Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
139. Tiga Anak Jenius


__ADS_3

Waktu cepat berlalu Rafael sekarang berumur lima tahun sudah sekolah TK mulai satu tahun yang lalu, satu kelas dengan Kanno dan Cello.


Bisa dibilang tiga anak ajaib karena kepandaian mereka diatas rata dan memiliki kemampuan yang berbeda tetapi selalu kompak menyatukan kepandaian itu menjadi satu penemuan yang luar biasa.


Rafael memiliki kemampuan menembak terbaik melebihi papinya, mata tajamnya memiliki keakuratan hampir sempurna, bela diri juga selalu jadi hobinya, berlatih bersama Papi jika ada waktu senggang, kekompakan keduanya sangatlah terjaga, terkadang Inneke menjuluki putranya sendiri adalah foto kopi dari Papi, tidak ada satupun yang mirip dengan maminya jika menyangkut kemampuan dan hobi hanya selera makan saja yang sama dengan Mami.


Rafael juga memiliki intuisi, kecerdasan, analisa yang sangat akurat melebihi kedua sahabatnya yaitu Kanno dan Cello, sangat melindungi kedua sahabatnya itu jika terjadi masalah, Rafael juga yang sering menyelesaikan masalah jika sahabatnya membuat keonaran baik di rumah ataupun di sekolah.


Kanno laki-laki kecil kurus dan berkacamata memiliki kemampuan yang bertolak belakang dengan Rafael jika Rafael badannya kuat dan bugar, Kanno sering sakit-sakitan, cengeng dan sering menangis, kelebihannya adalah pada otaknya yang pandai dalam teknologi, baru berusia lima tahun kurang, tangannya sering membuka internet yang sering dilarang untuk anak seusianya, bahkan dia mampu meretas sebuah situs dewasa tanpa sepengetahuan mommy dan daddy-nya, ketertarikan dengan lawan jenis juga menonjol diperlihatkan oleh Kanno, hampir semua teman wanita sekelasnya menyukai gayanya yang ramah dan suka merayu.


Beda lagi dengan Cello, hobi bela diri seperti Rafael tetapi kemampuan otaknya sangat berbeda, Cello sering membuat percobaan yang terkadang membuat dua sahabatnya mendapatkan masalah, Cello memiliki hobi meneliti suatu barang atau membuat benda yang tidak berguna menjadi berfungsi kembali.


Hari ini mereka bertiga sedang bermain di rumah Rafael tepatnya di gazebo samping kolam renang, saat Cello ijin ke kamar mandi disamping dapur kering, mendekati bibi Tini setelah dari kamar mandi.


"Bibi, Cello minta garam satu bungkus" tangannya menengadah ke bibi Tini yang sedang membuat bumbu.


"Buat apa kasep, main kok garam?" bibi Tini memberikan garam satu sendok di letakkan ditangan Cello


"Rahasia bibi, kok cuma satu sendok bibi, Cello maunya satu bungkus" dengan terpaksa bibi Tini mengambil garam satu bungkus di lemari persediaan barang.


"Ini tetapi jangan nakal ya" nasehat bibi Tini sambil memberikan apa yang Cello mau.


"Thanks bibi" berlari kearah gazebo mendekati Rafael dan Kanno yang sedang menunggunya.


"Guys, kita buat percobaan lagi yok, yang ini pasti akan berhasil" ajak Cello meletakkan garam di lantai gazebo.


"Ogah nanti macet lagi kayak kemarin suaranya hanya seperti kentut hahaha" El mengerucutkan bibirnya.


"Baiklah apa yang bisa aku buat agar percobaan kita kali ini berhasil?" tanya Kanno antusias.


"El aku butuh tempat dari aluminium" pinta Cello mencari disekitar gazebo tetapi tidak menemukannya.


"Sebentar gue ambilkan, tunggu disini" setelah beberapa saat El datang datang membawa nampan terbuat dari aluminium dan mendatangi mereka.


Garam ditumpahkan di nampan, diratakan dengan tangan Cello sampai rata.


"Kanno bagaimana caranya panas matahari bisa sampai di nampan yang berisi garam?" tanya Cello lagi.


Kanno mengerutkan keningnya berpikir sejenak, melihat ada dua spion mobil yang ada di tiang gazebo.


