
Sudah mulai sepi, para tamu mulai meninggalkan tempat acara, tinggal keluarga yang sedang membawa pulang kado dan peralatan yang akan di bawa pulang, dan Faro masih bercanda dengan Mario, Rendi dan Conan, Inneke berinisiatif ke hotel terlebih dahulu karena badan sudah lengket dan pegal karena capek banyak berdiri.
"Bun, anter aku ke kamar hotel, Abang masih sama teman temannya, tolong bukakan resleting nya nanti" ajak Inneke kepada bunda.
"Ayo sudah, bunda temanin sebentar, sebetulnya sejak kapan sih Keke kenal Abang?" tanya bunda penasaran karena melihat Faro begitu menyayangi Inneke, dan memandangi wajah Inneke dengan rasa cinta yang begitu dalam.
"Sebenarnya kami pernah berhubungan Bun, tetapi dulu saat kami kuliah, aku yang mutusin Abang karena bunda menjodohkan aku dengan cucu teman kakek" cerita Inneke tersenyum manis.
"Ternyata kalian sudah pacaran ya, kenapa dulu tidak cerita sama bunda dan ayah?" tanya bunda lagi, Inneke hanya menggelengkan kepalanya dan mengangkat bahunya.
"Dulu bunda dan ayah melarang aku pacaran, jadi aku pacaran sama Abang beackstreet aja" jujur Inneke berjalan menggandeng tangan bunda.
"Ini ada menu makan malam untuk persediaan makan nanti kalau kalian lapar, ayo sini bunda bukakan resleting bajunya sana mandi, kalau suamimu datang kamu sudah siap" goda bunda senyum senyum sendiri mengedipkan matanya, meletakkan makanan di meja membantu membukakan resleting Inneke dan keluar dari kamar hotel setelah Inneke masuk kamar mandi.
"Aaah bunda bikin takut aja" Inneke masuk kamar mandi membersihkan diri hampir satu jam, mencari baju yang akan di gunakan untuk tidur di dalam koper itu ternyata sudah tidak ada yang ada hanya baju lingerie kurang bahan, warna hitam panjang sampai bawah tetapi tidak berlengan dan belahan dada yang terlihat jelas.
"Pada kemana ini baju, kok begini semua biar tidak terlalu terlihat aku dobel aja bajunya" ide Inneke menggunakan baju lingerie itu dengan dobel dua langsung.
Duduk di kursi meja rias, membersihkan sisa make-up dan memberikan krim malam, menyisir rambutnya perlahan, hati sudah terasa deg-degan tidak karuan menunggu datangnya Faro.
Hampir satu jam menunggu Inneke hanya berbaring di tempat tidur, sambil bermain handphone, menetralkan pikiran yang tidak menentu sambil melihat vedio lucu di YouTube dan tertawa cekikikan sendiri di balik selimut tebalnya.
Saat Faro datang Inneke tidak menyadarinya, masih tertawa sendiri, Faro langsung mandi untuk membersihkan badannya dan ternyata baju ganti sudah disediakan oleh Inneke di samping tempat tidur, sengaja Faro langsung memakai baju ganti dan ikut berbaring di samping Inneke yang tertawa cekikikan sendiri.
"Sayang apa sih yang di lihat, sampai suami datang, mandi tetapi tidak tahu" Faro membuka selimut Inneke dan ikut melihat handphone Inneke.
"Abang mau makan atau langsung istirahat?" tanya Inneke setelah menyadari suaminya datang berbaring di sampingnya, bangun meletakkan handphone di meja rias.
"Tidak dua duanya, sini duduk dekat Abang" Faro menarik Inneke mendekat dan duduk bersandar di atas dastbor tempat tidur.
"Abang mau nga... ngapain?" tanya Inneke gugup.
"Yang, kok kamu pakai baju dobel ya coba sini lihat?" Faro membuka salah satu baju Inneke dan di lempar entah kemana baju itu.
"Abang jangan di buang, ini terlalu tipis, aku malu, makanya aku pakai dobel biar tidak kelihatan" jawab Inneke menyilangkan tangannya di dada karena malu.
