
Satu Minggu setelah ulang tahun Rafael, Mama Trisya mengadakan acara empat bulan kehamilan Fia di rumah Jasson dan Fia yang dulu disewakan dan sekarang penyewanya sudah pindah.
Rumah itu sudah mulai diisi perabotan untuk persiapan Jasson dan Fia akan pindah karena Fia sudah selesai kuliahnya tinggal wisuda saja yang akan di laksanakan satu bulan lagi.
Fia dan Jasson baru akan pindah setelah baby-nya lahir, rencana syukuran pindah rumah dan aqiqah baby akan dilakukan secara bersamaan.
Hampir empat bulan ini Fia ngidam tidak terlalu parah, hanya makan buah-buahan yang rasanya asam dan makan makanan yang berkuah saja yang dia makan.
Yang ngidam aneh-aneh justru Jasson, dia sering berpetualang ke daerah seluruh Jakarta dan sekitarnya, contohnya Minggu kemarin Jasson jauh jauh ke Bekasi hanya ingin menikmati satu gelas bir pletok yang asli dibuat oleh ahlinya penjualnya.
Hari Minggu pagi rencana Jasson akan pergi ke puncak Bogor mengajak serta Fia untuk sekedar makan jagung bakar di pinggir jalan menuju jalan puncak, Jasson juga ingin menikmati peuyeum yang sering di jual dengan digantung di pinggir jalan.
Hanya dengan melihat peuyeum di gantung air liur Jasson sudah hampir menetes, langsung meminggirkan mobilnya berlari membeli peuyeum itu dan memakannya di tempat.
"Sayang ayo turun, apa tidak ingin mencoba peuyeum ini, enak lo ada rasa asamnya gitu seperti buah mangga" panggil Jasson sedikit berteriak memanggil Fia yang masih duduk di mobil dengan bermain handphone.
Jasson membantu Fia membuka pintu mobil, memegangi tangannya turun perlahan, tetapi setelah mencium khas dari peuyeum perut Fia seperti diaduk, persis seperti Fia saat mencium bau bawang saat bibi di rumah sedang masak, rasanya perutnya mual dan pingin muntah.
"Abang jauhkan makanan itu, aku mual, wuek wuek" Fia menutup mulutnya berlari samping mobil dan memuntahkan seluruh isi perutnya.
Fia seketika lemas setelah semua makanan yang ada dalam perutnya, berjalan kearah pintu mobil masuk dan duduk bersandar.
"Bang habiskan dulu peuyeum itu, setelah itu antar aku cari makanan, aku pingin makan Cotto Makasar di daerah puncak ini"
Hanya dalam waktu setengah jam saja Jasson menemukan kedai yang menjual Cotto Makasar, Jasson kembali meminggirkan mobilnya dan parkir didepan kadai itu, membantu Fia turun berjalan masuk kedai dan memesan dua porsi Cotto Makasar.
"Bang, boleh aku minta satu porsi lagi, sepertinya kurang kalau cuma satu mangkok" pinta Fia setelah selesai makan satu porsi Cotto Makasar.
"Tentu sayang sebentar Abang pesankan lagi" Jasson memanggil pelayan kedai untuk memesan satu porsi Cotto Makasar.
Dengan mata berbinar Fia langsung melahap Cotto itu sampai tandas ditambah dua ketupat.
"Sayang pelan-pelan makannya, tidak ada yang meminta" dengan lembut Jasson membelai rambutnya.
"Lezat sekali Bang, aku suka" tersenyum manis Fia mendorong mangkuk yang sudah tidak ada isinya.
Jasson dan Fia melanjutkan perjalanan kearah puncak mencari jagung bakar yang berada pinggir jalan.
"Itu ada jagung bakar Bang, ayo berhenti!" Fia menunjuk salah satu kios jagung bakar yang sedang mengepulkan asap dan bau harum khas jagung yang sedang dibakar.
Air liur Jasson sudah hampir menetes setelah melihat dan mencium bau harum dari jagung bakar itu, meminggirkan mobilnya kembali, membuka pintu dan berlari mendekati jagung bakar meninggalkan Fia sendiri tanpa disadarinya.
