
Mario langsung melambaikan tangannya memanggil taksi kembali ke hotel berdua, sedangkan Faro terus menerus mual dan memegangi perutnya yang mulas dan badan berkeringat dingin seperti yang dialami uminya saat depresinya kambuh.
Sampai di hotel, Mario menuntun Faro masuk kamar hotel dengan posisi kepala Faro di letakkan di pundak Mario dan Mario memegang pinggangnya, semua mata nanar menatap tajam kepada dua orang laki-laki yang seperti satu pasang gay yang sedang bermesraan.
"Iih, ganteng-ganteng sayangnya menyimpang, najis deh" celetuk cewek cabe-cabean yang melintas di samping mereka.
Faro hanya terkekeh, sengaja melingkarkan tangannya di pinggang Mario dengan mesranya.
"Lihatlah, kenapa mereka terang-terangan begitu di depan umum, di tangkap petugas baru tahu mereka" cabik seorang wanita paruh baya yang berbadan gemuk.
"Bos, coba jangan nurunkan harga diri gue dong, masak ganteng begini di bilang menyimpang" Mario sedikit keras mengguncangkan lengan Faro, menggesekkan kartu untuk membuka pintu kamar hotel, Faro langsung berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya tanpa sisa.
Selesai muntah Faro membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi piring dengan keluar keringat dingin.
"Bos gue panggil dokter ya?" Mario duduk di tempat tidur hotel itu, tetapi Faro hanya menggelengkan kepalanya memejamkan matanya sampai pagi menjelang.
Pukul tujuh pagi Faro sudah selesai mandi dan packing baju, saat Mario mengetuk pintu mengkhawatirkan keadaan bosnya, dia malah senyum senyum seolah-olah tidak terjadi sesuatu kejadian tadi malam.
"Elo sudah baikan bos?" tanya Mario masuk kamar hotel mendekati Faro yang sedang asyik bermain game online di handphonenya.
"Hmm....mana detektif yentrik itu?" tanya Faro tanpa melihat Mario datang.
"Dia sudah menunggu di restauran bos" Mario berniat untuk duduk di sofa.
"Ayo kita turun, sarapan dulu" Faro menarik lengan Mario menggandeng tangannya, dengan senyum mengembang ingin mengganggu Mario.
"Jangan peluk-peluk gue bos, jijik gue, tadi malam gue sudah di bilang gay sama banyak orang" cabik Mario kesal mendorong Faro untuk berjalan terlebih dahulu.
Sampai di restauran bergabung dengan Conan, menikmati sarapan pagi dengan lahap, setelah selesai baru Conan melaporkan pengawasan tadi malam yaitu Ramos sempat mabuk berat dan pulang di bopong oleh anak buahnya pulang pukul tiga pagi.
Setelah selesai sarapan Faro dan Mario mengambil koper cek out dari hotel menuju bandara internasional Brunai, sedangkan Conan mulai mengikuti kegiatan Ramos hari ini, tetapi ada yang berbeda hari ini setelah istirahat yang biasanya ke tempat kebugaran hari ini dia langsung pulang, setengah jam kemudian dia keluar apartemen dengan mendorong koper menuju bandara.
Akhirnya Conan kembali ke hotel mengambil koper dan cek out dari hotel menuju ke bandara internasional Brunai mengikuti Ramos, ternyata sesampainya di bandara Ramos masih duduk manis di luar area bandara, sengaja Conan pura-pura duduk di samping Ramos.
"Permisi pak, boleh ikut duduk?" tanya Conan singkat.
__ADS_1
"Silahkan ini tempat umum" Ramos menjawab dengan mata yang datar.
"Mau kemana Pak?" tanya Conan lagi.
"Singapura" begitu dingin dan malas berinteraksi dengan orang asing Ramos kembali fokus berselancar di media sosial yang ada di handphone.
Conan bergegas membeli tiket melalui online menuju Singapura, berharap masih ada kursi kosong dalam pesawat barengan dengan target.