"Kenapa harus malu sih, sini duduk di pangkuan Abang" Faro membelai lembut pipi dan rambut Inneke yang panjang. Pertama mencium kening Inneke kebawah sedikit kedua mata diciumnya dengan lembut baru ke bibir Inneke yang mungil, dengan rakus Faro menyesap bibir itu, dengan sengaja Inneke membuka mulutnya sehingga membuat Faro lebih leluasa menguasai dan mengabsen yang ada di dalamnya.
__ADS_1
"Huffff, Abang aku tidak bisa nafas" protes Inneke tetapi tanpa disadarinya tangan Inneke sudah bergelayut manja di leher Faro.
"Bernafas dulu sayang" ucap Faro terkekeh melihat Inneke kehabisan nafas.
Faro mulai membuka kancing baju Inneke yang paling atas, memberikan tanda di leher di beberapa tempat, Inneke hanya menggeliat manja semakin bergeser sedikit dari bawah leher, di tariknya baju itu dan dibiarkan robek, Faro mulai membuka bra memainkan kedua gundukan itu dengan kedua tangannya, Inneke hanya mendesah kecil dan menggeliat geli tetapi menikmatinya setiap sentuhan Faro, dihisapnya secara bergantian kanan dan kiri sambil di baringkan tubuh Inneke dan membuang sisa baju yang sudah terkoyak tadi, tanpa sadar Inneke membuka kaos Faro membelai dada Faro yang bidang dan di tumbuhi bulu halus.
Inneke di bawah di kungkung oleh Faro di atas di beri tanda di setiap incinya dari atas sampai bawah, Inneke ikut juga memberikan beberapa tanda itu di dada dan leher Faro.
Mulai lagi memberikan tanda kepemilikan disana, mengisap, mengulum menciumi semua tanpa ada yang terlewat, Inneke selalu mengeluarkan Suara laknat yang tidak bisa dia cegah keluar begitu saja dari mulutnya membuat Faro semakin bergairah.
Ditutupnya mulut Inneke sendiri karena malu dengan tingkahnya sendiri, tetapi Faro menarik tangan Inneke "keluarkan saja Yang, suara seksi mu, Abang suka banget"
"Yang, Abang buka ya tinggal satu penutup ini, bareng kok Abang juga sudah Abang buka juga" kata Faro mulai menurunkan satu-satunya penutup area inti mereka perlahan.
"Aku takut Bang" Inneke lirih sambil menggigit bibirnya yang sensual.
"Tenang aja sakit sedikit aja, Abang pelan-pelan aja, rileks dan nikmati ok" kata Faro mulai menciumi di area sekitar terlebih dahulu agar Inneke tidak terlalu tegang.
"Boleh ya Yang... buka sedikit kakinya" Faro mulai memasukkan senjata pamungkasnya perlahan, sambil bibirnya mengulum puncak gunung Inneke, masuk berkenalan sebentar tanpa di gerakkan sama sekali.
"Sakit kah Yang?" rayu Faro menatap penuh cinta, Inneke hanya menggelengkan kepalanya, baru setelah nyaman di tempatnya Faro mulai menggerakkan perlahan naik turun cepat semakin cepat.
Faro tersenyum melihat Inneke mengatur nafas yang tersengal-sengal tidak beraturan di samping Faro dengan pipi yang merona merah seperti tomat.
"Lagi yok Yang" mengecup kening Inneke dengan lembut, sedangkan Inneke menyusupkan kepalanya di dada Faro dan membenamkan wajahnya di sana dengan menarik selimut.
"Abang bikin aku malu aja" cabik Inneke menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos tanpa sehelai benangpun.
"Kenapa harus malu, Abang sudah melihat memegang dan bahkan menikmatinya, ayo lagi Yang Abang bangun lagi nich".
Faro mulai menarik selimut yang menutupi tubuh Inneke, mulai mencumbui sampai entah berapa ronde, yang pasti hampir menjelang pagi baru mereka berdua berhenti karena kecapean dan tertidur sampai pagi menjelang, saling berpelukan tanpa sempat memakai sehelai benangpun.
