
Dengan kerja keras Conan, mommy nya Ara mendapatkan ijin tinggal selama satu tahun dengan alasan berobat, penampilan mommy juga sudah berbeda dari awal saat tiba di Jakarta, sekarang menampilkannya mencerminkan seorang wanita muslimah, mommy banyak belajar dari bunda.
Setelah satu Minggu Erna tinggal di rumah sakit hari ini diperbolehkan untuk pulang ke rumah, tetapi sayangnya baby Kano belum diperbolehkan untuk pulang, karena dalam dua Minggu ini berat badan bayi kecil itu bertambah hanya tiga ons saja.
Dokter anak akan mengijinkan baby Kano pulang sampai berat badannya 2,5 kg dan suhu tubuhnya sudah normal seperti bayi pada umumnya, karena saat baby Kano baru lahir jika cuaca dingin badannya akan menggigil dan bibirnya bergetar, kulitnya akan keriput setelah di ruangan yang hangat atau di dalam inkubator suhu tubuh baby Kano akan kembali normal.
Karena jarak rumah Rendi dan rumah sakit lumayan jauh akhirnya mereka berdua menginap di hotel yang ada di belakang rumah sakit, pada awalnya rumah sakit menyarankan untuk memompa ASI dan dikirim ke rumah sakit, tetapi karena setelah tiga hari kelahiran Erna langsung menyusui baby Kano sehingga bayi itu sering menolak jika diberikan ASI melalui botol dot.
Setiap dua atau tiga jam sekali Erna datang ke rumah sakit untuk menyusui baby Kano ditemani oleh ibu mertua atau mamak kandungnya secara bergantian, Rendi memesan tiga kamar hotel untuk Erna, Rendi, kedua orang tua kandung dan kedua mertuanya.
Hampir satu bulan di rawat di inkubator baby Kano memiliki berat badan 2,6 kg, suhu tubuhnya sudah normal seperti bayi pada umumnya, baru diperbolehkan pulang.
Dua Minggu setelah kepulangan baby Kano Rendi mengadakan acara syukuran dan aqiqah secara besar-besaran, bahkan melebihi acara resepsi pernikahannya sendiri saat di Bandung.
Bahkan Rendi sampai mengundang fotografer terkenal untuk mengabadikan momen baby Kano beserta dua anak sahabatnya yaitu Rafael dan Cello.
"Elo mau aqiqah anak atau mau nikahin anak sih, kenapa sebesar ini acaranya?" cabik Faro duduk bertiga dengan sahabat karibnya saat acara belum dimulai.
"Enak aja, anak baru berumur empat puluh hari lebih dikit dinikahkan, yang ada gue nanti dikiranya yang nikah lagi" Rendi cemberut mengerucutkan bibirnya kesal bukannya dipuji malah dicela.
Mendengar umur baby Kano sama dengan waktunya nifas selesai otak Mario mulai mesum, memajukan badannya mendekati Rendi dan berbisik.
"Bro, apakah sudah buka puasa, bagaimana rasanya setelah lama tidak masuk gua? dengan mengedipkan matanya, hanya mengingat aksi Mario saat buka puasa saja sudah membuat otaknya traveling kemana-mana.
"Ooooo iya gue lupa ini sudah lebih dari empat puluh hari ya, he he he gue lupa" Rendi menepuk dahinya dengan keras.
"Waaaah rupanya sudah tidak berfungsi pedangnya, karena terlalu lama di anggurin"
ledek Faro ikut menimpali candaan Mario.
"Sembarangan, apa perlu gue buktikan bermain didepan elo berdua?, bukannya gue tidak ingin, gue takut robek perutnya kalau gue genjot, elo tidak ingat dua kali bini gue dibelah perutnya" Rendi merasa ngilu jika mengingat Erna kalau sedang meringis jika bergerak atau melakukan aktivitas fisik.
Tamu datang silih berganti, dikediaman Rendi untuk memberikan ucapan selamat atas kelahiran putranya walau lahir prematur tetapi sekarang baby Kano dalam keadaan sehat dan aktif seperti bayi pada umumnya.