Keuntungan memang berpihak pada Conan setelah mengunggu sekitar satu jam naik pesawat komersil bareng dengan target sesuai keinginan bahkan duduknya satu baris lurus, hanya bedanya cuma terhalang jalan tengah pesawat.
Menjelang petang Conan tiba di Singapura, karena kebetulan yang di pakai sepatu Ramos Sandara adalah sama seperti yang di pakai waktu di Brunei Darussalam, sehingga membuat Conan lebih mudah memantau posisi dimana target berada.
Conan akhirnya memesan hotel melati dekat posisi Ramos Sandara berada, setelah masuk kamar hotel, baru Conan mengirim kabar kepada Faro melalui pesan WA.
"Bos, gue ada di Singapura, mengikuti target, sampai sekarang belum ada pergerakan dari target" tulis Conan dalam pesannya.
Sampai pagi menjelang, Conan sengaja berolahraga pagi, sekalian mencari tahu keberadaan target, tetapi sampai jam tujuh pagi target sama sekali tidak ada pergerakan, akhirnya Conan memutuskan untuk mandi membersihkan badannya yang penuh dengan keringat.
Conan mencari restauran di sekitar hotel untuk sarapan pagi, tetapi belum sempat dia masuk ke restauran itu, ada pergerakan dari target, setelah sekitar sepuluh menit baru Conan melihat target sedang keluar dari apartemen dengan menarik koper masuk kesebuah gedung perkantoran yang lumayan ramai.
Hampir menunggu dua jam di restauran itu, menghabiskan dua cangkir kopi, satu piring nasi lamak dan satu botol air mineral, melihat target keluar dari lift, bergegas Conan ke kasir untuk membayar makanan dan keluar restauran dengan tergesa-gesa.
Tetapi baru melangkah dua meter, melihat target memegangi dadanya dan ambruk tepat di pintu keluar gedung, banyak yang melihat dan membantu target untuk bangun, dua sekuriti gedung juga berlari mendekati target, mengecek denyut nadi yang sudah tidak berdetak di angkat oleh sekuriti keluar gedung ternyata di ada sebuah klinik dekat gedung itu.
Banyak yang membantu target, dibawa ke UGD klinik itu, Conan ikut mengikuti ke klinik itu dan duduk di kursi para pasien akan mendaftar, kedua sekuriti keluar dari UGD dengan berbincang.
"Kasihan ya anak buah Mr Decha itu, terkena serangan jantung kata dokter" kata sekuriti 1.
"Betul, ayo kita lapor ke Mr Decha aja, biar jenazahnya ada yang mengurus" balas sekuriti 2.
Mendengar percakapan dari dua sekuriti itu, Conan mengerutkan keningnya berpikir sejenak, dengan menyebut nama Mr Decha, siapa dia gumamnya dalam hati.
Conan duduk di depan UGD untuk menunggu orang yang disebut namanya Mr Decha, hanya dalam sepuluh menit datang tiga orang laki-laki yang terburu-buru masuk UGD, satu orang menggunakan setelan jas hitam, dan yang dua orang lagi menggunakan seragam hitam putih, tidak lupa Conan mengambil gambar mereka bertiga.
Setelah tiga orang laki-laki itu keluar dari UGD, sambil berbincang Conan berdiri mengikuti mereka keluar UGD menuju gedung perkantoran lagi, dengan merekam suara mereka berbincang.
__ADS_1
"Kamu urus jenazah Ramos, hubungi keluarganya, kirim jenazahnya ke Jakarta" perintah laki-laki yang menggunakan setelan jas hitam.
"Mr Decha menggunakan nama Romi Santos atau Ramos Sandara?" tanya salah satu laki-laki yang memakai seragam hitam putih.
"Romi Santos aja, jangan sampai terendus polisi Indonesia" perintah laki-laki berjas hitam lagi.
