Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
116. Menginap


__ADS_3

Berapa hari kira-kira helikopternya datang?" tanya Rendi kepada Mario setelah selesai dia melakukan tawar menawar harga dengan teman dari jenderal Hendro lewat pesan WA.


"Tergantung bos kapan bayar dan kapan hanggar untuk helikopter siap" Mario menjawab sambil melihat Faro yang sedang asyik bermain di handphonenya.


"Kalau sudah ok bayar aja sekarang" perintah Faro tanpa melihat mereka berdua.


Conan dan Ridwan bergabung dengan mereka bertiga setelah selesai melakukan meeting kecil berdua.


"Apa yang mau dibayar bos?" tanya Ridwan penasaran.


"Itu bos baru saja beli helikopter, hanya lewat online aja, ajaib kan?" cicit Rendi geleng geleng kepalanya karena mengetahui harganya yang fantastis.


"Itu uang kalau dibelikan es cendol mungkin Jakarta ini tenggelam oleh es cendol ya bos?" Conan yang terheran-heran ternyata bosnya yang selama ini tidak diketahui berapa kekayaannya.


"Heran gue, beli helikopter kok seperti beli kerupuk, seperti inikah dunia eksekutif muda?" Ridwan juga ikut terheran-heran persis seperti Conan.


Hampir pukul lima sore Imma dan rombongan pulang dari taman dengan dikawal para bodyguard.


Melihat para lelaki yang berbadan besar, dada terbentuk kotak kotak, berseragam hitam putih mengikuti empat wanita dan salah satunya mendorong stroller bayi.


"Siapa mereka bos?" tanya Ridwan berbisik penasaran melihat para bodyguard yang gagah dan tegap mengawal para anggota keluarga teman bosnya.


"Itu istri dan ibunya bos, adiknya dan pengasuhnya" bisik Rendi pelan pelan.


"Banyak tamu rupanya, selamat sore semuanya" Imma masuk mendekati mereka yang sedang duduk diruang tamu.


"Sore umi" Rendi dan Mario menjawab bersamaan mengikuti Faro meraih dan mencium punggung tangannya secara bergantian.


"Eeee ada Papi, sudah lama Papi, Daddy, Papa apa kabar, uncle detektif dan asisten baru, halo apa kabar?" Inneke melambaikan tangan yang memegang tangan baby Rafael dan menirukan suara anak kecil.


"Hay baby El, kabar baik, pipinya sudah gembul ya" Conan mendekati Rafael dan mentowel pipinya.


"Waaaah gantengnya Papi habis jalan ya, sini gendong Papi kangen cium dulu, muuuah" Faro mencium pipi Rafael dengan lembut.


Setelah para tamu pulang, Faro masuk kamar menggendong baby Rafael diikuti oleh Inneke, kamar yang lama sudah dia tinggalkan tetapi masih tertata rapi, ternyata bibi selalu membersihkannya setiap hari.


Belum sempat dibaringkan baby Rafael pintu sudah diketuk terpaksa berjalan kearah pintu dan membukanya sendiri karena Inneke sedang dikamar mandi, ternyata ada Fia dan bibi Jum sudah berdiri didepan pintu saat Faro membuka pintu.


"Ada apa?" tanya Faro singkat.


"Waktunya baby Rafael mandi sore Bang, sini biar bibi Jum mandikan baby El dikamar Fia aja, pasti Bang Jasson senang" Fia mengulurkan tangannya menggendong baby Rafael.


"Kapan Jasson datang, kok Abang tidak lihat?" Faro mengeluarkan kepalanya saja mencari keberadaan Jasson yang tidak terlihat.

__ADS_1


"Barusan Bang, baby El mandi di kamar aunty ya sayang, kita godain uncle Jasson biar dia tidak tidur sore" Fia meninggalkan kamar Faro menuju kamarnya sendiri diikuti bibi Jum dari belakang.


Sampai di kamar Fia, bibi Jum mempersiapkan alat mandi, air hangat untuk mandi baby Rafael, sedangkan Fia duduk disamping tempat tidur.


"Uncle, bangun baby Rafael datang, uncle jangan tidur sore-sore" Fia berceloteh ria dengan suara anak kecil sambil memegang tangan Rafael menempelkan tangan itu dipipi Jasson.


Dengan mata sayu, Jasson mengerjapkan matanya, seperti diberikan lem matanya susah dibuka, tetapi mencoba terjaga karena datangnya idola kecil yang selama ini selalu dirindukannya.


