
Satu bulan setelah acara babymoon ke Malaysia, semakin hari perut Inneke semakin terlihat, tetapi hobi makan ikan dan jus buah tidak pernah surut, tambah satu lagi hobi Inneke setelah perutnya membesar, sering mengajak Faro berlatih di ruang menembak baik jika di rumah ataupun di kantor.
Bahkan tidak jarang tengah malam Inneke sering mengajak suaminya itu kesana padahal hanya melihat lihat bentuk dan jenis senjata otomatis yang terpajang rapi disana, terkadang jika Faro ada di kantor Opa Tomy yang menemani Inneke di ruangan itu, bahkan semakin banyak pengetahuan tentang persenjataan jika bersama Opa Tomy yang memang beliau memiliki hobi sejak remaja hingga sekarang tidak pernah surut.
Beda lagi dengan kehamilan Ara, ibu muda itu sekarang hobinya berlatih yoga dan karate, walaupun tidak sekeras orang yang tidak hamil tetapi badannya fit karena tiada hari tanpa berlatih, bahkan badannya mulai terbentuk, makanpun Ara tidak pilih pilih seperti ibu hamil lainnya, kata orang Jawa hamil kebo karena yamg mengalami ngidam hanya Mario walau sekarang sudah tidak mual dan muntah lagi seiring bertambahnya usia kandungan.
Yang paling malas adalah Erna, ibu hamil satu itu setiap hari hanya makan duduk meluruskan kakinya sambil membaca buku, buku apapun dia baca bahkan jika sudah habis semua buku yang dibeli dibacanya, dia dengan senang hati membaca buku-buku lama saat dia kuliah dulu, bahkan Rendi hampir seminggu dua kali ke toko buku hanya sekedar untuk memenuhi keinginan ibu hamil yang terkadang unik.
Hari Minggu ini adalah acara tujuh bulanan Inneke, umi, bunda dan uthi Intan dibantu oleh Kemmy yang membuat acara sederhana hanya memanggil anak yatim-piatu dan pengajian malam harinya dengan seseorang ceramah agama terutama di ibukota.
Hanya keluarga, sahabat dan tetangga sekitar kompleks yang hadir di acara itu, yang paling banyak adalah anak yatim-piatu yang hadir, ini sesuai permintaan ibu sang bayi yaitu sekitar dua ratus anak yatim-piatu yang hadir dari beberapa yayasan panti asuhan, pulang membawa bingkisan dan amplop membuat semua anak yatim-piatu itu begitu riang dan bahagia.
Datang tamu jauh yang tidak diduga oleh Faro karena memang tidak memberi kabar terlebih dahulu, dengan tugas dadakan dari polis Diraja Malaysia Ahmad datang malam itu bersama jenderal Hendro dengan berpakaian koko khas Melayu saat di tengah-tengah ceramah ustad, sehingga Faro tidak begitu menyadari kehadiran orang yang pernah berjanji mengabdikan hidupnya setelah polis Diraja Malaysia.
Sampai ceramah agama selesai, semua menikmati hidangan yang disajikan baru jenderal Hendro dan inspektur polis Ahmad Budiansyah mendekati Faro dan Mario yang sedang berbincang dengan Ustad.
"Tuan Faro,.... asisten Mario, ini saya Ahmad" Ahmad berdiri disamping jenderal Hendro dan memberi hormat dan kemudian membungkkan badannya.
"Ahmad!!!!!" panggil Faro dan Mario bersamaan.
Seperti tidak percaya Faro melihat Ahmad ada di depan matanya apalagi bersama jenderal Hendro berada disampingnya.
"Bagaimana bisa berdua dengan anda jenderal?" tanya Faro mengulurkan tangannya untuk bersalaman bergantian dengan keduanya diikuti oleh Mario.
"Dia ada kunjungan kerja ke markas intelejen, dan bercerita jika ingin bertemu dengan Abang, jadi saya ajak sekalian kesini" keterangan jenderal Hendro dengan tegas.
"Bos apakah jenderal tahu dia adalah sepupu dari Andrew Hidayat?" bisik Mario di telinga Faro.
