Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
34. Menyewa Helikopter


__ADS_3

Setelah tiga hari kunjungan ke makam ibu Lestari, semakin hari Imma semakin pulih dari traumanya, mulai berkurang juga tengah malam terbangun memanggil ibu Lestari ataupun bibi Sumi.


Dengan dukungan keluarga, Imma sudah mulai di ajak bercanda seperti sedia kala, terutama jika siang hari bersama Ezo yang usil dan sok cool.


Seperti siang ini ada teman barunya yang kemarin yang daftar sekolah bareng di SMU negeri tempat kakak Fia sekolah, Ezo sudah membawanya pulang kerumah, tepatnya ke Imma kafe, gadis cantik yang selalu nempel kemanapun Ezo bergerak.


"Umiiii, adik Ezo genit banget" protes Fia saat gadis cantik teman Ezo sudah pulang kerumahnya menggunakan ojek online.


"Kenapa sih kak memangnya, adik Ezo?" tanya Imma duduk santai di ruang keluarga setelah makan siang.


"Itu adik, baru kenal satu hari, saat pendaftaran SMU kemarin, ada satu cewek cantik sudah nempel kayak perangko, diajak kesini lagi" Fia mendekati Ezo yang duduk di samping uminya dan memeluknya dengan erat.


"Kenapa sih kak, dianya yang nempel ke gue, orang ganteng maah biasa, selalu di kelilingi cewek cantik" Ezo dengan pongah, membetulkan kerahnya dan mendongakkan wajahnya.


"Adik masih kecil, jangan suka bikin patah hati anak orang" Imma menasehati anak bungsunya itu dengan lembut dan penuh kehangatan.


"Adik tidak merayu umi, dianya aja yang mau ikut kesini, adik mau aja, karena dia cantik sih, siapa yang tidak mau jika ada cewek cantik nempel terus?" Ezo membela diri masih dengan percaya diri yang tinggi.


"Dasar songong lo, kena batunya baru tau rasa" Fia memukul kaki Ezo dengan perlahan.


"Eee kakak aja yang syirik, anak Sultan maah biasa, emang kakak tidak punya gebetan" cabik Ezo sambil mengusap kakinya yang dipukul oleh Fia tadi.


Imma hanya menggelengkan kepalanya, tertawa lepas dengan tingkah putranya yang begitu percaya diri, membayangkan seperti apa waktu Ken remaja, mungkin seperti Ezo yang banyak di gilai cabe-cabean.


"Enak aja, kalau kakak mau, sudah banyak yang ngantri, berjajar di belakang" sombong Fia dengan mentowel hidung Ezo.


"Kenapa kakak tolak?" Ezo penasaran dengan tingkah kakaknya itu.


"Kakak tidak mau pacaran, mau langsung nikah aja, tidak baik tau dik pacaran itu" jujur Fia diikuti dua jempol yang di tunjukkan uminya.


"Itu baru anak umi, seorang wanita harus pintar jaga diri, baik buruknya kita itu tergantung kita bagaimana bersikap dengan lawan jenis" nasehat Imma senyum simpul mengusap rambut putrinya yang panjang.


"Mi, adik boleh cium cewek kagak?" tanya Ezo polos mengedipkan matanya kepada kakaknya yang melotot tajam kepada Ezo.


Fia berdiri mendekati Ezo dan menoyor keningnya dengan cepat "Emangnya soang mau nyosor sembarangan, jangan bikin malu ya, masih kecil mau nyosor sembarangan".


Ezo hanya cengar-cengir dan mengusap keningnya yang sedikit sakit, gantian melotot kepada kakaknya yang duduk kembali di samping Imma.


"jaga sikap dik, kalau bisa tidak usah pakai cium-cium sembarangan" nasehat Imma lagi, dan diikuti anggukkan kepala Ezo.


Setelah satu Minggu Imma mengunjungi makam ibu Lestari, semakin membaik kondisi Imma, walaupun terkadang masih terbangun di tengah malam, tetapi Imma jarang memanggil nama ibunya, terkadang hanya seketika terduduk dari tidurnya seolah olah terbangun dari mimpi yang buruk.


Setelah makan malam, Ken dan Faro berencana akan membawa Imma pulang kampung, ingin mengajak mengunjungi makam almarhumah ibu asuh Imma yaitu uthi Sumi.


