
"Makanya jangan janji kalau tidak bisa menepatinya, kabarin kek jika tidak bisa pulang, sudah tau Rafael tidak bisa tidur tanpa mendengar suara papinya, malah asyik entah dimana" amarah Inneke seakan memuncak dikeluarkan semua unek-unek dihati yang dipendam dari semalam.
"Sayang, Abang meeting bukan asyik asyik tidak jelas" mengelus pipinya Faro sedikit cemberut.
"Meeting apa sih sampai melupakan keluarga, janji janji doang sampai pundak panas menggendong Rafael yang rewel hanya pingin mendengar suara papinya, dasar egois"
"Iya sayang, ampun, tidak akan mengulanginya lagi, ampun, sini peluk dulu, istri cantik Abang biar hilang marahnya" Faro membangunkan Inneke langsung ditarik dalam pangkuannya serta dipeluknya erat-erat.
Datang bunda sambil menggendong baby Rafael tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu langsung masuk kamar Rafael.
"Mami baby Rafael haus, eeee apaan ini pagi pagi pangku-pangkuan, bukannya mandi atau menemani Rafael berjemur, dasar aneh" cabik bunda menggendong baby Rafael mendekati Faro dan Inneke sambil menggerutu.
"Bunda....." Faro dan Inneke jadi kaget kepergok pagi pagi mesra mesraan, Inneke segera turun dan menghampiri Rafael, memberikan ASI eksklusif sambil duduk di samping Faro.
"Pulang jam berapa tadi malam Bang, lain kali vedio call kalau belum bisa pulang, jangan bikin khawatir baby El" nasehat bunda menepuk pundaknya dengan pelan.
"Iya Bun, maaf kemarin baterai handphone habis, meeting sampai tiga jam lebih, pulangnya aja dijemput oleh jenderal Hendro menggunakan helikopter" dengan melirik Inneke bercerita sedikit ragu-ragu Faro bercerita.
"Kenapa menggunakan helikopter?" Bunda mengerutkan keningnya berpikir sambil ikut melirik Inneke.
"Kemarin putri cantik bunda memutuskan sambungan telepon padahal Abang belum selesai ngomong, mau pesan tiket pesawat sudah tidak ada, jadi minta tolong jenderal Hendro untuk menjemput Abang" dengan tersenyum dan melirik Inneke yang sedang menyusui baby Rafael.
"Aduuuh, so sweet, tetapi kok seperti suami takut istri" goda bunda mentowel hidung baby Rafael, dan pamit keluar kamar menuju dapur untuk membantu bibi dan umi yang sedang membuat sarapan.
"Bukan suami takut istri Bun, tetapi suami sayang istri yang betul, bunda" sanggah Faro berdiri dan mencium pipi Inneke yang sedang menunduk melihat baby Rafael yang sedang menyusu dengan lahap.
Bunda hanya terkekeh mendengar jawaban Faro kemudian melenggang keluar kamar dengan cepat tanpa menjawab ucapan Faro lagi.
"Gombal..." Inneke mengerucutkan bibirnya masih kesal kepada suaminya.
"I love you Mami dan Rafael gantengnya Papi" kembali Faro merayu Inneke yang masih merajuk dan cemberut.
"Tidak usah merayu, mandi sana Papi, mau berangkat ke kantor jam berapa?" Inneke mengerucutkan bibirnya masih sedikit kesal kepada suaminya.
"Papi masih malas, berangkat ke kantor setelah istirahat siang aja Mami, ada meeting pukul satu siang" Faro merebahkan tubuhnya kembali disamping Inneke dengan memeluk pinggangnya dengan erat, kembali terpejam tertidur pulas.
Pukul sepuluh pagi bunda dan umi pamit pulang ke rumah masing-masing, Inneke bermain dengan Rafael di gazebo dekat kolam renang sedangkan Faro masih terlelap dalam mimpinya.
"Waaaah, El sudah pinter ya, mulai bisa miring sendiri, apa mau belajar tengkurap sayang" Inneke monolog sendiri berinteraksi dengan baby Rafael yang selalu bergumam ah ih uh dengan bahasa planetnya.
"Papi pasti senang kalau lihat sayangnya Mami pintar, gemes jadinya". Inneke mentowel pipinya dan tersenyum.
