Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
36. Umi Sudah Membaik


__ADS_3

Sekitar pukul tiga pagi, saat Imma tertidur pulas dengan tangan Ken melingkar sempurna di pinggangnya, Ken merasakan ada yang aneh pada badan Imma, tiba-tiba keringat dingin mengucur deras, Ken langsung terbangun mengusap pipi Imma dengan lembut, mengecup bibirnya.


Mata Imma terbuka sedikit demi sedikit karena ada yang mengecup bibirnya, terasa manis dan hangat.


"Honey... kenapa bangun, belum pagi, ayo tidur lagi?" ajak Ken mengecup bibir Imma lagi dan lagi.


"Sayang, apakah obatnya masih ada, badan umi mulai keluar keringat dingin lagi" pinta Imma mencoba bangun dan duduk bersandar di tempat tidur.


"Masih sepertinya, tunggu honey..." Ken turun dari tempat tidur menuju ke nakas kecil di samping tempat tidur itu.


"Ini minumlah, pelan-pelan" Ken memberikan satu pil kecil dan satu gelas air putih.


Ken duduk di pinggir tempat tidur mengambil handphone menghubungi Faro yang berada di kamar paling ujung setelah kamar Fia dan Ezo, tidak membutuhkan waktu yang lama, Faro langsung mengangkat panggilan dari handphone nya.


"Bang, bisa ke kamar Abi?"


Hanya mengucapkan kata itu tidak sampai lima menit Faro sudah membuka pintu kamar Ken tanpa menjawab handphone dari abinya itu.


"Ada apa Bi, kenapa umi?" tanya Faro masuk kamar kedua orang tuanya dengan tergesa-gesa dan kekhawatiran yang sangat besar mendekati Imma menggenggam tangannya dan menciumi punggung tangan itu berkali-kali.


"Umi tidak apa-apa Bang, jangan khawatir" Imma mengusap lembut pipi Faro, tersenyum manis.


"Hanya keluar keringat dingin aja Bang, barusan sudah minum obat, bisa tolong panggilkan dokter yang di bawah biar memeriksa umi" perintah Ken melirik Imma yang bersender berusaha menata nafasnya agar fikirannya tenang.


"Iya Bi, Abang kesana sekarang" Faro keluar kamar turun ke lantai bawah menuju ke kamar tamu dimana dua dokter itu beristirahat.


"Tok ..... tok..... tok"


"Dokter....dok... ini---!" sebelum Faro melanjutkan ucapannya, pintu terbuka dengan cepat.


"Ya...ada mas?" tanya salah satu dokter itu.


"Bisa tolong umi dok, sekarang" pinta Faro berdiri di depan pintu.


"Tunggu, saya ambil peralatan terlebih dahulu, dan membangunkan teman saya juga" balas dokter itu bergegas membangunkan satu lagi dokter yang masih terlelap, mempersiapkan peralatan keluar kamar mengikuti Faro ke lantai atas di kamar kedua orang tuanya.


Rupanya tidak adanya Faro di samping Opa Tomy, tubuh renta itu ikut bangun dan keluar kamar mencari sosok cucunya yang tidak ada di kamar, walaupun tubuhnya sudah membungkuk di makan usia tetapi tidak di pungkiri Opa Tomy masih sehat dan fit, karena oleh raga yang teratur.


Saat Faro dan kedua dokter itu masuk kamar Ken, Opa Tomy juga ikut masuk, ingin melihat kesehatan orang yang selama ini mendidik dan menyayangi cucu laki-laki yang sangat di sayangnya.


"Nak, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Opa Tomy khawatir ikut mendekati Faro yang berdiri di samping Ken.


"Opa kenapa bangun, masih malam" ucap Faro mempersilahkan opanya untuk duduk di sofa.

__ADS_1


Opo Tomy duduk, sambil memandangi dokter yang sedang memeriksa Imma dengan teliti, tensi darah, detak jantung, suhu tubuh, denyut nadi, mata dan mulutnya tidak luput dari pengawasan dokter itu.


"Sejauh ini kondisi tubuhnya baik-baik saja, hanya sepertinya kurang darah, jadi jika memikirkan tentang kejadian yang telah berlalu akan mengakibatkan terjadinya keringat dingin yang berlebihan" jelas salah satu dokter.


