Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
94. Meeting Bersama Thora Thanapon


__ADS_3

Hari Senin pukul sepuluh pagi hari ini adalah jadwal meeting dengan putra dari Decha Thanapon di sebuah restauran yang dikelola oleh bunda dan uthi Intan.


Mario hari ini tidak ikut meeting, hanya Faro dan di dampingi oleh Jasson sebagai asistennya, sehingga sebelum meeting Faro melakukan persiapan di kantor Faro bersama Jasson dan dibantu Mario.


Datang Faro dan Jasson tepat pukul sepuluh di restauran itu ternyata sudah ada dua orang laki-laki yang menunggunya satunya masih sangat muda sekitar umur dua puluh tiga tahun dan satu lagi sudah hampir setengah abad umurnya.


"Selamat pagi tuan tuan" Jasson mengawali pembicaraan dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Pagi tuan, saya Thora dan ini asisten saya bernama Danu" kata Thora memperkenalkan diri.


"Perkenalkan nama saya Faro, manager pemasaran yang baru dan dia asisten saya bernama Jasson" Faro juga ikut memperkenalkan diri.


Mereka berempat duduk berhadapan memulai melakukan lobi-lobi bisnis dengan serius sampai hampir satu setengah jam, sampai mencapai kesepakatan bersama baru menikmati hidangan yang telah dipesan oleh Jasson kemarin saat reservasi tempat.


Faro selalu memperhatikan lekat-lekat Thora, baik sikap, cara bicara, dan cara dia mengambil keputusan, sikapnya kaku, dan mudah terpancing emosi itu kesan pertama Faro saat pertama kali bertemu dengan cucu dari rivalnya sejak Faro kecil.


"Silahkan menikmati tuan, semoga anda menyukai menu makanan khas Indonesia" Jasson mempersilahkan menu yang sudah ada di meja, yaitu surabi untuk makanan pembuka, rendang daging, cah kangkung, mi goreng untuk menu makanan utama dan sebagai es campur sebagai penutupnya.


Mereka menikmati hidangan makan siang dengan lahap tanpa ada suara yang ada hanya suara sendok dan garpu yang berdenting sampai habis tak bersisa yang ada di piring.


"Terima kasih atas jamuan hidangan makan siangnya, sangat lezat" ucap asisten Danu sopan.


"Baiklah tuan kami pamit, kami tunggu kiriman produk anda Minggu depan" pamit Thora bersalaman bergantian dan keluar dari restauran dan di jemput oleh sopir yang sudah menunggu di parkiran restauran.


Diluar ternyata sudah standby orang intelejen yang biasa bertugas di lapangan mengawasi gerak-gerik Thora dan mengikuti mobilnya meninggalkan restauran.


Dalam mobil Thora menahan amarah yang meledak-ledak, Thora mengenal Faro karena adanya arsip yang ada di kantor papanya bahwa kemungkinan keluarga Faro lah yang telah menembak saudara angkat papanya waktu remaja.


"Selidiki lebih dalam dua orang laki-laki yang baru saja kita temui asisten Danu, aku ingin tahu siapa sebenarnya yang telah menembak uncle Desta waktu remaja" perintah Thora dengan suara yang sangat keras dan penuh amarah.


"Siap bos, saya akan mengerahkan orang terbaik untuk mengetahui keseharian mereka" asisten Danu menjawab sambil tertunduk.


"Satu lagi, masukkan orang kita ke perusahaan itu, terserah mau bagian apa saja, agar mudah mengawasi mereka" titah Thora lagi menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil dan memejamkan matanya.


Sementara dua orang intelejen yang mengikuti mobil Thora sampai di sebuah lobi hotel bintang lima, Thora dan Danu duduk di lobi hotel, setelah beberapa menit datang seorang laki-laki yang berumur sekitar tiga puluh lima tahun duduk bergabung dengan mereka.


Duduk dua orang intelejen di sebelah mereka bertiga mendengarkan apa yang mereka bicarakan dengan seksama dan membuka handphone untuk merekamnya.

__ADS_1


Hampir setengah jam pertemuan tiga orang laki-laki itu, setelah selesai Thora dan Banu masuk ke kamar mereka masing-masing sedangkan satu tamu itu berpamitan pulang.