Sudah hampir satu jam bermain waktunya Rafael tidur siang Inneke mengajak Rafael ke kamar dan untuk beristirahat, baru Faro mengerjapkan matanya terbangun karena ada Inneke yang berbicara dengan Rafael yang sudah mengantuk, bergegas mandi dan setelah selesai mencari Inneke di kamar Rafael.
"Sayang apakah Rafael sudah tidur?" Faro mendekati Inneke yang sedang membaringkan Rafael di box bayi langsung memeluknya dari belakang.
Meletakkan dagunya dipundak istrinya menciumi tengkuk dan lehernya dengan mesra, bau harum Inneke yang selalu membuat candu bagi Faro.
__ADS_1
"Sayang, Abang lapar sangat lapar malahan" ucapnya manja.
"Ayo kebawah, jangan dibiasakan telat makan tidak baik" Inneke mencoba melepaskan dari pelukan suaminya.
"Iya sayang ini baru mau----" Faro langsung membalikkan badan Inneke mencium bibirnya dengan lembut dan tangannya mulai menyusup dibalik bajunya.
"Abang apaan sih, ini di kamar Rafael, jangan macam-macam, aku lagi tanggal merah, ayo turun bilang Abang mau makan" Inneke menarik tangannya keluar kamar menuju ruang makan.
Muka Faro seketika pias, yang tadinya kobranya sudah terbangun dan siap tempur, lemas seketika tanpa daya, berjalan lunglai ditarik tangannya oleh Inneke sampai ruang makan.
"Bibi Tini apakah sudah selesai masaknya, Abang lapar katanya?" Inneke mendorong Faro untuk duduk di kursi tersenyum melihat mukanya yang sedang menahan rasa.
"Tidak usah masam begitu mukanya Bang, sabar ya satu Minggu lagi baru bisa makan yang Abang inginkan" kembali Inneke tersenyum walaupun sebenarnya kasihan saat melihat wajah Faro yang kecewa.
"Ini sudah selesai sayur soup dan ayam gorengnya, sambalnya masih dibuat oleh bibi Narti" bibi Tini meletakkan makan untuk Faro di meja makan.
Setelah bibi Narti meletakkan sambal terasi di meja makan, baru Faro makan dengan lahap tanpa ada suara sedikitpun, Inneke hanya duduk di sampingnya sambil memandangi wajah suaminya yang cemberut dan masam.
Selesai makan tanpa bicara Faro kembali ke kamar, Inneke hanya menggelengkan kepalanya tadi malam aku yang marah sekarang gantian dia yang marah gumamnya dalam hati, bergegas Inneke menyusulnya.
"Abang marah, bukannya Abang sudah tau jadwal tanggal merahku setiap bulannya, jadi apa salahku?" dengan manja Inneke duduk di pangkuan Faro yang sedang mencari acara di televisi dengan menekan tombol remote sedikit kasar.
Faro langsung melihat kalender yang tergantung disamping televisi disana ada lingkaran merah, Faro sudah menandai kalender itu pada setiap bulannya dalam satu tahun.
"Oya Abang lupa, sayangku tidak salah, maaf Abang terlalu emosi" Faro mencium sekilas bibir Inneke.
Terkekeh Faro melihat Inneke yang mengerucutkan bibirnya dengan gemas Faro menggigit bibirnya pelan.
"Auw sakit Bang, kenapa digigit sih?, sakit bibirku Bang" mengusap bibirnya Inneke turun dari pangkuan Faro.
"Atau perlu melakukan jalan lain menuju Roma?" Inneke mencondongkan badannya mendekati wajah Faro.
"Tidak usah sayang, Abang nunggu satu Minggu aja, Abang kurang suka kalau melakukan itu".
"Kenapa?" Inneke duduk disamping Faro melingkarkan tangannya dipundaknya sendiri.
"Abang kurang suka, lebih enak kalau mengalami pelepasan klimaks berdua, kalau cuma Abang sendiri aneh rasanya" Inneke hanya terbengong-bengong dan mengerutkan keningnya berpikir apakah dia tau jika dirinya menyembunyikan rasa yang ditahannya jika melakukan jalan lain bersamanya.
Sampai pukul satu siang Faro berangkat ke kantor tanpa pengawalan seperti biasanya karena bodyguard akan mengantar Inneke dan baby Rafael ke rumah umi dan Abi yang berencana jalan jalan sore di taman dekat rumah mereka.