Pukul sembilan pagi, mata Inneke baru bisa dibuka, ingin ke kamar mandi tetapi badan rasanya sudah remuk redam karena Serangan ganas dari Faro semalam, belum lagi sangat perih dan sakit area inti dari Inneke.
Perlahan tangan Inneke mau memindahkan tangan Faro yang melingkar di pinggang Inneke agar dia tidak terbangun.
"Mau kemana Yang?" suara bas Faro membuat Inneke kaget padahal matanya masih terpejam.
__ADS_1
"Mau mandi Bang, sudah siang nich" Inneke mulai mencoba bangkit, dan ingin turun dari tempat tidur.
"Aisss, aduh sakit Bang, a...a...perih banget" Inneke merintih sambil menunduk tidak jadi bangun dari tempat tidur itu.
Dengan spontan Faro terbangun duduk di samping Inneke walaupun dia juga tidak memakai helai benangpun santai saja.
"Apanya yang sakit, coba Abang lihat?" Faro membuka selimut yang menutupi tubuh Inneke, akhirnya gagal fokus terbangun lagi karena melihat tubuh molek tanpa tertutup selimut, Faro menelan selvinya dengan kasar.
"Abang malu ihh" Inneke menutupi tubuhnya kembali dengan selimut itu cepat-cepat, takut di terkam oleh Faro kembali.
Faro langsung membuang selimut, menggendong Inneke ke kamar mandi dan di masukkan ke dalam buth-up dan diisi air hangat.
Pertama Faro menggosok punggung Inneke, mengambilkan sampo, dan memberikan sabun aroma terapi pada tubuh Inneke, tetapi lama kelamaan Faro modus memandikan plus-plus.
"Yang, Abang tidak tahan, ngadep sini sebentar coba" dari langsung menangkap kudua gunung kembar itu, memainkan puncaknya baik menggunakan tangan atau mulutnya, Inneke juga sama saja terbawa oleh permainan Faro, suara laknat yang tanpa sadar dia keluarkan dari mulutnya, menjadi permainan itu semakin panas.
Akhirnya mandi plus-plus itu sampai jam sebelas siang baru selesai, di gendongnya lagi Inneke oleh Faro dan mengambilkan baju dan membantu mengeringkan rambutnya Inneke yang basah dengan handuk kecil.
"Mau di bantu untuk berdandan dulu?" kata Faro mendudukkan Inneke dari tempat tidur ke kursi meja rias.
"Tidak usah, aku bisa sendiri, Bang aku lapar" kata Inneke manja, dan masih di keringkan rambut Inneke dengan gerakan lembut oleh Faro.
"Kasihannya istri Abang, sampai kelaparan, kamu sih manis banget, membuat Abang jadi ketagihan" rayu Faro mengecup kening Inneke dan mencium bibir Inneke dengan sekilas.
"Sabar ya ini sudah Abang pesankan makan sebentar lagi datang" balas Faro memeluknya dari belakang.
Tidak sampai seperempat jam pesanan makanan datang dengan diikuti ketukan pintu dari luar.
"Tok.. tok...tok. "
"Ya sebentar, disini aja ya Yang jangan jalan nanti sakit" kata Faro berjalan mendekati pintu kamar hotel dan membukakan pintu.
"Ini pesanannya pak, selamat menikmati" kata pelayan restauran dengan mendorong stroller meja yang berisi makanan pesanan Faro.
Di dorong ke dalam mendekati Inneke duduk baru berhenti stroller meja itu.
"Ayo makan dulu, Abang suapi saja ya, jangan berdiri nanti sakit lagi" Faro mengambil makanan beserta lauknya menyuapi Inneke dengan telaten sampai kenyang keduanya.
__ADS_1
Setelah selesai Faro mencium bibir Inneke dengan mesra, di gendong bridal di letakkan di tempat tidur dan di luruskan kakinya.
"Jangan kemana-mana, Abang mau menghubungi Mario dulu, kita berangkat ke Jepang dengan penerbangan sore" Faro mengambil handphone dengan menekan tombol hijau yang bertuliskan asisten.