"El, spion itu bisa kita manfaatkan untuk mengirim panas ke nampan" tunjuk Kanno memberikan ide.


"Iya gue tahu caranya" El melepas salah satu spion diletakkan di tempat yang terkena panas matahari, dipantulkan ke spion kedua dan diluruskan tetap diatas garam yang berada di nampan.


"Berapa derajat Celcius panas yang harus dicapai Cello?" tanya Kanno mengawasi perpindahan panas dari dua spion.


"Jangan sampai 100°c kurangi dikit" teriak Cello dari samping kolam.


Dengan cermat Cello menghitung jarak antara garam dengan kolam renang, dan berteriak lagi.

__ADS_1


"El sekarang tugasmu, setelah ada asap diatas garam itu lemparkan nampan itu tepat ditengah tengah kolam renang".


Awalnya El hanya mengerutkan keningnya, pasti itu akan panas sekali, dan bergegas El membuka kaosnya, dililitkan di tangan kanan.


"El lempar sekarang" teriak Cello lagi.


Dengan cepat dan tepat El melempar nampan berisi garam ke kolam renang tepat ditengah tengah.


"Duuuuuuuaaaaar....".


Suara ledakan menggelegar disana, dan ketiganya berjingkrak dan ber-tos ria karena percobaannya berhasil.


Tetapi seluruh keluarga kaget bukan kepalang dengan suara ledakan dan air kolam yang membumbung tinggi hampir dua meter tingginya.


Rendi, Mario, Faro dan Jenderal Hendro yang sedang bercengkerama di ruang keluarga sontak berlari mencari sumber suara ledakan yang berada di belakang rumah, diikuti para sekuriti, bodyguard, bibi dan para ibu mereka.


Karena suaranya sangat menggelegar sampai daerah sekitarnya bahkan tetangga dan RT setempat juga datang dan mencari tahu apa yang terjadi.


Air kolam berhamburan keluar hingga tinggal setengahnya saja, hampir area belakang basah terlena semburan air kolam termasuk baju dari ketiga anak yang sedang membuat percobaan.


"Apa yang kalian lakukan lagi hah?" tanya Faro dengan sedikit khawatir sambil melihat ketiganya yang basah kuyup dan El yang tidak memakai baju hanya kaos dalam dan kaosnya terlilit di tangan ada warna hitam di kaos itu.


"Papi, Papa, Daddy maafkan kami" El menunduk mengakui kesalahannya membuat kerusuhan yang lumayan fatal.


Setelah mereka semua berkumpul mengelilingi tiga laki-laki kecil yang membuat ulah kemudian menyidang langsung ditempat.


"Mami kita tidak apa-apa, maaf hiks...hiks" celoteh Kanno yang cengeng takut dimarahi.


"Eee anak pintar tidak usah cengeng, nanti kalau Daddy marah biar Mami yang akan memarahinya.


Dengan terpaksa Faro menyelesaikan masalah yang dibuat oleh ketiga putranya, memberikan informasi tentang terjadinya ledakan itu dan memberikan informasi kepada tetangga yang sebenarnya terjadi.


Lain lagi jenderal Hendro, dia berencana ingin mengangkat ketiga anak laki-laki yang memiliki kemampuan diatas rata rata menjadi muridnya karena tahun ini dia akan memasuki usia pensiun, tetapi masih belum diutarakan kepada ketiga orang tuanya, masih ingin mengawasi dari kejauhan bagaimana kemampuan ketiganya.


Setelah kejadian itu Faro, Rendi dan Mario sering memantau ketiganya saat mereka berkumpul bertiga selalu diawasi apa yang dia kerjakan jika sedang bermain.


Tetapi ketiga putranya itu terlalu pintar, saat ini ketiganya sedang mengerjakan penelitian pembuatan gelang dengan Signal seperti GPS tetapi mempunyai kemampuan mencari keberadaan si pemakai tanpa batas bahkan di negara manapun dia berada, ini dilakukan dengan kolaborasi ketiga otak jenius mereka.


Hampir tiga Minggu mereka membuat tegnologi mutakhir dengan bahan yang ada di sekitarnya bahkan dengan terpaksa Kanno mengambil handphone daddy-nya yang sudah rusak untuk menyempurnakan penelitian mereka, semua dilakukan di belakang sekolah TK saat mereka beristirahat, tak ada seorangpun yang tahu tentang penelitian itu karena jika dilihat teman sekolahnya mereka seperti sedang membuat mainan yang tidak begitu menarik.


