
"Bruuuk..aduh, kalau jalan pakai ma-----" Susi tidak melanjutkan ucapannya setelah melihat siapa yang ditabraknya.
"Kamu mau ngomong apa hah?, tidak ada sopannya sama sekali sama orang tua, lagian juga nich kamu mau kerja jadi art atau mau ke club malam, bibi Jum....bibi...!" teriak Mama Meera marah melotot dan menarik rok Susi yang belahannya sampai diatas lutut dan kaos tak berlengan.
Susi menunduk tidak berani melihat Mama Meera yang naik pitam, sedangkan bibi Jum berlari kecil dari arah dapur mendekati mereka.
"Ada apa Bu?" dengan suara nafas yang tidak beraturan bibi Jum mendekati Mama Meera.
"Urus nich perempuan ganjen, ajari sopan santun, ajari juga pakai baju yang sopan" bentak Mama Meera lagi, padahal selama ini dia jarang memarahi para bibi, selalu berbicara dengan sopan.
"Iya Bu maafkan Susi, ayo ikut cepat!" bibi Jum menarik tangan Susi kebelakang keluar melewati pintu dapur tetap menariknya sampai rumah belakang dimana semua pegawai tinggal dan mendorong lagi sampai terduduk di samping bibi Narti yang sedang istirahat.
"Bibi lihat kelakuan anakmu, baru dua hari disini sudah dua kali membuat ulah, sampai membuat Bu Meera marah" kata bibi Jum dengan kesal.
"Ya Allah nduk, baju apa ini yang kamu pakai, ganti sana jangan buat ibu malu" dengan lirih bibi Narti berucap sambil memegangi bekas luka tusuk diperutnya yang terasa nyeri.
"Sebaiknya suruh pulang aja dia ke kampung, membuat malu aja, awas sekali lagi saya tidak segan-segan lapor pada bos besar" ancam bibi Jum meninggalkan tempat itu dengan raut wajah yang masam.
Mama Meera kembali masuk rumah karena kesal gara-gara tingkah Susi, padahal niatnya ingin mengunjungi bunda yang sedang berada di restauran miliknya.
Sambil masih cemberut naik ke lantai atas dengan lift dan bertemu Inneke sambil menggendong Rafael.
"Ada apa Oma, kok wajahnya ditekuk begitu?" celoteh Inneke memandangi wajahnya yang kusut.
"Ma....ma..ma.." Rafael juga ikut mengoceh tangannya meraih Mama Meera ingin digendong.
"Sini gendong Oma ya sayang" Mama Meera meraih Rafael menggendong dan menciumi pipi Rafael dengan gemas diikuti tawa Rafael dengan renyah.
"Itu anaknya bibi Narti ganjen banget, kasar lagi ngomongnya" kembali Mama Meera mengeluarkan unek-uneknya dengan sedikit kesal.
Inneke terkekeh, tidak pernah melihat mama Meera marah, setelah datangnya Susi banyak yang tidak nyaman karenanya.
"Sepertinya dia lagi cari perhatian sama papinya Rafael Mama, dari kemarin juga selalu bikin ulah" Inneke akhirnya juga bercerita tentang kejadian saat dimeja makan dan saat Faro mau berangkat kerja.
"Bagaimana kalau kita kerjain dia?" usul Mama Meera dengan berbisik.
Dengan tertawa lepas Inneke mengangguk setuju "Boleh juga Mama, tetapi Bang Faro ilfil melihat dia, jangan melibatkan dia Mama".
"Ya tidak seru kalau Abang tidak ikut" dengan mengerucutkan bibirnya Mama Meera berjalan menuju lift turun keruang keluarga.
"Tetapi nanti aja Mama ngerjain dianya, hari Jum'at sore kita wisata ke perkebunan, Minggu sore baru pulang".
"Waaaah benarkah, siapa saja yang ikut, Mama pingin ketemu cucu yang di kampung?".
"Kita aja Mama, tambah trio cabe-cabean" Inneke tersenyum memberikan nama ketiga adiknya.
"Siapa trio cabe-cabean itu, namanya kok aneh?".
__ADS_1
"Itu Mama, Ezo, Rayhan dan Bagas" dengan tertawa lepas Inneke menyebutkan nama adiknya yang selalu usil.
"Dimana suamimu sekarang, kenapa tidak turun?".