__ADS_1
"Eeee kenapa aku ditinggal?" Fia kaget melihat Jasson langsung berlari tanpa menunggunya sama sekali.
Setelah Jasson meminta satu jagung bakar dan ingin memakannya baru teringat istrinya yang masih duduk didalam mobil dengan wajah yang cemberut.
"Sayang, maaf Abang jadi lupa diri melihat jagung bakar yang menggugah selera itu hehehe" Jasson menunjukkan giginya tersenyum manis.
Membuka pintu membantu Fia turun, mendekati penjual jagung bakar membantu Fia berjalan kearah jagung yang sedang dibakar.
Setelah selesai makan dan perut terasa kenyang, mereka memutuskan untuk pulang kembali walaupun belum sampai puncak, memang tujuannya hanya mencari kulinernya saja.
Sementara Faro dan Mario hari ini walaupun hari Minggu terpaksa harus menemui patner bisnisnya dari Malaysia Hasan Hidayat di sebuah hotel yang ada dipusat kota, karena rencana setelah mengadakan pertemuan Hasan Hidayat akan langsung kembali ke Malaysia.
Setelah selesai pertemuan itu Hasan Hidayat beserta asistennya, mereka langsung pamit, waktu yang sempit membuat mereka bergegas ke bandara internasional Soekarno agar tidak ketinggalan pesawat.
Karena bibi Jum hari ini sakit, Inneke tidak bisa keluar untuk membeli susu ibu menyusui, mengirim pesan WA kepada Faro untuk membelikan susu ibu menyusui di supermarket yang ada disebelah hotel dimana Faro mengadakan pertemuan dengan Hasan Hidayat.
"Bro, gue mau mampir ke supermarket yang ada disebelah untuk beli susu ibu menyusui, elo mau ikut?" ajak Faro kepada Mario yang berjalan beriringan keluar dari ruang meeting hotel.
"Maaf tidak bos, gue sudah janji sama Ara mau belanja pernak pernik ulang tahun untuk Cello".
"Ok gue kesamping sekarang kita pisah disini, ini tolong bawakan tas gue besok bawa aja ke kantor" setelah menyerahkan tas kerjanya, Faro mengambil masker di kantong yang ada dibalik jasnya dipakainya dengan cepat.
"Ngapain pakai masker segala bos?".
"Ada di mobil bos, kalau mau ayo kesana sekalian ambil mobilnya".
"Biar mobil gue parkir disana aja, gue tunggu disini cepat sana, sekalian elo keluar nanti gue ambil topinya" titah Faro tegas.
"Ok siap" Mario langsung berlari ke parkiran yang ada di basemen hotel, keluar parkiran mengemudikan mobilnya mendekati Faro mengulurkan tangannya memberikan sebuah topi berwarna hitam.
Langsung dipakai topi itu, berjalan kearah samping hotel dengan berjalan kaki, baru sampai di koridor yang menghubungkan antara parkiran dan lobi supermarket, Faro melihat ada enam orang laki-laki yang berbadan kekar dengan menggunakan penutup kepala, empat orang memegang senjata Laras panjang, satu orang di pasangi baju rompi yang ada bom rakitan dibadannya dan satu orang lagi memegang remote kecil dan senjata laras pendek.
Faro memperhatikan dari balik tiang besar yang ada dipinggir pintu masuk parkiran dengan seksama, mata Faro tertuju pada bom rakitan itu, saat awal mereka memasangkan di badan salah satu laki-laki, mereka tidak berhati-hati, memasang seperti mengenakan pakaian biasa, bom rakitan itu terlihat ringan, tetapi ada timer yang terpasang di bom itu.
Setelah mereka berenam selesai melakukan persiapan, berjalan kearah lobi supermarket, Faro membuka jasnya, lengan jas itu diikatkan di pinggangnya, tinggal kemeja lengan panjang digulung sampai siku dengan berucap "It's show Time".
Walaupun Faro tidak memegang senjata otomatis, tekatnya untuk melumpuhkan mereka sangat kuat berjalan mengendap-endap dibelakang mereka perlahan.
Yang sangat mencengangkan di lantai dasar tepatnya disamping lobi ada acara lomba untuk mencari bakat penyanyi cilik khusus untuk anak-anak, banyak anak-anak yang berlalu lalang didampingi oleh orang tuanya masing-masing.