Tetapi ada kendala yang membuat keduanya harus membahasnya terlebih dahulu, yaitu mengenai perjalanan menuju ke kampung, pasalnya setelah kejadian Penculikan itu Imma belum pernah sekalipun ada dalam keramaian.


Paling jauh hanya sampai pemakaman ibu Lestari saja, itupun, Ken harus memeluknya dengan erat agar Imma tidak banyak melihat orang yang lalu-lalang di depan Imma terutama orang yang menggunakan pakaian hitam-hitam.

__ADS_1


"Kita menyewa helikopter aja Bi, untuk ke kampung, sepertinya lebih aman untuk umi" usul Faro kepada Ken saat berada di ruang kerja Ken setelah makan malam bersama keluarga.


"Ide bagus itu Bang, baiklah Abang yang mengurus semuanya ya, Abi tau beres saja" jawab Ken.


"Siap Bi, Abang yang mengatur semuanya, besok kita berangkat, Abi dan adik-adik tinggal packing aja.


"Baiklah, Abi akan memberi tahu Fia dan Ezo".


Ken keluar ruang kerja turun ke lantai bawah, mencari dimana putra-putri dan istrinya sedang bercengkerama dengan riang di belakang rumah di samping kolam renang.


"Ternyata kalian ada disini" Ken duduk di samping Imma memeluknya dari samping mengacak rambut Ezo dan Fia.


"Ada apa sayang... mencari kita?" tanya Imma kepada Ken, tetapi Ken membelalakkan matanya mendengar Imma memanggilnya sayang, semenjak terjadinya penculikan itu Imma tidak pernah memanggilnya sayang, hanya memanggil Abi saja, bahkan Ken hampir tiga bulan ini mendapatkan kehangatan dan kemesraan dari istrinya, selalu memendam rasa dan bermain solo jika tidak tahan menahan rasa.


"Besok kita liburan ke kampung, sekalian berkunjung ke rumah Opa Tomy, mengucapkan belasungkawa, karena kita belum sempat menghubungi mereka kemarin" cerita Ken duduk di samping Imma memeluk dan mengusap punggungnya dengan mesra.


"Asyik...jam berapa besok Bi?" Ezo berjingkrak kegirangan mendengar akan berlibur ke kampung.


"Tanya Abang aja, semua Abang yang mengatur" balas Ken geleng-geleng kepala melihat putranya yang bertingkah lucu.


"Emangnya kita naik apa Bi, kok Abang yang ngatur?" gantian Fia bertanya mendekati Ken dan Imma duduk di depan mereka.


"Helikopter" Ken berkata singkat.


"What...." cabik Ezo dan Fia bersamaan.


Sedangkan Faro sedang mengurus penyewaan helikopter, dengan rekomendasi dari Jenderal Hendro sehingga mempermudah rencananya, akhirnya mereka mengadakan pertemuan di Imma kafe pukul sembilan malam hari ini untuk menentukan waktu dan persyaratan cara menyewa helikopter.


Faro akhirnya menghubungi Mario untuk membantu menemui orang yang bisa mengurus penyewaan helikopter, dan sekalian menghubungi Rendi untuk bertemu dan berkumpul di Imma Kafe karena setelah Rendi menikah Faro belum sempat mengucapkan selamat secara langsung, dan kebetulan Rendi baru pulang dari bulan madu dua hari lalu.


"Abang...... Abang, besok jam berapa, adik tidak sabar pingin naik helikopter?" Ezo berlari mendekati Faro tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu sedang duduk di sofa panjang yang ada di kamarnya sedang menghadapi leptop


Faro kaget dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya yang begitu antusias hanya karena mau naik helikopter.


"Adik... jangan lari, sudah masuk kamar tanpa mengetuk pintu malah lari lagi" cabik Faro menangkap Ezo dan di dudukkan di sebelah Faro.


"Jam berapa Bang ayo cepat, gue sudah tidak sabar?" pinta Ezo menggoncang kan lengan Faro yang kekar.


"Belum tau jam berapanya dik, ini Abang baru mau ketemuan nanti jam sembilan, sono lebih baik elo packing" perintah Faro mengacak rambut Ezo gemas.


Ezo keluar kamar dengan riang masuk kamar, berniat packing baju untuk besok.


