
Satu bulan setelah pertemuan dan putusnya hubungan antara Faro dan Inneke, Faro semakin tenggelam dalam pekerjaan, baik dalam perusahaan ataupun di badan intelejen.
Bahkan Faro mendapatkan penghargaan dari intelejen Singapura karena penemuannya peluru yang mengenai wakil menteri Singapura waktu itu.
Tetapi yang menerima penghargaan itu adalah jenderal Hendro karena Faro tetap merahasiakan identitas aslinya, yang intelejen Singapura ketahui hanya yang menemukan adalah si mata elang.
Dalam jangka satu bulan saja nama si mata elang sangat terkenal di kalangan intelejen, tetapi tidak ada seorang yang mengetahui siapa si mata elang kecuali jenderal Hendro dan anggotanya saja.
Faro jarang pulang sore, setelah Ken kembali memegang PT WIGUNA GROUP sembuh dari cedera punggung, sampai saat inipun Imma belum mengetahui jika Faro mempunyai pekerjaan menjadi anggota intelejen, hanya Ken, Sandi, Opa Tomy dan Mario saja yang mengetahuinya.
Imma sangat menghawatirkan Faro karena akhir-akhir ini jarang pulang sore, minimal jam sepuluh malam baru tiba di rumah, bahkan Sabtu dan Minggu yang biasanya berkumpul dengan sahabatnya, tetapi Faro lebih memilih di ruang menembak atau di kantor intelejen saja, terkadang hanya menghabiskan waktunya bermain game bersama Ezo jika di rumah.
Seperti malam ini waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Ezo dan Fia sudah bobok manis dan mimpi indah dalam peraduannya, Imma dan Ken duduk santai di ruang keluarga nonton TV sambil menunggu Faro pulang.
"Bi, kok perasaan akhir-akhir ini Abang pulangnya malam terus sih?" tanya Imma duduk di sofa panjang meluruskan kakinya di sofa itu.
"Perusahaan Abang maju pesat honey, makanya dia sering lembur untuk mengejar target yang harus di selesaikan setiap harinya" jawab Ken berbohong agar Imma tidak khawatir yang berlebihan.
"Tetapi tidak seperti dulu Bi, mukanya selalu aja serius, tidak ada senyum di wajahnya, dan dulu setiap malam Minggu atau hari Minggu siang dia selalu ceria, keluar rumah dengan muka yang berseri seri gitu" cabik Imma tetap merasa jika ada yang di sembunyikan oleh putra kesayangannya itu.
Ada suara pintu di buka, Ken dan Imma langsung menoleh, Faro yang berjalan sedikit berjinjit agar tidak terdengar tetapi ternyata Abi dan uminya masih belum tidur dan masih bercengkerama di ruang keluarga dan mendengar apa yang di katakan Imma.
"Tuuuh panjang umur, baru di omongin dianya datang" Ken menunjuk Faro datang mendekati mereka.
"Abi, umi kenapa kok belum tidur?" Faro tersenyum duduk di antara Imma dan Ken.
"Belum ngantuk" jawab Ken singkat.
"Capek kah Bang, mukanya kusut begitu?" tanya Imma memeluk Faro dan mencium keningnya.
"Iya mi, banyak sekali kerjaan di kantor, umi jangan khawatir ya, Abang baik-baik aja, ya sudah Abang mandi dulu, lengket nich badan, umi dan Abi istirahat sana sudah malam" Faro tersenyum manis memeluk erat uminya yang begitu khawatir berdiri dan berjalan menuju lantai atas ke kamarnya.
"Honey...apa sebaiknya kita cerita aja ya kalau kemungkinan gadis yang di jodohkan ke Abang itu adalah gadis yang dia suka?" pinta Ken setelah Faro masuk kamar.
"Sepertinya jangan dulu deh Bi, gadis itu kan belum lulus, sebaiknya nanti aja setelah wisuda, seperti keinginan mereka" larang Imma yang ingin menghormati privasi mereka berdua, padahal karena tidak adanya ke terus terangan itu justru membuat mereka berpisah saat ini.
Pagi harinya setelah Ken dan Faro berangkat ke kantor Imma bersiap siap ke Bogor untuk menghadiri acara pernikahan anak dari adik kandung Marisa yang dulu satu sekolah waktu SMU tetapi adik kelas tepatnya.
