
El, Kanno dimana posisi Cello sekarang cepat periksa lagi?" perintah Mario dengan cemas.
"Maaf Papa baterai handphone El lowbat, Papi ini bagaimana?" tanya El ikut bingung karena lupa tidak membawa baterai cadangan.
"Ini sayang pakai punya mommy Erna" mengulurkan power Bank dengan cepat Erna sambil mendekati Rafael.
Menggunakan power Bank dengan cepat Rafael langsung membuka handphone mencari GPS posisi dimana Cello sekarang berada.
"Jalan XY nomor 125 Singapura" Rafael membacanya dengan cepat.
"Itu rumah utama Daddy disini" dengan cepat Ara mengambil handphone untuk menghubungi mommy yang sekarang posisinya ada di jalan yang sama dengan rumah utama tetapi mommy menginap di hotel bersama asistennya.
"Halo mommy, cepat ke rumah utama, Cello ada disana!" Ara langsung to the points tanpa harus basa-basi berbicara.
"Baiklah mommy kesana, tunggu kabar dari mommy jangan bergerak dulu" larang mommy, mematikan handphone cepat.
Setelah mendapatkan informasi dari Ara posisi Cello mommy menghubungi Lung Dio yang berbeda di Myanmar untuk segera datang ke Singapura, asisten mommy akhirnya yang menceritakan tentang kejadian Penculikan Cello kepada Lung Dio.
Mommy dengan hati yang cemas dan khawatir datang ke rumah utama yang ada di Singapura yang sekarang di tempati oleh Thora Thanapon dan Fetty Fatimah yang sudah memiliki satu putri yang berumur 3,5 tahun.
Dengan alasan ingin bertemu dengan cucunya mommy sambil menyelidiki rumah utama mencari keberadaan Cello, sambil bermain dengan Putri dari Thora yang bernama Shifa Fatmala Thanapon.
Tetapi sayangnya hampir dua jam mommy mengelilingi rumah utama tetapi tetap tidak menemukan sosok dimana Cello berada, hampir putus asa mommy karena yang di jumpai disana hanya ada Fetty Fatimah, Shifa, sekuriti, anak buah, dan para ART saja, sedangkan Thora serta asistennya tidak diketahui dimana keberadaannya.
Sedangkan jenderal Hendro dan Faro berada di markas intelejen Singapura, menyusun strategi untuk menyelamatkan Cello dari tangan Thora Thanapon, tetapi Faro tetap tidak menunjukkan wajah aslinya, masker, kacamata hitam topi tetap dipakainya tak seorangpun mengetahui wajah aslinya bahkan saat ini dia menggunakan pelindung baju Anti peluru sesuai standard aturan negara itu.
Senja hari terlewati tanpa ada kabar dari mommy nya Ara, Lung Dio sudah standby di hotel, ternyata Theo Thanapon juga datang dari Thailand, setelah bos besar datang ke markas semua anak buahnya berjaga di sekitar rumah utama, mommy yang sedang beristirahat di kamar tamu mendengar suara percakapan dari luar sengaja mommy mengintip dari balik gorden, mommy mencoba menghitung jumlah orang yang baru datang, dikirimnya penyelidikan ke pesan WA kepada Ara.
Rombongan Theo Thanapon ada sekitar dua belas orang bergegas menuju arah belakang rumah, ternyata ada pintu rahasia disana, mommy yang mengikuti mereka dengan mengendap-endap mengawasi dan mencari tahu dimana Cello berada.
Sampai dapur mommy mengintip dari balik jendela dapur saat mereka masuk pada pintu rahasia bangunan yang terpisah dari rumah utama, bentuknya seperti gudang penyimpanan barang, tanpa disadari oleh mommy si kecil Shifa ikut mengendap-endap dikiranya mengajak Shifa main petak umpet.
"Glenma..tetemu, Tipa itut cembunyi" Shifa memeluk kaki mommy membuat kaget dan menepuk dadanya sendiri.
"Syifa sayang sekarang Shifa sembunyi kesana ya, ajak juga Papi Shifa bermain petak umpet" tunjuk mommy kearah rombongan Theo Thanapon.
"Iya Glenma...Tipa ketana" Shifa berlari mendekati Thora Thanapon dengan berjingkrak memanggil papanya.