Hampir pukul sembilan malam Faro keluar kamar turun tangga menuju ke Imma kafe, tetapi bertemu Ken dan Imma yang sedang duduk di meja makan menikmati secangkir kopi.


"Kemana Bang?" tanya Ken duduk berpelukan dengan Imma mesra minum kopi satu cangkir berdua.


"Kafe Bi, ketemuan orang yang mengurusi helikopter besok, kalo mau mesra-mesraan di kamar, bikin jomblo Abang meronta ronta" celoteh Faro cengar-cengir berlalu keluar rumah menuju ke Imma Kafe.

__ADS_1


Abi hanya terkekeh, semakin mengeratkan pelukannya pada Imma, sedangkan yang di peluk hanya memukul lengan Ken tetapi sayangnya Imma tidak bisa melepaskan diri, karena tenaga Ken yang kuat.


Faro duduk di pojok kafe, membuka laptopnya, mempersiapkan keperluan untuk pemesanan helikopter.


Yang pertama datang justru Mario, tetapi sayangnya dia tidak sendiri, mengajak Ara bersamanya.


"Halo bos, maaf gue mengajak Ara, karena saat elo menghubungi gue, kami sedang makan malam" Mario duduk di samping Faro dan diikuti oleh Ara yang duduk di samping Mario.


"Tidak masalah, halo Ara senang bertemu dengan elo lagi, sorry gue bahas kerjaan dulu ya" Faro hanya melambaikan tangannya dan tersenyum.


"Halo Bang, silahkan aja" Ara hanya menjawab singkat.


Faro menceritakan jika akan menyewa helikopter untuk keperluan mengantar uminya ke kampung halaman besok, sehingga Mario bisa mempersiapkan dokumen yang harus di persiapkan.


Selesai memberikan pengarahan kepada Mario, orang yang sudah janjian dengan Faro menghubunginya sudah berdiri di pintu masuk kafe, Faro berdiri mengangkat tangan "Pak disini!".


Seorang laki-laki paruh baya mendekati mereka mengulurkan tangan untuk bersalaman.


Bernegosiasi menentukan harga, waktu berangkat, syarat yang harus di patuhi akhirnya kesepakatan dengan cepat di setujui oleh kedua belah pihak, baru pamit untuk mempersiapkan penerbangan besok pukul tiga sore helikopter sudah take off, sehingga pukul dua siang seluruh penumpang sudah standby di tempat penjemputan.


Datang Rendi dengan menggandeng mesra tangan Erna memasuki kafe dengan senyum yang mengembang.


"Sorry bro gue telat" Rendi ber-tos ria dengan kedua sahabatnya, sedangkan Erna langsung cipika-cipiki dengan Ara.


"Cieeee pengantin baru, mukanya berseri-seri nich" goda Mario menyikut Faro yang ada di sampingnya.


"Kok elo brewokan bro, apa mentang-mentang jomblo, tidak merawat diri?" tanya Rendi heran karena selama ini Faro tidak pernah seberantakan ini.


"Tidak usah mikirin gue, bagaimana rasanya menikah, Sorry gue tidak bisa menghadiri acara pernikahan lo, semoga samawa?" Faro berusaha mengalihkan perhatian tentang penampilannya.


"Gue nyesel bro" jawab Rendi menggantung.


"Elo nyesel nikah?" tanya Mario menendang sebelah kakinya, di tatap tajam oleh istrinya Erna.


"Nyesel kenapa tidak dari dulu nikahnya, karena tidak bisa di ceritakan hanya bisa di rasakan kenikmatannya" jawab Rendi memeluk Erna dengan lembut.


"Dasar gelo, bikin jomblo gue meronta ronta saja, ini juga sudah hilang julukan jomblo abadinya kah?" Faro kesal karena candaan Rendi yang seolah olah memamerkan kemesraan di depan mereka.


"Bagaimana keadaan nyokap, maaf dari kemarin belum sempat menjenguk beliau?" tanya Rendi dengan sendunya.


"Sudah lumayan membaik, tidak usah menemuinya sementara waktu ini" larang Faro dengan jawaban yang tidak di mengerti oleh Rendi.



Ara gadis Thailand.


__ADS_1


Ara si gadis hitam manis saat menemani Mario makan malam.


__ADS_2