Dua orang laki-laki intelejen langsung salah satunya menuju ke kantor intelejen untuk menemui jenderal Hendro untuk memberi laporan tentang mereka yang di awasi nya sedangkan yang satunya tetap di hotel untuk mengawasi gerak-gerik mereka dan menginap juga di hotel itu.


Sayangnya siang itu jenderal Hendro tidak ditempat, sehingga dia hanya meninggalkan pesan dan memberikan informasi itu kepada pak kumis dan Uda Padang untuk dianalisa oleh tim intelejen.


Sore harinya saat jenderal Hendro tiba di kantor intelejen bertemu dengan Uda Padang dan Pak Kumis, mereka berdua langsung melaporkan jika tadi siang orang lapangan memberikan flashdisk tentang kegiatan Thora Thanapon siang ini setelah meeting bersama Faro dan Jasson.


Sebelum membuka flashdisk itu jenderal Hendro sengaja mengubungi Faro terlebih dahulu untuk datang ke kantor intelejen sekarang juga, hanya dalam waktu satu jam Faro sudah berkumpul didalam kantor intelejen bersama seluruh anggota.


Flashdisk mulai di masukkan ke leptop yang dihadapan Uda Padang, menggeser mouse, mulai memperhatikan dengan seksama apa yang ada di layar monitor, tetapi ternyata hanya ada suara saja dalam sebuah percakapan, dalam percakapan itu ada tiga suara yang berbeda, dua diantaranya Faro mengenal suara itu yaitu Thora dan asistennya Danu.


"Selamat siang bos, ini laporannya" suara itu diawali oleh orang yang tidak dikenali oleh Faro.


"Apakah laporan ini akurat?" pertanyaan itu dikenali Faro adalah suara asisten Danu.


Kemudian terdengar suara Thora sedang membaca laporan itu dengan keras.


"Anak pertama dari Kenzie Wiguna dan Imma Anjani dengan rumor hanya anak angkat dan ayah kandung sebenarnya adalah Dona Sanjaya memiliki kakek bernama Tomy Sanjaya yang merupakan musuh bebuyutan mantan ketua mafia Baron Pranoto Sebelum direbut oleh Theo Thanapon.


Memiliki istri yang sedang hamil keturunan dari asisten papa kandungnya yang tinggal lama di Malaysia dan merupakan owners dan CEO salah satu perusahaan WIGUNA GROUP, sekarang merangkap direktur pemasaran perusahaan yang baru saja bergabung dengan WIGUNA GROUP.


"Kebetulan kami sudah memiliki orang yang bekerja disana bos, langsung perusahaan yang dibawahi oleh target" keterangan orang yang tidak Faro kenal.


"Bekerja sebagai cleaning servis bernama Basiran, kebetulan istrinya pak Basiran itu jadi PRT di rumah saya bos" jawabnya lagi.


"Apakah ada bukti jika target adalah pemembak jitu yang di curigai oleh bos besar kita, bos?" tanya asisten Danu penasaran.


"Menurut saya tidak masuk akal sebenarnya, karena waktu itu target baru berusia dua belas tahun, tetapi bos besar miliki keyakinan itu tetapi sayangnya belum ada bukti tentang peristiwa itu sampai sekarang" keterangan Thora bersamaan dengan berakhirnya suara dari flashdisk itu.


Faro mendengar suara dari flashdisk itu tanpa suara, akhirnya hanya bergumam sendiri ternyata selama ini mereka sudah mencurigai peristiwa penembakan itu.


"Bang, sudah tahu pembicaraan mereka, hati-hatilah dalam menerima karyawan, kalau bisa jangan di pecat cleaning servis yang bernama pak Basiran, justru sebagai titik awal kita mengawasi mereka" perintah jenderal Hendro sambil memberikan solusi.


"Siap jenderal, itu suara ketiga orang dalam percakapan itu selain Thora dan Danu siapa dia jenderal?" tanya Faro kemudian.


"Itu serahkan pada kepolisian, dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam pasti kita akan mendapatkan namanya" janji jenderal Hendro.