Saat ketiga orang laki-laki itu masuk gedung, Conan kembali ke klinik, membuka jaketnya, kebetulan dia juga menggunakan kemeja putih, masuk ke UGD klinik itu, berbincang dengan petugas mengaku sebagai anak buah dari Mr Decha dan ingin melihat jenazah dari orang yang terkena serangan jantung itu, Conan beralasan akan mengabarkan keluarga yang ada di Indonesia, sehingga petugas UGD mengijinkan melihat jenazah itu, mengambil gambar dengan diam-diam dan mengucapkan terima kasih, keluar dari klinik kembali ke hotel.
Sesampainya di hotel, Conan menyusun laporan yang akan di laporkan kepada bosnya nantinya setelah kembali ke Indonesia, memesan tiket pesawat secara online pada penerbangan sore hari.
Conan hanya mengirim pesan WA kepada bosnya dengan tulisan "Bos, target sudah tumbang pukul sepuluh pagi, kemungkinan hari juga jenazahnya akan di kirim ke Indonesia dengan nama Romi Santos".
Dengan kebetulan juga Conan terbang pada pesawat yang sama dengan jenazah, ini dia ketahui dari sinyal bagasi yang sedang dia tunggu, koper milik Ramos di ambil oleh pihak kepolisian.
Sepertinya ada yang ganjil, kenapa harus pihak kepolisian yang harus mengambil koper itu, Conan berlari keluar mencari informasi tentang keberadaan jenazah ternyata ada di ambulance, tetapi ada banyak kepolisian yang berjaga disana, karena penasaran Conan bertanya kepada pegawai cleaning servis bandara internasional Soekarno Hatta yang bertugas membersihkan daerah sekitar ambulance itu.
"Ada apa Bu kok ambulance itu di kawal oleh banyak polisi?" tanya Conan pura-pura takut melihat banyak polisi.
"Itu mas, ada jenazah, yang katanya seorang buronan polisi, sidik jari dan nama yang tertera pada data jenazah tidak sama" jawab ibu petugas cleaning servis dengan penuh semangat.
"Oooo terima kasih Bu" ucap Conan, pegawai cleaning servis bandara itu mengangguk dan tersenyum, Conan keluar dari area bandara internasional Soekarno Hatta memesan taksi online pulang apartemen untuk beristirahat.
Hanya mandi dan berganti baju saja Conan bergegas keluar dari apartemennya karena saat mandi tadi ada pesan dari bos Faro jika di tunggu di Imma kafe bersama Mario yang sudah menunggunya dari tadi.
"Maaf bos terlambat" kata Conan duduk di depan mereka berdua.
"Hm.....!" jawab Faro dengan deheman saja.
"Ini bos laporannya, foto dan rekaman sudah gue kirim juga lewat pesan WA" Conan memberikan map dengan tulisan tangan dan bukti foto dan rekaman di kirim lewat pesan WA.
Faro membaca laporan dari setelah jam istirahat Ramos di Brunai Darussalam, berangkat ke Singapura, masuk gedung perkantoran, terjatuh di depan pintu gedung itu, di bawa ke klinik dinyatakan meninggal karena serangan jantung, saat di bandara internasional Soekarno Hatta di jaga oleh banyak polisi karena identitas jenazah diketahui dari sidik jari bernama Ramos Sandara walaupun dalam dokumen di sebutkan dengan nama Romi Santos.
"Terima kasih Bang, gaji dan bonus nanti Mario yang akan mentransfer, istirahat lah selama satu Minggu, setelah itu temui gue lagi, ada satu lagi tugas yang harus elo selidiki" ucap Faro dengan nada yang dingin dan tegas.
"Ok bos terima kasih gue pamit, mungkin sekitar sepuluh hari ini posisi ada di Surabaya bos, maaf kalau sudah beres gue langsung temui bos secepatnya" keterangan Conan berdiri keluar kafe dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
Faro hanya diam dan memandangi kepergian Conan tanpa ekspresi wajah, hanya datar saja Sedangkan Mario cuma bisa mengamati tingkah bosnya akhir-akhir ini yang banyak berubah karena bertubi-tubi masalah yang si hadapinya.