Sesaat Faro sangat panik, menghubungi jenderal Hendro menggunakan headset berbicara dengan berbisik menceritakan sekilas tentang situasi yang dihadapinya, belum sempat menutup handphonenya ada suara tembakan yang diarahkan kearah atas dinding lantai atasnya.
__ADS_1
"Doooooor"
Seketika Faro mematikan handphone dan konsentrasi pada salah satu orang yang sedang menembakkan senjatanya keatas.
Sebagian pengunjung dan peserta lomba sudah berlari porak poranda tanpa arah, itu sedikit menguntungkan bagi Faro untuk bergerak, yang pertama Faro menendang orang yang memegang pistol laras pendek dan memegang remote sampai terjengkang dan pistol terjatuh.
"Brrruuuuak" pistol terlepas dan tanpa sengaja tertendang dari arah sembarang sampai mendekati Faro, Faro langsung mendekati pistol itu dengan melompat.
Orang yang di tendang Faro tadi berusaha berdiri dan memberikan kode kepada temannya dengan mengacungkan tangannya keatas "lakukan cepat" teriaknya.
Salah satu dari mereka menembak kearah atas lagi dan dengan otomatis pengunjung yang panik berlarian tadi ada yang duduk, ada yang tiarap ada juga yang mematung dengan menutup telinganya.
"Jangan ada yang bergerak, kalau ada yang bergerak akan aku ledakkan bom yang ada di badan laki-laki ini dengan remote yang ada di tanganku" teriak laki-laki yang ditendang oleh Faro tadi dengan sedikit meringis dengan menatap tajam kearah Faro.
Seluruh pengunjung dan peserta lomba tidak ada yang berani bergerak karena teriakan yang menggema di ruangan itu.
Faro juga ikut duduk diantara pengunjung dan peserta lomba, walaupun dia tahu sepertinya bom rakitan itu palsu, Faro hanya konsentrasi kepada keempat orang laki-laki yang memegang senjata laras panjang itu.
Dengan posisi tangan ada dibelakang pinggang Faro perlahan mempersiapkan senjata otomatis yang di pegangnya.
Dengan secepat kilat Faro berdiri mengarahkan dan menembak pistol kearah empat orang laki-laki itu satu persatu.
"Dor..doa..dor...dor".
Tembakan pertama mengarah ke lengan kiri diatas siku, tembakan kedua mengarah ke lengan tangan bagian atas, tembakan ketiga mengarah ke paha kanan dan terakhir peluru melesat di betis kaki sebelah kiri, tembakan itu hanya berjarak beberapa detik saja sehingga keempat orang laki-laki itu berteriak dan terjatuh hampir bersamaan.
Faro sengaja menembak dengan beda sasaran karena akan mudah dikenali oleh anak buah Theo Thanapon jika dia mengeluarkan kemampuan menembak terbaiknya.
Setelah keempat orang laki-laki itu tumbang Faro mendekati dua orang laki-laki yang belum dieksekusi oleh Faro.
"Kamu tidak takut mati jika remote ini aku tekan" bentak laki-laki itu.
Faro hanya menyeringai dan berjalan mendekati laki-laki yang terlihat garang, tetapi Faro tidak gentar sama sekali, setelah dekat pistol Faro langsung menodongkan kearah pelipisnya sambil sedikit berbisik.
"Silahkan saja kalau kamu bisa, karena aku yakin itu hanya bom palsu yang cocok untuk menakut-nakuti tikus got seperti kalian dasar b*d"h" dan otak udang, kamu tidak menyadari kalau remote yang kamu pegang adalah remote control mobil mobilan anak berumur lima tahun" ancam Faro dengan penuh penekanan.
Seketika orang laki-laki itu pucat pasi karena Faro mengatakan bahwa itu memang palsu, tetapi tangan orang laki-laki menyusup dibalik bajunya, ternyata dia masih menyimpan satu pistol dibalik bajunya.
"Awas Pak dia pegang senjata" teriak salah satu pengunjung yang berjongkok di pojok samping lobi.
"Doooooor"
__ADS_1
"Awas.....arrhhhgggg??????"