"Baby El, si ganteng....aduh uncle kangen banget" Jasson langsung duduk dan mendekati Fia yang sedang menggendong baby Rafael.


"Ayo uncle temani baby El mandi!" Fia membaringkan Rafael ditempat tidur, membuka baju dan popoknya, dan digendong lagi ke kamar mandi.


Jasson dan Fia ikut bergabung di kamar mandi saat Rafael dimandikan oleh bibi Jum, dengan ocehan planet yang tidak dimengerti, Fia dan Jasson terus aja berinteraksi dan mengajaknya bicara, sampai selesai mandi, dibawa keluar kamar mandi tetap aja pasangan itu dengan setia mengikutinya, selesai dipakaikan baju dan sudah ganteng gantian Jasson yang menggendongnya.


Bergabung dengan umi dan Abi di ruang keluarga bercengkerama dengan seluruh keluarga tetap aja baby Rafael yang menjadi idola, semua mengelilinginya dan mengajaknya berbicara.


Akhirnya Faro sekeluarga menginap di rumah Abi dan umi malam ini, dan tidur bertiga di tempat tidur big size milik Faro dengan posisi baby Rafael ditengah.


"Sayang Abang susah tidur nich, coba baby Rafael paling pinggir, Abang tidak bisa tidur tanpa memelukmu" Faro membelai pipi Inneke dengan tatapan sendu.


Dengan terpaksa Inneke menggeser putranya untuk ditempatkan paling ujung dekat tembok dan Inneke diposisi tengah, dengan tersenyum lebar Faro langsung bergeser memeluk Inneke dengan erat.


"Ini baru nyaman" dengan memeluk Inneke menghirup aroma istrinya dan mencium keningnya perlahan.


"Sayang tadi sore Abang beli helikopter" cerita Faro sambil mata terpejam rupanya ngantuk mulai menyerangnya.


"Abang tidak mau kayak kemarin, sudah susah cari tranportasi ditengah malam, sampai rumah melihat istri marah, rasanya tidak enak" Faro semakin mengeratkan pelukannya dan sudah sangat mengantuk.


"Nanti tabungan Abang habis, tidak usah beli yang macam-macam" Inneke mencoba keluar dari pelukan Faro erat.


"Jangankan satu helikopter, limapun Abang sanggup membelikan untukmu, jangan ragukan Abang ya".


"Idih sombong amat Abang".


"Abang tidak sanggup kalau Istri Abang marah seperti kemarin, sudah tidak usah dibahas, Abang ngantuk berat nich, besok lagi ceritanya ya"


Akhirnya Inneke membiarkan suami dan anaknya tertidur lelap sedangkan dia sendiri jadi susah tidur, baru marah sekali sudah bereaksi seperti itu, bagaimana kalau marah berhari hari, apa yang akan dilakukannya gumamnya sendiri dalam hati.


Keesokan harinya gantian Faro sekeluarga menginap di rumah bunda berangkat bareng Faro ke kantor karena mobil Faro masih di bengkel sehingga terpaksa Faro memakai mobil yang biasa dipakai untuk mengantar Inneke kemanapun.


"Cucu Enin sudah datang, ayo masuk nak" sambut bunda saat melihat Faro yang sedang menggendong baby Rafael dan membawa tas kecil diikuti Inneke berjalan disampingnya serta bibi Jum berada dibelakang.


"Gendong Enin ya ganteng, Papi mau berangkat kerja, tidak boleh nakal" pesan Faro memberikan baby Rafael kepada bunda untuk gantian digendong.

__ADS_1


"Mami, berangkat dulu ya, kalau ada apa-apa hubungi Papi" mencium kening Inneke bergantian mencium pipi baby El dan mencium punggung tangan bunda berpamitan untuk berangkat kerja.


"Hati-hati Papi, jangan lupa nanti pulang kerja langsung kesini" Inneke mengantar suaminya sampai didepan pintu.


"Hhmmm" kembali Faro mencium keningnya dan tambah mencium bibirnya sekilas.


Di kantor Faro langsung mendapatkan laporan dari Conan jika Sari Sagita kembali masuk jeruji besi atas tindakannya menabrak mobil Faro dari belakang.


Laporan kedua dari Mario tentang hanggar yang saat ini baru akan dibangun, yaitu lahan tanah di belakang perusahaan yang baru saja di beli oleh perusahaan.