"Ada diruang kerjanya, malas Mama suruh turun, ilfil sama anaknya bibi Narti katanya, Oya kalau Mama capek nanti Rafael berikan bibi Jum aja ya Ma, aku mau membawakan teh buat Abang" Inneke meninggalkan Mama Meera pergi ke dapur untuk membuat teh untuk suaminya.
Tetapi ternyata ada Susi yang sudah membuat teh di dapur, tetapi Inneke mendekati bibi Tini dan tersenyum manis.
"Bibi aku mau buat jus mangga kesukaan suamiku, apakah masih ada mangganya?" tanya Inneke sambil membuka pintu kulkas.
"Masih ada neng di kulkas sini aku bantu" bibi Tini mengambil pisau akan mengupas mangga, saat bersamaan Susi berjalan naik melalui tangga dengan membuka pintu tangga sedikit melirik Inneke.
Inneke mengetahui jika Susi naik ke atas ingin memberikan teh buatannya untuk Faro, bergegas Inneke mengirim pesan WA kepada suaminya.
"Sayang awas ada lalat pengganggu membawa teh manis, jangan dibuka pintunya, sebentar lagi aku keatas bawa jus mangga kesukaan Abang" tulisan itu ternyata langsung di read olehnya.
"Beres..... segera datang, Abang haus!" balas Faro cepat.
Dibantu mengupas mangga oleh bibi Tini mempercepat pembuatan jusnya, tinggal mengambil es batu dan susu kental jus itu selesai.
"Terima kasih bibi, aku bawa dulu ya" Inneke sedikit berlari menekan tombol lift dan masuk, keluar dari lift melihat Susi mengetuk pintu kamar.
"Kamu mau cari siapa mbak Susi?" tanya Inneke pura-pura tidak tahu.
"E..e itu neng, ini saya buatkan teh manis buat Bang Faro" jawab Susi gugup.
"Maaf Mbak Susi, suamiku tidak suka teh manis, apalagi buatan orang lain, dia hanya mau jika buatan istrinya saja, sebaiknya kamu turun aja pekerjaan bibi Narti ada dilantai bawah, bibi Narti tidak pernah naik kelantai atas kecuali dipanggil, ini juga berlaku untuk kamu" Inneke berkata dengan penuh penekanan dan tatapan yang tajam.
"Maaf saya hanya--" Inneke meninggalkan Susi dengan menunjukkan telunjuknya di mulutnya untuk diam, dan berlalu menjauhi Susi yang masih terbengong-bengong.
"Sayang ini jus mangga kesukaannya" teriak Inneke dari luar, dan pintu ruang kerja terbuka dengan cepat.
Inneke masuk dan pintu langsung dikunci oleh Faro, Susi mendekati ruang kerja Faro perlahan dan menempelkan telinganya dipintu ingin mendengar apa yang dibicarakan didalam ruangan itu.
"Ayo minum dulu sayang katanya haus" Inneke menyodorkan gelas yang berisi jus mangga.
Tetapi Faro mendorongnya dipintu dan mendekapnya serta ******* bibirnya dengan penuh gairah.
"Hhmmm.... sayang sebenarnya haus apa sih, sampai aku tidak bisa bernafas" kata Inneke mengalungkan tangannya di leher Faro dan mengulangi lagi mencium dengan suara yang sengaja dibuat lebih keras, karena Inneke tahu pasti Susi sedang menguping dibalik pintu.
Desahan Inneke saat Faro mulai turun memberikan tanda kissmark dileher, membuat Faro heran, biasanya dia mendesah setelah Faro mulai mendaki ujung gunung kembarnya.
Membuat Faro berhenti dan memandangi wajah Inneke dengan intens, karena Inneke mengetahui Faro ingin bertanya langsung Inneke memeluk dan berbisik di telinganya.
"Ada lalat pengganggu dibalik pintu" kembali lagi Inneke mendesah dan menarik wajah Faro ke dadanya yang sengaja sudah dibuka tiga kancing bajunya.
"Oooo..." Faro langsung melahap dan menghisap ujung gunung kembar itu diikuti desahan manja suara Inneke.
__ADS_1
"Ayo kita lanjutkan di kamar sayang, kurang asyik kalau kita nempel aja dipintu" suara Faro sengaja keras agar Susi mendengarnya.
Faro pelan-pelan membuka handel pintu, ada suara langkah kaki yang berlari menjauhi pintu, Faro dan Inneke tertawa lepas karena sudah membuat Susi panas dingin.