"Tidak usah bisik-bisik asisten Mario, jenderal tahu semua, karena saya datang ke Indonesia juga karena masalah dampak yang di timbulkan oleh Andrew Hidayat bukan sebagai sepupu tetapi sebagai tersangka karena masih ada kasus yang belum terselesaikan saat dia tinggal di Jakarta" keterangan Ahmad dengan memandangi Faro yang masih menahan amarah jika membahas tentang seorang Andrew Hidayat.
"Sebaiknya kita makan terlebih dahulu baru nanti kita bahas lagi" ajak Faro mempersilahkan mereka menikmati hidangan yang disajikan.
Menikmati hidangan dengan diam hanya suara sendok dan garpu yang beradu sampai tandas makan malam itu, beramah tamah dengan keluarga dan sahabat sampai sebagian besar pamitan dan juga menyampaikan pesan salam dari Sanah yang tidak bisa ikut berkunjung ke Indonesia karena mendadak dan tidak mendapatkan cuti dari perusahaan dimana Sanah kerja.
"Sorry Miss, ini bingkisan dari istri saya Sanah mohon maaf belum bisa berkunjung, hanya menitip salam untuk Anda" Ahmad memberikan paper bag dan membungkukkan badannya hormat serta tidak berani menatap wajahnya.
__ADS_1
"Iya terima kasih, tolong sampaikan salamnya sudah di terima" Inneke menerima paper bag dari Ahmad kemudian melipatkan kedua tangannya di dada.
Setelah selesai beramah-tamah Faro mengajak Mario, Ahmad dan Jenderal Hendro ke ruang kerja sebelumnya mengantar Inneke ke kamarnya untuk beristirahat.
Berkumpul di ruang kerja berempat mulai lagi membicarakan tentang masalah yang tertunda dari tadi.
"Baiklah ceritakan kasus apa sebenarnya yang belum terselesaikan?" tanya Faro setelah mereka berempat duduk di sofa tamu saling berhadapan.
Ahmad menceritakan ada seorang wanita paruh baya yang menuntut Andrew Hidayat biaya hidup karena telah meninggalkan seorang anak laki-laki berumur dua tahun tanpa mau bertanggung jawab.
"Maksudnya bagaimana gue kurang faham?" tanya Mario yang kurang bisa memahami bahasa Melayu yang Ahmad pakai untuk bercerita.
"Maksudnya saat Andrew Hidayat tinggal di Indonesia memiliki hubungan dengan putrinya ibu paruh baya itu sampai melahirkan anak laki-laki yang sekarang berumur dua tahun, tetapi belum Pernah diberikan nafkah, sehingga mereka mengajukan tuntutan hukum" timpal jenderal Hendro panjang lebar.
"Memangnya ibu dari anak itu tidak bekerja mengapa harus menuntut jika tidak adanya ikatan pernikahan?" tanya Faro penasaran karena merasa janggal dengan tuntutan itu.
"Ibu dari anak laki-laki itu meninggal saat melahirkan" jawab Ahmad sedikit menunduk dengan mata sendu.
"Bagaimana nenek dari anak laki-laki itu menemukan identitas dari Andrew Hidayat inspektur Ahmad?" tanya Mario juga penasaran karena hampir tidak percaya apa yang terjadi.
Jenderal Hendro bercerita di mintai tolong temannya seorang inspektur polisi daerah Bekasi yang membantu seorang wanita paruh baya yang bekerja sebagai ART dirumahnya dengan membawa kasus tentang tuntutan hukum itu kepada Andrew Hidayat tetapi tidak mengetahui alamatnya, sehingga meminta bantuan untuk mencarikan alamatnya, ternyata di tuntutan itu ada foto Andrew Hidayat.
Pertemuan malam itu Ahmad anggap pertemuan resmi karena di dampingi oleh jenderal Hendro sehingga sebelum pamit pulang Ahmad meminta kepada Faro untuk bertemu kembali secara pribadi besok malam.
Hampir tengah malam Faro masuk kamar ingin menyusul Inneke untuk tidur tetapi sayangnya tidak menemukan sosok Istri tercintanya, mencari dilantai bawah dapur, ruang keluarga tetap tidak menemukannya.
Melihat ruang menembak ternyata lampunya menyala terang, berlari mendekati ruangan itu, Inneke sedang berlatih menembak menggunakan senjata otomatis Laras pendek, mengawasinya dari pintu berdiri sambil melipat kedua tangan di atas perutnya.