"Papi.... Papi, ayo tembunyi ....ayo Papi".
Tetapi rombongan itu tidak begitu menghiraukan celotehan dari Shifa sehingga Shifa mengikuti mereka masuk ke dalam ruangan rahasia itu tanpa dihiraukani oleh rombongan.
Mommy ikut berlari mengejar Shifa dan bergumam sendiri semoga tidak dicurigai jika mommy sedang mencari Cello tetapi sedang bermain dengan Shifa.
__ADS_1
Bersamaan mommy mendekati ruang rahasia itu, pihak intelijen dan kepolisian Singapura sudah mulai bergerak menuju rumah utama milik Thora Thanapon, mengepung area rumah, karena mommy memberikan laporan apa saja yang dilihat melalui Ara, akhirnya Ara dan Mario ikut dalam rombongan intelejen, dan Rafael juga terpaksa dibawa untuk menganalisa keberadaan Cello.
Tubuh kecil Shifa berlari mendekati papinya dan memeluk kaki jenjang Papi, tetapi setelah melihat ada anak kecil yang badannya lebih besar dari Shifa, duduk dikursi sambil dipengangi oleh dua orang anak buah papinya, merasa mendapatkan teman Shifa berlari mendekatinya.
"Tatak....tatak....namana tiapa?" tanya Shifa mendekati Cello.
Theo Thanapon melototi Thora karena putrinya ikut bergabung dan mengganggu hal yang sudah direncanakan.
"Panggil kak CL ok" bisik Cello di telinga Shifa, tetapi matanya Cello membulat sempurna karena melihat mommy yang berada di belakang rombongan itu, Cello hanya memanggil dengan mulutnya yang bergerak tetapi tidak mengeluarkan suara karena melihat grandma meletakkan telunjuknya di mulut.
"Diam jangan bersuara!" perintah mommy tanpa suara juga hanya gerakan mulut saja.
Cello duduk di sebuah kursi dengan tenang, seperti tanpa beban, hatinya tidak merasa takut sama sekali seperti ada ditengah tengah keluarganya sendiri, semua orang menengok kebelakang dimana mata Cello tertuju.
"Grendmommy mengapa ada disini?" tanya Thora kaget.
"Sayang, saya sedang bermain petak umpet dengan Shifa" jawab mommy pura-pura tidak mengetahui situasi apa yang telah terjadi.
Sedangkan Theo Thanapon melotot tajam melihat mantan istrinya, dia masih mengingat saat dia mengatakan bahwa Ara ada di Singapura tetapi nyatanya sampai sekarang Theo tidak menemukan keberadaan Ara sama sekali.
"Thora bawa keluar Shifa sekarang!" bentak Theo dengan suara lantang.
Karena suara yang keras Shifa ketakutan, menangis keras sambil memeluk tubuh kecil Cello, dan Cello juga memeluknya dengan erat.
Dengan paksa Shifa diangkat oleh salah satu anak buah Thora keluar area itu, walaupun dia meronta ronta dan menangis kencang, bersamaan dengan keluarnya Shifa dan salah satu anak buah Thora, di luar gudang sudah dikuasai sepenuhnya oleh polisi dan intelejen bersama dengan Ara, Mario dan Rafael.
Melihat ada satu orang keluar dari gudang rahasia orang laki-laki yang sedang menggendong Shifa langsung di todong oleh salah satu polisi dari samping.
Jangan bergerak, sini gadis kecil serahkan kepada kami" dengan terpaksa Shifa diserahkan kepada polisi yang menodongnya.
Shifa diambil dan digendong oleh polisi dan satu orang yang menggendong Shifa tadi juga ikut diringkus oleh polisi dikumpulkan menjadi satu di tuang keluarga, sedangkan Fetty Fatimah hanya menangis di dekat semua anak buah Thora yang sudah tidak berdaya.
Didalam ruang rahasia itu Theo Thanapon kembali menatap tajam kepada mommy, tetapi mommy tidak memperdulikan tatapan itu, berlari memeluk cucunya yang hampir empat tahun terakhir ini tak pernah dipeluknya, hanya lewat vedio call mereka berkomunikasi.
"Cello are you ok honey?" bisik mommy memeluk erat tubuh mungil Cello setelah mendorong salah satu anak buah dari Thora.
