Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
144. Pertemuan Achara dan Thora


__ADS_3

Satu bulan setelah pulang dari Singapura Cello sudah mulai bisa bermain seperti sedia kala, selama tujuh hari Mario dan Ara mengirim doa untuk orang tuanya dihadiri oleh keluarga, teman dan tetangga sekitar.


Setelah satu bulan ini juga Ara mendapatkan kabar bahwa Thora Thanapon menghuni jeruji besi selama 20 tahun, Thora meminta dan memohon ke pihak berwajib untuk bertemu dengan kakak sepupunya yaitu Phi Achara hanya sekedar ingin minta maaf tetapi tidak terkabul, karena Ara menolak untuk menemuinya.


Anak buah Thora yang masih bebas sudah mencari keberadaan Ara tidak menemukannya sama sekali di Singapura, tidak menemukan tanda-tanda jika dia keluar dari negara Singapura.


Tetapi Thora tidak putus asa berniat ingin bertemu Ara, karena dia mengetahui jika kakak sepupunya itu tinggal di Indonesia karena kesalahan penculikan itu akhirnya mengirim pengacara untuk menemui Ara berkali-kali dengan melacak keberadaan sekolah Cello.


Asisten almarhumah mommy juga beberapa kali menghubungi Ara untuk menyelesaikan wasiat dan warisan yang masih belum terselesaikan.


Mario mengumpulkan kedua sahabatnya dan Jenderal Hendro untuk meminta pertimbangan tentang permintaan Thora yang ingin bertemu.


"Sudah berapa kali pengacara itu menemui Ara?" tanya Faro kepada Mario saat mereka sudah berkumpul di rumah Faro.


"Sudah empat kali, katanya besok pengacara itu akan menemui Ara lagi sebelum pulang kembali ke Singapura" jawab Mario.


"Jenderal apakah boleh saya minta tolong?" gantian Mario menengok kearah Jenderal Hendro yang duduk disamping Faro.


"Bantuan apa?" jawabnya cepat.


"Bisakah melindungi istri saya agar tidak tercium media saat bertemu dengan Thora dan asisten almarhumah mommy?" pinta Mario dengan penuh harap.


Emang kenapa bro, apakah ada yang mencari atau dendam dengan istri elo?" tanya Rendi.


"Banyak media yang sedang mencari keberadaan putri kandung ketua mafia se-Asia tenggara sampai sekarang, karena waktu kremasi jenazah Theo saat itu Ara tidak hadir".


"Apakah itu berbahaya?" tanya Rendi lagi.


"Tentu bro, masih banyak anak buah dari Theo untuk mencari informasi tentang Ara dan ingin mereka menarik Ara untuk melanjutkan jejak ayah kandungnya" Faro ikut memberikan keterangan.


"Baiklah kapan akan berangkat hubungi aku, nanti biar diatur oleh pihak kepolisian Singapura, maaf ada panggilan darurat, aku pamit duluan ya!" Jenderal Hendro pamitan terlebih dahulu karena dipanggil oleh atasannya tentang kasus rahasia pemerintah pusat.


Kemudian Rendi juga ikut pamit pulang karena mendapatkan kabar jika ibu mertuanya yang ada di Bandung sedang sakit, sekalian berpamitan akan berangkat kesana beberapa hari untuk menjenguk keluarga di Bandung.


Tinggal berdua Faro dan Mario saja duduk di ruang tamu membahas langkah selanjutnya.

__ADS_1


"Sebaiknya menggunakan helikopter aja kesananya, jangan menggunakan pesawat komersial, takut terendus media" saran Faro dengan bijak.


Baiklah, Oya bos bolehkah gue minta serum itu sedikit aja?" pinta Mario ragu-ragu.


"Untuk siapa?".


"Untuk Thora, maksud gue setelah bertemu dengan Ara, sebaiknya dia dibuat amnesia agar setelah bebas nanti dia tidak mengingat jika dia pernah menjadi ketua mafia".


"Boleh juga, nanti gue bicarakan dulu dengan detektif Conan, seberapa dosis yang perlu diberikan kepada kampret kurang ajar itu" dengan kesal Faro menyebut Thora dengan sebutan yang kurang sopan.