Berangkat sendiri dengan menggunakan mobil menunju kantor, tetapi setelah melewati lampu merah berjalan ada mobil berwarna merah mengikutinya dari belakang sampai melewati beberapa lampu merah kembali.
Saat Faro melambatkan laju mobilnya mobil merah itu juga ikut melambat, hampir setengah perjalanan menuju kantor mobil itu masih mengikutinya, diarahkan spion yang ada di samping kanannya kearah mobil itu saat Faro berada di lampu merah berikutnya.
Berjalan kembali setelah lampu berganti warna hijau, kembali Faro memperhatikan mobil merah yang mengikutinya, mata elang Faro bisa membaca gerak gerik sopir yang menyetir mobil merah itu sepertinya seorang wanita walaupun menggunakan topi dan kacamata hitam beserta masker menutupi wajahnya.
Dengan menggunakan earphone Faro bergegas menghubungi jenderal Hendro meminta bantuan untuk menyelidiki mobil merah itu melalui CCTV yang ada di kantor intelejen.
__ADS_1
Kebetulan jenderal Hendro, pak Kumis dan Uda Padang sedang menulis laporan akhir bulan di markas.
Bergegas Uda Padang membuka leptopnya, menyambungkan dengan monitor besar yang ada didepannya dengan cepat, setelah mengetahui koordinat dan melihat mobil Faro dan mobil merah yang ada dibelakangnya serta mengawasi lokasi daerah sekitar Faro mengendarai mobil.
"Bang didepan jalan yang Abang lewati ada gang yang lumayan sepi berbeloklah, dan jangan lupa setelah sekitar lima ratus meter berhentilah mendadak" perintah jenderal Hendro sambil memperhatikan layar monitor besar yang ada didepannya serta menekan tombol pengeras suara atau loud speaker handphone.
"Baik jenderal, Oya jenderal tolong hubungi Mario untuk bisa menyusul ke gang depan ya" Faro membelokkan arah mobilnya kearah yang ditunjukkan oleh jenderal Hendro.
"Ok gampang itu, jangan di matikan handphone nya Bang" titah jenderal Hendro sambil memerintahkan Uda Padang untuk menghubungi Mario.
"Bang sekitar satu kilometer baru agak sepi berhentilah mendadak disana!" perintah Pak Kumis dengan suara lantang.
"Siap Pak Kumis".
Dalam waktu hampir sepuluh menit dan sekitar satu kilometer dari masih melihat kebelakang mobil merah masih mengikuti Faro sengaja menambah kecepatan, tetapi saat mobil merah itu tancap gas sampai dalam jarak dekat, Faro langsung menginjak rem mendadak.
"Brrruaaaak......" suara mobil berbenturan dengan kencang.
Mobil merah langsung menghantam bagian belakang mobil Faro sampai ada suara pecah lampu send dan penyok bodi mobilnya, walaupun Faro hanya terhuyung ke depan dan tidak sampai membentur setir mobil tetapi tetap saja Faro sangat kaget.
Dengan cepat Faro turun dari mobil berlari mendekati kemudi mobil merah itu dan membukanya dengan cepat.
"Keluar lo, cepat" bentak Faro dengan suara yang tinggi.
Ada beberapa orang laki-laki dan wanita yang ada di TKP membantu Faro karena sopir mobil merah itu tidak mau keluar dari posisi kemudi.
"Pak biar saya yang menariknya sepertinya dia seorang wanita" seorang ibu muda langsung menarik tangannya.
Ibu muda itu menjadi geram sendiri, masih memegangi tangannya kemudian membuka topi, kacamata dan masker wanita itu dengan kasar.
Perlahan wanita menatap Faro dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, dari ujung rambut sampai ujung kaki tanpa terlewati sedikitpun.
"Faro, gue hanya---" wanita itu mencoba mendekati Faro dan ingin meraih tangannya.
"Menjauhlah, jangan dekati gue" bentak Faro dengan suara lantang mundur beberapa langkah kebelakang.
________________
Semoga semua shobat dalam keadaan sehat
sehat selalu, jangan lupa like vote dan
komentarnya serta hadiah bunga ataupun
kopinya, untuk semangat author.
terima kasih
__ADS_1