Imma juga sudah minta ijin kepada Ken satu Minggu yang lalu, boleh ke Bogor dengan syarat tidak boleh menginap itu kata Ken, sehingga Imma berangkat ke Bogor bersama Mely dan di antar langsung oleh Sandi.
Tetapi Mely rencananya akan menginap satu malam di Bogor, sedangkan Imma akan di jemput oleh pak Rudi pukul tujuh malam.
Acara di adakan di daerah Cileungsi Bogor mulai dari pukul sepuluh pagi sampai pukul sepuluh malam karena acara diadakan di halaman rumah pengantin wanita dengan adat Betawi dengan meriah.
Imma begitu antusias mendengar prosesi pernikahan akan dilakukan dengan adat Betawi, karena sangat suka dengan berbalas pantun yang akan membuat tertawa terbahak bahak.
Pukul sepuluh pagi acara di awali pengantin pria harus lolos ujian membuka palang pintu untuk menemui tambatan hati, rombongan mempelai pria di depan pintu dihadang oleh wakil pihak mempelai wanita, prosesi diawali saling berbalas pantun.
Saat rombongan pengantin pria tiba di depan pintu masuk rumah pengantin wanita.
"Tunggu di larang masuk sebelum melewati kite" kata tetua dari rombongan pengantin wanita.
"Minggir gue mau antar pengantin" kata wakil dari rombongan pengantin pria.
"Elo tetep bekeras pengen masuk bang?"
"Iya bang.. pantang mundur... bang,
Daon kelor enak dimakan
__ADS_1
Apa lagi dicampur ama ikan peda
Ama ***** aja gue udah kaga mempan
Kecuali gue di goda janda".
Pantun pertama dari rombongan pengantin pria.
"Ha..ha...ha..loh kok jagoan kalahnya ama janda, maju bang, lo adepin tuh Palang Pintu kite kalo berani" teriak salah satu orang dari pihak wanita tanpa di jawab pantun itu.
"Uler sawah uler beludak
Nyusurin jalan di tanah licin
Kalo gua udah bertindak
Ntar nasi prasmanan bisa gua abisin"
Satu pantun lagi oleh pihak pengantin pria
"Besan kemaruk..." Celetuk para rombongan pengantin wanita di sertai tawa yang sangat meriah dari para tamu undangan.
"Elo bikin malu ajah.. Masa elo mao abisin sendiri, gue juga mau" protes salah satu orang dari rombongan pengantin pria sambil pura pura mendorong temannya.
"Kancil berlari di pinggir Setu
Ambil gala terus tancepin
Sendiri jatoin palang pintu
Gue sendiri yang bakal ngadepin"
Pantun balasan dari pihak pengantin wanita yang memakai baju sadariyah berwarna merah (baju sadariyah adalah baju adat laki-laki Betawi)
Rawa Belong banyak Betawinye
Ehh baju mereh gua gak kenal namenye
Begerak dikit bolong lo pipinye".
Dengan cepat di balas lagi oleh salah satu rombongan pengantin pria.
"Ayo....balas.... balas" celetuk pengunjung lagi.
"Kenalin nama gua Rojali
Orangnya item matanye jeli
Ini hari musuh gua kaga cari
Kalo udah berantem, pantangan buat lari".
Tepuk tangan gemuruh dari para tamu undangan, termasuk Imma, Marisa dan Mely yang menyaksikan secara itu.
"Lanjut..... lanjut...." teriak para tamu undangan.
"Elo kagak mo lari juge" tanya seseorang dari rombongan pengantin wanita.
"Pegimana mo lari.. ada rombongan yang mau abisin entu prasmanan" celetuk salah seorang dari rombongan pengantin wanita lagi, dan lagi-lagi diikuti tepuk tangan.
__ADS_1
"Tung-tung alang-alang
Alang-alang makanan sapi
Kalo emang lo kaga mao pulang
Berati lo udah siap bakalan mati"
Pantun di mulai lagi dari rombongan pengantin wanita.
"Roti Buaya kembang kelapa
Ondel-ondel Betawi buat arak-arakan
Eh biar kata ilmu gua belom seberapa
Kalo udah bekelai gua bikin berantakan".