Pembebasan lahan itu awalnya untuk gudang, tetapi karena gudang dibangun di samping perusahaan yang lebih luas, lahan yang ada dibelakang perusahaan tidak terlalu luas, tetapi cukup untuk membuat hanggar helikopter.


Satu lagi Faro juga mendapatkan informasi dari jenderal Hendro jika akhir akhir ini akibat ulah ketua mafia Indonesia yang baru yaitu Agus Martono, pihak kepolisian dibidang narkoba selalu dibuat kerepotan karena ulahnya dalam beberapa Minggu, membeli obat terlarang dari Thailand dalam jumlah besar.


Bahkan Minggu ini kepolisian bidang narkoba sudah mendapatkan barang bukti pembelian narkoba secara besar besaran yang di selundupkan bersama kontainer berisi pakaian cakar atau pakaian bekas dari Thailand.


Faro menjadi sering bolak-balik kantor perusahaan dan kantor intelejen, karena dia tidak ingin jika sore hari waktunya habis digunakan untuk menyelidiki suatu kasus, Faro tetap berusaha pulang tepat waktu setelah baby Rafael lahir.


Seperti saat ini pagi hari bekerja di kantor sampai pukul dua siang, baru berangkat ke kantor intelejen untuk membantu menyelidiki penemuan narkoba dalam jumlah besar yang ada ditumpukan bersama baju cakar dalam kontainer yang baru tiba tadi malam di pelabuhan.


Pihak kepolisian tidak menemukan benang merah dari penemuan narkoba itu dengan ketua mafia cabang Indonesia, tetapi dengan bantuan intelejen terutama mata elang Faro akhirnya bisa menemukannya tetapi sayangnya seperti peristiwa yang sudah-sudah, Agus Martono tidak bisa tersentuh oleh hukum hanya anak buahnya saja yang di korbankan sebagai pemilik bahan terlarang itu karena campur tangan seorang Felix Siregar yang sudah berpengalaman malang melintang di dunia hukum, tetapi paling tidak narkoba itu bisa dimusnahkan oleh pihak kepolisian dan mereka mengalami kerugian yang cukup besar.


Dari kantor intelejen tepat pukul lima sore Faro langsung pulang ke rumah bunda, ingin sekali cepat menemui putra dan istri tercinta.


"Sayang Papi sudah pulang, apakah gantengnya Papi sudah mandi, baunya harum banget" Faro mencium pipi baby Rafael kemudian mencuri ciuman untuk istri tercintanya.


"Cup...cup" pipi kanan Inneke berhasil dicium Faro dengan tersenyum defil.


"Papi jangan mulai usil ya, bau belum mandi sana cepat mandi dulu" Inneke memukul lengan Faro perlahan.


"Sini baby Rafael sama bibi Jum dulu ya, biar Mami mempersiapkan baju ganti Papi" bibi Jum mengulurkan tangannya untuk menggendong baby Rafael.


Faro dan Inneke berjalan ke lantai atas menuju kamar Inneke untuk mandi.


"Sayang, sudah mandikah?, Abang maunya dimandikan please?" ucap Faro dengan manja dan suara yang dibuat buat.


"Tapi Bang, aku sudah mandi, masak harus mandi lagi" protes Inneke, tetapi tetap saja mengikuti Faro berjalan ke kamar mandi karena tangannya ditarik oleh Faro.


Dibukakan baju dan celananya, Inneke telaten membantu Faro mandi, menggosok punggung, memberikan sampo dan membilasnya dengan cekatan, sedangkan yang Faro hanya tersenyum dan memandangi wajah istrinya dengan mesra.


"Apakah nanti malam Abang sudah bisa mendapatkan jatah, ini malam Jum'at lo sayang?" Faro menghadap kearah Inneke yang sedang mengeringkan badan dan rambutnya menggunakan handuk.


"Belum bisa malam ini Bang, besok baru bisa setelah kita pulang ke rumah, lagian tidak baik jika Abang minta padahal kita tidur satu ranjang bertiga".

__ADS_1


"Yaaah harus besok ya, padahal Abang tidak tahan lagi, atau kita pulang sekarang aja?".


"Ngawur aja Abang ini, nanti bunda kecewa kalau kita pulang, ini pertama kali cucunya menginap, tahan sebentar lagi, Abang bisa kan?" dengan terpaksa Faro mengangguk pasrah harus menahan rasa tanpa bisa berbuat apa-apa.


__ADS_2