Hampir satu bulan akhirnya GPS versi tiga anak laki-laki itu selesai dan di beri nama mereka masing-masing.


"Tunggu, ini kalau ketahuan oleh Papa, Papi dan Daddy pasti kita akan menjadi masalah besar seperti bom garam waktu itu" Kanno memberikan analisanya.


"Jadi bagaimana solusinya" tanya Cello bingung.


"Begini saja kita tukar gelangnya gue pakai nama Kanno, Cello pakai nama gue dan elo Kanno pakai nama Cello" awal El memberi usulan.


"Maksudnya gimana El?" tanya Cello bingung.

__ADS_1


"Nanti kalau ditanya oleh orang tua kita bilang aja kita habis tukar kado, bereskan?".


Akhirnya ketiganya memakai gelang GPS itu dengan bertukar nama, dan betul saja ketiga orang tuanya tidak mencurigai tentang gelang mutakhir itu sama sekali.


Hari Senin pagi ini ada acara eniversery di sekolah TK, dengan mengundang kedua orang tua atau wali murid, sekolah mengadakan pentas seni dan budaya.


Banyak para murid menunjukkan keahlian masing-masing, menari, bela diri, dancer, penyanyi, bermain alat musik bahkan ada juga yang menunjukkan sulap.


Rencananya nanti El menampilkan pertunjukan melempar bola basket, Cello menunjukkan kemampuannya menggambar secara langsung di pentas menggunakan papan tulis dan kapur berwarna warni dan Kanno menampilkan kemahiran cahaya menggunakan handphone rusak yang telah dimodifikasi dengan cermat.


Semua orang tua datang tanpa kecuali, Faro dan Inneke, Rendi dan Erna serta Mario dan Ara juga tidak ketinggalan menghadiri acara di sekolah putra mereka.


Satu persatu pertunjukan dimulai dengan meriah dan sangat ramai, di pertengahan acara Cello mendapatkan giliran naik panggung.


"Cello... silahkan naik ke panggung?" panggil Bu guru dari atas panggung, dengan berlari kecil, naik dan mendekati Bu guru.


"Cello mau membuat gambar apa?" tanya ibu guru lagi.


"Bisa tolong ibu membuat awalnya saja nanti akan aku lanjutkan" pintanya cepat.


"Baiklah...." Ibu guru menggambar sebuah kursi yang memiliki kaki empat dan sandaran kursi agak tinggi "Silahkan lanjutkan Cello".


Cello mulai menggambar dengan cepat, semua mata tertuju pada tangan Cello, berganti warna kapur dengan cepat menggoreskan diatas papan tulis dari sandaran kursi menjadi berbeda tempat duduk dan kaki kursi setelah sekitar sepuluh menit kursi itu berubah menjadi singa yang mengaum dengan garang, tepuk tangan bergemuruh di aula TK karena bakat istimewa yang dimiliki Cello.


Sekarang giliran Kanno menunjukkan kemampuannya handphone rusak milik daddy-nya yang sudah diambil sebagian komponennya di modifikasi kembali.


"Apakah boleh tolong di matikan lampunya sebentar?" pinta Kanno mengawali bicaranya diatas panggung.


"Sebelum saya menunjukkan ini, mohon maaf ya Daddy, ini handphone Daddy yang rusak aku modifikasi menjadi mainan baru".


Sejenak gelap aula dengan suasana hening, Kanno menekan tombol hijau pada handphonenya, seketika diatas plafon yang berwarna putih menjadi bertaburan berbagai jenis binatang yang sedang berdiri berdampingan berjajar dari ujung aula sampai posisi Kanno berdiri.


"Wellcome to the Kanno zoo" celoteh Kanno diikuti oleh tepukan gemuruh dari para wali murid yang hadir.


Terakhir sekarang adalah El menunjukkan salah satu kemampuannya, yaitu melempar bola basket tetapi ini tidak seperti pemain pada umumnya.


_________________________


halo.....halo......halo


jangan lupa like vote dan komentar


serta hadiahnya.


semangat... semangat... semangat


jaga kesehatan seluruh keluarga


terima kasih

__ADS_1


__ADS_2