"Sudah sana lanjutkan kerjaan Abang, aku mau cari Rafael" Inneke ingin keluar dari ruangan kerja tetapi tangannya dipegang erat oleh Faro.
"Sayang ini kobra sudah terbangun, mana bisa tidur lagi, ayo kita lanjutkan sebentar aja please" rengek Faro dengan suara manja.
Akhirnya Inneke melayani hasrat suaminya yang sudah memuncak, tidak dipungkiri Inneke juga sudah terpancing sebetulnya saat permainan tadi, setelah setengah jam permainan mereka sampai klimaks mandi bersama dan turun kelantai bawah untuk mencari Rafael dan makan malam bersama.
Duduk berdua berdampingan dengan rambut yang sedikit basah membuat tatapan Susi tidak bisa diartikan dari dapur dan tidak berani mendekati meja makan karena sudah diancam oleh bibi Jum.
Bergabung Mama Meera dan Rafael dimeja makan, makan bersama dengan lahap, Rafael tidak mau disuapi makan sendiri walaupun belepotan kemana-mana makanannya, sedangkan Faro tetap saja bersikeras menyuapi istrinyanya seperti biasa, semakin panas hati Susi melihat orang yang disukainya bermesraan didepan matanya.
Setelah selesai Faro dan keluarga makan malam, naik kembali kelantai atas, baru seluruh pegawai makan bersama dimeja makan besar khusus untuk pegawai yang berada di samping dapur basah.
Dengan akrab mereka makan bersama menu makanan sama seperti yang dimakan oleh Faro sekeluarga hanya waktu dan tempat saja yang berbeda.
Susi makan dengan diam tanpa ikut bercanda dengan seluruh pegawai Faro, hatinya masih sakit karena susah mendekati bos ibunya, tetapi sekuriti yang tadi sore sudah kesengsem melihat penampilan Susi duduk mendekatinya dengan senyum terbaiknya.
"Ha cantik, kenapa makannya dengan muka yang ditekuk begitu, apakah tidak cocok lauknya?" tanya sekuriti muda yang bernama Yono duduk disebelah Susi.
"Hmmm" Susi tidak menjawabnya.
"Eeee kok hm aja sih awas hilang lo cantiknya, mas jadi susah dimana mencari cantik itu?" rayu Yono lagi dengan menggeser posisi kursi mendekati Susi.
"Permisi saya sudah selesai makan" Susi berdiri dan berjalan keluar menuju kamar bibi Narti yang sedang makan di kamar.
"Cepat banget ini nasinya masih banyak habiskan dulu" teriak Yono tetapi Susi terus berjalan keluar tanpa memperdulikan teriakan Yono.
"Kejar dong Yono!" teriak sekuriti yang duduk dipojokan.
"Pepet terus, jangan dikasih kendor Yon".
"Eeee malah bengong, sana kejar" dengan cepat Yono berlari menyusul Susi keluar tetapi sayangnya dia sudah masuk kamar dan menutup pintu, Yono akhirnya hanya duduk di depan pintu kamar Susi terdiam dengan memandangi pintu itu berharap Susi membuka pintu.
Kembali bergabung dengan teman teman yang sedang makan, mengambil makanan dan melahapnya, tidak memperdulikan ledekan temannya yang terkadang membuat telinganya panas.
"Wes angel....angel... kalau sudah jatuh cinta rasa sambal aja menjadi manis".
"Hati hati Yon, saingannya berat, sepertinya seleranya kakap dia".
Banyak lagi celoteh mereka ada yang meledek ada juga yang menyemangati, begitulah jika mereka sedang berkumpul, walaupun meledek tetapi tidak ada yang tersinggung karena memang hanya bercanda untuk membuat suasana menjadi lebih akrab.
"Kalau memang kamu serius kejar aja Yon, kakapnya tidak bakalan juga mau sama Susi, tetapi kalau kamu ragu sebaiknya mundur, terus terang Susi itu anaknya matre" terus terang bibi Jum menasehati Yono dengan bijak.
"Ya bibi nanti aku pikirkan lagi sebelum jauh melangkah, Oya bibi apa betul dia itu sudah pernah menikah?" tanya Yono ragu-ragu.
__ADS_1
"Iya betul Yon, makanya bibi bilang pikirkanlah dua kali jika ingin mendekatinya".