Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
15. Penyelidikan Faro


__ADS_3

Kabar penyerangan seorang siswi SMU negeri ternama bersama Safia dan di bantu oleh seorang pemuda bernama Jasson itu semakin tersebar luas baik di media sosial, media cetak maupun televisi nasional.


Setelah sampai markas intelejen sudah hampir senja, tinggal sekuriti dan yang menjaga disana, Faro bergegas menghubungi jenderal Hendro untuk minta ijin menyelidiki kasus yang baru saja di alami oleh adiknya Fia.


Tidak di sangka jenderal Hendro datang juga ke markas membantu Faro menganalisa tentang penyerangan itu.


"Coba Bang, di lihat melalui kamera CCTV saja, jam berapa tadi kejadiannya?" saran jenderal Hendro saat sudah sampai dan berdiri di samping Faro yang sedang membuka laptop terhubung langsung dengan layar monitor besar di depan mereka.


Inilah peralatan canggih milik intelejen, terhubung langsung oleh lalu lintas utama yang ada di seluruh wilayah Jabodetabek, jika masih dalam waktu yang sama belum berganti hari akan bisa langsung untuk di lihat.


Faro mengetik jam kejadian sesuai yang di ceritakan oleh uminya dan pak Rudi, layar monitor langsung mempertontonkan dari dua orang laki-laki yang turun dari mobil tanpa plat nomor kendaraan.


Sepertinya memang sengaja ingin mereka menyelakai Fia, dan Faro juga melihat pemuda yang membantu adiknya itu, dan wajahnya seperti tidak asing baginya.


Setelah mengcopy kedalam flesdist potongan CCTV itu, Faro meminta bantuan kepada jenderal Hendro.


"Jenderal, bisa minta tolong carikan siapa kedua orang yang menyerang adik Fia?" pinta Faro dengan penuh harap.


"Pasti, besok semoga sudah ada di meja kerjamu, jam istirahat atau pulang kerja mampir kesini sebentar" jawab jenderal Hendro dengan tegas.


"Ok siap, aku pamit dulu, akan langsung ke tempat pemuda yang telah menolong Adikku".


"Apakah kau mengenalnya?".


"Tidak, tetapi sepertinya kenal orang tuanya".


Setelah perpamitan dengan jenderal Hendro, Faro melajukan mobilnya ke Tangerang, menempuh perjalanan yang tidak sebentar ditambah dengan kemacetan yang terjadi, Faro tetap tidak menyurutkan niatnya untuk pergi ke rumah orang tua Jasson.


Sampai di halaman rumah, Faro meminta ijin kepada sekuriti yang berjaga di pintu gerbang.


"permisi pak, tolong sampaikan kepada pak Andri, Abang Faro yang berkunjung" ijin Faro kepada sekuriti itu.


"Baik mas sebentar saya sampaikan" jawabnya cepat.


Dengan tergopoh-gopoh datang dari dalam rumah itu ternyata Andri Pranoto datang sendiri menyambutnya.


"Bang... kenapa tidak telepon dulu, ayo masuklah, parkir kan aja di dalam gerbang mobilnya" perintah Andri dengan cepat.


Andri Pranoto dan Faro masuk ke rumah dan duduk di ruang tamu dan duduk berhadapan.


"Ada apa Abang, biasanya kita ketemuan di luar, apakah sangat mendesak?" tanya Andri penasaran.


"Apakah Foto ini putra bapak?".


"Iya Bang, dia putraku Jasson, ada apa dengan putraku?".


Faro kemudian menunjukkan vedio CCTV tentang kejadian di jalan depan sekolah kepada Andri Pranoto.


"Abang ingin bertemu dengan putra anda pak, selain mengucapkan terima kasih, juga ingin bertanya sedikit tentang kejadian itu padanya" pinta Faro kemudian.


"Sebentar aku panggilkan dia".


Andri Pranoto berjalan menuju kamar Jasson sebentar dan keluar lagi bersama dengan putranya.


"Bang... kenalkan aku Jasson, ada yang bisa aku bantu" kata Jasson mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

__ADS_1


"Ya.... Aku mengucapkan terima kasih, atas bantuan kamu pada adikku, bisa tolong ceritakan tentang kejadian tadi?".