"Kenapa elo memberikan julukan seperti itu?" dengan tersenyum defil Mario mendengar Faro kesal.


"Apalagi julukan yang pantas untuk nya jika bukan kampret?" jawab Faro ketus.


Satu Minggu setelah pertemuan itu, jenderal Hendro sudah mengatur semua pertemuan antara Thora dan Ara, baik dari helikopter, penginapan jadwal pertemuan dengan asisten almarhumah mommy dan perwakilan keluarga mommy yang berada di perbatasan Singapura Kalimantan semua diatur oleh kepolisian Singapura atas permintaan jenderal Hendro.


Sebetulnya ini juga akan menguntungkan pemerintah Singapura juga karena dengan tidak diketahui keberadaan Putri dari ketua mafia se-Asia tenggara akan meredakan gejolak kejahatan dan menurunkan tingkat kejahatan dan peredaran narkoba di wilayah Singapura.


Kerena sebagian besar anak buah Theo Thanapon tidak ada yang berani maju menjadi ketua mafia sebelum Thora mengundurkan diri, hanya Thora saja yang tetap bisa mengendalikan pergerakan dunia hitam walaupun dia berada di balik jeruji besi.


Sampai di Singapura Mario dan Ara menginap di markas intelejen Singapura, tanpa diketahui oleh media, bahkan pengacara dari Thora juga tidak mengetahui jadwal kedatangan dari Ara yang pengacara itu ketahui jika pagi pukul sepuluh pagi Ara dan suami akan menemui Thora di tahanan dengan syarat tidak mau dipublikasikan.


Tepat pukul sepuluh waktu Singapura Ara dan Mario menemui Thora, Ara menggunakan nama aslinya yaitu Achara Thanapon dalam daftar kunjungan ke lapas, menggunakan masker kacamata hitam kerudung hitam dan pakaian yang sederhana, demikian juga dengan Mario menggunakan stelan kemeja hitam, masker kacamata hitam dan topi akan susah dikenali jika melihatnya, pengacara juga tidak boleh mendekati saat mereka sedang berbicara, walaupun pengacara itu sudah pernah melihat wajah Ara tetapi dia juga tidak berani menyebarkan informasi kepada khalayak umum ini sudah menjadi perjanjian awal dengan Thora Thanapon.


"Selamat pagi Phi Ara apa kabar?" tanya Thora mengawali pembicaraan saat Thora baru datang dari sel tahanan dan duduk didepan Ara dan Mario.


"Pagi, kami baik" singkat jawab Ara.


"Apa yang membuat kamu ingin sekali bertemu dengan aku?" tanya Ara dengan tatapan mata yang tajam.


"Saya hanya ingin menyampaikan pesan dari grandaddy, Phi beliau sudah bertahun tahun mencari anda" Thora menatap Ara dengan mata berkaca-kaca.


"Apa pesan itu sangat penting?" Ara mengalihkan pandangannya kepada Mario dan menggenggam tangan itu dengan erat.


"Phi Ara diharapkan meneruskan jabatan grandaddy sebagai ketua" sedikit ragu-ragu sambil melihat ekspresi Mario yang kaget.

__ADS_1


"Apa....?" pekik Ara dan Mario bersamaan.


Sampai pengunjung dan penjaga lapas yang asa disekitar mereka terperanjat kaget, sampai ada salah satu pengunjung meletakkan jari telunjuknya di bibirnya "ssssst".


"Maaf" kedua tangan Mario dilipatkan dadanya untuk meminta maaf.


"Dengar adikku, sejak pertama kali aku mengetahui profesi dari Daddy, aku sudah menarik diri dari semua yang berhubungan dengan beliau, jangankan bergabung aku tidak pernah menikmati sedikitpun kekayaan Daddy, karena prinsip kita sudah berbeda, apalagi aku sudah berpindah agama dan menikah dengan suamiku yang seiman" keterangan Ara panjang lebar.


"Tapi Phi semua harta warisan peninggalan grandaddy adalah hak Phi Ara" Thora masih meyakinkan agar kakak sepupunya mau melaksanakan wasiat yang ditinggalkan olehnya.