"Saya ambil sampel darah ya Bu untuk pemeriksaan lebih lanjut" kata salah satu dokter itu lagi, menunggu persetujuan Imma.


Imma memandangi wajah Ken, saat Ken mengangguk dan tersenyum, kemudian Imma juga menjawab dengan anggukan kepala kepada dokter itu.


"Tidak sakit kok Bu, diambil darahnya, ok sudah selesai" dokter itu menyuntikkan di tangan kiri Imma dekat siku dengan hati-hati.


Imma hanya meringis, tangan kiri di pegang dokter dan Ken sedangkan tangan kanan di genggam oleh Faro sebagai tanda dukungan bahwa semua akan baik-baik saja.


Selesai pengambilan darah kedua dokter tidak langsung pulang, masih mencari informasi tentang keadaan Imma untuk mencari solusi yang terbaik dengan berbincang santai di kamar itu juga sampai fajar mengintip di balik pintu.


"Umi, Abi mau sarapan sekarang atau nanti?" tanya Faro setelah dokter turun ke lantai bawah dan mereka berdua selesai mandi pagi itu.


"Memang Abang yang mau buat sarapan?" tanya Imma tersenyum menggoda Faro karena terlalu khawatir dengan keadaannya.


"Umi, tidaklah.... Abang tidak bisa masak, maksudnya Abang yang ambilkan, yang masak ya tetap Yu Minah" cabik Faro cengar-cengir dan terkekeh memandangi wajah Imma yang sudah berseri, tidak seperti kemarin yang baru tiba di kampung.


"Kita sarapan bersama ke bawah saja Bang, ayo Abi sarapan dulu" Imma menarik tangan Ken yang sedang memegang handphone entah apa yang di kerjakan.


Saat sedang sarapan bersama datang Mama Meera dan Mama Dini ikut bergabung sarapan, Mama Meera duduk di samping Faro, sedangkan Mama Dini duduk di samping Ezo.


"Aduh umi, kenapa Abang ganteng Mama sekarang jadi brewokan gini sih, jadi terlihat galak" celoteh Mama Meera mengusap punggung Faro lembut.


"Kalau adik Ezo gimana Mama?" tanya Ezo ikut berkomentar sambil senyum-senyum.


"Kalau Ezo sih paling ganteng kata Mama Dini" rayu Mama Dini memeluk Ezo dengan mesra dari samping kursi.


"Anak siapa dulu, eee tapi jangan cium adik lo Mama, cukup peluk saja" protes Ezo ikut memeluk Mama Dini dengan erat.


"Emang kenapa tidak mau di cium?" tanya Mama Meera penasaran memandangi Ezo yang salah tingkah.


"Nanti untuk cewek adik Ezo aja, tidak untuk yang lain" celetuk Ezo cengar-cengir tidak jelas.


"Eeeee kumat lagi, sudah di bilang umi tidak boleh pacaran, malah berencana ciuman ama cewek, dasar seteres" Fia kesal melempar timun ke piring Ezo.


"Yeeee kakak syirik aja" jawabnya dengan mendongakkan wajahnya khas tengilnya Ezo.


Semua keluarga tertawa bersama-sama melihat sosok Ezo yang kocak dan menghibur seolah olah dialah yang paling ganteng diantara mereka.


Dokter berpamitan pulang setelah selesai sarapan, untuk melanjutkan ke rumah sakit tempat mereka bekerja.

__ADS_1


Tepat pukul sepuluh pagi keluarga mengunjungi makam Uthi Sumi yang berada di kampung sebelah.


Berdoa bersama disertai isak tangis Imma, membuat yang lain ikut meneteskan air mata tanpa bisa di cegahnya, hampir satu jam mereka di pemakaman itu langsung pulang ke rumah.


Hanya Imma saja yang seolah olah nyawa baru terkumpul penuh dalam raganya, yang selama ini seperti uthi Sumi masih setia mendampinginya ternyata sudah meninggal dunia hampir lima belas tahun yang lalu.