"Bisa Bang....".


Jasson menceritakan tentang kejadian itu tanpa terkecuali, dan tidak di tutup-tutupi sedikitpun.


Setelah mendapatkan informasi yang cukup baru Faro berpamitan kepada keluarga Andri dan bergegas pulang menuju rumah.


Di rumah Faro melihat semua keluarga besar yaitu keluarga Kemmy, sandi, Marisa, dan keluarga Bayu juga ada disana sudah berkumpul di ruang keluarga.


Karena berita penyerangan itulah yang membuat keluarga dan sahabat begitu khawatir dan berkunjung ingin mengetahui bagaimana keadaan si cantik Fia.


Padahal yang di khawatirkan santai, dan tidak terjadi apa-apa pada Fia, hanya memar serta ngilu di kaki dan tangan, bagi karateka itu sebetulnya sudah biasa, hanya karena berita di media sosial dan televisi nasional menjadikan berita itu seperti berbahaya dan mengkhawatirkan masyarakat umum.


Setelah Faro membersihkan badannya di kamar mandi, berganti baju rumah dan bergabung dengan semua keluarga dan sahabat dari orang tuanya itu, duduk di samping abinya.


"Bi, bagaimana semua aman?" tanya Faro sambil menepuk pundak Ken.


"Aman Bang, bagaimana dengan penyelidikannya?" tanya Ken dengan sedikit berbisik di telinga Faro.


"Seorang pemuda yang menolong Fia itu putra pertamanya pak Andri Pranoto" balas Faro cepat.


"Betulkah?, Bagaimana dengan orang yang menyerang adikmu?" tanya Ken dengan penasaran.


"Masih di selidiki Bi, kemungkinan besok sudah bisa di ketahui, Abi sabar aja kita tunggu jenderal Hendro" keterangan Faro lagi.


Sampai menjelang tengah malam para tamu berpamitan pulang, ada juga yang menginap disana, keesokan harinya baru pulang.


Pada pagi harinya Fia ijin tidak masuk sekolah, karena Faro masih khawatir, setidaknya sampai orang yang menyerangnya di ketahui identitasnya.


Saat sarapan pagi Faro mendapatkan pesan dari jenderal Hendro bahwa kedua orang laki-laki yang menyerang Fia kemarin di temukan tewas tertembak di kepalanya.


"Bi....bisa minta waktu sebentar, ada dokumen yang harus di tandatangani oleh Abi, di ruang kerja Abi aja" pinta Faro berbohong agar umi tidak khawatir sambil berjalan ke arah ruang kerja Ken.


Dengan menganggukkan kepalanya Ken mengikuti Faro ke ruang kerja Ken di lantai atas di samping kamar Ken.


"Bi, sepertinya kecurigaan Abang benar, ada yang sengaja menyerang Fia!" cerita Faro saat sudah duduk di sofa ruang kerja.


"Apakah sudah ada bukti yang cukup tentang kecurigaan Abang?" tanya Ken ikut duduk di samping Faro.


"Abang baru dapat kabar dari jenderal Hendro bahwa kedua orang laki-laki yang menyerang Fia kemarin di temukan tewas dekat rel kereta api tertembak di kepalanya".


"Ya Allah ya Tuhanku" ucap Ken kaget.


"Ini Abang mau ke rumah sakit Fatmawati untuk melihat jenazah kedua orang laki-laki itu Bi, sebelum berangkat kerja, jangan ceritakan ke umi, takutnya beliau jadi kepikiran" pinta Faro berdiri untuk keluar ruang kerja.


"Lho... katanya mau minta tanda tangan?" tanya Ken lagi.


"He..he.. itu tadi cuma alasan Bi, biar umi tidak khawatir" balas Faro dengan cengengesan.


Ken hanya ber-o ria, dan keluar dari ruang kerja ke lantai bawah untuk bersiap-siap berangkat ke kantor.


"Adik Ezo, elo mau bareng Abang atau bareng Abi?" tanya Faro kepada Ezo saat sudah siap untuk berangkat ke sekolah.


"Bareng Abang aja, karena Abi masih di kamar mandi sepertinya lama, nanti gue terlambat" jawab Ezo cepat.