"No...no...big no no, satu dolar pun aku tidak akan menikmati hasil warisan dari Daddy, silahkan kamu atur sendiri, kamu bagikan ke seluruh keluarga Daddy,


Mata Thora sampai membulat sempurna mendengar Ara tidak berminat sama sekali harta peninggalan dari daddy-nya, padahal harta itu sangat melimpah mungkin bisa dinikmati sampai tujuh turunan.


"Tapi Phi, peninggalan grandaddy yang dipersiapkan oleh Phi Ara sangat---" Thora tidak sempat melanjutkan ucapannya karena dipotong oleh Ara.


"Stop stop adikku, tujuan aku kesini bukan untuk menerima warisan, aku lebih memilih hasil kerja keras kami sendiri, aku terutama suamiku ini tidak mau mencari nafkah dengan cara yang tidak sesuai dengan agama kami, jadi mohon jangan paksa aku melaksanakan amanah dari Daddy, kamu juga punya istri yang seiman seperti kami bukan?" jawab Ara lagi dengan suara yang meninggi.


"Jadi mengapa Phi Ara menemui aku jika menolak amanah dan peninggalan dari grandaddy?" Thora sangat tidak mengerti ada orang yang tidak mau menerima harta warisan yang begitu banyak.


"Bukannya dari kemarin kamu yang memaksa ingin bertemu denganku?, satu lagi jangan kaitkan semua urusan Daddy dengan kehidupan kami untuk kedepannya nanti" dengan kesal dan mulai emosi Ara.


"Baby calm down, tenanglah" hibur Mario memeluk Ara dan mengusap lengannya dengan lembut.


"Sudahlah, ayo hubby kita pulang saja dan satu lagi adikku, setelah ini aku akan menemui asisten dan pengacara mu, aku akan membuat hitam diatas putih yang menyatakan aku tidak akan mengambil satu dolar pun harta Daddy maka dari itu jangan sangkut pautkan aku dengan semua bisnis dan organisasi dari Daddy, kamu faham?".


Hanya anggukan kepala saja akhirnya Thora Thanapon mengakhiri pertemuan dengan kakak sepupu angkatnya, walaupun hampir tidak percaya dengan pemikiran saudaranya itu telah menolak seluruh harta warisan yang ditinggalkan oleh ayah kandungnya.


Terakhir sebagai tanda perpisahan Ara mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Thora, diikuti oleh Mario juga ikut mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Tetapi dalam salaman Mario ada serum yang di selipkan diantara jarinya langsung otomatis tertancap di telapak tangan Thora tanpa bisa dihindari lagi olehnya, Thora sedikit kaget seperti ada semut yang menggigit tangannya saat bersalaman dengan Mario, saat dengan cepat Thora menarik kembali tangannya dan memeriksa tidak ada apapun, Mario membungkuk tanda hormat berjalan dari tempat itu menyusul Ara yang sudah duluan keluar lapas untuk menemui pengacara dan asisten Thora yang sudah menunggunya diluar lapas bersama orang intelejen yang ditugaskan khusus untuk mengawal Ara dan Mario.


Thora di kawal kembali masuk kedalam lapas, dengan sedikit melamun, ada banyak sekali pertanyaan didalam benaknya mengenai Ara, tetap tidak habis pikir masih adakah orang yang tidak mau harta dan kekayaan serta kedudukan yang tinggi, sedangkan dirinya mati-matian berusaha kerja keras untuk bisa mendapatkan kedudukan ketua itu hampir tujuh tahun terakhir tetapi grandaddy masih berharap menemukan putrinya untuk melanjutkan kepemimpinannya.


Lapas kelas satu yang ditempati Thora ada di lantai tiga, Thora menaiki tangga dengan tetap melamun, tangga lantai pertama lancar diikuti oleh dua pengawal dari belakang, tangga lantai kedua sedikit tersandung setelah sampai dilantai tiga tangga paling atas kaki Thora seperti melayang tidak mendapatkan pijakan dan menggelinding jatuh dengan menabrak dua pengawal juga ikut menggelinding sampai bawah dan parahnya lagi kepada Thora terbentur tembok dan tertindih dua orang pengawal sekaligus.

__ADS_1


"Aaaaaaaarrrgggh" suara ketiga orang itu menggema diseluruh ruangan lapas.


__ADS_2