Jawab ketua rombongan pengantin pria.
"Maaf-maafan bukan cuman Lebaran
Kalo perlu tiap hari asal penuh kesadaran
Kalah menang kaga jadi ukuran
Nyang penting kita jalin persodaraan".
Akhirnya rombongan pengantin wanita harus mengakui keunggulan dari pihak rombongan pengantin pria.
"Gua demen begini nich" kata ketua rombongan pengantin pria sambil berjabat tangan buat salaman dan saling berpelukan.
Dilanjutkan atraksi silat antara jago dari pihak mempelai wanita dengan jagoan dari mempelai pria, dimana jagoan mempelai pria harus mengalahkan jagoan mempelai wanita, kemudian pembacaan sike yaitu shalawat kepada Nabi Muhammad.
Akhirnya rombongan pengantin pria masuk ke dalam halaman rumah yang sudah di sulap cantik dengan dekorasi khas Betawi, setelah kedua mempelai duduk di puade atau pelaminan tukang rias membuka roban tipis yang menutupi kepala mempelai wanita. Selanjutnya, mempelai pria memberi sirih dare kepada mempelai wanita sebagai lambang cinta kasih, basanya di dalam rangkaian sirih diselipkan uang sebagai uang sembe, lalu mempelai pria membuka cadar mempelai wanita, dilanjutkan acara sembah dan cium tangan mempelai wanita kepada mempelai pria, lalu kedua mempelai menyembah kepada kedua pihak orang tua.
Acara terakhir adalah suapan nasi kuning sebagai suapan terakhir orang tua kepada putra putrinya tercinta yang akan menempuh hidup baru.
Prosesi itu berlangsung hampir dua jam dengan meriah, baru para tamu undangan menikmati hidangan yang sudah di sediakan, ucapan selamat kepada kedua mempelai silih berganti hingga menjelang sore sampai jam istirahat untuk di lanjutkan lagi nanti malam.
Pukul enam petang pak Rudi sudah sampai di tempat acara, sehingga pak Rudi dipersilahkan untuk menikmati hidangan terlebih dahulu sebelum pulang.
Ada juga dua bodyguard yang mengawasi Imma dari jauh, seperti biasanya tanpa di ketahui oleh Imma, Imma berpamitan kepada tuan rumah dan mengucapkan selamat menempuh hidup baru pada kedua mempelai.
"Marisa, aku pamit pulang dulu ya" pamit Imma dan diantar sampai parkiran mobil jemputan.
"Mely... aku pulang dulu daaa" Imma juga perpamitan padanya.
"Daaaa hati-hati" jawab Marisa dan Mely bersamaan.
Pak Rudi langsung masuk dalam mobil setelah Imma duduk di bangku belakang, mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menyusuri jalan raya yang mulai sepi dari Cileungsi diikuti dua bodyguard yang biasanya mengawal Imma dari belakang menggunakan motor gede.
Baru sekitar satu jam kendaraan itu membelah jalanan kota Bogor tepatnya Sebelum Cibinong di daerah yang jarang ada rumah berjejer di dekat jalan, dua bodyguard itu tumbang beserta motonya bergeser dengan cepat di atas aspal terkena tembakan dari jarak jauh.
"Bruuaaak....aaaah" rintihan kedua bodyguard itu sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
"Suara apa itu pak Rudi?" tanya Imma kepada pak Rudi sambil menengok ke belakang.
"Sepertinya motor terjatuh Bu, kecelakaan tunggal" jawab pak Rudi sambil melihat spion mobilnya.
__ADS_1
"Kita lanjut lagi ya Bu, takutnya nanti macet setelah kejadian itu" tanya pak Rudi.
Baru berjalan sekitar tiga kilometer, di jalan raya yang terlihat sepi karena sebagian besar jalur yang berlawanan di tutup oleh kepolisian karena adanya kecelakaan itu, mobil Imma di hadang oleh satu mobil Avanza hitam yang berisi sekitar empat orang laki-laki berpakaian hitam dan menggunakan senjata Laras panjang rakitan langsung menembak ban mobil dan menggedor pintu mobil bagian depan sebelah pengemudi.