Bayangan peristiwa di kejar oleh bodyguard Tomy Sanjaya dulu dan peristiwa penculikan beberapa bulan lalu seperti peristiwa yang beruntun tanpa ada jeda jarak dan waktu.


Pulang dari makam Imma, Mama Meera dan Mama Dini langsung ke dapur membuat hidangan makan siang bersama di bantu oleh Yu Minah sambil bercerita dengan riang, membicarakan tentang banyak hal, dari gosip, fashion, kuliner, kosmetik dan masih banyak lagi.


Ken, Ezo dan Fia memilih bermain karambol di belakang rumah bersama kang Santo, suara berisik mereka sampai terdengar di dapur dimana para mama sedang memasak.


Sedangkan Faro dan Opa Tomy sedang berbincang serius di kamar tentang kasus yang menimpa umi tercintanya, awalnya Faro menceritakan tentang di temukannya foto Faro bersama Ken dan Sandi oleh Ramos Sandara, Tertembaknya pengacara gaek itu dan penculikan Imma dan tak lupa bercerita jika masih ada dua orang yang belum di temukan yaitu Ramos Sandara dan satu orang lagi yang belum di ketahui identitasnya.


"Bang, aku punya saran untuk mengetahui dimana mereka tanpa menunggu pihak yang berwajib" saran Opa Tomy dengan bijaksana.


"Apa itu Opa?" tanya Faro menatap Opa Tomy dengan antusias.


Kemudian Opa Tomy bercerita dulu saat masih di kejar oleh anak buah Baron Pranoto mempunyai anak buah yaitu detektif swasta yang sering memberikan informasi yang sulit di dapatkan sekalipun.


"Tunggu aku hubungi detektif itu sebentar" kata Opa Tomy menggeser tombol hijau dan berbincang sejenak, sekitar sepuluh menit perbincangan itu Opa Tomy menekan tombol merah untuk mengakhiri perbincangan setelah mendapat informasi yang cukup.


"Sekarang anak dari detektif itu Bang yang meneruskan, lebih hebat lagi katanya, dia tidak menyebutkan namanya tetapi dia terkenal dengan julukan Conan Indonesia" cerita Opa Tomy setelah selesai menghubungi mantan anak buahnya.


"Dimana si Conan itu sekarang Opa?" tanya Faro kemudian.


"Kebetulan dia sekarang ada di Surabaya, katanya dia besok sore akan berkunjung kesini, detektif itu bersama putranya Conan" jawab Opa Tomy sedang duduk manis di depan Faro.


"Baik Opa, besok kita bertemu dengannya berdua" ucap Faro merasa tenang sedikit dan berharap bisa memecahkan misteri menghilangnya Ramos Sandara.


Sebelum Faro bertemu dengan si Conan, malam harinya sengaja mempersiapkan dokumen dan data dari Ramos Sandara, Faro juga mencoba mencari identitas dari salah satu orang yang tidak di ketahui identitasnya itu, Faro hanya mempunyai petunjuk wajah yang tertutup masker menggunakan kacamata hitam dengan sorot mata yang tajam.


Pertama Faro mencari di internet tentang informasi sniper yang ada di Indonesia ataupun di Asia tenggara dalam satu tahun terakhir ini, ada ratusan bahkan ribuan wajah yang harus Faro selidiki satu persatu tanpa lelah Walaupun sampai menjelang pagi, tetapi tidak mendapatkan informasi sedikitpun, kebetulan Opa Tomy sudah pulang ke rumah, sehingga Faro lebih leluasa mencari informasi sambil memasang lebar-lebar telinganya jika terjadi sesuatu pada uminya.


Ternyata betul saja, saat Faro sudah putus asa karena tidak mendapatkan informasi tentang laki-laki yang belum di ketahui identitasnya itu, dan ingin merebahkan tubuhnya sebentar ada telepon masuk dari Ken.


Tanpa menjawab handphone dari abinya itu Faro langsung berlari kecil menuju kamar Ken dan membuka pintu kamar dengan cepat dengan hati yang sangat khawatir.


"Ya Abi, ada apa dengan umi?" tanya Faro mendekati tempat tidur ukuran big size milik kedua orang tuanya.



Erna saat masih kuliah.

__ADS_1



Erna setelah menikah dengan Rendi


__ADS_2