"Dor.....dor......dor" peluru itu tepat ditengah lingkaran sasaran.
Mata Faro terbelalak lebar melihat Inneke mempunyai kemampuan seperti itu padahal dia selama ini hanya memperhatikan saat Faro berlatih.
"Dor....dor......dor" sekali lagi Inneke mencoba membidik sasaran dan lagi-lagi tepat di tengah tengah lingkaran itu padahal dia jarang melakukannya.
Faro bahkan seperti hampir tidak percaya dengan kemampuan Inneke yang baru saja dilihatnya, selama ini dia tidak pernah mau jika diajak belajar menembak oleh Faro karena terlalu maco katanya dan Inneke tidak suka, tetapi kenapa akhir-akhir ini semakin hari dia semakin tertarik dengan latihan menembak apakah ini bawaan bayi dalam kandungannya gumam Faro dalam hati.
__ADS_1
"Sayang...." panggil Faro lembut agar tidak membuatnya kaget karena terlalu konsentrasi.
"Bang, sudah selesai pertemuan dengan inspektur Ahmad?" Inneke mengalihkan perhatian takut dimarahi Faro karena mencoba berlatih seperti dia.
.
"Hhmmmmm, sejak kapan bisa menembak seperti Abang?" tanya Faro tetap fokus dan tidak teralihkan perhatiannya.
"E....e...ini aku beberapa kali menggunakan senjata otomatis Bang di bimbing oleh Opa Tomy, tetapi kenapa bisa tepat ya, aku sendiri juga bingung, palingan dorongan dikbay yang ada di perutku"Seloroh Inneke sekenanya.
Faro jadi mengerutkan keningnya berpikir, memang ada bayi masih dalam perut mempunyai dorongan membantu ibunya menembak tepat sasaran gumamnya dalam hati, jika alasannya karena keinginan bayi yang belum lahir itu Faro tidak bisa berkutik selain ingin memenuhi semua keinginan istri yang sedang hamil juga karena akhir-akhir ini jika di larang Inneke akan menangis tersedu-sedu dan susah dibujuknya.
"Ya sudah, ini sudah malam ayo kita tidur" ajak Faro dengan menarik tangannya lembut.
Inneke mengangguk berjalan bergandengan keluar dari ruang menembak ke lantai atas menuju kamarnya untuk beristirahat, seharian ini Inneke banyak berjalan karena menyambut tamu yang datang terutama anak yatim-piatu yang lumayan banyak, sampai di kamar langsung meluruskan kakinya di tempat tidur baru terasa kakinya sedikit bengkak dan pegal.
"Rasanya pegal sekali kakiku" keluh Inneke dengan memijit sendiri kakinya.
"Sayang kenapa sepertinya kakinya sedikit berbeda, kok lebih besar dari biasanya ya?" tanya Faro duduk memangku kaki Inneke yang tadi diluruskan.
"Baru terasa pegal-pegal Bang padahal saat jalan biasa aja" keluh Inneke.
Dengan lembut Faro memijit kaki Inneke perlahan dengan menggunakan minyak gosok beraroma terapi yang membuat semua orang yang menghirupnya terbuai dengan perlahan baunya.
Setelah terasa rileks kaki Inneke Faro tidak berhenti memijit tetapi yang dipijit bagian kenyal yang ada di dada istrinya.
"Kenapa pijitnya pindah diatas Bang?" tanya Inneke pura-pura polos.
"Abang hanya ingin menengok dikbay, rasanya kangen dia" rayu Faro tanpa henti menggoda istrinya.
"Dari awal niatnya cuma mijit kaki kenapa jadi modus?" Inneke jadi tidak bisa mengontrol hatinya jika sudah ada tangan yang bergerilya.
"Entahlah, tangannya refleks pingin pijit bagian atas" Faro dengan senyum yang mengembang dan mulai bergerilya tanpa aba-aba, sehingga terjadilah adegan romantis menuju ke surga dunia sampai klimaks malam itu dengan hati yang bahagia.
Tidur dengan berpelukan tanpa sehelai benangpun hanya selimut yang menutupi tubuh keduanya sampai menjelang pagi saat matahari mengintip dari celah kecil dalam kamar bangun bersama serta mandi juga bersama.
__ADS_1