____________________
Keesokan harinya baby El jadwalnya kembali imunisasi di rumah sakit pukul sepuluh pagi, tetapi sayangnya Faro tidak bisa mengantar putra dan istrinya, semenjak bekerjasama dengan perusahaan HASH CORP Faro banyak sekali pekerjaan yang menyita waktunya.
__ADS_1
"Sayang, gantengnya Papi maaf hari ini tidak bisa ngantar ke rumah sakit ya, El jangan nakal nanti diantar grandma dan Enin, sore Papi baru bisa pulang, Papi harus bertemu klien di Bandung" nasehat Faro saat pamit berangkat kerja dengan mengusap pipinya mencium dahi Rafael dan Inneke bergantian.
"Iya Papi hati-hati, kalau sudah selesai pekerjaannya cepat pulang, we love you" Inneke menirukan suara anak kecil seolah olah itu suaranya Rafael.
Faro berangkat ke kantor, tidak berselang lama umi dan bunda datang bersamaan.
"Sayang grandma dan Enin datang, bagaimana sudah siap?" Imma langsung menggendong Rafael saat dia ada di gendongan bibi Jum.
"Baby El sudah siap, tetapi Mami masih mandi grandma" jawab bibi Jum menirukan suara anak kecil seolah suara Rafael.
"Waduh Mami lambat ya sayang?" bunda mentowel pipi Rafael, dan bayi kecil itu tersenyum menggemaskan.
"Ayo Mami sudah selesai, siapa bilang lambat, ayo kita berangkat?" Inneke keluar dari lift dengan menggunakan dress sederhana tetapi membuatnya semakin anggun dan cantik.
Berangkat ke rumah sakit dengan ditemani oleh umi dan bunda juga dikawal seperti biasa, dalam satu jam sampai di rumah sakit bertemu dengan dokter anak untuk melakukan imunisasi.
Selesai imunisasi bunda dan umi tetap menjaga Rafael untuk memastikan jika bayi itu baik-baik saja, imunisasi terkadang akan menimbulkan efek demam kepada sebagian bayi, itulah sebabnya umi dan bunda memutuskan untuk tetap tinggal dan menginap di rumah Faro.
Baru menjelang tenggelam sang Surya kearah barat, Rafael sudah mulai rewel padahal badannya tidak panas, selalu merengek dan rewel walaupun tidak melengking tinggi suara tangisannya tetapi tidak mau turun dari gendongan, hanya berpindah dari Mami, bibi Jum, umi dan bunda.
Saat menghubungi Mario walaupun handphone aktif tetapi dalam keadaan sibuk dan pada panggilan lain, sudah hampir satu jam menghubungi Mario tetap saja tidak bisa karena dalam panggilan lain.
"Apa sih yang dibicarakan, sudah hampir satu jam handphone selalu sibuk si alan" Inneke membanting handphone itu ditempat tidur dengan kasar.
Setelah mencoba lebih dari sepuluh kali akhirnya Mario mengangkat telepon dari Inneke.
"Halo Bu bos maaf---" baru Mario ingin membuka pembicaraan tetapi sudah ada suara yang memotong ucapannya dengan suara menggelegar.
"Sudah aku hubungi lebih satu jam sibuk terus apa sih yang dibicarakan, kenapa handphone bosmu tidak bisa dihubungi, kamu tahu kami sedang cemas sekarang" dengan suara berapi-api Inneke berbicara dengan tersengal-sengal.
"Bu bos maaf, aku .....aku....." Mario sampai gugup karena baru sekali ini mendengar istri dari bosnya itu naik pitam.
"Sudah jangan loading berikan handphonenya kepada Bang Faro" bentak Inneke dengan suara lebih meninggi.
"Baik.... baiklah sebentar Bu bos" Mario hanya pasrah, memandang Faro yang ada di sampingnya yang sedang fokus membaca dokumen yang dipegangnya.
Mario mendekati Faro dan berbisik di telinganya dengan sedikit gugup " bos, Inneke ingin berbicara, sepertinya ada yang penting, dia seperti macan yang akan mengkoyak kulit gue, ini bicaralah cepat" Mario menyerahkan handphone itu dengan cepat.
__ADS_1
"Maaf bapak-bapak saya permisi sebentar" Faro berdiri mendorong kursi kebelakang dan bergegas keluar dari ruangan meeting.