__ADS_1


Faro dan Ezo berpamitan kepada Imma dan mencium punggung tangannya bergantian.


"Hati-hati di jalan Abang, antar adik Ezo sampai depan sekolah, adik Ezo hati-hati dengan orang yang tidak di kenal nak" pesan umi dengan mengecup kening Ezo.


"Iya umi" jawab Faro dan Ezo bersamaan.


Di dalam mobil dalam perjalanan Ezo yang penasaran dengan kejadian Fia kemarin bertanya kepada Faro.


"Bang.... siapa kemarin yang menyerang kakak?".


"Sepertinya preman dik, tetapi masih di selidiki kasus ini oleh kepolisian, makanya mulai sekarang elo harus Lebih hati-hati dengan orang yang tidak di kenal" nasehat Faro.


"Iya Bang, lagian gue juga bisa karate, tenang aja, gue bisa jaga diri".


Setelah mengantar Ezo, Faro langsung ke rumah sakit Fatmawati yang sudah di tunggu oleh jenderal Hendro disana.


Tetapi sebelum masuk rumah sakit, Faro sudah mengirim pesan kepada asisten Mario untuk menunda rapat yang seharusnya di lakukan pukul delapan, karena adanya kasus ini Faro harus mengundurkan rapat dalam waktu satu jam.


Faro beserta jenderal Hendro dan diikuti oleh tim forensik masuk ke kamar jenazah, sebelumnya mereka menggunakan pakaian steril dan masker, sehingga jika ada yang mengawasi mereka tidak seorangpun yang mengenali siapa saja tim forensik itu.


Sesampainya di kamar jenazah Faro fokus melihat bekas tembakan, Faro menganalisa jika yang di gunakan untuk menembak adalah senjata otomatis yang memiliki peredam suara, dan senjata itu di tembakkan dalam jarak yang sangat dekat.


Setelah selesai menganalisa, Faro berpesan setelah di keluarkan pelurunya Faro ingin melihat jenis peluru yang di gunakan untuk menembak kedua orang laki-laki itu.


Faro berpamitan kepada jenderal Hendro meninggalkan tim forensik yang akan melanjutkan mengeluarkan peluru yang bersarang di kepala mayat kedua orang laki-laki itu.


Sampai di kantor Faro sudah di tunggu oleh asistennya dan klien yang akan mengadakan rapat kerjasama dalam waktu satu jam mendatang.


Satu jam sudah berlalu, pertemuan itu sukses dan mengahasilkan Kesepakatan kerjasama antara kedua perusahaan itu.


"Bagaimana bos, sudah ketemu orang yang menyerang Fia?" tanya Mario khawatir karena melihat Faro yang sedikit pucat jurang tidur.


"Sudah, tetapi belum jelas siapa dalang di balik penyerangan Fia"


"Semoga cepat ketemu orang itu, oya bos, tadi pagi Rendi kirim pesan jam berapa nanti hari Minggu ketemuan di mall nya?".


"Oooo maaf, gue sampai lupa, sebentar gue tanya dulu pada calon makmum".


Faro meraih handphone yang ada di dalam saku celana dengan cepat, mengirim pesan dan mengetik dengan cepat.


"Beb... hari Minggu jadikah?, si Rendi sudah ngebet pingin ketemu pujaan hati?" tulis Faro dalam WA nya.


Hanya dalam lima menit Faro sudah dapat balasan dari Inneke.


"Jadilah Bang, Erna ngajak ketemuan waktu makan siang aja balas Inneke lagi dalam tulisannya.


"Baiklah sampai ketemu hari Minggu besok, l Miss you".


Mendapatkan kabar dari Inneke Faro meminta Mario untuk mengabari Rendi dengan cepat.


"Bagaimana dengan gue bos, masak gue jadi nyamuk tidak punya gandengan?" tanya Mario sendu.


Faro hanya terkekeh mendengar celotehan Mario "Terserah elo, lagian elo sih jomblo abadi, kalah ama truk, truk aja gandengan".


Mario hanya mengambil nafas panjang dan mendesah tanpa menjawab sepatah katapun celotehan Faro.

__ADS_1


__ADS_2