tidak menemui aku" Inneke menggelitiki perut Faro tanpa perduli orang memandang aneh pada mereka.


'Ampun...geli sayang iya...iya maaf, waktu itu kau tidak bersalah" Faro tertawa lepas.


Malam harinya lebih dari tengah malam, selesai Faro dan Inneke melakukan rutinitas olahraga malam, baru terlelap sekitar satu jam suara handphone menggema di kamar Faro, membuatnya terpaksa mengerjapkan matanya, melirik kearah jam dinding baru pukul dua malam, meraih handphone dan menekan tombol hijau dengan mata setengah terpejam.


"Halo... siapa ini?" suara Faro masih sedikit parau karena baru bangun tidur.


"Bro tolong gue, Erna ....dia,..hiks...hiks" suara Rendi dengan tangisan yang tertahan.


"Elo Ren, ada apa dengan Erna, elo dimana sekarang?" tanya Faro langsung membelalakkan matanya karena kaget.


"Gue di rumah sakit, tolongin gue please" suara Rendi yang masih dalam tangisnya.


"Ok gue kesana" Faro mematikan handphone dan ingin membangunkan Inneke.


Tetapi karena Faro berbicara di telepon sedikit keras Sebelum di bangunkan Inneke sudah mengerjapkan matanya, melirik Faro yang duduk di pinggir tempat tidur.


"Ada apa bang, perasaan aku baru terpejam, emang sudah pagi?' tanya Inneke dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Belum pagi sayang, baru jam dua, barusan Rendi menghubungi Abang, Erna ada di rumah sakit, ayo kita kesana" ajak Faro panik.


"Apa apa dengan Erna Bang?" tanya Inneke ikut khawatir dengan keadaan sahabatnya.


"Belum tahu sayang, kita mandi dulu baru kesana, bareng aja biar cepat" Faro langsung menggendong Inneke dengan bridal.


Mandi berdua dengan buru-buru, memakai baju dan switer yang senada, keluar kamar setelah mengambil kunci mobil, dompet, handphone menuju garasi mobil dengan cepat.


"Pak buka gerbang, kami mau ke rumah sakit" perintah Inneke kepada sekuriti yang sedang bertugas.


"Siap, siapa yang sakit bos?" tanya salah satu sekuriti sambil membuka gerbang.


"Rendi dan istrinya" jawab Faro singkat.


"Hati-hati bos" katanya lagi.


Tidak sampai satu jam Faro mengendarai mobilnya karena waktu sudah hampir menjelang pagi sudah sampai di rumah sakit, jalanan yang lengang memudahkan Faro menguasai jalan raya, tiba di parkiran Faro langsung memarkirkan mobilnya berlari menuju ruang operasi, melihat Rendi yang mondar-mandir di depan operasi, ayah dan ibunya yang tertunduk sedih membuat Faro menjadi tambah khawatir.


"Rendi.." panggil Faro, seketika Rendi memeluk Faro dengan erat dan terisak.


"Bro administrasi sudah beres" kata Mario dengan membawa berkas dari ruang pendaftaran yang ada di UGD.


"Bos, kapan datang?" tanya Mario ikut memeluk Faro dan Rendi dengan erat.


Inneke bergabung dengan ibunya Rendi duduk di bangku panjang dan memberi dukungan dengan memeluknya, datang dokter dari ruang operasi mendekati mereka.

__ADS_1


"Bagaimana istri dan bayi kami dok?" Rendi sangat khawatir.


"Maaf pak, kami tidak bisa menyelamatkan bayi anda, karena saat di operasi bayi anda sudah di panggil yang maha kuasa" keterangan dokter itu dengan sedih.


Rendi langsung lemas seakan tulang tercabut dari raganya, menangis tersedu-sedu kehilangan bayi yang di nantinya selama ini.


Saat suster sudah selesai memindahkan Erna ke ruang rawat inap VIP hanya dalam sepuluh menit Erna mengerjapkan matanya, bius yang sudah mulai hilang pengaruhnya saat operasi total tadi membuat Erna mulai bisa membaca situasi ketika melihat Rendi, ibu mertua dan Inneke menangis tersedu-sedu.


"Kak, ibu ada apa dimana bayiku?" tanya Erna dengan suara yang lemah.


"Maaf...maaf sayang, aku tidak bisa menjaga bayi kita, Allah lebih menyayangi bayi kita, dia sudah tenang di surga menunggu kita kelak" hibur Rendi dengan memegang tangan Erna dengan erat.


"Tidak,... tidak kenapa jadi begini kak?" Erna menangis sejadi jadinya diikuti oleh Rendi dan ibunya yang tidak bisa membendung air matanya yang sudah menganak sungai.


"Kalian harus ikhlas, jodoh, rejeki maut, pertemuan dan perpisahan itu semua rahasia ilahi yang tidak bisa kita hindari" nasehat ayah Rendi bijak.


Sebelum pulang bayi laki-laki yang terlihat pucat itu di peluk dengan erat oleh Erna dan di ciumnya berkali-kali sambil terisak, setelah itu digendong oleh Rendi dibawa pulang dengan ambulance diikuti oleh Mario dan Faro dari belakang.


Bersikeras ingin mengantar putranya ke tempat peristirahatan yang terakhir, Erna tetap tidak diijinkan oleh dokter untuk pulang karena kesehatan yang masih belum pulih, sehingga hanya pasrah di temani Inneke di rumah sakit.


Tiba sampai rumah sudah di sambut oleh ayah dan tetangga sekitar yang mengucapkan bela sungkawa, Dimandikan dengan tetap menggendongnya, dikafani dan di sholatkan Rendi tidak henti hentinya menangis tersedu-sedu.


Tetap di gendong oleh Rendi menuju makam yang tidak jauh dari rumah di dampingi Faro Mario, keluarga dan tetangga dekat.


Saat dimasukkan ke liang lahat Rendi dengan air mata yang menganak sungai di letakkan tubuh kecil bayi yang baru dilahirkan melalui operasi sesar itu dengan perlahan, di azani dan iqomah dengan suara yang bergetar Rendi berusaha tegar dan tidak ingin roboh di liang lahat putranya.


Di tutup satu persatu papan sampai selesai dan naik kembali, di tutupnya sedikit demi sedikit tanah dan dua kayu dengan tulisan nama dan waktu saat ini, terakhir doa dari ustadz semakin membuat hati Rendi seperti di sayat sembilu.


_______________________


Afwan.....


Maaf sahabat author...


Untuk hari Minggu ini author


tidak bisa Doble up karena


Satu keluarga, suami dan putriku


sedang isolasi dalam satu kamar


di sebuah rumah sakit di kotaku tinggal


Mohon doanya semoga keluarga kami


kembali sehat, tetapi jangan khawatir


tetap diusahakan up setiap hari


terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2