__ADS_1


Sebelum pulang kerumah Faro mengirim pesan kepada detektif Conan dan Mario untuk menyelidiki orang yang bernama pak Basiran sehingga mereka berjanji untuk bertemu besok di kantor saat jam makan siang.


Sampai di rumah setelah membersihkan diri dan dan beristirahat sejenak, tiba-tiba datang umi, Fia, bunda dan Uthi Intan, ternyata mereka sudah janjian dengan Inneke untuk berbelanja keperluan baby ke mall malam ini.


"Sayang kenapa memanggil pasukan kesini untuk apa?" tanya Faro memeluk Inneke saat sedang duduk santai di kamar.


"Apakah mereka sudah datang Bang?" Inneke beranjak berdiri ingin menemui mereka.


"Eeee bukannya di jawab malah balik tanya, jawab dulu baru keluar kamar" Faro semakin mengeratkan pelukannya sehingga Inneke tidak bisa keluar kamar.


"Itu Bang, aku ingin belanja keperluan dekbay, boleh ya Bang please?" rengek Inneke manja bergelayut tangannya di lengan Faro.


"Sayang, apakah tidak bisa nanti saja, belum ada satu Minggu keluar dari rumah sakit, nanti kalau capek bagaimana?" khawatir Faro dengan keinginan istrinya yang baru pulang dari rumah sakit.


"Ayolah sayang, aku tidak apa-apa, dekbay juga sehat aja, bosan di rumah terus" Inneke terus merengek ingin keluar berbelanja dan jalan ke mall.


"Sayang boleh deh belanja tetapi dengan satu syarat" cicit Faro sedikit kesal.


"Terserah aja, yang penting aku boleh belanja, apa syaratnya?" Inneke tersenyum manis.


"Belanjaannya cukup di satu toko saja, tidak usah membandingkan harga, beli yang diperlukan, langsung pulang ok" titah Faro menggandeng Inneke keluar kamar menuju lantai bawah untuk menemui keluarganya yang ada di ruang keluarga.


"Abang tidak asyik banget sih, padahal itu serunya berbelanja, tetapi boleh makan disana ya Bang, cumi lada hitam, udang saos Padang waduh sedapnya" Inneke mengedipkan matanya agar Fero mengijinkan untuk makan disana juga.


"Baiklah... baiklah, belanja lalu makan terus langsung pulang, jangan banyak berjalan, jangan banyak toko di singgahi, faham?" ucap Faro penuh penekanan.


Dengan banyak peraturan akhirnya Inneke dan keluarga berangkat ke mall yang dituju dengan pengawalan yang lebih ketat dari biasanya, karena adanya umi dalam rombongan itu, Ken juga memberikan pengawalan cukup ketat, sehingga ada bodyguard dua kali lipat dari Ken dan Faro.


Setelah mereka berangkat, Faro dan Opa Tomy serta datang Ken dan asisten Sandi membicarakan tentang penemuan jika pengganti Decha Thanapon yaitu putranya Kathora Thanapon lebih detail lagi menyelidiki keluarga sehingga akan lebih berhati-hati kedepannya untuk melakukan langkah selanjutnya.


Faro juga menceritakan jika ada satu orang yang sengaja sebagai mata-mata untuk memberikan informasi kepada Thora sehingga kedepannya akan lebih berhati-hati dalam menerima karyawan baru.


Sedangkan di mall Inneke dan rombongan banyak di perhatikan oleh pengunjung yang datang karena ada rombongan tetapi dalam pengawalan ketat.


Banyak orang yang berkomentar macam macam tetapi yang dikawal cuek aja menikmati kebersamaan mereka dengan bercanda ria.


Masuk di toko baby shop yang cukup lengkap Inneke duduk di sofa panjang yang disediakan oleh toko, semua keluarga membantu Inneke memilih semua yang diperlukan untuk baby dengan riang dan sambil sedikit bercanda ria.

__ADS_1


Belanjaannya hampir memenuhi satu mobil sendiri, bahkan semua bodyguard hampir dua kali bolak-balik untuk membawa belanjaan Inneke dan terpaksa pak Min harus pulang terlebih dahulu untuk mengantar belanjaannya, baru menjemput mereka setelah selesai makan di mall itu juga.


__ADS_2