"Grandma mengapa ada disini, siapa mereka?" lantang Cello bertanya kepada mommy yang menangis tidak ada henti.
"Thora jauhkan wanita itu dari sana?" bentak Theo lagi dengan suara yang sangat marah dan menggelegar.
"Grandmommy ayo keluar dari sini jangan campuri urusan kami" ajak Thora menarik tangan mommy lembut agar mau keluar dari tempat itu.
"Kalian ini memang tidak pernah berubah, sebentar lagi pasti akan menyesal seumur hidup jika mengetahui siapa dia?" bentak mommy tetap memeluk Cello.
__ADS_1
"Tidak bisa, apakah kalian tahu siapa sebenarnya yang kalian culik, dasar b*d*h?" semakin menggelegar suara mommy marah tetapi tetap memeluk Cello.
"Aku tahu, dia adalah anaknya orang yang telah membunuh putra bungsuku" jawab Theo mendekati Cello dan menodongkan senjata api di kepala Cello.
"Dasar otak udang kalian semua, lihatlah lekat-lekat wajahnya apakah kalian tidak mengenali dia?" mommy begitu marah dan sangat kesal.
"Grandma, siapa mereka, apakah laki-laki tua itu my grandpa?" Cello berucap sambil memandangi wajah Theo Thanapon, karena pernah mommy menunjukkan foto Theo kepada Cello beberapa tahun yang lalu.
Theo langsung memandangi Thora kaget karena anak kecil itu memanggilnya grandpa dan memanggil mommy dengan sebutan grandma.
"Grandmommy darimana kenal anak dari Faro Sanjaya Wiguna ini?" tanya Thora ikut menodongkan senjata kepada Cello.
"Dia bukan anak dari Faro tetapi----!" Mommy tidak jadi melanjutkan ucapannya tangannya mengarahkan dua pistol itu di kepalanya sendiri.
"Grandma jangan....!" teriak Cello.
"Anak siapa dia cepat katakan, kalau tidak memang harus kepalamu yang akan menggantikan anak sialan ini?" dengan tetap marah Theo Thanapon mengarahkan pistol di kepala mommy.
"Silahkan tembak kepala aku, kamu juga Thora silahkan tembak, tetapi aku pastikan kalian akan menyesal, tembaklah!" kembali mommy mengarahkan pistol itu ke kepalanya sendiri.
"No grandma, no..." Cello ikut berteriak dan menggoyangkan kaki mommy dengan kencang.
Suasana menjadi mencekam karena teriakan demi teriakan antara mereka bertiga, sedangkan anak buah Thora hanya mengawasi daerah sekitar gudang ruang rahasia itu.
"Cepat katakan anak siapa dia jika bukan anaknya Faro Sanjaya Wiguna?" tanya Theo Thanapon sedikit menekan pistolnya mendekati pelipis mommy.
"No, grandpa no, jangan tembak grandma" kembali Cello menggoyangkan kaki mommy dan daddy-nya Ara.
"Diam don't call me grandpa" bentak Theo kepada Cello dan mengibaskan kakinya sehingga Cello terpental dan terjatuh ke lantai, tetapi naas tanpa sengaja dengan refleks Thora menekan pistolnya yang awalnya masih dipegang oleh mommy mengarah ke kepalanya, karena tertarik oleh Cello yang terjatuh mommy mundur dua langkah dan.
"Dor...... aaarghhh" peluru itu tepat menembus dada mommy seketika terkapar di lantai.
"Grandma....".
"Grandmommy....".
"Mommy....."
Cello, Thora dan Theo berteriak bersamaan dengan jatuhnya mommy ke lantai dengan memegangi dadanya, duduk mendekati mommy yang sudah lemas tidak berdaya.
"Dasar b*d*h, dia adalah cucumu sendiri dia adalah putra dari Achara, ka...ka..lian akan menyesal seumur hidup" terbata bata kata mommy dengan lemah menggenggam tangan Cello dengan erat.
"Cello.... Cello jaga Mama dan Papa dari grandpa, berjan....ji....lah, please" mommy kembali berucap lirih menatap Cello dengan penuh harap.
__ADS_1
"Yes grandma, pasti.... grandma.... grandma" panggil Cello dengan penuh cemas.