"Ya halo---"
"Abang....."suara Inneke membentak dengan keras sampai Faro menjauhkan handphonenya dari telinga.
"A..ada---" dipotong lagi oleh Inneke saat Faro ingin menjawab.
"Kalau tidak bisa menepati janji kepada Rafael setidaknya bisa mengabari atau telepon apa susahnya sih, Rafael nangis terus tidak mau tidur, tidak mau minum ASI, hanya merengek dan tidak mau turun dari gendongan" sampai memuncak kemarahan Inneke gara-gara hampir dua jam tidak bisa menghubungi suaminya
Faro hanya menepuk dahinya, baru teringat tadi pagi janji jika sore hari akan segera pulang, sekarang sudah hampir pukul sembilan malam tidak mengabari putranya karena sibuk meeting dengan klien yang ternyata waktunya molor sampai malam belum menemukan kesepakatan kerjasama.
"Maaf Mami, sekarang Abang vedio call ya, coba handphonenya diarahkan ke Rafael" Faro merasa bersalah ternyata walaupun berjanji dengan bayinya, orang tua harus berusaha menepati janjinya.
"Halo gantengnya Papi, maaf Papi tidak bisa pulang sore" mendengar suara Faro, Rafael menoleh kearah kanan dan kiri mencari suara papinya.
"Sayang Papi disini" Faro melambaikan tangannya menganggukkan kepalanya berinteraksi, Rafael bergumam ah ih uh seolah olah berbicara dengan papinya kenapa belum pulang.
"Gantengnya Papi dengar ya, maaf Papi Belum selesai meeting, nanti kalau sudah selesai Papi langsung pulang, jangan bobok dalam keadaan perut kosong, mimik ASI dulu sama Mami baru bobok, tidak boleh rewel lagi" Faro tetap sambil berbicara sambil menganggukkan kepalanya diikuti Rafael yang terus bergumam dengan bahasa planet tak seorangpun yang tahu artinya.
"Sudah malam bobok ya sayang, jangan membuat Mami susah, da...da.. ganteng, Papi sayang Rafael dan Mami" kembali Faro melambaikan tangannya untuk berpamitan.
"Mami mungkin teng----" baru Faro ingin melanjutkan berbicara dengan Inneke, dimatikan langsung oleh Inneke tanpa berkata apa-apa.
"Sudah bunda dan umi istirahat, setelah minum ASI palingan Rafael tidur, sudah lega mendengar suara papinya, malam grandma, Enin baby El bobok dulu ya" Inneke meraih Rafael dari gendongan bunda, memegang tangan Rafael melambaikan tangan bersama dengan suara anak kecil.
"Da...da sayang istirahat ya, jangan nakal, dasar anak Papi gemas, deh" Imma menciumi pipi Rafael kanan dan kiri dengan gemas.
"Enin juga istirahat ya da...da sayang" bunda juga mencium pipi Rafael dengan gemas.
Sampai kamar dengan cepat Rafael minum ASI dengan lahap, langsung terlelap dipangkuan Inneke setelah perutnya kenyang, dibaringkannya di box bayi, baru Inneke merebahkan tubuhnya kamar Rafael di tempat tidur singgel bad yang ada disamping box bayi yang biasa untuk mengganti bobok Rafael, langsung terlelap karena tidak dipungkiri badan terasa remuk redam ditambah emosi jiwa karena suaminya susah dihubungi.
Sedangkan setelah diputuskan sepihak oleh Inneke vedio call tadi Faro galau berat, bergabung kembali di ruang meeting, tetapi Faro menjadi tidak konsentrasi dengan meeting nya karena memikirkan istrinya yang sedang merajuk.
"Apa apa bos, kenapa gelisah begitu?" bisik Mario di telinga Faro karena sedari tadi dilihat Faro duduk dengan gelisah dan tidak mendengarkan anggota meeting mengeluarkan pendapat.
"Entahlah gue jadi gagal fokus, gue ke toilet sebentar ya, pusing gue, elo aja yang melanjutkan meeting nya, sini pinjam handphone elo lagi" Mario memberikan handphonenya dan Faro keluar dari ruang meeting meminta ijin ke toilet sebentar.
__ADS_1